"Omitohud, bocah sombong ini agak-nya perlu disadarkan dengan kekerasan, To-yu!" kata hwesio itu dan dia pun mendahului tosu Kun-lun-pai, menggerak-kan tasbih di tangannya menyerang Yo Han.
Tosu itu pun menggerakkan tongkat-nya dan memukulkannya ke arah tubuh Yo Han, seperti seorang ayah yang ma-rah-marah dan hendak menghajar anaknya yang bandel.
Yo Han memang sengaja hendak mem-perlihatkan kepandaiannya untuk menarik perhatian, terutama sekali perhatian penculik puteri bibinya atau setidaknya, yang tahu akan peristiwa itu, dan agar dia dipercaya dan ditarik sebagai sekutu mereka.
Maka, begitu menghadapi se-rangan kedua orang ahli silat kelas ting-gi sebagai tokoh-tokoh partai persilatan besar, dia pun meloncat ke belakang, kemudian ketika kedua orang lawannya maju mengejar, dia pun mengerahkan tenaga yang didapat dari Bu-kek Hoat--keng dan mendorongkan kedua tangannya ke depan, menyambut mereka.
Bukan main kagetnya kedua orang tua itu ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari kedua tangan pemuda itu bagaikan badai.
Mereka berusaha menyambut de-ngan dorongan tangan kiri yang disertai pengerahan tenaga sin-kang.
Pertemuan antara dua hawa pukulan yang amat dahryat terjadi dan akibatnya, kedua orang tua itu terdorong dan terjengkang roboh! Tentu saja hal ini membuat semua orang terkejut.
Bahkan Siangkoan Kok sendiri terbelalak.
Dia tahu betapa lihai-nya tokoh Siauw-lim-pai dan tokoh Kun--lun-pai itu, akan tetapi dalam segebrakan saja mereka roboh oleh pukulan jarak jauh yang dahsyat! Tiba-tiba terdengar suara lantang, "Ah, tidak salah lagi.
Dia adalah Sin--ciang Tai-hiap yang pernah menggempar-kan perbatasan barat!" Semua orang menengok dan ternyata yang bicara itu adalah seorang laki-laki tua yang berjubah pendeta dan dia bukan lain adalah Hoat Cin-jin, tokoh Go-bi--pai! "Pinto pernah mendengar bahwa nama Pendekar Tangan Sakti yang tak pernah memperlihatkan mukanya itu ada-lah Yo Han yang pernah membantu para pendeta Lama di Tibet meredakan pem-berontakan!" Kini semua orang memandang lagi kepada Yo Han dan mereka tertegun.
Mereka sudah mendengar kebesaran nama Sin-Ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti) yang menggemparkan di barat itu, seorang pendekar yang tidak pernah mau memperlihatkan mukanya sehingga hanya dikenal namanya saja.
Juga Siangkoan Kok sudah pernah mendengar nama Sin--ciang Tai-hiap, maka kini dia meman-dang kepada Yo Han dengan penuh seli-dik.
Sedangkan tokoh Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tadi terpaksa mengakui kekalahan mereka dan mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
Siangkoan Kok kini maju menghampiri Yo Han.
"Saudara Yo Han, benarkah engkau yang berjuluk Sin-ciang Tat-hiap!" tanya ketua Paobeng-pai itu.
Yo Han menghadapi pria tinggi besar yang gagah perkasa itu.
"Memang benar, Pangcu.
Akan tetapi orang terlalu mem-besarkannya.
Aku bukan seorang pen-dekar seperti tiga keluarga besar itu! Aku hanya ingin menyadarkan orang-orang kang-ouw yang tersesat mengganggu rak-yat, agar mereka itu tidak memusuhi rakyat melainkan memusuhi pemerintah Mancu dan antek-anteknya.
Pernahkah Pangcu mendengar aku membunuh seorang kang-ouw" Seperti yang dilakukan para angauta tiga keluarga besar itu".
Tidak, yang kumusuhi bukanlah orang-orang kang-ouw melainkan pemerintah Mancu dan antek-anteknya.
Karena itu-lah maka aku sengaja datang ini untuk bekerja sama dengan orang-orang seper-juangan dan sehaluan." Banyak di antara para tamu, orang--orang kang-ouw yang sudah mendengar akan sepak terjang Sun-ciang Tai-hiap, senyambut ucapan itu dengan gembira.
Hanya mereka yang merasa dekat dengan keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Naga saja yang me-mandang dengan wajah muram.
