Engkau bilang bahwa kalau engkau sudah berhasil me-nemukan penculik itu dan kau ajak menyerang musuh-musuhmu, engkau akan memimpin Thian-li-pang dan bekerja sama dengan kami" Kalau benar demiki-an, mungkin saja aku dapat membantu-mu.
Anak buahku banyak, dan kami mem-punyai hubungan baik dengan dunia kang--ouw.
Kalau kusebar mereka untuk me-lakukan penyelidikan, kiraku dalam waktu beberapa hari saja aku bisa menemukan siapa penculik itu." "Terima kasih, Paman! Sebetulnya aku pun sudah mempunyai pikiran seperti itu, akan tetapi mana berani aku membikin repot Paman" Kalau Paman suka mem-bantuku, sungguh aku merasa berterima kasih sekali dan aku pasti akan mem-balas budi itu dengan kerja sama!" "Baiklah, aku akan membantumu dan sekarang juga akan kuperintahkan anak buah Paobeng-pai untuk mencari tahu dan menyelidiki siapa adanya orang yang telah menculik anak dari Pendekar Suling Naga.
Engkau tunggu saja dan tinggal di sini selama beberapa hari lagi sampai kita mendapatkan hasilnya.
Nah, mari kita minum, Yo Han!" Mereka lalu mi-num arak dan tak lama kemudian Siang-koan Kok memanggil para pembantu-nya dan memerintahkan mereka me-nyebar anak buah untuk mecari be-rita tentang penculik anak Pendekar Suling Naga.
Sementara itu, pada senja hari itu, di dalam taman yang luas dari perkampungan Pao-bengpai, nampak Siangkoan Eng berjalan-jalan bersama Cia Ceng Sun.
Tidak ada seorang pun ang-gauta Pao-beng-pai berani mengganggu atau mendekati dua orang muda yang nampak berjalan-jalan di taman sambil bercakap-cakap nampak akrab sekali itu.
Memang kedua orang muda ini saling, tertarik dan saling mengagumi.
Siangkoan Eng adalah seorang gadis yang hidup di tengah keluarga kang-ouw.
Biarpun ayah-nya seorang bekas bangsawan dan ber-usaha sekuatnya untuk hidup seperti se-orang bangsawan, namun karena ling-kungannya adalah orang-orang kang-ouw yang menjadi anak buah ayahnya, maka ia sudah biasa hidup bebas tanpa ikatan segala macam peraturan.
Maka, kini ia dapat bergaul dengan Cia Ceng Sun de-ngan bebas tanpa rikuh dan sungkan, bahkan ayah ibunya juga membiarkannya saja karena kedua orang tua ini tidak keberatan kalau puteri mereka bergaul dengan seorang pemuda yang demikian baik seperti Cia Ceng Sun.
Setelah tiba di dekat kolam ikan yang indah, mereka duduk di atas bangku panjang.
Tempat itu memang indah dan romantis.
Bunga--bunga beraneka warna mekar semerbak.
Di sana-sini sudah dinyalakan lampu--lampu gantung beraneka warna pula dan di pohon dekat kolam itu tergantung dua buah lampu berwarna kemerahan sehingga dalam keremangan senja, kedua orang muda itu nampak seperti diselimuti ca-haya kemerahan.
"Kongcu, setelah engkau berada di sini, selama dua hari dua malam ini, bagaimana pendapatmu tentang keluarga kami, perkumpulan kami dan tempat ini?" Siangkoan Eng yang oleh ayah ibu-nya disebut Eng Eng dan oleh semua anak buahnya disebut Siocia (Nona) itu bertanya sambil menatap wajah pemuda yang tampan itu.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan-mu, bagaimana kalau engkau tidak me-nyebut aku kongcu (tuan muda) lagi" Terdengarnya begitu asing dan tidak se-pantasnya kalau seorang gadis seperti engkau menyebut aku kongcu." Eng Eng tersenyum.
"Hemmm, engkau sendiri menyebut aku siocia (nona), tentu saja aku menyebutmu kongcu.
Habis, kalau tidak menyebut kongcu, harus me-nyebut bagaimana?" "Sebut saja kakak, dan aku akan me-nyebutmu adik.
Bagaimana pendapatmu?" "Tidakkah itu terbalik" Kurasa aku lebih tua darimu!" "Tidak mungkin.
