Dia meng-anggap bahwa ilmu silat adalah ilmu kekerasan yang hanya dipelajari orang-orang yang suka berkelahi untuk saling bunuh dengan orang lain.
Karena ulahnya ini, maka suami isteri pendekar itu me-rasa khawatir kalau-kalau puteri mereka yang amat akrab dengan Yo Han kelak akan ketularan sikap itu, sehingga me-reka ingin memisahkan kedua orang anak itu dengan memitipkan Yo Han pada se-buah perguruan silat yang baik.
Yo Han mendengar ini dan dia pun lebih dahulu meninggalkan keluarga itu dengan nekat mengikuti seorang iblis betina setelah berhasil membujuk iblis betina itu melepaskan Sian Li kecil yang diculiknya dan dia menyerahkan diri sebagai pe-nukarnya.
Demikianlah, setelah ikut de-ngan iblis betina itu dia mengalami banyak penderitaan yang aneh-aneh sampai akhirnya dia bertemu dengan mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, namun yang memiliki ilmu luar biasa.
Akhirnya Yo Han menjadi pewaris tunggal ilmu Bu-kek Hoat-keng dari kakek itu, yang membuat dia men-jadi seorang pendekar sakti.
Ketika Yo Han merantau ke barat dan terkenal dengan julukan Sin-ciang Tai-hiap yang tak pernah dikenal muka-nya oleh orang lain, secara kebetulan dia bertemu kembali dengan Sian Li yang telah menjadi seorang gadis cantik.
Me-reka saling mengenal dan kasih sayang yang sejak kecil telah tumbuh dalam hati mereka, kinl berubah menjadi cinta kasih dewasa antara pria dan wanitai Namun, kembali ayah dan ibu Sian Li tidak menyetujui hubungan mereka karena suami isteri pendekar itu khawatir kalau-kalau Yo Han mewarisi watak mendiang ibunya yang pernah menjadi seorang wanita go-longan sesat yang jahat.
Maka, terang-terangan mereka memberi tahu kepada Yo Han bahwa Sian Li telah dijodohkan dengan seorang pangeran di kota raja! Yo Han menjadi terpukul dan diingatkan akan lenyapnya puteri bibinya, dia pun bertekad untuk mencari puteri bibinya itu sampai dapat dia temukan dan dia kembalikan kepada bibinya.
Demikianlah riwayat singkat Yo Han Si Pendekar Tangan Sakti, dan pada hari itu, sebetulnya dia mendengar tentang pertemuan para orang gagah yang diada-kan oleh Pao-beng-pai, make dia pun sengaja berkunjung dengan maksud mencari jejak adik misannya yang dicuri penjahat di waktu kecil.
Yo Han maklum sepenuhnya betapa sulitnya tugas yang dipikulnya, mencari seorang, anak perempuan yang hilang dua puluh tahun yang lalu, ketika hilang diculik orang berusia tiga tahun! Dia tidak tahu siapa penculiknya, tidak pernah melihat anak perempuan itu.
Yang di-ketahuinya hanya bahwa anak perempuan itu adalah puteri Sim Houw dan Can Bi Lan, nama anak itu Sim Hui Eng dan mempunyai tanda pengenal yang mustahil untuk dapat dilihat orang, yaitu noda merah di tapak kaki kanan dan tahi lalat hitam di pundak kiri.
Bagaimana mung-kin melihat kedua tanda itu di tubuh seorang gadis tanpa membuka sepatu dan bajunya" Dan sudah pasti anak berusia tiga tahun itu sudah lupa sama sekali akan ayah dan ibu kandungnya, tidak tahu lagi bahwa ia adalah anak yang diculik.
Itu pun kalau anak itu masih hidup! Sungguh merupakan usaha yang teramat sulit, bahkan agaknya mustahil untuk bisa menemukan anak yang hilang pada dua puluh tahun yang lalu itu.
Akan tetapi, Yo Han mempunyai akal.
Kalau dia tidak dapat menemukan kembali anak itu, setidaknya dia berusaha menyelidiki siapa pelaku penculikan itu.
Den hal ini tentu hanya dapat dia lakukan dengan menyelidiki dunia kang-ouw, bahkan di antara golongan sesat.
Maka, untuk tugas itulah kini dia sengaja datang menghadiri pertemuan itu dan sengaja dia tidak mau memperkenalkan diri sesuai dengan rencana siasatnya.
Ketika dua orang pemuda itu saling pandang, Yo Han tersenyum dan dengan tangannya dia memberi isyarat, mem-persilakan pemuda tampan murah senyum itu untuk bertindak lebih dahulu.
