Ia memberi isyarat kepada seorang di antara pelayan-nya, yaitu yang berpakaian serba kuning, pelayannya yang paling lihai, lalu ber-kata lantang.
"Sobat dari Kong-thong-pai, untuk menyambut tantanganmu, aku mewakilkan kepada seorang pelayanku.
Kalau engkau dapat mengalahkannya, barulah engkau pantas menantangku!" Sesosok bayangan kuning berkelebat dan wanita muda ber-pakaian serba kuning yang juga cantik itu telah berdiri di depan si pemuda Kong-thong-pai yang tidak mau memper-kenalkan diri sebelum menguji kepandaian.
"Kongcu (Tuan Muda), saya mewakili Siocia untuk menandingi Kongcu.
Silakan!" Diam-diam murid Kong-thong-pai ini mendongkol bukan main.
Dia adalah se-orang murid unggulan dari Kong-thong--pai, dan dia dipercaya para pimpinan perkumpulannya untuk mewakili Kong--thong-pai, dan di sini dia dipandang ren-dah, tingkatnya hanya disejajarnya de-ngan seorang pelayan dari puteri tuan rumah! Keterlaluan sekali! Maka, dia pun melawan aksi meremehkan dari pihak tuan rumah itu dengan sikap angkuh, "Baik, sebagai tamu saya tentu saja me-nerima semua peraturan tuan rumah.
Akan tetapi, saya tidak mau mencari kemenangan dari seorang pelayan! Kalau wakil Nona Siangkoan ini mampu ber-tahan melawanku selama dua puluh jurus maka aku mengaku kalah!" Melihat lagak yang meremehkan diri-nya itu, si baju kuning hanya tersenyum saja.
Dengan sikap tetap menghormat sebagai seorang pelayan terhadap tamu majikannya, ia tersenyum dan memberi hormat, "Kongcu, saya sudah siap.
Sila-kan Kongcu mengalahkan saya sebelum dua puluh jurus itu." Melihat sikap si pelayan yang me-nantang, pemuda Kong-thong-pai itu men-jadi semakin penasaran.
Mukanya yang kuning kini berubah merah dan dia pun membentak, "Lihat seranganku!" Dan dia pun sudah menerjang dengan ganas.
Ilmu silat yang dia mainkan adalah ilmu silat Kong-thong-pai yang banyak menggunakan gerakan kedua lengan dikembangkan se-perti sepasang sayap burung rajawali dan kedua tangan dapat menyambar dari kanan kiri secara cepat.
Serangan per-tama itu dilakukan dengan gerakan se-perti seekor harimau menerkam kambing, kedua lengan yang dikembangkan itu membuat gerakan ke depan, dan kedua tangannya menerkam dari kanan kiri dengan tubuh melompat.
Namun, nona baju kuning itu adalah pelayan Siangkoan Eng yang nomor satu, merupakan pelayan kepercayaan yang telah menguasai ilmu silat paling tinggi di antara rekan-rekannya.
Menghadapi terkaman yang dahsyat itu, ia pun ber-sikap lincah dan meloncat ke belakang lalu memutar tubuh sehingga serangan lawan luput dan ia pun sudah menggerak-kan kaki ketika memutar tubuh tadi, membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan kaki yang mencuat ke arah dada lawan! Melihat kelincahan lawan, pemuda Kong-thong-pai itu menjadi semakin pena-saran.
Dia memutar lengannya dan ber-usaha menangkap kaki yang menendang-nya.
Akan tetapi gadis pelayan itu mak-lum akan niat lawan, maka ia pun me-narik kembali kakinya, meloncat dengan gerakan cepat sekali ke kiri, kemudian dari kiri ia mengirim tamparan ke arah kepala lawan! Sekali ini, pemuda itu tidak berani bersikap lengah.
Untuk me-nangkis tidak ada waktu lagi, maka ter-paksa dia melempar tubuh ke belakang agar terhindar dari tamparan yang cukup berbahaya itu karena dia dapat merasa-kan sambaran angin pukulan yang cukup kuat.
Tahulah dia bahwa gadis berpakaian kuning itu, walaupun hanya seorang pe-layan, ternyata memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan lawan berat, maka dia pun tidak berani lagi memandang rendah.
Dia mulai menyerang dengan gencar dan tanpa sungkan lagi.
Setelah lewat sepuluh jurus dan dia sama sekali belum mampu mengalahkan lawan, men-desak pun tidak mampu, pemuda murid Kong-thong-pai itu menjadi semakin pena-saran.
Dia mengeluarkan semua jurus pilihan yang paling dia andalkan, namun gadis itu mampu menandinginya, bahkan mampu membalas dengan tidak kalah kuatnya.
Dua puluh jurus lewat dan pe-muda Kong-thong-pai itu melompat mun-dur.
Mukanya berubah merah sekali.
"Dua puluh jurus telah lewat, aku mengaku kalah! Siangkoan Eng tersenyum, kini se-nyumnya tidak mengejek lagi karena bagaimanapun juga, ia senang dengan sikap jantan pemuda itu yang tidak malu mengakui kekalahannya sesuai dengan janjinya, walaupun sebenarnya dia belum kalah.
"Lanjutkanlah sampai ada yang kalah karena engkau belum kalah, sobat dari Kong-thongpai!" katanya lembut.
"Hemmm, aku Koan Tek adalah se-orang laki-laki sejati yang menjunjung tinggi nama dan kebesaran nama Kong--thong-pai.
Aku sudah berjanji, dan se-telah lewat dua puluh jurus aku belum dapat mengalahkannya, berarti aku kalah.
Pang-cu, terimalah hormatku!" katanya sambil memberi hormat kepada Siangkoan Kok.
