"Song Cun ini yang bohong!” tiba-tiba Wong Ai Yin melompat ke depan dan berteriak nyaring. "Dia pembohong dan penipu sehingga saya sendiri tertipu olehnya, mengira bahwa dia seorang yang baik budi dan seorang pendekar patriot yang terhormat. Akan tetapi, aku menjadi saksinya bahwa diam-diam dia bersekutu dengan golongan sesat macam Toat-beng Siang-kiam Can Ok dan bersama mereka dia mengadakan hubungan pula dengan Pangeran Galdan dari Mongol, dan dengan Pangeran Dorbai dari Kerajaan Mancu untuk merebut kekuasaan kaisar. Mana ada patriot bersekutu dengan Pangeran Mancu dan Pangeran Mongol, juga dengan golongan sesat? Dia itu jahat dan palsu, dan sekarang aku yakin bahwa yang malam itu menyamar sebagai Si Tangan Halilintar adalah Song Cun!
Aku mengenal Lauw Beng sebagai seorang pendekar yang bijaksana dan budiman!”.
Semua orang kini mengepung Song Cun yang menjadi pucat. Matanya liar memandang ke sekeliling seperti seekor harimau terkepung.
"Song Cun! Kiranya engkau yang amat jahat dan membohongi kami semua Sejak dulu engkau berusaha untuk mencelakai Lauw Beng dengan tipu muslihatmu yang licik! Apa yang akan kau katakan sekarang setelah kedokmu terbuka?”.
Tiba-tiba Song Cun tertawa bergelak, tawa yang tidak wajar karena terdengar seperti setengah menangis. Tawa seorang yang miring otaknya! Segala macam perasaan marah, kecewa dan takut mengaduk hatinya dan membuat jiwanya terguncang.
"Ha-ha-ha-ha ! Akulah Si Tangan Halilintar yang melakukan semua itu! Aku melakukannya untuk menghancurkan si bedebah Lauw Beng yang kubenci! Mampuslah Lauw Beng, ha- ha-ha!”.
Bukan main marahnya semua orang yang tadinya merasa yakin bahwa pelaku perbuatan keji itu adalah Lauw Beng. Terutama sekali Ma Giok. Dia memandang kearah Lauw Beng dengan muka pucat. Kemudian kemarahan di hatinya memuncak dan dia memandang kearah Song Cun.
"Jahanam keparat ! Sejak dulu sudah ku curigai kau! Sambutlah ini!” Ma Giok menerjang kearah Song Cun.
Pemuda ini sambil menyerengai menyambut.
"Plakkk …. Desss ….!” Ma Giok terpental ke belakang sampai terhuyung.
Bhe Kam yang juga marah sekali menerjang. Akan tetapi seperti juga Ma Giok, ketika Song Cun menangkis, dia terpental ke belakang dan hampir roboh terpental ke belakang dan hampir roboh kalau saja Song Cin tidak cepat menangkap lengannya. Song Cun tertawa terbahak-bahak. Ternyata setelah menerima gemblengan dari Jit Kong Lama, kepandaian Song Cun meningkat banyak sehingga Ma Giok sendiri masih kalah kuat ketika mengadu tenaga sakti dengannya!.
"Omitohud! Kami semua tertipu oleh orang yang jahat ini. Biar pinceng turun tangan sendiri!” Tiong Hwi Hwesio sudah melangkah maju sambil membawa tongkatnya.
"Lo-suhu, sayalah yang di fitnah. Biarlah saya sendiri maju menghadapinya. Para Lo- cianpwe cukup menjadi saksi saja! "tiba-tiba Lauw Beng atau Siauw Beng melompat ke depan dan berhadapan dengan Song Cun.
"ha-ha-ha-ha ! Inilah saat yang kunanti-nanti ! Setelah ku rusak namanya, biar sekarang ku bunuh orangnya!” kata Song Cun dan dia sudah menerjang dengan dahsyat, tangan kanannya mencengkram kearah muka Lauw Beng dan tangan kirinya memukul kearah dada. Serangan ini dahsyat dan mematikan. Lauw Beng dengan tenang mundur selangkah dan menggerakkan tangannya menangkis dari bawah dengan gerakan memutar ke atas dan ke kanan.
