Si Tangan Sakti Chapter 28

NIC

"Untuk mengusir penjajah dari tanah air, satu-satunya cara adalah bersatu padu di antara seluruh golongan.

Kalau kita bersatu padu, kita akan menjadi kuat dan pemerintah penjajah pasti dapat kita tumbangkan!" demikian antara lain ketua Pao-beng-pai berkata kepada para tamunya.

Pertemuan itu dibubarkan de-ngan kesan yang baik bagi para tamu.

Pao-beng-pai mereka akui, bahkan semua orang tahu bahwa Pao-beng-pai dipimpin oleh keluarga yang memiliki ilmu kepan-daian tinggi.

Semua tamu meninggalkan rumah besar di perkampungan Pao-beng-pai di Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) itu.

Kecuali Yo Han dan Cia Ceng Sun! Dua orang pemuda ini menerima undangan khusus dari pihak pimpinan Pao-beng--pai untuk tinggal selama beberapa hari di situ dengan alasan agar perkenalan semakin menjadi akrab.

Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Yo Han karena dia memang ingin sekali memper-oleh keterangan tentang penculik puteri bibinya yang dia harapkan dapat men-dengar dari perkumpulan itu.

Juga Cia Ceng Sun merasa girang.

Dia melihat bahwa Pao-beng-pai merupakan bahaya besar bagi pemerintahan kakeknya, maka sebagai seorang pangeran, dia berke-wajiban untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam agar dia memperoleh bahan untuk membuat pelaporan sehingga pemerintah dapat diselamatkan dan para pemberontak ini dapat dibasmi.

Hanya ada sebuah hal yang membuat hati pa-ngeran ini gelisah.

Yaitu Siangkoan Eng! Dia merasa menyesal sekali mengapa seorang gadis seperti itu menjadi puteri kepala pemberontak! Dua orang pemuda itu masing-masing memperoleh sebuah kamar di bagian belakang, kamar yang cukup mewah.

Dan biarpun mereka men-dapatkan kamar sendiri, namun kedua pemuda itu maklum bahwa diam-diam pihak keluarga tuan rumah selalu meng-ikuti gerak-gerik mereka.

Beberapa orang selalu memasang mata kalau mereka ber-ada di dalam kamar.

Hal ini membuat keduanya berhati-hati dan tidak berani sembarangan bertindak, juga mereka maklum bahwa betapapun ramahnya sikap keluarga tuan rumah, namun agaknya mereka masih belum percaya benar.

*** Mereka duduk berdua saja, di ruangan depan pada senja hari itu.

Yo Han dan Siangkoan Kok.

Sudah dua hari Yo Han tinggal di rumah keluarga Siangkoan Kok dan dia mulai mengenal ketua itu se-bagai seorang yang mempunyai cita-cita besar, yaitu menumbangkan pemerintah Mancu.

Juga ketua itu mulai mengaku bahwa dia adalah keturunan keluarga Kerajaan Beng yang telah dijatuhkan pasukan Mancu seratus tahun lebih yang lalu.

Ketua Pao-beng-pai ini bercita-cita untuk membangun kembali Kerajaan Beng! Yo Han melihat kenyataan bahwa yang dinamakan "perjuangan" oleh Siangkoan Kok ini pada hakekatnya tiada lain hanya-lah suatu usaha balas dendam dan ambisi pribadi.

Betapa banyaknya orang yang menggunakan kedok perjuangan, demi rakyat, demi bangsa dan sebagainya, yang pada hakekatnya menyembunyikan kepentingan pribadi.

Siangkoan Kok bukan berjuang melihat penderitaan rakyat, melainkan bercita-cita untuk merampas kembali kerajaan dan tentu dia bercita-cita menjadi raja kalau dia berhasil mem-bangun kembali Kerajaan Beng.

Perjuang-an itu baru aseli kalau dilakukan oleh seluruh rakyat sebagai akibat penderitaan atau penindasan.

