Betapa dia diremehkan dan dipandang rendah! "Apa yang Lo-cian-pwe minta" Kalau Lo-cian-pwe mengajukan syarat, tentu akan saya coba untuk memenuhinya." katanya sederhana, namun sikapnya te-gas.
Mendengar ucapan yang nadanya me-nantang itu, Eng Eng mengerutkan alisnya dan merasa khawatir, bahkan ia mengerling ke arah kekasihnya dan me-ngedipkan mata mencegah, namun sia--sia karena pemuda itu sudah mengeluar-kan kata-katanya.
"Ha-ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! Se-orang gadis seperti Eng Eng memang tidak sepatutnya didapatkan dengan mu-dah seperti orang memetik buah apel dari pohon saja! Nah, permintaanku ti-dak banyak.
Pertama engkau harus dapat memberi tanda mata yang patut bagi seorang calon isteri macam Eng Eng, dan ke dua, dalam pesta pernikahan kalian nanti, aku minta agar keluarga Kaisar menjadi tamunya!" "Ayah !! Permintaan itu keterlalu-an!" teriak Eng Eng, dan Ibunya juga berseru kaget.
"Aih, mana ada permintaan seperti itu" Yang pertama mungkin dapat di-laksanakan, akan tetapi yang ke dua mustahil! Kita ini apa dan siapa, minta keluarga kaisar menjadi tamu dalam pesta pernikahan anak kita?" kata Lauw Cu Si.
"Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut.
Semua ini kulakukan demi menaikkan de-rajat anak kita, berarti naiknya derajat kita pula! Bagaimana, Cia-sicu, sanggup-kah engkau memenuhi kedua permintaan itu?" "Saya sanggup!!" kata Cia Ceng Sun dengan suara lantang dan tegas sehingga mengejutkan tiga orang itu yang kini memandang kepaada pemuda itu dengan mata terbelalak.
"Sun-koko! Bagaimana engkau berani menyanggupi syiarat yang mustahil itu?" teriak Eng Eng.
93 "Tenanglah, Eng-moi.
Demi cintaku kepadamu, aku akan berani menyeberangi lautan api sekalipun.
Akan kuusahakan sedapat mungkin untuk kelak mengundang keluarga kaisar.
Aku mempunyai banyak kenalan di antara para pembesar dan juga penghuni istana!" "Ha-ha-ha, bagus sekali! Setidaknya, kesanggupanmu sudah membuktikan ada-nya cinta kasihmu yang besar terhadap anak kami Cia-sicu.
Sekarang, tanda mata apa yang pantas kauberikan kepada Eng Eng sebelum engkau pergi mengirirri wakil untuk melakukan pinangan resmi?" "Harap Lo-cian-pwe sekalian me-nunggu sebentar, akan saya ambil dari kamar saya." Pemuda itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan makan.
Ketika Eng Eng hendak mengejar, baru saja ia bangkit ayahnya melarang.
"Eng Eng, engkau harus pandai meng-hargai diri sendiri..
Tunggu saja di sini, kita .lihat bersama apa yang dapat dia, berikan kepadamu.
Engkau tidak ingin kelak kecewa dengan pilihanmu, bukan" Biarkan Ayah yang mengujinya!"Eng Eng tidak jadi bangkit.
Ia pun tahu bahwa sikap ayahnya yang begitu keras bukan karena ayahnya tidak suka mempunyai mantu Cia Ceng Sun, melain-kan karena ayahnya ingin mendapatkan mantu yang benar-benar mencintainya, seorang mantu yang berani dan pandai.
Agak lama pemuda itu pergi dan ketika dia masuk kembali ke dalam ru-angan itu, ternyata dia telah berganti pakaian dan telah membawa buntalan pakaiannya.
"Sun-koko! Engkau...
hendak pergi...?" Eng Eng terkejut sekali karena sebelum-nya kekasihnya tidak mengatakan hendak pergi sekarang juga.
"Benar, Eng-moi.
Aku harus cepat berusaha untuk memenuhi permintaan ayahmu, yaitu mengirim wali untuk me-minang, dan mempersiapkan agar kelak keluarga istana dapat menghadiri pesta pernikahan kita." Dia lalu menghadapi Siangkoan Kok dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku bajunya.