Akan tetapi begitu kedua tangannya tertangkis, Song Cun sudah mengirim tendangan susulan kearah bawah pusar lawan. Kembali Lauw Beng mengelak dan balas menyerang. Kedua orang ini lalu berkelahi dengan seru dan mati-matian, di tonton oleh semua orang yang berada di situ. Biarpun Lauw Beng hanya mempunyai lengan kanan saja yang dapat dipergunakan untuk menyerang dan menangkis, namun dia sama sekali tidak terdesak oleh serangan Song Cun yang mengamuk seperti gila. Kekalahan jumlah tangan itu dapat di tutup dengan kemenangan dalam hal kecepatan gerakan dan kekuatan tenaga sakti.
Tiba-tiba muncul sekitar tiga puluh orang perajurit Mancu di pimpin oleh Toat-beng Siang- kiam Can Ok yang mengamuk dan membantu Song Cun! Tentu saja para pendekar yang berada di situ menyambut dan terjadilah pertempuran hebat. Munculnya Can Ok dengan puluhan perajurit Mancu ini meyakinkan para pendekar akan kebenaran keterangan Ai Yin tadi bahwa Song Cun bersekutu dengan Pangeran Dorbai yang hendak memberontak di bantu oleh
Pangeran Galdan dari Mongol! Maka, mereka menjadi marah dan menyambut dengan senjata mereka.
Ketika melihat Mayani ikut menyambut serbuan pasukan Mancu itu, nenek Bu juga ikut mengamuk. Ma Giok melihat ini, menjadi heran dan dia mendekati Mayani.
"Puteri Mayani, mengapa engkau melawan pasukan Kerajaan Ceng (Mancu) sendiri?”.
"Mereka bukan pasukan pemerintah. kalau pasukan pemerintah tidak mungkin menyerangku. Mereka adalah pasukan yang hendak memberontak terhadap pemerintah Ceng!”.
Mendengar ini, Ma Giok lalu ikut pula mengamuk. Menghadapi amukan para pendekar dari Siauw-lim-pai, Kang-lam Jit-hiap, dan keluarga Ciong-yang Ngo-taihiap, di tambah pula dengan Mayani dan Nenek Bu, tentu saja pasukan Mancu itu menjadi kocar-kacir! Ketika melihat keadaan tidak menguntungkan, Toat-beng Siang-kiam Can Ok hendak melarikan diri, akan tetapi sesosok bayangan putih berkelebat dan Wong Ai Yin sudah menghadang di depannya.
"Ai Yin, biarkan aku pergi …..!” Can Ok yang memegang sepasang pedangnya itu minta dengan suara memohon. "Aku Paman gurumu …..!”.
"Hemmm, Can Ok. Dosamu sudah terlalu besar dan engkau mencoreng pula nama ayahku karena perbuatanmu yang kotor!”.
Can Ok yang putus asa itu marah dan menyerang dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi Liong-cu-kiam di tangan Ai Yin menyambut dan mereka lalu bertanding mati-matian. Dalam belasan jurus saja Can Ok sudah terdesak hebat dan ketika ujung pedang Ai Yin berhasil melukai lengan kirinya sehingga pedang kirinya terlepas, Can Ok mencoba untuk melompat meninggalkan Ai Yin dan melarikan diri. Akan tetapi dua batang pedang dari seorang anggota Kang-lam Jit-hiap menyambar dan robohlah Can Ok mandi darah dan tewas seketika.
