Si Tangan Sakti Chapter 25

NIC

"Cia-kongcu (tuan muda Cia), nanti dulu!" terdengar seruan halus dan Cia Ceng Sun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, memandang kepada gadis jelita yang berhadapan dengannya.

"Nona, aku sudah memperkenalkan diri sebagai tamu, ada urusan apa lagi-kah yang dapat kulakukan untuk keluarga tuan rumah?" Siangkoan Eng tersenyum dan nampak giginya yang rata dan putih itu berkilau-an sejenak.

"Harap jangan salah mengerti, Kongcu.

Engkau telah memperkenalkan diri, tidak sepantasnya kalau aku sebagai nona rumah juga tidak memperkenalkan diri.

Aku bernama Siangkoan Eng dan aku mewakili orang tuaku dan mewakili Pao-beng-pai untuk berkenalan dengan ilmu silatmu yang tinggi.

Ingin sekali aku mengajak engkau berlatih sejenak untuk mengenal ilmu masing-masing.

Sudikah engkau memenuhi keinginanku ini, Kong-cu?" Cia Ceng Sun terbelalak.

Bukan main gadis ini! Begitu pandai membawa diri dan kalau tadi nampak begitu dingin, kini begitu ramah dan wajahnya cerah seperti matahari baru terbit dari balik gunung.

74 Dan manisnya bukan main, cantik jelita seperti seorang puteri istana! Lebih lagi karena kalau puteri istana dikekang oleh adat istiadat yang kaku, gadis ini demi-kian bebas seperti bunga mawar hutan yang semerbak harum dan indah.

Dia teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak jatuh hati kepada gadis lain, kare-na dia sudah ditunangkan dengan seorang gadis lain yang juga seorang gadis per-kasa dengan julukan Si Bangau Merah.

Akan tetapi, dia belum pernah berhadap-an dengan Si Bangau Merah.

Apakah ia secantik gadis di depannya ini" "Nona Siangkoan terlalu memujiku.

Kepandaian silatku memang hanya sejajar dengan tingkat kepandaian pelayanmu, Nona.

Kalau melawanmu, mana mungkin aku dapat mengimbangimu?" "Cia-kongcu, harap jangan terlalu merendahkan diri.

Kita hanya berlatih sebentar untuk menambah pengetahuan masing-masing dan harap jangan sungkan.

Marilah, Kongcu." Sikap Siangkoan Eng demikian membujuk dan manis sehingga Cia Ceng Sun yang tadinya tidak ingin bertanding lagi, menjadi tertarik.

"Baik, harap jangan terlalu kejam kepadaku, Nona.

Nah, aku sudah siap, silakan Nona mulai." Pemuda itu yang maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, sudah memasang kuda-kuda Lo-han-hun dari aliran Siauw--lim-pai, kuda-kuda yang amat kokoh kuat dan tangguh seperti benteng baja.

Me-lihat kuda-kuda ini, Siangkoan Eng ter-senyum.

"Cia-kongcu, awas terhadap serangan-ku! Hiaaaaattttt....!" Dan ia pun me-nyerang dengan jurus ilmu silat Siauw--lim-pai pula! Tentu saja Cia Ceng Sun terkejut dan kagum, maka dia pun me-nyambut serangan itu dengan tangkisan dan membalas serangan lawan dengan jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.

Belasan jurus mereka saling serang dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, kemudian tiba-tiba gadis itu mengubah ilmu silatnya, kini ia menyerang dengan ilmu silat dari Bu--tong-pai.

Dan Cia Ceng Sun juga meng-imbangi dengan ilmu silat yang sama! Demikianlah, pertandingan itu berlang-sung seru bukan main, keduanya me-nukar-nukar ilmu silat dan selalu diimbangi lawan dengan ilmu yang sama.

Gerakan mereka tangkas dan gesit, juga dalam hal tenaga sinkang, mereka seimbang.

Sesungguhnya, kalau Siangkoan Eng menghendaki, tingkatnya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Cia Ceng Sun dan biarpun pemuda itu merupakan lawan yang tangguh baginya, namun kalau ia bersungguh-sungguh akhir-nya pemuda itu akan kalah.

Apalagi ka-lau gadis itu mau mempergunakan ke-kuatan sihir atau ilmu pukulan sesat beracun yang amat berbahaya dari didik-an ibunya, tentu pemuda itu akan celaka.

Hanya saja, gadis itu memang tidak ingin mencelakai Cia Ceng Sun.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Siangkoan Eng merasa tertarik dan sayang kepada seorang pemuda dan ia sengaja mengalah.

Enam puluh jurus telah lewat dan pertandingan itu masih ramai dan seru, seolah tidak ada yang menang atau kalah, dan nampaknya seimbang dan setingkat.

Kecepatan gerakan mereka, ke-indahan gerakan mereka, membuat semua orang merasa kagum.

Lauw Cu Si, ibu dari Siangkoan Eng, berbisik kepada sua-minya, "Anakmu agaknya sudah men-jatuhkan pilihan hatinya." Siangkoan Kok mengelus jenggotnya yang panjang dan rapi, "Kalau memang benar, apa salahnya" Pemuda itu cukup tampan dan gagah, dan pembawaannya seperti seorang bangsawan.

Kita hanya perlu mengetahui siapa orang tuanya." Suaminya berbisik pula.

Pada saat itu, Cia Ceng Sun merasa penasaran juga.

Belum pernah dia di-kalahkan oleh seorang wanita dalam per-tandingan silat, dan kini dia sama sekali tidak mampu mengalahkan gadis ini, bahkan mendesak pun tidak mampu.