"Lo-cian-pwe, untuk sementara ini, saya tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada ini.
Harap Lo-cian-pwe sekalian tidak merasa kecewa de-ngan pemberian tanda mata yang tidak berharga ini." Ketika Siangkoan Kok menerima ben-da itu, dia dan isterinya yang duduk di dekatnya terbelalak kagum.
"Tidak ber-harga?" seru Lauw Cu Si.
"Wah ! Belum pernah selama hidupku melihat kalung mutiara seindah ini!" Siangkoan Kok, seorang keturunan bangsawan, juga terbelalak kagum.
Dia mengenal barang yang amat berharga dan langka sehingga terlontar pertanyaannya penuh keheranan.
"Dari mana engkau memperoleh benda mustika seperti ini?" "Lo-cian-pwe, sudah saya katakan bahwa saya mewarisi harta kekayaan orang tua saya, dan itu merupakan satu di antara benda peninggalan itu." "Nah, Ayah jangan memandang rendah kepada Sun-koko!" Eng Eng juga berseru, bangga sekali walaupun diam-diam ia juga merasa heran bahwa kekasihnya memiliki simpanan benda yang demikian langka dan berharga, yang dikatakannya tadi "tidak berharga." Kalau kalung se-perti itu tidak berharga, lalu yang ber-harga itu yang bagaimana" Siangkoan Kok setelah memeriksa benda berharga itu, lalu menyerahkannya kepada isterinya yang kini mendapat giliran mengaguminya bersama Eng Eng, lalu berkata kepada pemuda itu.
'Baik, tanda mata itu kami terima dan kami anggap cukup pantas.
Sekarang pergilah untuk mengirim utusan dan wali untuk melakukan pinangan resmi, kemudian atur agar dalam pesta pernikahannya, keluarga kaisar dapat hadir.
Kalau engkau membohongi kami, awas, aku tidak akan mengampunimu." "Baik, Lo-cian-pwe.
Nah, saya minta diri.
Eng-moi, aku pergi dulu dan doakan saja agar usahaku berhasil." "Selamat jalan, Koko, dan jangan terlalu lama membiarkan aku menunggu-mu di sini." kata gadis itu.
Setelah memberi hormat, Cia Ceng Sun lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Tiba-tiba Siangkoan Kok lalu berkata ke-pada puterinya, "Eng Eng, aku mempunyai urusan penting, karena itu engkau harus dapat mewakill aku.
Kau bawa beberapa anak buah yang boleh diandalkan, dan kau bayangi pemuda itu." "Ayah! Apa artinya ini" Kami sudah saling mencinta!" "Anak bodoh! Justeru karena engkau mencintanya, engkau harus mengenal betul siapa dia! Bayangi dia dan buktikan sendiri bagaimana dia berusaha untuk dapat kelak menghadirkan keluarga istana di dalam pesta pernikahanmu..
Jangan sampai kita dibohongi dan ditipu.
Me-ngerti" Jangan percaya dulu sebelum melihat buktinya, betapapun cintamu kepadanya.
Engkau tidak ingin kelak hidup sengsara, bukan" Dan ingat, engkau bayangi dia, jangan bantu dan jangan perlihatkan diri, jangan khianati ayahmu karena semua ini demi kebaikan masa depanmu sendiri."' Eng Eng mengerti dan ia mengangguk.
Bahkan diam-diam ia merasa gembira karena dengan membayangi Cia Ceng Sun, berarti dia selalu dekat dengan ke-kasihnya itu, walaupun ia tidak boleh memperlihatkan diri.
Dan memang perlu untuk diketahui siapa sebenarnya kekasih-nya itu yang menyanggupi ayahnya untuk menghadirkan keluarga kaisar dalam pes-ta pernikahannya! Dia pun cepat ber-kemas, lalu mengajak empat orang pe-layannya yang ia percaya, yaitu empat orang gadis yang berpakaian kuning, merah, biru dan putih.
Mereka berlima lalu cepat meninggalkan perkampungan Pao-beng-pai dan dengan mudah mereka dapat menyusul Cia Ceng Sun dan mem-bayangi pemuda itu dari jauh.