Tidak sampai lama pertempuran itu. Para perajurit Mancu, anak buah Pangeran Dorbai itu roboh bergelimpangan dan sisanya, kurang lebih dua belas orang, melarikan diri meninggalkan kawan-kawannya. Pertempuran selesai dan para pendekar kembali memperhatikan Song Cun dan Lauw Beng yang masih bertanding. Kini kedua orang muda itu bertanding dengan pedang di tangan. Berkali-kali pedang mereka beradu, terdengar bunyi berdencing nyaring di ikuti bunga api yang berpijar. Pertandingan yang amat seru. Biarpun kini ilmu kepandaian Song Cun meningkat banyak, namun di bandingkan dengan tingkat kepandaian Lauw Beng, dia masih kalah jauh. Kalau Lauw Beng menghendaki, kiranya sudah sejak tadi Song Cun roboh dan tewas. Akan tetapi Lauw Beng tidak ingin membunuhnya, hanya ingin merobohkannya tanpa melukai berat dan inilah yang membuat Song Cun masih dapat bertahan sampai sekian lama.
Para ahli silat yang berada di situ dan menyaksikan perkelahian itu, harus mengakui bahwa ilmu silat Song Cun sekarang amat hebat, akan tetapi mereka, terutama sekali Tiong Hwi Hwesio, Ma Giok, Kang-lam Jit-hiap dan tiga orang dari Ciong-yang Ngo- taihiap, mengetahui juga bahwa Lauw Beng banyak mengalah dan serangan balasannya tidak sepenuhnya. Hal ini saja sudah membuatnya mereka kagum dan menyadari akan kebaikan hati Lauw Beng yang jelas tidak mau melakukan serangan maut. Si Tangan Halilintar yang asli itu tidak mau membunuh Song Cun, padahal Song Cun telah membuntungi lengan kirinya dan telah menyamar sebagai dia dan melakukan banyak kejahatan untuk menghancurkan namanya!.
Nenek Bu yang melihat keadaan ini, segera berseru marah dan cucunya. "Siauw Beng, manusia berwatak iblis seperti Song Cun itu masih juga engkau kasihani? Hayo cepat robohkan dia kalau engkau tidak mau celaka sendiri akhirnya karena orang macam itu licik dan curang sekali!”.
Mendengar teriakan neneknya, Lauw Beng baru menyadari bahwa pertempuran telah selesai dan semua orang kini menonton dia yang masih bertanding melawan Song Cun. Song Cun sudah mandi keringat, wajahnya pucat dan napasnya terengah karena setiap kali pedang mereka bertemu, tubuhnya tergetar hebat dan dalam perlawanannya yang mati-matian itu menguras semua tenaganya.
Mendengar teriakan neneknya, Lauw Beng berseru keras, pedangnya menyambar dahsyat. Song Cun menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
"Singggg … tranggg …. !!!” Pertemuan kedua pedang sekali ini amat dahsyat dan akibatnya, pedang di tangan Song Cun patah. Lauw Beng melemparkan pedang Kui-kong Sing-kiam ke atas dan tangan kanannya lalu mendorong ke depan. Itulah pukulan Kui- kong-ciang (Tangan Halilintar). Song Cun merasa dadanya seperti di sambar petir. Biarpun Lauw Beng sudah membatasi tenaganya, tetap saja Song Cun terlempar dan terbanting roboh dengan tangan masih memegang gagang pedangnya yang tinggal sepotong!.
Melihat pemuda itu sudah roboh, mereka yang merasa sakit hati kepada Song Cun segera berlompatan menghampiri untuk melampiaskan dendam mereka. Akan tetapi Song Cun tertawa bergelak, lalu tangan kanannya menggerakkan pedang buntungnya ke leher sendiri dan diapun tewas dengan leher hampir putus!.
Wong Ai Yin berlari menghampiri Lauw Beng dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu. "Siauw Beng …. Ampunkan aku …. Aku telah menuduhmu …… "Ia menangis tersedu-sedu sambil menutup muka dengan kedua tangannya.
Lauw Beng tadi menyambut pedangnya yang di lontarkan ke atas dan menyimpan kembali pedang Lui-kong Sin-kiam (Pedang Sakti Halilintar) dan dia menghela napas panjang sambil menundukkan muka memandang kepada Ai Yin. "Sudahlah, Ai Yin. Bukan salahmu, semua orang juga tertipu oleh Song Cun”.
Mereka semua kini merubung Lauw Beng dan berturut-turut mereka minta maaf. Mula- mula Kang-lam Jit-hiap yang minta maaf dan memberi hormat kepada Lauw Beng dengan mengangkat tangan depan dada.
