Si Tangan Sakti Chapter 32

NIC

Tunangan Paduka telah menanti bersama orang tuanya." "Tunanganku " Jangan bicara sem-barangan!" "Hamba tidak berbohong.

Pendekar wanita Si Bangau Merah.

'Ahhh! Sudahlah, kalian ini sungguh menjengkelkan.

Bukankah kalian juga tahu bahwa aku pandai menjaga diri sendiri" Seperti anak kecil saja, di jemput dan dikawal!" Tiba-tiba sang pangeran terkejut dan membalikkan tubuh dengan cepat, juga dua orang pengawalnya memutar tubuh ke kanan dan terbelalak.

Di situ, di ha-dapan mereka, telah berdiri lima orang gadis yang cantik-cantik, yang empat orang berpakaian empat maeam warna, dan yang di depan luar biasa cantiknya, pakaiannya berkembang, rambutnya di-gelung ke atas dan dihias sebuah tiara kecil, tangan kirinya memegang sebatang hudtim atau kebutan berbulu merah de-ngan gagang emas, sepasang matanya mencorong memandang kepada Pangeran Cia Sun seperti mengeluarkan api! "Pangeran Cia Sun!" terdengar suara-nya dingin sekali.

"Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!" "Eng-moi !" Pangeran Cia Sun ber-seru sambil melangkah maju untuk men-dekati gadis kekasihnya itu.

"Diam! Engkau tak berhak menyebut-ku seperti itu!" bentak Siangkoan Enj marah.

Si kumis tebal dan si botak menjadi marah.

Mereka meloncat ke depan Pa-ngeran Cia Sun seperti melindunginya dan menghadapi lima orang gadis cantik.

"Apakah kalian telah menjadi gila Beliau ini adalah Pangeran Cia Sun, cucu Sribaginda Kaisar! Beranikah kalian ber-sikap kurang hormat kepada beliau" Apa-kah kalian sudah bosan hidup?" Kedua orang pengawal itu sudah mencabut pe-dang mereka untuk melindungi sang pa-ngeran.

"Bereskan mereka!" kata Siangkoan Eng dan empat orang pelayannya sudah berloncatan menghadapi dua orang pe-ngawal itu sambil meneabut pedang me-reka.

"Kalian yang sudah bosan hidup!" bentak nona baju kuning dan ia memim-pin penyerangan kepada dua orang jagoan istana itu.

Terjadilah pertanding seru dan hebat.

Dua orang jagoan istana itu ter-kejut setengah mati karena mendapat kenyataan bahwa empat orang gadis can-tik itu lihai bukan main menggerakkan pedang mereka dan sebentar saja mereka berdua terdesak dan terkepung, harus memutar pedang secepatnya untuk me-lindungi diri.

Sementara itu, Siangkoan Eng maju menghampiri Par geran Cia Sun dan mem-bentak lagi.

"Menyerahtah atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!" "Eng-moi, ingatlah aku"aku.." "Tidak perlu banyak cakap lagi!" ben-tak Siangkoan Eng dan ia sudah menye-rang dengan kebutannya, menotok ke arah leher Cia Sun.

Pangeran ini meng-elak, akan tetapi Eng Eng menyerang terus, bahkan semakin hebat.

"Eng-moi ah, 'engkau keterlaluan, tidak merriberi kesempatan kepadaku " kata sang pangeran yang terus mengelak sampai beberapa kali.

"Engkau mata-mata busuk, pengkhia-nat, manusia berhati palsu, tidak perlu bicara lagi!" Kini penyerangan semakin hebat sehingga terpaksa Pangeran Cia Sun menangkis cengkeraman tangan ka-nan gadis itu.

Begitu kedua lengan ber-temu, dia hampir terjengkang! Cia Sun terkejut dan baru dia yakin benar bahwa dalam pertandingan tempo hari, gadis itu selalu mengalah.

Kini buktinya, pertemu-an tenaga mereka membuktikan bahwa gadis itu jauh lebih kuat dari padanya.

Kini Cia Sun yang melawan setengah hati, tidak mau membalas serangan, ha-nya mengelak dan menangkis sa ja.

"Eng-kau keliru, Eng-moi.

