Si Tangan Sakti Chapter 22

NIC

Apalagi dalam hal pengalaman bertanding.

Sudah ratusan kali dia bertanding melawan orang-orang yang lihai, sedangkan gadis ini" Mungkin belum pernah bertemu tanding yang sung-guhsungguh.

Kui Thian-cu tersenyum pahit karena merasa direndahkan sekali dengan mun-culnya seorang bocah untuk menandingi-nya.

Diam-diam dia mengerahkan ilmu sihirnya.

Setiap orang tosu Pek-lian-kauw yang sudah tinggi kedudukannya tentu pandai menggunakan sihir.

Dia mengerah-kan kekuatan sihirnya terhadap gadis di depannya, sepasang matanya seperti me-nembus mata gadis itu, mulutnya ber-kemak-kemik membaca mantram kemudi-an terdengar suaranya yang menggetar mengandung penuh wibawa.

"Nona yang begini muda bagaimana hendak bermain-main dengan pedang yang tajam" Tergores sedikit saja kulitmu yang halus akan berdarah dan engkau akan menangis karena ngeri.

Nah, seka-rang pun engkau sudah ingin menangis.

Menangislah, Nona, menangislah karena engkau memang pantas dikasihani! Me-nangislah....!!" Kui Thian-cu yang merasa diremeh-kan, kini hendak membalas dan mem-bikin malu, keluarga ketua Pao-beng-pai, dengan sihirnya.

Akan tetapi, gadis itu tidak menangis, malah memandang kepadanya, dengan matanya yang mencorong, lalu bertanya dengan suara yang sungguh--sungguh, "Totiang, bagaimana sih caranya menangis itu" Aku tidak pernah me-nangis, harap Totiang memberi contoh." Tentu saja Kui Thian-cu merasa he-ran.

Seorang gadis muda tidak pernah menangis" Sungguh aneh.

"Bagaimana caranya menangis" Engkau sungguh tidak tahu" Begini, Nona, beginilah caranya orang menangis...." Dan tosu itu lalu mengeluarkan suara tangis sambil me-nutupi muka dengan tangan kiri sedang-kan tangan kanannya tetap memegang pedang.

"Huauuu-uuuuu....

huuuuu-uuuhhh...." Terdengar suara orang-orang tertawa geli karena pertunjukan itu memang lucu sekali.

Kakek yang tubuhnya pendek ku-rus dan mukanya keriputan sehingga nam-pak tua sekali itu, yang mengenakan jubah pendeta, tokoh Pek-lian-kauw, kini seperti anak kecil menangis di depan Si-angkoan Eng yang cantik dan kini ter-senyum-senyum mengejek.

Mendengar suara tawa orang-orang di situ, barulah Kui Thian-cu menyadari keadaannya dan diam-diam dia terkejut.

Sihirnya yang dikerahkan untuk memaksa gadis itu me-nangis bahkan seperti senjata makan tuan.

Gadis itu ternyata tidak terpenga-ruh sihirnya, bahkan menggunakan ke-kuatan sihir itu, ditambah kekuatannya sendiri, membuat pengaruh itu membalik sehingga dialah yang menangis tanpa disadarinya sendiri bahwa dia telah me-lakukan perbuatan yang lucu memalukan.

Tentu saja dia marah sekali, akan tetapi Kui Thian-cu bukan seorang bodoh atau ceroboh.

Dia seorang tokoh Pek--lian-kauw yang sudah berpengalaman, maka biarpun dia mendapat malu di de-pan banyak orang namun dia dapat me-lihat kenyataan dan tidak menuruti hawa nafsu amarah.

Dia menyadari bahwa dia terlalu bersalah, keliru menafsirkan orang dan terlalu memandang rendah gadis puteri tuan rumah itu.

Dia pun sudah mendengar bahwa Siangkoan Kok adalah seorang bangsawan keturunan keluarga Kerajaan Beng yang selain tinggi ilmu silatnya, juga menguasai ilmu sihir.

Maka tidak begitu mengherankan kalau puteri-nya juga pandai ilmu sihir.

"Hemmm, Nona masih muda sudah lihai dan juga cerdik sekali sehingga aku terjebak.

Nah, sekarang aku ingin me-lihat kehebatan ilmu pedangmu, Nona." Dia menggerakkan tangan dan memutar--mutar pedang di atas kepala, sedemiki-an kuat dan cepatnya sehingga pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan terdengar bunyi desing yang me-nyeramkan.

Siangkoan Eng masih tersenyum meng-ejek, tangan kanannya bergerak dan ia sudah mencabut pedangnya yang beronce merah, sedangkan tangan kirinya tetap memegang hud-tim (kebutan) yang ber-gagang emas dan bulunya merah meng-kilap itu.

Dengan sikap tenang gadis itu menyilangkan pedang dan kebutan di depan dada lalu berkata, "Totiang, aku sudah siap, silakan mulai memperlihatkan ilmu pedangmu yang hebat!" Dalam ucap-an yang dingin ini terkandung tantangan dan juga ejekan yang terasa sekali oleh Kui Thian-cu, membuatnya marah sekali, akan tetapi hanya ditahannya di dalam hati.

Ini memang merupakan siasat yang cerdik dari Siangkoan Eng.

Kemarahan melemahkan seorang, membuat orang menjadi kurang waspada, maka bagi se-orang ahli silat, marah ketika bertanding merupakan pantangan besar karena hanya merugikap diri sendiri.

Kui Thian-cu yang sudah marah itu tidak lagi bersikap sungkan.

Sebenarnya, sebagai seorang yang jauh lebih tua dan berkedudukan tinggi sebagai wakil sebuah perkumpulan besar seperti Pek-lian-pai, seharusnya dia merasa malu kalau harus menyerang lebih dulu dalam sebuah pi-bu melawan seorang gadis muda.