Ketua Pao-beng-pai yang tinggi be-sar ini mengangguk dan membalas penghormatannya.
"Silakan duduk, saudara Koan Tek!" Kini tinggal dua orang tamu yang masih belum mau memperkenalkan diri dan mereka adalah dua orang pemuda yang kebetulan tidak saling berjauhan duduknya.
Kini, perhatian semua tamu tertuju kepada kedua orang pemuda itu, bertanya-tanya siapa kiranya mereka berdua.
Di antara mereka yang hadir, tidak ada yang mengenal mereka, maka tentu saja semua orang merasa heran bagaimana ada dua orang pemuda yang tidak terkenal berani bersikap angkuh, tidak mau memperkenalkan diri lebih dahulu kepada pihak tuan rumah! Dua orang pemuda itu yang merasa menjadi pusat perhatian, kini juga saling pandang.
Mereka tidak saling mengenal namun mereka berdua seperti merasakan suatu ikatan dari sepenanggungan karena keduanya menjadi pusat perhatian karena mereka berdua sajalah yang kini belurn memperkenalkan diri dan diharapkan mereka berdua akan menguji pihak tuan rumah seperti dilakukan oleh wakil-wakil Pek-eng Bu-koan, Pat-kwa-pai, Pek-lian--pai dan Kong-thong-pai tadi.
Pemuda pertama berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, berperawakan se-dang dan tegap, wajahnya bulat berkulit putih bersih.
Sepasang matanya tajam, hidungnya agak besar dan mancung, mu-lutnya selalu terhias senyum manis dan alisnya tebal.
Dia seorang pemuda yang tampan, dan sikapnya juga anggun, tidak malu-malu dan berwibawa.
Pemuda ini bukan lain adalah Pangeran Cia Sun yang melakukan penyamaran! Dia meninggalkan istana untuk mencari pengalaman, me-nyamar sebagai pemuda biasa dan karena dia seorang yang sejak kecil suka mem-pelajari silat, kini dia ingin meluaskan pengetahuan dan menjelajahi dunia kang-ouw.
Maka, mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai, apalagi mendengar bahwa Pao-beng-pai adalah perkumpulan yang anti pemerintahan kakeknya, yaitu Kaisar Kian Liong, dia tertarik dan sengaja datang berkunjung.
Tentu saja dia tidak akan mengaku bah-wa dia seorang pangeran, karena hal itu sama saja dengan mencari kematian.
Kalau perkumpulan Pao-beng-pai itu anti pemerintah Kerajaan Ceng, tentu mereka akan menbunuhnya kalau mengetahui bahwa dia seorang pangeran Mancu! Di sepanjang perjalanannya pun dia mengaku bernama Cia Ceng Sun.
Namanya sendiri dia pakai, hanya menambahkan huruf Ceng di tengah, yaitu yang berarti kera-jaan atau Dinasti Kerajaan Mancu.
Dan karena sejak kecil dia hidup dalam pen-didikan seperti orang Han, maka tak seorang pun yang tahu bahwa dia seorang pangeran Mancu, dalam segala hal dia adalah seorang pemuda Han biasa.
Dia pandai silat dan pandai pula dalam hal kesusastraan bangsa Han.
70 Pemuda yang ke dua juga tampan berusia lebih tua, kurang lebih dua puluh enam tahun dan sikapnya lebih matang dan pendiam.
Dia pun tampan, walaupun ketampanannya berbeda dengan ketampan-an Pangeran Cia Sun yang kini kita ke-nal sebagai pemuda Cia Ceng Sun.
Pe-muda ke dua ini bermuka lonjong dengan mata yang tajam, hidung mancung dan mulutnya ramah tersenyum.
Dagunya runcing berlekuk, rambutnya panjang dan hitam, alisnya tebal dengan dahi lebar.
Perawakannya juga hampir sama dengan perawakan Cia Ceng Sun, sedang dan tegap dan gerak-geriknya amat tenang, sikapnya seperti acuh tak acuh walaupun wajahnya ramah.
Pemuda ini bukan lain adalah Yo Han, pemuda perkasa yang dijuluki Sinciang Tai-hiap (Pendekar Besar Tangan Sakti).
Namun, karena ketika dia dijuluki Tangan Sakti itu tidak pernah ada orang yang melihat wajahnya, maka tidak ada seorang pun yang me-ngenalnya sebagai pendekar itu di dalam pertemuan orang-orang dunia persilatan di situ.
Berbeda dengan Cia Ceng Sun yang meninggalkan istana untuk memperdalam pengetahuan dan meluaskan pengalaman, Yo Han datang ke tempat itu dalam rangka menunaikan tugasnya yang ter-amat sulit, yaitu mencari puteri bibinya Can Bi Lan dan suami bibinya si Pende-kar Suling Naga Sim Houw.
Para pembaca kisah Si Bangau Merah tentu mengenal baik siapa Yo Han.
Dia seorang yatim piatu.
Mendiang ayahnya adalah Yo Jin, seorang petani biasa yang jujur namun berjiwa gagah, sedangkan mendiang ibunya adalah seorang tokoh sesat yang telah bertaubat, berjuluk Bi Kwi (Setan Cantik), su-ci dari Can Bi Lan atau Nyonya Sim Houw.
Sejak kecil, Yo Han dididik oleh Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li sehingga Yo Han sejak kecil telah akrab dengan Tan Sian Li Si Bangau Merah sebagai kakak se-perguruan.
Namun, ketika kecilnya, Yo Han sama sekali tidak suka belajar atau berlatih ilmu silat.
Biarpun suami isteri Tan Sin Hong Si Bangau Putih dan Kao Hong Li merupakan suami isteri yang sakti dan mengajarkan silat kepadanya, Yo Han hanya mempelajari teorinya saja dan tidak pernah mau berlatih.