Melihat isyarat gerakan tangan itu, Cia Ceng Sun tersenyum lebar dan mengangguk, ke-mudian dia pun melangkah dan dengan langkah ringan dan santai dia menuju ke ruangan, tempat bertanding silat.
Dia berdiri di tengah ruangan dan menjura kepada pihak tuan rumah dan terdengar suaranya yang halus dan sopan, juga de-ngan gaya bahasa yang menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang kang-ouw kasar biasa, melainkan seorang yang ter-pelajar.
"Harap Pangcu dari Pao-beng-pai sekeluarga suka memaafkan saya.
Bukan karena ketinggian hati saya belum mem-perkenalkan nama, melainkan karena tertarik akan kehebatan ilmu silat ke-luarga Siangkoan yang tadi telah diper-lihatkan.
Oleh karena saya memang ber-maksud meluaskan pengalaman dan me-nambah pengetahuan, maka saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk menambah pengetahuan dengan jalan bertanding silat secara persahabatan, sebelum saya memperkenalkan nama saya yang tidak berarti." Sikap yang lembut dan kata-kata yang sopan seperti biasa dilakukan.orang-orang terpelajar dan kaum bangsawan, tidak disuka oleh kebanyakan orang dunia kang--ouw, maka di sanasini terdengar ejekan terhadap pemuda tampan itu.
Juga ada yang menganggap bahwa pemuda ini ten-tu tidak memiliki kemampuan yang ber-arti dalam ilmu silat, hanya pandai ber-lagak saja.
Akan tetapi tidak demikian-lah kesan yang didatangkan Cia Ceng Sun kepada keluarga tuan rumah.
Siang-koan Kok adalah seorang bangsawan pula, bahkan masih keturunan keluarga Kaisar Beng.
Sejak kecil dia terbiasa dengan tata-cara dan sopan-santun yang berlaku di antara para bangsawan, di antaranya sikap yang halus dan kata-kata yang indah.
Oleh karena itu, sikap pemuda tampan itu sungguh menarik perhatiannya dan dia merasa senang.
Demikian pula dengan Siangkoan Eng, yang biarpun ti-dak mengalami kehidupan bangsawan istana, namun karena di dalam keluarga-nya, ayahnya masih memakai peraturan seperti keluarga bangsawan, ia pun ter-tarik melihat pemuda yang berbeda dari pemuda biasa itu.
Pemuda itu berwajah tampan, anggun dan berwibawa, sikapnya demikian lemah lembut, namun telah berani maju untuk menguji ilmu silat.
Seketika hatinya tertarik kepada pemuda itu, maka ia berbisik-bisik kepada pela-yannya, si baju kuning yang lihai, dengan pesan agar pelayannya itu kembaili me-wakilinya menguji si pemuda, akan tetapi jangan sekali-kali dilukai atau dibikin malu.
Si baju kuning mengerti dan meng-angguk, lalu ia maju menghadapi Cia Ceng Sun sambil memberi hormat.
"Kongcu, saya melaksanakan perintah Siocia (Nona) untuk mewakili keluarga Siangkoan dan melayanimu beberapa ju-rus." Cia Ceng Sun tersenyum, tidak me-rasa dipandang rendah dan dia pun mem-balas penghormatan pelayan yang lihai itu.
"Aku tadi sudah melihat kelihaianmu, Nona pelayan.
Tentu nona majikanmu jauh lebih lihai, maka untunglah engkau yang maju sehingga bagaimanapun juga, lawanku lebih ringan.
Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi kelihaianmu." Si nona baju kuning juga senang me-lihat sikap pemuda tampan ini yang de-mikian rendah hati, bahkan sikapnya menghormat terhadap dirinya, padahal ia hanya seorang pelayan."Kongcu, silakan mulai, saya sudah siap!" katanya lembut dan memperlihat-kan senyum ramah.
"Baik, lihat seranganku!" dan Cia Ceng Sun sudah menggerakkan tangan melakukan serangan.
Karena dia maklum bahwa pelayan baju kuning ini cukup lihai, tentu saja dia tidak berani meman-dang rendah dan begitu bergerak, dia sudah menyerang dengan sungguhsungguh, memainkan jurus yang ampuh dari ilmu silat aliran Siauw-lim-pai.
Kepalan tangan kiri yang memukul lurus ke depan itu medatangkan angin pukulan yang kuat.
Nona baju kuning itu mengeluarkan seruan kagum dan cepat ia mengelak dengan lincah ke kiri sambil membalas dengan sebuah tendangan.
Namun, Cia Ceng Sun yang sudah menguasai banyak macam Ilmu silat itu dapat menghindar dengan baik, bahkan mengirim serangan balasan dengan cepat sekali, mencengkeram pundak gadis pelayan itu dari samping.