Cia Ceng Sun sudah keluar dari Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) melalui jalan keluar yang sudah diberi tanda-tanda sehingga dia tidak akan tersesat ke dalam daerah yang berbahaya penuh rahasia, dan dia kini tiba di lereng pa-ling rendah dari Kwi-san (Bukit Setan).
Sunyi saja di situ.
Matahari sudah naik tinggi dan sinarnya mulai terasa hangat di badan.
Tiba-tiba Cia Ceng Sun yang peng-lihatan dan pendengarannya tajam dan peka, melihat berkelebatnya bayangan di balik semak-semak di sebelah kirinya.
Dia berhenti, menoleh ke kiri dan mem-bentak.
"Siapa mengintai di sana" Ke-luarlah dan jangan bersembunyi seperti binatang liar!" 95 Sesosok bayangan melompat keluar dari kiri, disusul bayangan lain melayang dari kanan dan dia telah berhadapan dengan dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun.
Dua orang itu segera memberi hormat kepadanya dengan berlutut sebelah kaki.
"Mohon maaf kalau hamba berdua mengejutkan hati Pangeran," kata se-orang di antara mereka yang kumisnya tebal.
"Hamba berdua diutus ayah Paduka, Pangeran Cia Yan, untuk menjemput Paduka dan mengawal Paduka pulang sekarang juga karena ada urusan penting." kata orang ke dua yang kepalanya botak.
"Ssttt !" Pangeran Cia Sun atau Cia Ceng Sun menaruh telunjuk ke depan bibir untuk memberi isyarat agar kedua orang itu menahan kata-kata mereka, lalu menoleh ke sekeliling.
"Harap Paduka jangan khawatir, Pa-ngeran.
Kami berdua telah melakukan pemeriksaan dan tempat ini sunyi." kata si kumis tebal.
"Andaikata ada yang melihatnya juga, siapa yang akan beranl mengganggu Pa-duka?" sambung si botak.
Tentu saja kedua orang pengawal istana ini merasa heran melihat sikap sang pangeran.
Ke-napa mesti bersikap begitu hati-hati dan takut" Dia seorang pangeran.
Siapa akan berani mengganggunya tentu akan ber-hadapan dengan pasukan pemerintah! Pangeran Cia Sun mengerutkan alis-nya.
"Ada urusan penting apakah sampai kalian diutus mencari aku" Aku bisa pulang sendiri!" katanya tak senang.
"Pu-la, bagaimana kalian dapat tahu bahwa aku berada di sini?" Si kumis tebal tersenyum bangga.
"Pangeran, tidak percuma kami berdua menjadi jagoan istana, pengawal-pengawal yang dipercaya.
Ketika Paduka pergi ayah Paduka Pangeran Cia Yan memerin-tahkan kami berdua untuk membayangi Paduka dari jauh dan menjaga keselamatan Paduka.
Tugas ini amat mudah karena Paduka :memiliki ilmu kepandaian tinggi dan cukup kuat untuk membela diri sen-diri.
Maka kami hanya menyebar anak buah untuk membayangi dari jauh.
Kami mengetahui bahwa Paduka hadir pula di, dalam pertemuan Paobeng-pai walaupun kami tidak mungkin dapat masuk ke tempat berbahaya itu." "Untung kalian tidak masuk, kalau hal itu terjadi, selain kalian celaka, tentu penyamaranku akan gagal pula.
Lalu bagaimana?" tanya sang pangeran.
Kini si Botak yang melanjutkan.
"Ka-mi merasa khawatir karena setelah se-mua tamu keluar dari Ban-kwi-tok, Pa-duka tidak keluar-keluar.
Kami merasa bahwa tentu ada sesuatu yang terjadi maka cepat kami mengirim laporan ke-pada ayah Paduka.
Dan kami menerima perintah agar menjemput Paduka dan mengajak Paduka pulang secepatnya.
Ayah Paduka tidak berkenan mendengar Paduka bergaul dengan orang-orang kang-ouw yang mencurigakan itu, juga Paduka ditunggu karena ada tamu penting." "Siapa tamu penting itu?" Dua orang pengawal itu saling pan-dang dan tersenyum penuh arti.
"Paduka tentu akan senang sekali kalau tiba di rumah.