Usiaku sudah dua puluh tiga tahun!" "Kalau begitu sama, aku pun dua puluh tiga tahun.
Baiklah, mulai seka-rang, aku akan menyebutmu toa-ko (ka-kak), Sun-toako." "Dan aku akan menyebutmu Eng-moi (adik Eng)." "Sun-toako...." "Eng-moi...." Keduanya saling pandang dan tertawa gembira.
"Nah, sekarang kita merasa seperti adik kakak, bukan" Eng-moi, kini aku tidak merasa sungkan lagi untuk me-nanyakan hal-hal yang lebih bersifat pribadi, dan harap kau tidak marah ke-padaku." "Tanyalah, Toako?"Engkau seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan gagah perkasa, puteri seorang ketua pula, dan usiamu sudah dua puluh tiga tahun.
Akan tetapi ku-lihat engkau masih sendiri, belum ber-keluarga sendiri.
Kenapa, Eng-moi?" Karena pandainya Cia Ceng Sun meng-atur pertanyaan itu dengan sikap ber-saudara dan kata-kata yang halus, Eng Eng tidak merasa tersinggung, walaupun kedua pipinya berubah kemerahan juga.
"Aih, itukah" Bagaimana aku dapat mem-bangun rumah tangga sendiri kalau aku belum bertemu dengan orang yang cocok, Toako" Banyak memang pinangan ber-datangan terhadap diriku, akan tetapi selama ini aku belum bertemu dengan seorang yang berkenan di hatiku.
Kalau sudah bertemu yang cocok, mengapa tidak" Dan engkau sendiri, bagaimana, Toako" Tentu engkau sudah berkeluarga dan mempunyai satu dua orang anak." "Ha-ha-ha, dugaanmu keliru, Eng-moi.
Seperti juga engkau, aku masih hidup sebatang kara, belum mendapatkan jodoh.
Mungkin karena selama ini juga belum ada yang cocok bagiku seperti keadaan-mu." Hening sejenak, seolah keduanya teng-gelam dalam lamunan masing-masing sementara senja mulai ditelan keremang-an menjelang malam tiba.
Kemudian terdengar Eng Eng bicara lirih seperti kepada dirinya sendiri, "Betapa serupa keadaan kita...." kemudian ia menghela napas panjang dan melanjutkan sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah sinar matanya hendak menembus cuaca yang semakin remang.
"Toako, wanita seperti apakah yang kiranya dapat kau-anggap cocok untuk menjadi jodohmu?" Mendengar pertanyaan ini dan melihat sikap gadis itu, berdebar rasa jantung Cia Ceng Sun.
Dia merasa seperti di-todong dan rasanya sukar untuk mengelak atau menangkis, sukar untuk tidak meng-aku terus terang.
Sejak dia melihat gadis ini, dia sudah terpesona, apalagi setelah melihat sepak terjang gadis itu, kemudi-an sampai mereka mengadu ilmu, dia telah tergilagila, dia telah jatuh cinta! Dengan kuat sekali perasaan ini me-nekannya dan terasa benar olehnya.
Biar-pun dia tidak melupakan pesan ayahnya agar dia jangan jatuh cinta kepada wa-nita lain karena dia sudah ditunangkan dengan Si Bangau Merah, namun tetap saja dia tidak mampu menolak gelora hatinya, tidak dapat menipu diri sendiri.
Dia jatuh, cinta kepada Siangkoan Eng.
Padahal, gadis ini adalah puteri seorang pemimpin pemberontak, keturunan keluar-ga kaisar Kerajaan Beng! "Eng-moi, aku mau berterus terang saja, harap engkau tidak marah." "Eh" Kenapa aku harus marah kalau engkau bicara terus terang tentang se-orang wanita yang menurut pendapatmu cocok untuk menjadi jodohmu?" "Eng-moi, setelah aku tiba di sini, bertemu denganmu, maka tahulah aku bahwa gadis yang kucari-cari untuk men-jadi jodohku itu adalah....
yang seperti engkau inilah...." "Seperti aku" Apa maksudmu, Sun--ko?" "Maksudku....
eh, mana ada gadis yang sama denganmu.
Maksudku, bahwa yang kucari-cari itu adalah engkau! Eng-kaulah gadis yang kuidam-idamkan men-jadi jodohku.