Pemuda itu sungguh merupakan bahaya bagi para pendekar, terutama mereka yang tidak menentang pemerintah Mancu.
Sedangkan Siangkoan Kok merasa gembira bukan main.
Inilah orang yang akan menjadi sekutu yang amat berguna baginya.
"Yo-sicu (orang gagah Yo), su-dah lama kami mencari seorang sekutu yang baik dan agaknya engkaulah orang-nya.
Hayo ,aku masih merasa penasaran kalau tidak mengukur sendiri kekuatan-mu, walaupun tadi engkau telah mem-perlihatkan tenagamu yang dahsyat.
Kami akan suka sekali menjadi kawan seper-juanganmu, Sicu, akan tetapi lebih dahulu aku ingin menguji kekuatanmu.
Bersedia-kah engkau?" "Hemmm, aku mendapatkan kehormat-an besar sekali kalau Pangcu dari Pao--beng-pai suka memberi petunjuk kepada aku yang muda dan bodoh," kata Yo Han.
"Nah, Pangcu, aku sudah siap." "Bagus, aku pun hanya ingin meng-ukur tenagamu saja, Sicu.
Sambutlah do-ronganku ini!" Berkata demikian, ketua Pao-beng-pai itu menekuk kedua lututnya dengan kaki terpentang, lalu kedua le-ngannya melakukan dorongan lurus ke dapan yang dimulai dari bawah pangkal lengan, kedua tangan terbuka, jari-jari tangan agak ditekuk dan dari kedua tela-pak tangannya itu menyambar hawa pu-kulan dahsyat yang mengeluarkan bunyi berciut dan mengandung hawa dingin! Maklum bahwa dia menghadapi se-rangan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat dan berbahaya, Yo Han Juga cepat menekuk kedua lutut dan seperti tadi ketika menyerang dua orang pendeta, dia pun mengerahkan tenaga dari Bu-kek Hoat-keng dan dari kedua telapak tangannya menyambar hawa pukulan yang tidak kalah hebatnya.
Dua tenaga yang tidak nampak ber-temu di antara mereka dan nampak tu-buh mereka tergetar hebat.
Yo Han se-ngaja tidak menyerang, hanya memper-tahankan ketika tenaga lawan mendorong-nya, dan ketua Pao-beng-pai itu merasa betapa dorongannya bertemu dengan pe-risai yang kokoh kuat seperti batu ka-rang! Dia kagum bukan main, lalu me-ngerahkan seluruh tenaganya, mendorong dan dari mulutnya terdengar suara meng-gereng.
Yo Han tetap mempertahankan.
Biarpun tenaga lawan itu kuat sekali, kalau dia menggunakan Bu-kek Hoat--keng dan balas menyerang, dia merasa yakin akan mampu mengatasi lawan.
Na-mun bukan itu yang dikehendakinya.
Ma-ka, dia pun hanya mempertahankan dan biarpun kedua kakinya tetap memasang kuda-kuda, namun tubuhnya terdorong dan kedua kaki itu tergeser ke belakang sampai tiga kaki! Melihat ini, ketua Pao-beng-pai se-makin kagum.
Jarang ada tokoh persilat-an mampu menahan dorongannya itu, dan melihat betapa pemuda itu tidak sampai mengangkat kaki, tidak terjengkang me-lainkan hanya kedua kakinya tergeser ke belakang dalam keadaan kudakuda yang sama, hal ini saja membuktikan betapa kuatnya pemuda itu.
Dia pun segera ber-seru, "Cukup!" dan keduanya menarik tenaga masing-masing.
Siangkoan Kok agak terengah karena tadi dia mengerah-kan seluruh tenaga.
Yo Han cepat mem-buat pernapasannya memburu agar jangan diketahui orang bahwa dia lebih kuat."Hebat, engkau masih muda sudah memiliki tenaga yang hebat, Sicu! Cukup-lah, biar lain kali saja kita berlatih silat.
Engkau cukup berharga untuk menjadi sekutu kami.
Mari Yo-sicu, silakan duduk di atas bersama kami.
Dan engkau juga, Cia-sicu.
Engkau pun sudah mampu me-nandingi puteri kami, bararti engkau juga cukup berharga dan layak untuk duduk di tampat kehormatan dan semeja dangan ka-luarga kami!" Ketua itu gambira bukan ma-in bahwa di antara para tamunya tardapat dua orang pemuda sepertu Cia Ceng Sun.
dan Yo Han.
Tinggal pilih saja untuk menjadi calon mantu.