Dia merasa penasaran sekali dan tiba-tiba dia melompat ke depan lalu menyerang de-ngan kedua lengan diluruskan dan kedua tangan terbuka mendorong ke depan de-ngan jurus Pat-bua-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung), kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk, kedua tangan lurus mendorong ke arah lawan sambil menge-rahkan tenaga sin-kang.

Ini merupakan serangan yang mengandalkan tenaga sakti dan hawa dorongannya saja mampu mem-buat lawan terlempar.

Akan tetapi melihat serangan ini, Siangkoan Eng tidak mengelak atau me-nangkis, melainkan meloncat pula ke depan, membuat gerakan yang sama dan menyambut serangan itu dengan dorongan kedua tangan pula, dengan kedua kaki terpentang dan ditekuk lututnya.

Ke-dudukan mereka persis sama, dan kini dua pasang tangan yang terbuka itu saling bertemu.

"Plakkk!" Dua pasang telapak tangan bertemu dan melekat! Keduanya seperti tergetar dan terguncang karena pertemu-an tenaga sin-kang itu, akan tetapi keduanya dapat bertahan! Mereka saling pandang dalam jarak dekat, hanya terpisah juluran lengan.

Mereka dapat saling merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh masing--masing, dan keduanya tersenyum.

Mereka seperti sedang bercanda atau bercumbu dengan cara yang aneh.

Keduanya saling dorong, akan tetapi Siangkoan Eng se-ngaja membatasi tenaganya sehingga mereka seimbang dan dua pasang telapak tangan itu seperti melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi.

Banyak di antara para tamu yang memandang dengan hati berdebar tegang.

Adu tenaga seperti itu amatlah berbahaya bagi yang kalah! Salah-salah dapat me-renggut nyawa seorang di antara mereka.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa hal ini tidak mungkin terjadi karena sebenar-nya tenaga sin-kang Siangkoan Eng lebih kuat sehingga gadis ini dapat mengatur dan mengendalikan adu tenaga itu.

Kalau tenaga mereka seimbang, memang dapat, berbahaya.

Dan agaknya Cia Ceng Sun juga menyadari, bahwa sebetulnya dia kalah kuat.

Buktinya, gadis itu nampak santai saja dan tidak nampak khawatir seperti dia, maka dia pun kini tersenyum dan maklum bahwa keadaan mereka tidak berbahaya karena gadis itu menguasai tenaga mereka.

Jantung pangeran ini berdebar ketika melalui telapak tangan itu dia merasakan suatu kehangatan dan kelembutan yang membuat kedua pipinya menjadi kemerahan.

Pada saat itu nampak Yo Han cepat naik ke tempat pertandingan itu dan tanpa ragu-ragu lagi dia menengahi, menggunakan kedua tangannya mendorong di tengah-tengah, ke arah dua pasang tangan yang saling tempel."Cukup, harap kalian mundur?" kata-nya dan dari dorongannya muncul tenaga yang amat dahsyat, yang membuat Siang-koan Eng dan Cia Ceng Sun terdorong mundur sampai tiga langkah dan dengan sendirinya tempelan dua pasang tangan utu terlepas, namun tidak mendatangkan bahaya kepada keduanya.

Mereka hanya merasa kedua lengan mereka tergetar dan mereka terdorong hawa pukulan yang dahsyat.

Diam-diam Cia Ceng Sun ter-kejut dan memandang kepada Yo Han dengan sinar mata penuh kagum.

"Siangkoan Siocia, terima kasih atas pelajaran yang kauberikan kepadaku," katanya sambil memberi hormat kepada gadis itu.

Siangkoan Eng membalas dan tersenyum.

"Cia-kongcu, engkaulah yang telah memberi pelajaran kepadaku.

Terima kasih." Kini Cia Ceng Sun menghadapi Yo Han dan setelah mereka saling pandang penuh perhatian, pangeran itu berkata, "Sobat, engkau hebat.

Terima kasih." Lalu dia kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Yo Han yang kini berdiri di situ, berhadapan dengan Siangkoan Eng.

Gadis ini mengerutkan alisnya dan nampak marah, akan tetapi pada saat itu, ayahnya berkata dengan suara yang dalam.

"Eng Eng, engkau mundurlah, biar aku sendiri menghadapi sobat muda itu." Kiranya ketua Pao-beng-pai ini sudah waspada dan tadi melihat gerakan Yo Han.

Dia tahu bahwa puterinya memiliki tenaga sin-kang yang sudah kuat, dan tahu pula bahwa puterinya tadi mengalah terhadap pemuda she Cia itu sehingga biarpun mereka nampaknya mengadu tenaga sin-kang, namun puterinya dapat mengendalikan tenaga mereka dan keadaan keduanya sama sekali tldak ber-bahaya.

Lalu muncul pemuda yang lain itu, yang dengan sekali dorong saja mam-pu membuat kedua orang itu terdorong mundur ini berarti bahwa pemuda yang baru muncul ini memiliki kekuatan sin--kang yang amat hebat, yang dapat se-kaligus melawan kekuatan Siangkoan Eng dan Cia Ceng Sun yang bergabung men-jadi satu! Maklum akan hal ini, Siang-koan Kok dapat menduga bahwa pemuda yang baru muncul ini lihai sekali dan mungkin puterinya tidak akan mampu menandinginya, maka dia sendiri akan maju.

setelah puterinya mundur, dia pun bangkit dan melangkah maju meng-hadapi Yo Han.

Dua orang laki-laki itu berdiri ber-hadapan dalam jarak empat meter.

Yo Han bersikap angkuh dan dingin dan sikap ini merupakan pelaksanaan dari siasat yang sudah direncanakannya.

Posting Komentar