Suling Emas Chapter 90

NIC

Kwee Seng tersenyum.

"Kau belum pernah mendengarnya? Belum pernah membacanya?"

Bu Song menggeleng kepalanya. Memang dahulu ayahnya melarang ia membaca kitab-kitab Agama To, karena menurut anggapan Kam Si Ek, pelajaran dalam agama ini hanya melemahkan semangat anak-anak. Akan tetapi Bu Song yang sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, dapat menduganya, maka ia berkata.

"Aku belum pernah membaca sajak itu, akan tetapi agaknya itu adalah pelajaran Agama To, bukan?"

Kwee Seng girang dan merangkul pundak anak itu.

"Anak baik, memang itu adalah sajak dari kitab To-tek-kheng dari Agama To ajaran Nabi Lo Cu. Anak yang baik siapakah namamu?"

"Aku bernama Bu Song, paman."

"Bu Song? Nama yang indah dan gagah. Dan apa shemu (nama keturunan)?"

Bu Song mengerutkan kening dan menggeleng kepala.

"Aku tidak menggunakan she. Namaku cukup Bu Song saja, tanpa tambahan."

Kwee Seng memandang dengan alis bergerak-gerak.

"Mengapa begitu? Dimanakah kau tinggal?"

Bu Song memandangnya dan kini anak itu tersenyum.

"Sama dengan engkau Paman."

"Heh...? Bagaimana bisa sama dengan aku, kalau aku tidak mempunyai tempat tinggal... Ehhh! Apa kau mau bilang bahwa kau tidak mempunyai tempat tinggal?"

Bu Song mengangguk! "Dan orang tuamu? Siapakah mereka? Mengapa kau meninggalkan rumah orang tuamu?"

Ucapan Kwee Seng terdengar bengis dan ia memandang Bu Song dengan mata marah, seakan-akan hendak memaksa anak ini mengaku. Memang Kwee Seng marah karena ia dapat membayangkan betapa susahnya hati ayah bunda anak ini. Anak seperti ini tentu amat disayang oleh orang tuanya, maka kalau anak ini pergi tanpa pamit, tentu akan menyusahkan hati mereka. Tiba-tiba Bu Song berdiri, lalu mengangkat tangan menjura kepada Kwee Seng.

"Maaf, Paman, terpaksa aku tidak dapat melayani bercakap-cakap dengan Paman lebih lama. Aku pergi...!"

"Hee, nanti dulu! Mengapa kau tidak mau bicara lagi?"

Sambil menoleh dan memperlihatkan muka sedih Bu Song menjawab,

"Orang bercakap-cakap harus jujur dan tidak saling membohong. Akan tetapi aku terpaksa tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman, aku tidak dapat dan tidak mau bercerita tentang diriku, tentang riwayatku, maka terpaksa aku harus meninggalkan Paman, biarpun dengan penuh kesal dan kecewa...."

"He, Bu Song, kau kembalilah. Aku tidak akan tanya-tanya lagi tentang keadaan dirimu atau orang tuamu."

Bu Song menjadi girang sekali, ia berlari kembali dan duduk didepan Kwee Seng lagi. Kwee Seng kini memandang penuh perhatian, lalu memegang kedua pundak anak itu, meraba-raba memeriksa tubuh dengan hati girang dan heran ia mendapat kenyataan bahwa anak ini mempunyai bakat yang luar biasa untuk ilmu silat. Tulang-tulangnya bersih dan kuat seperti tubuh seekor harimau muda!

"Bu Song apakah kau pernah belajar ilmu silat?"

"Silat? Tidak, tidak pernah."

Bu Song menggeleng kepalanya.

"Bagus! Anak baik, aku cocok sekali denganmu. Maukah kau menjadi muridku?"

Posting Komentar