Eng-moi, tentu saja kalau engkau sudi menerimaku." "Hemmm, engkau hendak meminang-ku?" Kenapa" Karena aku seperti gadis dalam mimpimu?" "Bukan begitu maksudku, eh....
ah, terus terang saja, semenjak aku bertemu denganmu, aku terpesona dan aku jatuh cinta padamu, Eng-moi.
Nah, aku sudah berterus terang, terserah kepadamu." 88 Hening pula, sekali ini agak lama dan keduanya menundukkan muka.
Seolah lenyap semua kegagahan dan keberanian mereka.
Untuk mengangkat muka dan saling pandang pun merupakan hal yang bagi mereka membutuhkan keberanian besar sekali pada saat seperti itu.
Akhir-nya, setelah beberapa kali meragu karena mendengar gadis itu berulang kali meng-hela napas panjang, Cia Ceng Sun mem-beranikan diri berkata, "Eng-moi, harap kau suka memaafkan aku kalau aku me-nyinggung perasaanmu." Memang sungguh aneh sekali pengaruh cinta terhadap diri seseorang.
Cia Ceng Sun adalah Pangeran Cia Sun, cucu kaisar! Padahal, dalam kedudukannya sebagai pangeran, dengan kegagahan dan ketampanannya, biasanya seorang pangeran seperti dia tinggal menunjuk saja gadis mana yang disukai-nya dan gadis itu akan datang kepada-nya, baik dengan suka rela maupun atas kehendak orang tua si gadis.
Dan se-karang, dia bersikap seperti seorang pemuda yang malu-malu dan gelisah ketika menyatakan cintanya kepada seorang gadis biasa, bukan puteri bangsawan, bukan puteri istana! Dan sikapnya ini bukan sekali-kali disesuaikan dengan pe-nyamarannya sebagai pemuda biasa, me-mang sesungguhnya dia merasa lemah tak, berdaya menghadapi Siangkoan Eng! "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Toako Sesungguhnya, aku sendiri merasa bahwa sekarang setelah bertemu de-nganmu, aku pun telah menemukan pria yang selama ini kuharapkan...." Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya dan me-nundukkan mukanya yang berubah merah.
Biarpun Eng Eng seorang gadis yang gagah perkasa dan wataknya dingin dan aneh, namun sekali ini ia merasa sedemi-kian malu dan salah tingkah sehingga jantungnya berdebar keras dan seluruh tubuhnya seperti panas dingin kedua kaki-nya gemetar! "Eng-moi....!" Bukan main girangnya rasa hati Cia Ceng Sun mendengar peng-akuan itu.
Dia bukanlah seorang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul dengan wanita, walaupun dia bukan ter-golong pemuda yang mata keranjang dan suka pelesir seperti para pangeran lainnya.
Mendengar pengakuan Siangkoan Eng yang sama sekali tidak pernah disangka-nya, dia lalu menggeser duduknya dan memegang kedua tangan gadis itu.
Me-reka saling berpegang tangan, dan gadis itu mengangkat mukanya dan pandang matanya sayu, bahkan seperti hendak menangis.
Empat buah tangan yang saling berpegangan itu menggigil dan meng-getar.
"Eng-moi, terima kasih, Eng-moi! Aihhh, engkau membuat aku berbahagia sekali.
Aku cinta padamu, Eng-moi." Biarpun Eng Eng amat mengharapkan kata-kata itu namun setelah diucapkan, ia merasa lucu dan ia tersenyum.
"Sun--ko, kita baru dua hari berkenalan dan sudah saling mengaku cinta." "Apa salahnya" Kita saling mencinta, baru bertemu sedetik pun apa bedanya" Aku akan mengirim wali untuk meminang-mu kepada orang tuamu, Eng-moi." "Aku hanya akan menunggu, Sun--ko...." Hening kembali sejenak dan mereka masih saling berpegang tangan.
Akan tetapi tiba-tiba Cia Ceng Sun melepas-kan tangannya dan menunduk, seperti orang melamun dengan alis berkerut.
"Kenapa, Koko?" Eng Eng bertanya, khawatir.
"Ada satu hal yang mengganjal hati-ku, Eng-moi.
Yaitu cita-cita ayahmu.
Biarpun sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat, akan tetapi aku tidak pernah dan tidak suka bermusuhan.
Aku tidak ingin terlibat pemberontakan terhadap pemerintah, juga tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, maka tidak mungkin aku dapat membantu keluargamu.