Keduanya sama tampannya dan sama gagahnya.
Yo Han tentu saja lebih kuat, akan tetapi Cia Ceng Sun lebih berwibawa dan terpelajar.
Pesta pertemuan itu pun dimulai de-ngan meriah.
Yang duduk di atas sebagai tamu-tamu kehormatan adalah tokoh besar dunia kang-ouw termasuk para tokoh Siauw-lim-pai, Kun-lunpai, Go--bi-pai dan Bu-tong-pai.
Akan tetapi me-reka itu duduk di meja lain, sedangkan Yo Han dan Cia Ceng Sun duduk semeja dengan Siangkoan Kok, isterinya dan puterinya.
Kalau sikap Cia Ceng Sun sopan santun dan sungkan seperti se-orang pemuda yang diharuskan duduk semeja dengan nyonya dan nona rumah, Yo Han menyesuaikan diri dengan peran-nya sebagai seorang berandalan kang--ouw.
Dia acuh saja, bahkan bersikap agak dingin! Sikap seorang pemuda kang-ouw yang tinggi hati.
Mula-mula Siangkoan Eng juga kagum bukan main melihat kelihaian Yo Han, apalagi nama besarnya sebagai Pendekar Tangan Sakti, akan tetapi karena sikap-nya itu, maka perhatian gadis itu lebih banyak tertuju kepada Cia Ceng Sun yang bersikap ramah, manis dan pandai membawa diri.
Bahkan ibunya pun lebih suka kepada Cia Ceng Sun daripada ke-pada Yo Han.
Karena mereka duduk semeja, mau tidak mau Yo Han terpaksa berkenalan pula dengan Cia Ceng Sun.
Ketua Pao--beng-pai sambil makan minum dan men-dengarkan musik dan nyanyian, mencoba untuk mengorek keterangan tentang ri-wayat kedua orang pemuda yang menarik hati itu.
Cia Ceng Sun menceritakan bahwa dia seorang yatim piatu yang menerima harta warisan yang banyak dari mendiang orang tuanya yang hartawan di utara, dan sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat dari siapa saja sehingga tidak mempunyai guru tertentu.
"Guru saya banyak sekali, akan tetapi bukan guru tetap.
ilmu silat apa saja saya pelajari, dan untuk itu saya telah menghamburkan hampir semua harta peninggalan ayah." Tentu saja dia berbohong.
Yang tidak bohong adalah bahwa dia memang mem-pelajari ilmu-ilmu silatnya dari banyak guru, tanpa ada guru tetap.
"Sampai sekarang pun, saya merantau untuk me-nambah pengetahuan dan meluaskan pe-ngalaman." tambahnya.
Ketika Yo Han ditanya, dia mengaku bahwa dia juga yatim piatu seperti telah diceritakannya tadi.
Tentang ilmu silat, dia katakan bahwa dia mewarisi ilmu--ilmu ibunya, dan juga dia mempelajari ilmu silat dari para tokoh Thian-li-pang di Bukit Naga.
"Tadinya, aku dipilih un-tuk menjadi ketua, akan tetapi karena aku tidak suka terikat, aku lalu menye-rahkan kedudukan itu kepada suhengku Lauw Kang Hui." Dia mengakhiri cerita-nya.
Siangkoan Kok memandang kagum.
"Jadi Lauw Kang Hui adalah suhengmu" Pantas saja engkau lihai.
Kami pernah mendapat kehormatan bertemu dengan dua orang tokoh Thian-lipang yang sakti, yaitu Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok--ong " Yo Han mengangguk.
"Mereka adalah guru-guruku dan kini.
mereka sudah me-ninggal dunia." Mereka makan minum sambil ber-cakap-cakap dan tidak mengherankan kalau sebentar saja, nampak keakraban antara Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng.
Kebetulan Cia Ceng Sun duduk di se-belah gadis itu, dan Siangkoan Eng juga bukan seorang gadis pemalu, sehingga mereka pun becakap-cakap membicara-kan ilmu silat.
Dari sikap dan pandang mata gadis itu, Yo Han saja dapat me-ngerti bahwa gadis itu tertarik kepada Cia Ceng Sun yang tampan dan gagah.
Apalagi orang tua gadis itu, mereka tentu saja mengetahui.
Dalam pesta perjamuan itu, selain memperkenalkan diri, Pao-beng-pai juga menawarkan kerja sama dengan semua pihak yang menentang penjajah Mancu, tidak peduli mereka itu dari golongan hitam atau putih, dari kelompok mana pun.