Aku memang pa-ngeran yang menyamar menjadi orang biasa untuk dapat leluasa memperdalam pengetahuan dan pengalaman aku tidak berniat buruk, aku bertemu dengan-mu dan jatuh cinta " Karena bicara, maka pertahanan pangeran itu kurang kuat dan sebuah totokan jari tangan kanan Eng Eng membuat dia terkulai dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi! Dan pada saat itu pun, dua orang pe-ngawal itu roboh mandi darah dan tewas di ujung pedang empat orang gadis pela-yan Eng Eng.

"Belenggu kedua tangannya dan bawa pulang, masukkan ke dalam kamar tahan-an dan jangan ganggu dia sampai ayah pulang." katanya kepada empat orang gadis pelayan yang segera meringkus Cia Sun yang sudah tidak mampu bergerak, membelenggu kedua tangan ke belakang lalu menggotongnya seperti seekor kijang yang baru saja ditangkap oleh sekawanan pemburu.

Mayat kedua orang pengawal itu ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Sepuluh menit kemudian, barulah be-berapa orang muncul dan membawa pergi dua jenazah jagoan istana itu.

Mereka adalah anak buah yang tadi tidak berani muncul.

Sang pangeran yang perkasa dan dua orang jagoan istana itu saja tidak mampu menandingi lawan, apalagi mereka yang hanya anak buah biasa.

*** Dari jauh, gua itu nampak hitam ge-lap.

Akan tetapi, waktu itu, matahari telah tinggi dan bersinar seterang-terang-nya.

Tengahari itu, Yo Han tiba di depan gua di lereng bukit yang menjadi tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te seperti yang diceritakan oleh Siangkoan Kok kepadanya.

Dengan sinar matahari yang amat terang, maka setelah tiba di depan gua, ternyata tidaklah begitu gelap se-perti nampaknya, dari jauh.

Salah satu gua yang besar dan merupakan sebuah ruang-an depan karena di situ terdapat prabot--prabot seperti bangku dan kursi.

Gua itu seperti sebuah rumah besar saja, di se-belah dalam terdapat sebuah pintu kayu yang memisahkan ruangan depan dengan ruangan dalam.

Beberapa kali Yo Han memanggil--manggil ke arah dalam gua, namun tidak terdapat jawaban.

Dia tidak berani lan-cang memasuki tempat tinggal orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Mungkin gua ini merupakan terowongan yang da-lam dan penghuninya berada di bagian belakang sehingga tidak mendengar pang-gilannya, pikirnya.

Dia lalu mengerahkan khikang dan berseru dengan suara yang seperti menembus ke seluruh ruangan di dalam gua terowongan itu.

"Tiat-liong Sam-heng-te! Harap suka keluar untuk bicara dengan aku, Yo Han." Suara itu bergema dan gemanya ter-dengar dari luar.

Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Tentu saja sedang keluar, pikir Yo Han.

Dia teringat bahwa anak yang diculik itu kabarnya masih hidup dan berada di sini pula.

Kebetulan! Kalau Tiat-liong Sam heng-te keluar, tentu anak itu berada seorang diri saja! Kesempatan yang amat baik untuk meng-ajaknya pergi dari sini, kembali kepada orang tuanya.

"Sim Hui Eng ! Apakah engkau berada di dalam?" kembali dia berteriak dengan pengerahan khikang.

Dan sekarang ada tanggapan dari dalam! Ada suara langkah kaki menuju keluar.

Daun pintu itu terbuka sedikit dan nampak wajah seorang gadis cantik mengintai dari balik daun pintu itu.

"Nona, aku Ingin bicara denganmu!" Yo Han berseru.

Akan tetapi wajah itu lenyap dari balik pintu dan Yo Han ce-pat meloncat ke dalam gua dan mengejar.

Gadis itu kini berhenti di ruangan tengah dan tidak lari lagi, melainkan meman-dangrya dengan heran ketika Yo Han masuk ke ruangan itu.

"Kenapa engkau masuk ke sini ?" Kini gadis itu menegur, suaranya me-ngandung rasa takut.

"Jangan masuk, nanti ketiga orang ayahku marah!" Tiga orang ayah! Yo Han merasa kasihan sekali.

Agaknya gadis itu seperti orang bingung, bahkan mengaku mem-punyai tiga orang ayah.

Mana mungkin seorang gadis mempunyai tiga orang ayah" Sudah jelas, pasti ini yang nama-nya Sim Hui Eng, puteri bibinya.

