Si Tangan Sakti Chapter 30

NIC

Aku lebih suka berterus terang, Eng-moi, daripada berpura-pura dan palsu." Gadis itu tersenyum dan kembali dia menangkap kedua tangan pemuda itu yang tadi melepaskan diri.

"Koko, aku justeru bangga sekali karena sikapmu yang berterus terang ini.

Aku sendiri pun hanya melaksanakan kewajiban.

sebagai puteri ayah.

Aku tidak peduli tentang perjuangan dan hanya membantu ayah sebagaimana patutnya seorang anak ber-bakti kepada orang tuanya.

Adapun ten-tang permusuhan antara keluarga kami dengan tiga keluarga besar itu, aku sen-diri sudah sering memberitahu kepada ayah betapa tidak wajarnya memusuhi seluruh anggauta keluarga Pulau Es, Gu-run Pasir, dan Lembah Naga.

Tidak wa-jar dan juga amat berbahaya karena tiga keluarga besar itu mempunyai orang--orang yang sakti dan amat sukar untuk dikalahkan." "Hemmm, mengapa ayahmu memusuhi mereka?" "Menurut ayah, sejak orang-orang Mancu menyerbu dan menumbangkan Kerajaan Beng, semua anggauta keluarga--keluarga itu tidak pernah menentang, bahkan membantu orang Mancu." "Eng-moi, aku adalah orang yang menghargai kejujuran.

Aku sudah ber-terus terang kepadamu mengatakan bah-wa aku tidak mungkin dapat membantu ayahmu.

Nah, bagaimana tanggapanmu, Eng-moi" Kalau kita sudah berjodoh mau-kah engkau meninggalkan ini semua dan tidak lagi mencampuri urusan pemberon-takan dan permusuhan, melainkan hidup dalam suasana tenteram dan damai di sampingku?" "Koko, betapa sudah lama sekali aku merindukan ketenteraman dan kedamaian itu.

Aku akan berbahagia sekali kalau hidup dengan tenteram dan damai di sampingmu, akan tetapi....

tentu ayah dan ibu tidak akan mau membiarkan...." "Percayalah kepadaku, Eng-moi.

Aku yang akan melindungimu," kata Cia Ceng Sun dengan sikap gagah dan baru sekali itu selama hidupnya Eng Eng merasa lemah dan amat membutuhkan perlindung-an orang lain kecuali ayah ibunya.

Ke-tika Cia Ceng Sun menariknya, ia pun merebahkan diri di atas dada pemuda itu, menyembunyikan mukanya di bawah dagu.

Mereka tenggelam dalam kemesraan.

*** Sebagai hasil percakapan dengan Siang-koan Kok, pada keesokan harinya Yo Han mendapat keterangan dari ketua Pao--beng-pai itu bahwa penyelidikan anak buahnya berhasil! "Penculik anak Pendekar Suling Naga Sim Houw itu adalah Tiat-liong Sam--heng-te (Tiga Kakak Beradik Naga Besi).

Mereka adalah orang-orang yang sejak dahulu bermusuhan dengan Pendekar Su-ling Naga, dan mereka membalas dendam dengan menculik puteri pendekar itu." Dapat dibayangkan betapa besar ke-girangan hati Yo Han mendengar ke-terangan itu.

Tak disangkanya akan semudah itu dia mendapatkan jejak pen-culik puteri bibinya! "Di mana mereka bertiga, Paman" Ingin sekali aku menemui mereka untuk -kuajak bekerja sama! Dan apakah anak itu masih ada pada mereka" Kalau masih ada, dapat kita pergunakan untuk me-meras dan memaksa orang tuanya! Hemm, sekali ini aku akan berhasil membalas dendam orang tuaku!" Melihat kegembiraan Yo Han, Siang-koan Kok tertawa, "Kebetulan sekali mereka tinggal tidak terlalu jauh dari sini, dalam waktu setengah hari engkau akan tiba di tempat tinggal mereka.