Perjuangan yang mengutamakan rakyat tanpa mengikutserta-kan rakyat sendiri, masih diragukan ke-murniannya.

Siangkoan Kok tidak mengajak rakyat, melainkan mempunyai anak buah sendiri, dan merangkul orang-orang dari dunia persilatan, baik golongan hi-tam maupun putih.

Akan tetapi bagai-mana dengan rakyat jelata" Benarkah mereka itu kini dalam keadaan tertindas.

Yang dia tahu, biarpun Kaisar Kian Liong seorang Mancu, namun dia dikenal se-bagai seorang kaisar yang bijaksana, membangun dan berusaha memakmurkan rakyat, bukan dengan jalan penindasan.

Karena itu, nama kaisar itu harum di kalangan rakyat, bukan sebagai kaisar penindas.

Yo Han setuju kalau pemerintah di-pegang oleh bangsa sendiri, bukan oleh bangsa Mancu.

Akan tetapi, dia tidak setuju kalau untuk menumbangkan ke-kuasaan pemerintah penjajah itu diadakan pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini yang bukan lain berambisi pri-badi dari pemimpin-pemimpon kelompok yang tidak puas dan yang mencari ke-kuasaan bagi diri sendiri.

Pemberontakan kecil macam itu hanya akan menyengsa-rakan rakyat belaka.

Seperti yang sudah--sudah, gerombolan pemberontak itu selalu mengganggu rakyat pula.

Seperti Pek--lian-pai, Pat-kwa-pai, bahkan Thian-li--pang juga pernah menyeleweng.

Kalau perkumpulan yang bertujuan menumbang-kan penjajah itu dimasuki orang-orang , dari golongan sesat, sudah pasti akan terseret ke dalam kejahatan dan meng-ganggu rakyat dengan dalih perjuangan! Dan dia tidak setuju sama sekali! Kalau ada pemimpin sejati yang dapat membangkitkan rakyat untuk menentang pen-jajah, maka dia siap untuk berdiri di barisan terdepan! Akan tetapi karena kehadirannya di Pao-beng-pai bukan un-tuk urusan pemberontakan, melainkan dalam usahanya mencari jejak penculik puteri bibinya, dia pun tidak banyak membantah ketika mendengarkan ketua itu bicara penuh semangat tentang ge-rakannya.

"Nah, bagaimana pendapatmu, Yo--sicu" Setelah engkau mendengarkan se-mua cita-cita dan rencanaku, bersediakah engkau bekerja sama dengan kami, baik engkau pribadi maupun engkau sebagai pimpinan Thian-Li-pang" Kita berjuang bahu-membahu, menumbangkan penjajah dan kelak kita bersama pula yang akan memetik buahnya, kita yang akan me-nikmati hasilnya." Nah, tersembul sedikit setan itu, pikir Yo Han.

Kita yang akan memetik buah-nya, menikmati hasilnya! Jadi, apa yang dinamakan perjuangan itu hanya merupa-kan suatu cara untuk dapat mendatang-kanatau menghasilkan buah yang dapat dinikmati! Dia menahan diri untuk tidak mengucapkan suara hatinya yang ingin membantah dan mencela.

"Pangcu (Ketua)...." Aih, setelah kita bergaul begini akrab sebagi kawan seperjuangan, tidak perlu lagi engkau menggunakan sebutan, yang asing itu.

Sebut saja paman kepadaku, Yo Han!" Hemmm, orang ini memang pandai mempergunakan orang lain, pandai me-manfaatkan tenaga orang lain dengan sikap yang amat menyenangkan.

"Terima kasih, Paman Siangkoan Kok.

Pengangkatan ketua di Thian-li-pang sendiri kutolak, bukan karena aku tidak suka kedudukan, melainkan karena aku ingin bebas agar aku dapat melakukan balas dendam atas kematian ayah ibuku.

