Untuk dapat mencari jejak penculik puteri bibinya, dia harus berkecimpung di dalam dunia kang--ouw, bergaul dengan golongan sesat dan bersikap seperti seorang pemuda sesat pula, atau setidaknya seorang pemuda yang memusuhi keluarga besar para pen-dekar terutama sekali memusuhi ayah dan ibu anak yang diculik itu.
Itulah sebabnya dia bersikap seperti seorang pemuda yang tinggi hati, dingin dan kejam, sikap seorang pemuda golongan sesat! Setelah saling pandang beberapa lama-nya, melihat pemuda itu sama sekali tidak mau menghormatinya, Siangkoan Kok mengerutkan alisnya dan dengan suaranya yang mengguntur dia berkata, "Sobat muda! Engkau datang ke sini, ber-arti engkau adalah tamu kami.
Nah, perkenalkan namamu dan katakan meng-apa engkau usil tangan mencampuri adu ilmu yang dilakukan puteri kami tadi?" Yo Han mengangguk dan dengan sikap congkak dia pun berkata, "Pangcu, aku sudah mendengar bahwa engkau adalah pangcu dari Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Kok.
Pertemuan ini memang kupergunakan sebagai kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang sehaluan dan juga segolongan.
Dan aku belum memper-kenalkan nama, karena memang aku me-nunggu kesempatan terakhir ini untuk bicara kepada seluruh saudara segolongan yang kini berkumpul di sini!" Sikap, yang congkak ini.
membuat Si-angkoan Kok semakin senang, akan tetapi juga membuat dia ingin sekali tahu siapa pemuda ini dan apa maunya.
"Hemmm, baiklah, kau perkenalkan diri dan katakan apa kehendakmu datang ke sini.
Kalau memang beralasan kami mau menerimanya, akan tetapi kalau engkau hanya ingin mengacau, jangan salahkan kami kalau terpaksa kami akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok kembali duduk di kursi-nya.
Semua orang memandang dengan hati tegang kepada Yo Han yang kini berdiri seorang diri di atas panggung yang tadi dipergunakan untuk mengadu ilmu silat.
77 Tiba-tiba terdengar seruan nyaring, "Dia bocah iblis dari Thian-li-pang itu!" Semua orang menengok dan yang berteri-ak itu adalah tosu Pek-lian-kauw, Kui Thian-cu yang tadi dikalahkan Siangkoan Eng dalam pertandingan.
Dia sudah bang-kit berdiri dari tempat duduknya dan menuding-nuding ke arah Yo Han.
kira-nya tosu Pek-lian-kauw ini masih ingat kepada Yo Han yang kurang lebih tiga tahun yang lalu pernah dia jumpai di perkumpulan Thian-li-pang, yaitu ketika dia berkunjung ke sana bersama rekannya, Kwan Thian-cu.
Belum juga gema suara Kui Thian-cu hilang, terdengar seruan nyaring yang lain, Tosu dari Pek-lian-kauw harap jangan menghina pemimpin kami! Saudara sekalian, perkenalkanlah, pemuda perkasa ini adalah pemimpin dari kami Thian--li-pang yang telah menyerahkan keduduk-an ketua kepada ketua kami yang seka-rang!" Semua orang menengok dan melihat bahwa yang bicara adalah seorang laki--laki berusia lima puluhan tahun.
Dan laki-laki itu tidak peduli kepada semua orang, melainkan kini dari tempat duduk-nya menghadap ke arah Yo Han dan memberi hormat sambil berkata, "Yo-taihiap, maafkan kelancangan saya.
Saya Thio Cu dari Thian-li-pang diutus ketua Lauw untuk mewakili Thian-li-pang hadir di sini." Yo Han tidak mengenal orang itu, akan tetapi kini dia tahu bahwa Thio Cu itu tentu seorang tokoh Thian-li-pang, maka dia pun mengangguk dengan sikap yang angkuh.
Siangkoan Kok memandang kepadanya.
"Orang muda, harap cepat perkenalkan diri dan nyatakan apa kehendakmu di sini." katanya.