"Maafkan kami bertujuh yang bodoh, mudah dikelabui orang. Kami telah membuat kesalahan besar dengan menuduh Lauw-taihiap (Pendekar besar Lauw) yang tidak berdosa”.
Lauw Beng membalas penghormatan mereka. "Tidak mengapa, setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Jit-wi (Kalian bertujuh) juga hanya tertipu”.
Kemudian Tiong Hwi Hwesio wakil ketua Siauw-lim-pai juga minta maaf, di susul tiga orang pendekar Ciong-yang Ngo-taihiap, terutama sekali Bhe Kam ayah Bhe Siu Cen. Juga Song Cin minta maaf kepada Lauw Beng dan juga kepada Puteri Mayani karena selama ini dia menyimpan rahasia busuk kakaknya yang pernah memperkosa Mayani.
Kemudian Lu Kiat dan Lu Siong. Mereka semua satu demi satu, minta maaf kepada Lauw Beng lalu meninggalkan tempat itu. Song Cin membawa pergi jenazah Song Cun untuk di kuburkan sebagaimana mestinya dan hal ini saja sudah menunjukkan bahwa Song Cin seorang pemuda yang baik, sama sekali berbeda dari Song Cun. Biarpun dia juga merasa sakit hati karena tunangannya diperkosa kakaknya itu, namun dia masih mau mengurus jenazah Song Cun sebagaimana mestinya.
Kini tinggal Ma Giok yang berhadapan dengan Lauw Beng. Pendekar tua ini tampak agak pucat, namun sepasang matanya memandang Lauw Beng penuh kagum dan sayang. Melihat ini, Lauw Beng lalu maju dan berlutut di depan ayah angkatnya yang sejak dia bayi telah merawat dan mendidiknya itu.
"Ayah, ampunkan saya yang membuat ayah menjadi banyak pusing“, katanya dengan terharu karena dia menyadari bahwa dia belum dapat membalas semua budi ayah angkatnya ini dan hanya mendatangkan kepusingan.
Ma Giok maju dan memegang kedua pundak Lauw Beng, menariknya bangkit berdiri lalu merangkul pemuda itu.
"Siauw Beng “, katanya dengan suara gemetar. "Bukan engkau yang harus minta ampun, sebaliknya aku yang harus minta maaf karena selama ini, aku kurang percaya kepadamu dan mudah dihasut orang sehingga menyangka buruk padamu. Sekarang aku tahu banyak engkau adalah seorang yang telah dapat menjunjung tinggi nama baik ayahmu dan aku ikut merasa bangga. Maafkanlah ayahmu yang bodoh ini, Siauw Beng”.
Mereka berangkulan dan kedua pasang mata mereka basah.
Nenek Bu berkata, "Ma Giok, aku pun mengucapkan terima kasih kepadamu atas pembelaanmu terhadap anakku Kui Siang dan atas semua perawatan dan pendidikan kepada cucuku Lauw Beng”.
Setelah saling melepaskan rangkulan, Lauw Beng menghela napas panjang dan berkata, "Ayah, sungguh saya merupakan anak yang tidak berbakti. Saya tidak mampu melanjutkan cita-cita mendiang ayah Lauw Heng San dan cita-cita ayah sendiri untuk menjadi seorang patriot yang memusuhi Pemerintah Ceng. Saya tidak dapat memusuhi orang yang tidak berdosa. Saya akan selalu menentang mereka yang jahat, tidak peduli bangsa apa, dan saya akan selalu membela mereka yang tertindas, tidak peduli bangsa apa pula. Saya sungguh sedih telah menyebabkan semua peristiwa yang mengakibatkan banjir darah ini. Selamat tinggal, ayah“.
Setelah berkata demikian, Lauw Beng lalu meninggalkan tempat itu dengan muka di tundukkan karena dia merasa menyesal sekali bahwa karena urusan dia maka hari ini terjadi pembunuhan begitu banyak orang.