Hatinya terharu.

"Aku mau bicara denganmu." kata pula Yo Han sambil mendekat.

"Jangan masuk, nanti ayah marah.

Dan aku tentu akan dihukum!" Yo Han mengerutkan alisnya dan inengepal tinju.

Tentu tiga orang pen-culik itu bersikap kejam terhadap gadis ini, pikirnya.

"Kalau begitu, mari kita keluar dan bicara di luar agar ayahmu.

tidak marah." katanya.

Gadis itu meng-angguk dan ketika Yo Han melangkah keluar, ia mengikuti.

Akan tetapi, kembali gadis itu kem-bali berhenti, bahkan kini masuk ke se-buah ruangan yang berada di sebelah kiri.

Yo Han menengok dan melihat gadis itu berhenti lagi bahkan memasuki se-buah ruangan yang agak lebih terang, dia pun melangkah kembali menghampiri.

"Nona, kenapa engkau berhenti?" Gadis itu kelihatan gelisah dan me-ngerutkan alisnya, pandang matanya ti-dak percaya dan curiga.

"Mau bicara apa sih dengan aku" Aku tidak mengenalmu!" "Akan tetapi aku mengenalmu.

Engkau tentu Sim Hui Eng " Gadis yang manis itu menggeleng kepala.

"Namaku bukan Sim Hui Eng dan aku tidak mengenalmu.

"Mungkin engkau sendiri tidak tahu bahwa namamu yang sebenarnya adalah Sim Hui Eng karena engkau diculik orang sejak kecIl.

Nona, aku hampir yakin bah-wa engkaulah gadis yang kucari, dan aku dapat membuktikan kebenaran hal itu." "Hemmm, apakah bukti itu?" "Kalau engkau mau memperlihatkan pundak kirimu dan tapak kaki kananmu kepadaku, di sana ada tanda-tanda." "Ihhh, engkau orang kurang ajar! Ba-gaimana mungkin aku dapat memperlihat-kan pundak dan kakiku kepadamu?" Gadis itu berseru marah dan mukanya berubah kemerahan.

Yo Han berpikir.

Memang sulit juga.

Akani tetapi, agaknya Tiat-liong Sam-heng-te, tiga orang yang oleh gadis itu disebut ayah, sedang tidak berada di situ dan ini merupakan peluang yang baik sekali.

Dia harus dapat melihat bukti itu dan kalau gadis itu tidak mau memper-lihatkannya, dia harus memaksanya.

Ti-dak ada lain jalan.

Kalau tiga orang yang diaku ayah gadis itu berada di situ, tentu hal ini akan lebih sulit untuk di-laksanakan.

Dia harus memeriksa pundak dan kaki gadis itu agar yakin apakah dugaannya bahwa gadis itu Sim Hui Eng itu benar.

"Nona, aku tidak bermaksud kurang ajar.

Akan tetapi aku harus dapat me-lihat bukti Itu, apakah pundak dan kaki-mu ada tanpa-tanda ,kelahiran itu atau-kah tidak." katanya dan dia pun cepat memasuki ruangan yang terang itu.

Gadis itu menyambutnya dengan se-rangan pisau yang tadi disembunyikannya di belakang tubuhnya.

Yo Han tidak me-rasa heran.

Tentu gadis ini salah paham dan menganggap dia hendak kurang ajar.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa tanpa paksaan, sukar untuk dapat melihat kaki dan pundak seorang gadis, dia pun meng-elak dan begitu tangan yang memegang pisau itu menyambar lewat, dia sudah menangkap lengan kanan yang memegang pisau dan secepat kilat jari tangan ka-nannya menotok dan gadis itu tidak mam-pu bergerak lagi! la tentu roboh kalau saja Yo Han tidak cepet merangkulnya dan merebahkannya di atas lantai.

Pada saat dia merangkul itulah, dia mendengar suara aneh di belakangnya.

Dia menoleh dan terkejut melihat betapa jalan masuk ke ruangan itu, tiba-tiba saja tertutup oleh jeruji besi yang meluncur dari atas.

Karena dia sedang merangkul tubuh gadis itu, maka dia tidak sempat lagi untuk meloloskan diri, dan dia pun terkurung dalam ruangan itu bersama gadis yang masih tertotok.

Posting Komentar