Yo Han memandang ke empat pen-juru, lalu menghadap pihak tuan rumah dan berkata sambil membusungkan dada.
"Cu-wi (Anda Sekalian), dengarkan aku mem-perkenalkan diri.
Namaku Yo Han dan seperti dikatakan Paman Thio Cu dari Thian-li-pang tadi, aku adalah seorang pimpinan Thian-li-pang akan tetapi aku tidak mau memegang kedudukan ketua dan kuserahkan kepada Paman Lauw Kang Hui.
Aku lebih senang merantau untuk melaksanakan tugasku yang ter-amat penting.
Kalau tosu Pek-lian-kauw itu merasa tidak suka kepadaku, hal itu tidak aneh karena aku pernah melarang Thian-li-pang untuk bekerja sama dengan Peklian-kauw.
Kurasa, Thian-li-pang sama dengan Pao-beng-pai, yaitu seke-lompok patriot yang menentang penjajah Mancu, bukan kelompok penjahat yang menggunakan kedok perjuangan untuk berbuat jahat.
Aku sendiri pun bukan orang bersih, tapi aku pantang mengganggu rakyat jelata.
Hendaknya Cu-wi ketahui bahwa aku tidak mewakili siapapun, ayah ibuku sudah tiada.
Ayahku bernama Yo Jin dan ibuku tentu Cu-wi sudahmengenalnya.
Ia bernama Ciong Siu Kwi, berjuluk Bi Kwi." Terdengar seruan di sana-sini karena nama Bi Kwi pernah menggemparkan seluruh dunia persilatan.
Bi Kwi (Setan Cantik) terkenal sebagai seorang tokoh yang aneh dan kejam.
"Hemmm, Yo Han, kami ingat bahwa Bi Kwi dahulunya memang tokoh kang--ouw yang terkenal, murid Sam Kwi (Tiga Setan), akan tetapi kemudian ia mem-balik.
dan bergabung dengan mereka yang menamakan diri pendekar-pendekar, me-mihak orang Mancu!" teriak Siangkoan Kok dan terdengar banyak suara mem-benarkan.
"Itu hanya kabar bohong, Siangkoan Pangcu (Ketua Siangkoan)! Aku sebagai anaknya yang lebih tahu.
Ayahku tewas, ibuku juga tewas membunuh diri, semua itu gara-gara mereka yang menamakan diri pendekar-pendekar keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir dan keluarga Lem-bah Naga.
Aku mendendam kepada me-reka, terutama aku membenci sekali kepada bekas bibi guruku, adik seperguruan mendiang ibu yang bernama Can Si Lan berjuluk Siauw Kwi! Can Bi Lan itulah yeng telah membujuk sucinya, yaitu ibuku, untuk bergabung dengan mereka, dan Can Bi Lan sendiri menjadi isteri pendekar Suling Naga Sim Houw! Aku ingin mengajak mereka yang me-nentang pemerintah Mancu untuk tidak saja menentang pemerintah itu, juga untuk membasmi para antek Mancu, terutama sekali Can Bi Lan dan suaminya, Sim Houw!"Yo Han bicara dengan semangat berapi-api, matanya mencorong seolah dia marah besar dan amat membenci nama--nama yang baru saja dia sebutkan.
Inilah siasatnya.
Dia ingin melacak jejak pen-culik puteri bibinya itu dengan cara men-dekati orangorang kang-ouw dan ber-sikap seolah dia memusuhi suami isteri yang kehilangan anaknya itu.
Kembali suasana menjadi gaduh se-telah dia berhenti bicara.
Para tamu saling bicara sendiri dan karena sebagian besar di antara mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang memang tidak suka ke-pada para pendekar dari tiga keluarga itu, maka kebanyakan di antara mereka setuju dengan pendapat Yo Han.
Akan tetapi, ada pula yang terkejut mendengar hal itu dan di antara mereka adalah para wakil dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai.
Juga Pangeran Cia Sun diam-diam terkejut sekali.
Pe-muda itu merupakan bahaya bagi keraja-an keluarga kakeknya! Justeru kerajaan di bawah pimpinan kakeknya selalu ingin mendekati para pendekar dan para tokoh kang-ouw untuk memanfaatkan kekuataan.mereka, pemuda ini malah menghasut.