Ma Giok menghela napas panjang dan diapun menjura kepada Nenek Bu dan Mayani, lalu pergi dari situ tanpa berkata apapun. Nenek Bu dan Mayani juga cepat meninggalkan tempat yang dipenuhi mayat para perajurit Mancu pengikut Pangeran Dorbai dan mereka melakukan pengejaran terhadap Lauw Beng yang berjalan pergi dengan santai. Sebentar saja mereka dapat menyusul pemuda itu. "Siauw Beng, engkau hendak kemanakah?” Tanya Mayani sambil memegang lengan pemuda itu sehingga Lauw Beng terpaksa berhenti melangkah.
"Aku hendak melanjutkan perjalanan, kemana saja kakiku akan membawaku, Mayani”.
"Lauw Beng, cucuku, marilah engkau bersama aku ikut Mayani ke rumah ayahnya, Pangeran Gunam atau yang nama barunya Ceng San. Dahulu keluarga itu merupakan kenalan baikku. Mari kita mulai dengan kehidupan baru di sana dan engkau tentu akan mudah memperoleh kedudukan di kota raja”.
Pada saat itu, Lauw Beng menoleh ke kiri dan tampaklah sesosok bayangan putih berkelebat pergi di antara pohon-pohon. Mayani hendak mengejar, akan tetapi Lauw Beng menahannya. "Biarkan ia pergi”. "Siapa itu, Siauw Beng?”
"Ia Wong Ai Yin, puteri Bu-tek Sin-kiam”.
"Hemm, gadis galak yang menuduhmu nyaris memperkosanya itu?”. "Ia juga hanya menjadi korban penipuan Song Cun, Mayani”.
"Lauw Beng, engkau belum menjawab ajakanku tadi. Mari kita ke kota raja. Sudah cukup rasanya usiamu untuk mencari kedudukan kemudian menikah!”. Setelah berkata demikian, Nenek Bu mengerling kearah Mayani karena memang di dalam hatinya Nenek Bu sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan cucunya dengan Mayani. mayani mengerti maksud kerling itu dan wajahnya tiba-tiba berubah merah dan jantungnya berdebar menanti jawaban Lauw Beng.
"Maaf, Nek. Saya tidak memusuhi pemerintah Kerajaan Ceng, akan tetapi saya juga tidak ingin menjadi pegawainya. Orang-orang akan semakin memandang rendah kepada saya. Tidak, Nek, saya ingin bebas, tidak terikat kedudukan sehingga tidak terpaksa melakukan apa yang diperintahkan atasan saya. Kalau saya bebas, saya dapat melakukan apa saja yang saya rasa benar dan tidak berlawanan dengan suara hati saya sendiri. Nenek ikutlah dengan Mayani, saya percaya Mayani seorang yang baik sekali dan dapat dipercaya. mayani, saya hanya titip nenekku ini.
Sampai di sini saja, selamat berpisah dan kelak kita berjumpa pula!” Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Nenek Bu menghela napas panjang, sedangkan wajah Mayani yang cantik tampak muram. Nenek Bu merangkul gadis itu. "Biarlah dia pergi dulu. Percayalah, Mayani, kalau memang kalian berjodoh, kelak pasti akan berkumpul kembali. Mudah-mudahan yang menjadi keinginan hatiku itu akan terkabul”.
Dua orang wanita inipun lalu pergi menuju ke kota raja dan melihat kemuraman wajah Puteri Mayani, Nenek Bu menghiburnya sehingga akhirnya ia mendapatkan kembali harapan dan kegembiraannya. Memang terdapat hubungan batin yang erat antara Mayani dan Nenek Bu,lebih daripada hubungan murid dan guru.
****
Bhe Siu Cen duduk di bangku taman di puncak Liong-san, menutupi muka dengan kedua tangannya dan menangis sesunggukan. Di depannya, juga di atas bangku, duduk Song Cin.
"Cen-moi (adik Cen), sudahlah, jangan bersedih dan jangan menangis. Seperti sudah engkau dengar dari ayahmu, pelaku perbuatan keji atas dirimu itu sama sekali bukan Si Tangan Halilintar Lauw Beng, melainkan kakakku sendiri, Song Cun. Akan tetapi dia telah mendapatkan balasan yang setimpal. Dia membunuh diri dengan pedangnya, berarti sakit hatimu telah terbalas dan pelakunya telah menerima hukuman dengan tebusan nyawanya”.