Menurut keterangan anak buah yang me-lakukan penyelidikan, anak perempuan dahulu mereka culik masih hidup dan tinggal bersama mereka." Hampir Yo Han bersorak saking gem-biranya dan dia hanya cukup menekan dan mengurangi saja luapan kegembiraan karena dalam perannya sebagai musuh bibinya, dia pun sepatutnya bergembira karena memperoleh sekutu yang dapat dipercaya dan menemukan anak perempu-an yang akan dapat dipergunakan sebagai sandera yang amat berharga.

Siangkoan Kok lalu memberi keterang-an tentang tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te, yaitu di sebuah lereng di bukit yang tak jauh dari situ, di mana terdapat sebuah gua terowongan yang mereka bangun menjadi tempat tinggal tiga bersaudara itu.

Dengan tulus hati Yo Han mengucap-kan terima kasih kepada Siangkoan Kok, kemudian berpamit untuk melanjutkhn perjalanan meneari tempat itu.

Siangkoan Kok mengucapkan selamat jalan sambil berpesan agar pemuda itu tidak melupa-kan hubungan baik antara mereka dan kelak dapat membantunya dengan bekerja sama antara Pao-beng-pai dan Thian-lipang.

Yo Han menyanggupi, lalu be-rangkat.

Di pekarangan depan, dia berjumpa dengan Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng yang nampak berjalan berdampingan da-lam suasana yang akrab sekali.

Yo Han dapat melihat bahwa ada apa-apa di an-tara keduanya, maka dia pun tersenyum.

Memang mereka merupakan pasangan yang pantas sekali, pikirnya.

Namun diam--diam dia menyayangkan bahwa seorang pemuda yang hebat seperti Cia Ceng Sun itu kini terlibat dalam keluarga pimpinan pemberontak, bahkan yang memusuhi tiga keluarga besar.

Ah, itu bukan urusannya, pikirnya sambil menggerakkan pundak.

Karena mereka berdua sudah sama-sama tinggal di situ sebagai tamu Pao-beng-pai, tentu saja dua orang pemuda ini sudah saling berkenalan walaupun hubung-an mereka tidak akrab sekali.

Yo Han lebih sering bercakap-cakap dengan Siang-koan Kok, sebaliknya Cia Ceng Sun lebih sering berduaan dengan Siangkoan Eng.

"Ehhh, engkau hendak pergi, saudara Yo?" tanya Cia Ceng Sun melihat pe-muda itu hendak meninggalkan pekarang-an sambil menggendong buntalan pakaian di punggungnya.

Eng Eng hanya meng-angguk saja ketika bertemu pandang de-ngan "Yo Han.

Biarpun dia merasa kagum kepada Yo Han, namun ia selalu merasa curiga, karena bagaimanapun juga, ia tahu bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang yang amat tangguh dan menurut ayahnya, tenaga sinkang pemuda itu se-imbang dengan ayahnya! Apalagi pemuda ini pernah membuat nama besar dengan julukan Pendekar Tangan Sakti.

Meng-hadapi orang yang lebih lihai, tentu saja ia merasa khawatir dan juga curiga.

'Benar, saudara Cia.

Aku sudah ber-pamit dari Paman Siangkoan Kok dan harus melan jutkan perjalananku hari ini juga.

Nah, selamat tinggal dan semoga engkau berhasil dalam segala cita-cita-mu.

Selamat tinggal, Nona Siangkoan, dan terima kasih atas kebaikan keluarga Nona selama aku tinggal di sini." Dengan sikap tidak terlalu hormat dan ugal-ugal-an seperti tokoh yang perannya dia mainkan, Yo Han tersenyum lalu membalik-kan tubuh meninggalkan mereka, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.

"Hemmm, dia seorang pendekar yang hebat! Masih begitu muda sudah memilikikesaktian yang dahsyat," Cia Ceng Sun memuji.

"Tapi aku tidak terlalu percaya kepadanya, bahkan aku mencurigainya, Koko." kata Eng Eng.

"Ehhh" Kenapa" Bukankah dia tokoh Thian-li-pang dan kini bersahabat baik dengan ayahmu" Bahkan dia menyebut paman kepada ayahmu.