Dia sendiri pun tadinya selain ingin me-nambah pengetahuan, ingin pula menye-lidiki sampai berapa jauhnya gerakan Pao-beng-pai yang kabarnya merupakan perkumpulan yang hendak menentang pemerintah Mancu.
"Amitohud....!!" Tiba-tiba terdengar suara halus dan seorang pendeta ber-kepala gundul yang usianya sudah enam puluh tahun maju menghadapi Yo Han.
Dia adalah seorang di antara utusan Siauw-lim-pai yang merasa penasaran sekali ketika mendengar bahwa Yo Han hendak membasmi keluarga Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Naga.
"Orang muda, engkau masih begini muda, akan tetapi sungguh tinggi hati dan sombong.
Bagaimana mungkin engkau akan meng-hadapi para pendekar sakti dari ketiga keluarga itu" Pula, mereka adalah pen-dekarpendekar sakti yang bertindak demi membela mereka yang tertindas dan menentang kejahatan, sama sekali bukan antek pemerintah.
Pinceng (aku) per-ingatkan agar engkau berhati-hati kalau bicara.
Kami adalah sahabat baik dari para pendekar itu." "Siancai....! Apa yang dikatakan Lo Kiat Hwesio dari Siauw-lim-pai memang benar sekali.
Pemuda ini terlalu sombong dan lancang mulut.
Kami dari Kun-lun-pai juga merupakan sahabat para pen-dekar itu dan pinto (aku) tidak suka mendengar ada orang menghina mereka.
Mereka bukan antek pemerintah!" Semua orang menengok dan yang bicara itu adalah seorang tosu (pendeta To) berusia lima puluh tahun lebih yang tinggi kurus dan barjenggot panjang, "Kalau orang muda she Yo tidak manghentikan bualan-nya, pinto Ciang Tojin dari Kun-lunpai pasti tidak akah tinggal diam saja!" Yo Han menoleh pula kepada tosu itu, kemudian dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kiraanya Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai dan Ciang Tojin dari Kun-lun-pai mambela para pandakar itu.
Mereka itu jelas antek Mancu, bahkan Pendekar Super Sakti sendiri masih mem-unyai hubungan keluarga dengan Kera-jaan Mancu.
Dia pun menikah dengan puteri Mancu! Pantas kalau Ji-wi (Kalian Berdua) membela, karena bukankah se-lama ini kuil-kuil Siauw-lim-pai dan Kun--lun-pai menjadi makmur berkat bantuan pemerintah Mancu" Sayang sekali, Siauw--lim-pai dan Kun-lun-pai yang besar itu pun kini menjadi kecil karena diperbudak orang-orang Mancu." "Keparat, betapa sombongnya engkau!" Bayangan berkelebat dan tosu Kun-lun--pai itu sudah berada di depan Yo Han, berjajar dengan Lo Kian Hwesio.
Kalau hwesio Siauw-lim-pai itu memegang se-untai tasbih hitam yang matanya besar--besar, tosu itu memegang sebatang tong-kat berbentuk ular yang tingginya se-pundak dan besarnya sepergelangan ta-ngan.Melihat mereka berdua, Yo Han se-ngaja tertawa lagi.
"Ha-ha-ha, kalian mau apa" Jangan dikira aku takut meng-hadapi kalian berdua.
Kalian boleh maju berdua mengeroyok aku, kalau aku kalah, aku tidak akan banyak mulut lagi dan akan pergi dari sini.
Kalau kalian kalah, jangan kalian ribut mencampuri urusanku lagi!" Dua orang pendeta itu terpancing kemarahan mereka karena Yo Han sengaja menghina Siauw-lim-pai den Kun-lun--pai sehingga mereka lupa bahwa tidaklah pantas bagi mereka dua orang tua yang berkedudukan tinggi mengeroyok seorang pemuda! Namun, kemarahan memang membutakan kesadaran dan mendengar tantangan itu, hwesio dan tosu itu se-makin marah.