Mereka tewas karena dijerumuskan oleh Setan Cilik (Siauw Kwi) Can Bi Lan! Dan sebaiknya aku dalam keadaan bebas dan tidak terikat dalam usahaku membalas dendam ini.

Setelah aku berhasil mem-bunuh Can Bi Lan dan suaminya, mung-kin barulah aku akan memimpin Thian--li-pang dan aku akan bekerja sama de-nganmu." Siangkoan Kok mengangguk-angguk, lalu kedua matanya menatap tajam wajah pemuda itu.

"Yo Han, demikian besarkah kebencianmu terhadap Can Bi Lan dan Sim Houw?"Yo Han balas memandang, memper-lihatkan heran dan alisnya berkerut.

"Pa-man, kenapa Paman masih bertanya lagi" Kalau tidak karena ulah Can Bi Lan dan suaminya, dan seluruh anggauta keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga, tentu sampai kini ibuku masih menjadi seorang tokoh kang-ouw yang disegani! Hemmm, kalau saja aku bisa mendapat-kan seorang teman yang dapat dipercaya dan yang memiliki kepandaian yang boleh diandalkan, ingin sekali aku mengajaknya untuk mendatangi suami isteri itu dan membunuh mereka!" Ketua Pao-beng-pai itu tersenyum.

"Heh-heh-heh, Yo Han, begitu mudahnya engkau bicara! Mungkin kalau hanya Can Bi Lan atau Siauw Kwi, aku atau engkau akan mampu menandingi bahkan menga-lahkannya.

Akan tetapi Sim Houw" Dia adalah Pendekar Suling Naga, dengan suling pedangnya yang terkenal di seluruh dunia dan sukar dicari bandingnya! Sung-guh berbahaya sekali menghadapinya!" "Aku tidak takut, Paman.

Pernah aku berusaha menyerbu mereka, akan tetapi aku seorang diri tidak mampu mengalah-kan mereka.

Akan tetapi, kalau saja aku dapat bertemu dengan seseorang yang kucari-cari dan sampai sekarang sayang sekali belum kutemukan, bersama dia rasanya sanggup aku membasmi keluarga Sim itu!" kata Yo Han penuh semangat.

"Hemmm, siapakah orang itu, Yo Han?" "Namanya aku tidak tahu, Paman, bahkan aku tidak tahu apakah dia pria ataukah wanita.

Yang kuketahui adalah bahwa dia pada dua puluh tahun yang lalu telah menculik puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan! Apakah Paman menge-tahui siapa penculik itu?" "Hemmm, apakah engkau datang ke sini sengaja hendak mencari penculik itu?" "Memang sudah lama aku mencarinya, Paman.

Aku mengunjungi pertemuan yang Paman adakan untuk mencari tahu ten-tang penculik itu, dan juga untuk men-cari teman sehaluan." "Kenapa engkau mencari penculik itu!" "Karena, kalau dia sudah berani men-culik puteri suami isteri itu, berarti dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan juga amat membenci mereka.

Nah, de-ngan orang seperti itu, kiranya aku akan dapat mengajaknya untuk membalas den-dam.

Apakah Paman mengetahui siapa orangnya dan di mana aku dapat bertemu dan bicara dengannya?" Yo Han sengaja menahan diri dan tidak bertanya tentang anak yang diculik, seolah dia tidak pe-duli dan tidak tertarik tentang anak itu, yang diperlukan adalah si penculik untuk diajak kerja sama! Ketua Pao-beng-pai mehggeleng ke-palanya.

"Tentang penculikan itu pun baru sekarang aku mendengar darimu, Yo Han.

Bahkan aku pribadi tidak pernah mempunyai urusan langsung dengan Sim Houw dan Can Hi Lan." Yo Han mengerutkan alisnya, kecewa.

"Kalau Paman tidak tahu, aku akan se-gera pergi dari sini untuk bertanya ke-pada tokoh-tokoh kang-ouw lainnya...." "Nanti dulu, Yo Han.

Posting Komentar