Gerakan ini mengejutkan lawan yang kembali terpaksa harus meloncat ke belakang karena serangan pemuda itu sungguh tidak boleh dipandang ringan dan sama sekali tidak boleh disamakan de-ngan murid Kong-thong-pai tadi.
Maka, si nona baju kuning kini mengeluarkan se-luruh kepandaiannya untuk mengimbangi, walaupun ia tetap ingat akan pesan nona-nya agar tidak melukai atau membikin malu pemuda itu.
Diam-diam ia menge-luh.
Bagaimana mungkin" Untuk menang pun tidak mudah, pikirnya.
Tak disangka-nya bahwa pemuda yang tampan dan sopan ini sedemikian lihainya dan ia me-rasa heran.
Selama ini, Pao-beng-pai telah menyebar banyak penyelidik untuk menyelidiki para tokoh dunia persilatan, bahkan mencatat dan mempelajari ilmu--ilmu silat mereka.
Akan tetapi, pemuda ini agaknya luput dari pengawasan se-hingga tidak dikenal oleh keluarga maji-kannya.
Padahal, kepandaian pemuda ini cukup hebat dan ia sendiri sampai ke-walahan setelah mereka bertanding se-lama tiga puluh jurus.
Mulailah ia ter-desak hebat! Para tamu yang menonton pertanding-an itu pun menjadi kagum.
Apalagi para tokoh dari aliran parsilatan besar seperti wakil Siauw-lim-pai, mereka tertegun melihat betapa pemuda tampan itu me-mainkan beberapa jurus dari ilmu silat aliran mereka! Ilmu silat pemuda itu campur aduk, akan tetapi setiap jurus yang dimainkannya sudah mendekati ke-sempurnaan! Dan mereka semua tidak pernah mengenal pemuda tampan itu! Hal ini memang tidak aneh.
Sebagai seorang pangeran, Cia Ceng Sun atau Cia Sun tentu saja tidak menjadi murid biasa dalam sebuah perguruan.
Dengan ke-kuasaannya dan kedudukan ayahnya, mu-dah saja dia mendatangkan guru-guru silat dari berbagai aliran yang melatih-nya secara rahasia.
Apalagi, di antara para jagoan istana bangsa Mancu ter-dapat banyak tokoh persilatan pandai yang telah berhasil mencari dan mengua-sai ilmu-ilmu silat dari berbagai aliran itu sehingga mereka dapat mengajarkannya kepada Pangeran Cia Sun tanpa di-ketahui orang lain.
Keadaan pangeran ini tentu saja berbeda dengan kakeknya, yaitu yang kini menjadi kaisar ketika masih muda.
Kaisar Kian Liong pun ke-tika masih muda juga bertualang dan mempelajari ilmu silat, akan tetapi dia mempelajarinya dari para tokoh persilat-an secara berterang sehingga namanya dikenal oleh semua tokoh kang-ouw.
Siangkoan Eng memandang kagum dan hatinya semakin tertarik.
Bukan main pemuda itu pikirnya, sambil termenung.
Ilmu silatnya tinggi, bahkan pandai memainkan jurus berbagai aliran persilatan, wajahnya tampan, sikapnya agung seperti bangsawan, gerak-geriknya lembut dan bicaranya menunjukkan bahwa dia se-orang terpelajar.
Belum pernah ia ber-temu dengan seorang pemuda seperti ini! Pemuda itu mampu mengimbangi pelayan-nya yang utama sampai empat puluh jurus, bahkan kini pelayannya sudah ter-desak hebat.
"Haiiiiittttt!" Tiba-tiba Cia Ceng Sun berseru nyaring dan serangannya men-datangkan angin pukulan yang amat kuat, membuat nona baju kuning itu terpaksa menggunakan kedua tangan menangkis.
"Dukkk!" Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, nona baju kuning itu ter-dorong ke belakang, terhuyung-huyung dan hampir saja roboh kalau Siangkoan Eng tidak cepat melompat ke depan dan menyambar lengannya.
"Kau mundurlah!" kata Siangkoan Eng.
Pelayan itu pun mundur dan kini nona cantik jelita itu berhadapan dengan Cia Ceng Sun yang cepat memberi hormat.
"Maaf kalau aku kesalahan tangan.
Aku sudah puas dapat menguji ilmu silat dan biarlah sekarang aku mengaku dan memperkenalkan namaku.
Aku bernama Cia Ceng Sun, seorang pemuda perantau yang hidup di antara langit dan bumi tanpa tempat tinggal tertentu.
Aku pun tidak mewakili golongan mana pun, hanya ingin meluaskan pengalaman." Dia mem-beri hormat ke arah ketua Pao-beng-pai dan hendak kembali ke tempat duduknya.