Akan tetapi karena sudah marah, dia tidak lagi peduli dan putaran pedangnya di atas kepala semakin kuat dan cepat.

"Nona, jaga baik-baik seranganku ini!" bentaknya dan pedang itu makin cepat berdesing membentuk sinar yang mem-bentuk gulungan lingkaran, lalu dari ling-karan itu mencuat sinar menyambar ke arah Siangkoan Eng secara bertubi-tubi.

Gadis itu pun menggerakkan pedangnya untuk menangkis sambil kakinya membuat langkahlangkah melingkar sehingga se-mua serangan itu gagal, luput atau ter-tangkis.

Kemudian sambil menangkis, ia pun membalas dengan serangan hud-tim di tangan kirinya.

Begitu digerakkan, bulu hud-tim yang lemas itu berubah kaku seperti kawat baja, dapat diper-gunakan untuk menusuk, akan tetapi juga dapat lemas seperti rambut yang dapat membelit lawan.

Pertandingan itu berlangsung dengan seru.

Karena merasa dirinya sebagai wakil perkumpulan besar, tentu saja Kui Thian-cu tidak mau kalah melawan se-orang gadis.

Dia pun mengerahkan se-luruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya, namun agaknya sedikit banyak gadis itu mengenal jurus--jurus ilmu pedang Pek-lian-pai.

Buktinya, gadis itu dapat menghindarkan diri de-ngan mudah dan tepat.

Bahkan serangan balasan dengan kebutannya, setelah lewat dua puluh jurus, membuat tokoh Pek--lian-kauw itu mulai terdesak dan sibuk menghindarkan diri.

Diam-diam kakek ini terkejut dan khawatir.

Sungguh di luar dugaannya bahwa gadis ini benar-benar amat lihai! Dia makin memperhebat se-rangannya, bahkan mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya.

Namun tetap saja dia menghadapi benteng pertahanan yang tak dapat ditembus gulungan sinar pedangnyra, sebaliknya, sambaran bulu-bulu kebutan itu membuat dia semakin repot dengan loncatan ke kanan kiri dan memutar pe-dang untuk melindungi tubuhnya.

Ketika dengan pengerahan tenaga kembali dia membacokkan pedangnya, bulu kebutan itu menyambut dan melibat pedangnya dengan lilitan bagaikan ular dan pada saat yang sama, pedang di tangan gadis itu menyambar, membacok ke arah pergelangan tangannya yang me-megang pedang! Serangan ini hebat sekali dan tidak ada lain jalan bagi Kui Thian-cu kecuali melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang kalau dia tidak ingin tangannya terbabat buntung di per-gelangannya! Dengan muka berubah ke-merahan dia meloncat ke belakang dan melepaskan pedangnya yang kini masih terbelit hud-tim.

Siangkoan Eng juga tidak mengejar.

Sambil tersenyum dingin gadis ini me-mandang kepada lawannya, lalu berkata, "Totiang, terimalah kembali pedangmu!" Ia menggerakkan hud-tim di tangan kiri dan pedang rampasan itu meluncur ke arah pemiliknya! Wajah tokoh Pek-lian-pai itu berubah pucat akan tetapi dia menyambut pedangnya dan dia pun mak-lum bahwa dia tidak akan menang me-lawan gadis itu.

Kalau tadi dia merasa penasaran, kini dia kagum bukan main.

Kalau puterinya saja sehebat itu, apalagi ayahnya.

Dan dia pun mendengar bahwa ibu gadis ini, Lauw Cu Si, adalah seorang keturunan para pimpinan Beng--kauw, perkumpulan yang dahulu amat terkenal sebagai perkumpulan besar kaum sesat yang telah hancur.

Dan kabarnya, isteri Siangkoan Kok itu pun memiliki ilmu yang lihai, di samping ilmu sihir.

"Nona memang hebat, pinto mengaku kalah." lalu dia menghadap ke arah tuan rumah dan memberi hormat, "Pangcu, sekarang pinto yakin bahwa Pao-beng--pai merupakan kawan seperjuangan yang layak dihargai dan pinto dapat memberi kabar kepada para pimpinan Peklian--kauw." Tentu saja Siangkoan Kok merasa girang.

"Terima kasih, Totiang dan sila-kan duduk." Setelah tokoh Pek-lian-kauw duduk kembali, bangkitlah seorang di antara tiga orang pemuda yang belum mau memperkenalkan diri.

Dia seorang pe-muda berusia tiga puluh tahun yang ber-tubuh tinggi besar, kepalanya botak dan kulitnya kuning dengan mata yang sipit.

Gerakannya tangkas ketika dia melompat ke atas ruangan tempat mengadu ilmu itu dan dia pun menjura kepada pihak tuan rumah.

"Melihat kepandaian Nona Siangkoan, hati saya penuh rasa kagum dan sebelum saya memperkenalkan diri sebagai murid Kong-thong-pai, saya ingin berkenalan lebih dahulu dengan ilmu silat puteri tuan rumah! Nona, silakan maju dan me-layaniku beberapa belas jurus!" Sikapnya kaku dan tekebur, seperti bukan sikap seorang ahli silat di dunia kang-ouw yang berpengalaman.

Siangkoan Eng tentu saja tidak mau melayani seorang tamu seperti itu.

Kalau tadi ia mewakil ayahnya menandingi Kui Thian-cu adalah karena mengingat bahwa Pek-lian-pai sebuah perkumpulan pejuang yang besar dan ia tahu bahwa para tosu Pek-lian-kauw amat lihai.

Akan tetapi, laki-laki muda itu biarpun murid per-kumpulan silat Kong-thong-pai, sikapnya demikian hijau dandungu.

Posting Komentar