Setelah di hibur dan dibujuk, akhirnya Siu Cen dapat menahan tangisnya dan ia menurunkan kedua tangannya. Dua buah mata yang kemerahan dan agak membengkak karena terlalu banyak menangis menatap wajah Song Cin. "Cin-ko, semua itu, bahkan kematiannya tetap saja tidak dapat mengubah keadaanku yang terkutuk ……!. Gadis itu menunduk lagi dan menahan isaknya.
“Ceng-moi! Apa maksudmu? Terkutuk, apanya yang terkutuk?”. “Akulah yang terkutuk, Cin-ko. Aku telah menjadi seorang yang kotor dan hina, aku …. Aku … bahkan aku tidak pantas untuk berdekatan denganmu”.
“Ah, jangan berkata demikian, Cen-moi ! Bagiku, engkau tetap Bhe Siu Cen kekasihku, tunanganku, calon isteriku!”.
“Tidak, aku akan menyeretmu bersama ke dalam pecomberan. Aku tidak pantas menjadi isterimu”.
“Akan tetapi mengapa begitu, Cen-moi?”.
“Ah, engkau masih bertanya lagi, Cin-ko? Apakah engkau pura-pura lupa bahwa aku adalah seorang wanita yang kehilangan kehormatan, kehilangan keperawanan dan tidak suci lagi?”.
Song Cin menangkap kedua tangan gadis itu dan dipaksanya gadis itu untuk duduk diam dan memandang kepadanya. "Cen-moi, dengarlah baik-baik! Aku bukanlah laki-laki yang berpandangan sempit seperti itu! Kesucian diukur dari keperawanan seorang gadis! Betapa rendah dan picik pandangan seperti itu! Dengar, Cen-moi dan jawablah pertanyaanku ini sejujurnya. Kita pernah menyatakan saling cinta. Engkau mencinta aku. Nah, katakan, apaku yang kau cinta? Apakah kepalaku ini, tanganku, kakiku, badanku? Apaku yang kau cinta? Jawablah sejujurnya”.
Siu Cen bingung, akan tetapi ia menjawab sejujurnya. "Aku mencinta engkau, Cin-ko, segala yang ada padamu, bukan sebagian-sebagian”.
“Tepat, Cen-moi. Demikian pula aku. Aku cinta engkau, Cen-moi! Cinta engkau seluruhnya, bukan cinta keperawanan. Aku mencinta engkau, apa dan bagaimanapun keadaanmu. aku bukan ingin berjodoh dengan keperawanan. Kalau begitu, bisa saja aku mengambil wanita siapa saja yang masih perawan! Tidak, aku mencinta engkau, bukan keperawananmu! Pula, engkau kehilangan itu karena di paksa, diperkosa orang. Bukan salahmu. Sudahlah, lupakan peristiwa itu, Cen-moi! Orang berbuat jahat dan keji kepadamu, akan tetapi orang itu sudah terhukum, sudah mati. Kita masih hidup. Kita saling mencinta dan aku tetap mencintamu, apapun yang telah, sedang dan akan terjadi dengan dirimu! Percayalah!”
“Cin-ko …..!” Siu Cen menjatuhkan diri kedalam pelukan tunangannya sambil menangis, sekali ini penuh kelegaan, penuh kebahagiaan, seolah ia menemukan kembali kebahagiaan hidupnya yang tadinya ia anggap telah menghilang.
Cinta kasih murni dapat mengatasi dan memenangkan segala macam gangguan dan persoalan. Cinta kasih itu abadi dan meresap ke hati sanubari, bukan hanya sekedar di kulit belaka yang mudah hilang. Berbahagialah manusia yang di sinari cinta kasih sejati dalam hatinya karena Kasih itu Suci, Kasih itu Benar, kasih itu Baik dan Kasih itu Abadi !
TAMAT