Hemmm, aku jadi berpikir jangan-jangan ayahmu lebih condong memilih dia sebagai calon mantu daripada aku!" Eng Eng mencubit tangan kekasihnya dengan gemas.

"Ihhh! Aku akan minggat kalau ayah memaksa aku menikah dengan pria lain kecuali engkau.

Apakah engkau masih belum percaya kepadaku, Koko?" "Maaf, aku hanya bergurau.

Sekarang juga aku akan menghadap ayah ibumu dan menyatakan keinginan kita, men-ceritakan hati kita, dan kalau ayah ibu-mu mengijinkan, aku segera akan pergi dan mencari seorang wakil untuk kukirim ke sini melakukan pinangan." "Nah, begitu lebih baik daripada mem-bicarakan orang lain.

Sebaiknya nanti saja.

setelah mereka sarapan,.

engkau mengatakan isi hatimu kepada mereka.

Akan kuusahakan agar engkau diundang sarapan sehingga kita berempat dapat berkumpul dan bercakap-cakap." Demikianlah, tak lama kemudian me-reka telah makan pagi bersama, Cia Ceng Sun, Siangkoan Eng, Siangkoan Kok dan isterinya, Lauw Cu Si.

Setelah ma-kan pagi yang agaknya dilakukan Siang-koan Kok dengan sikap tergesa-gesa ka-rena dia hendak bepergian, Cia Ceng Sun mempergunakan kesempatan itu untuk bicara.

"Lo-eian-pwe (Orang Tua Gagah), saya mohon sedikit waktu untuk bicara de-ngan Lo-cianpwe berdua, bersama Eng-moi juga." katanya dengan sikap sopan dan sikap tenang.

Bagaimanapun juga, dia seorang pangeran dan tentu saja me-miliki wibawa yang besar sehingga meng-hadapi ketua Pao-beng-pai itu pun dia dapat bersikap tenang.

"Hemmm, soal apakah yang hendak kaubicarakan, Cia sicu?""Soal saya dan adik Eng Eng.

Harap Lo-eian-pwe berdua mengetahui bahwa kami berdua telafi bersepakat untuk saat ini mengaku terus terang kepada Ji-wi (Anda Sekalian) bahwa kami saling men-cinta dan sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama sebagai suami isteri.

Saya segera akan pergi dan mengirim seorang wali untuk melakukan pinangan kepada Ji-wi, secara resmi." Mendengar pinangan yang diajukan begitu tiba-tiba dengan pengakuan bahwa pemuda itu sudah saling mencinta dengan puteri mereka dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, suami isterinya itu saling pandang.

Siangkoan Kok menoleh kepada puterinya yang juga sedang memandang kepadanya dengan sikap yang tenang pula.

"Eng Eng, benarkah apa yang dikata-kan Cia Ceng Sun tadi" Bahwa kalian saling mencinta dan engkau setuju untuk menjadi isterinya?" Dengan sikap gagah dan penuh tang-gung jawab, Eng Eng mengangguk dan berkata, "Benar, Ayah.

Kurasa usiaku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sekarang, dan dialah pilihan hati-ku.

" Siangkoan Kok tertawa bergelak dan sukar menduga apakah suara tawa itu karena gembira atau karena geli atau untuk mengejek.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Orang muda she Cia! Engkau tahu bahwa Eng Eng adalah puteri tunggal kami yang sangat kami sayang.

Ia puteri ketua Pao-beng-pai, cantik dan tinggi ilmunya, lebih tinggi daripada ilmu yang kaukuasai.

Kalau ia menghendaki jodoh seorang pangeran sekalipun, hal itu bukan mus-tahil akan terlaksana.

Eng Eng kaya raya, berilmu tinggi dan cantik! Dan engkau ini siapakah berani hendak ber-jodoh dengannya".

Dari keturunan apa" Engkau cukup tampan, dan biarpun tidak selihai puteriku, kepandaianmu lumayan dan tidak memalukan.

Akan tetapi selain itu, apalagi yang dapat kauberikan ke-pada puteri kami?" Panas juga rasanya perut Cia Ceng Sun mendengar ucapan laki-laki yang akan menjadi ayah mertuanya itu.

Posting Komentar