Wanita tua dan muda itu tertawa. "Hik-hik, kalau begitu engkau hendak mengatakan bahwa pada saat itu kita bertiga sedang lapar, sehat pikiran tenteram, dan hati senang?” kata Mayani.
"Aku memang sedang dalam keadaan seperti itu, Mayani “, kata Lauw Beng.
"Kalau begitu, kita tidak membutuhkan banyak untuk mendapatkan kebahagiaan, bukan?” kata Nenek Bu. "Ku rasa yang dimaksudkan Lauw Beng adalah kebahagiaan. Kalau kita berbahagia, maka segala hal juga menjadi enak menyenangkan. dan untuk mendapatkan atau merasakan kebahagiaan itu, ternyata tidak membutuhkan harta benda, kedudukan pangkat tinggi dan segala barang keduniaan lain. Buktinya kini kita, dengan makanan sederhana, di tempat yang lebih sederhana pula, dapat berbahagia”.
"Nenek benar! Jadi kesimpulannya, kita manusia hidup ini sebetulnya sudah dalam keadaan bahagia itu! Thian (Tuhan) menciptakan kita di dunia ini sudah dalam keadaan yang berbahagia. Anggota badan kita serba lengkap untuk alat mempertahankan hidup, juga memberi segala benda, tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk makanan penyambung hidup. Segala apa yangterdapat di dunia ini seolah di sediakan untuk melengkapi kehidupan manusia. Kita ini sebetulnya sudah dalam keadaan bahagia. Hanya saja, pikiran kita ini yang terlalu sering mengaburkan bahkan menghilangkan kebahagiaan itu, dengan segala macam persoalan yang timbul karena ulah nafsu kita sendiri.
Dendam kebencian, marah, kecewa, iri dan dengki, kemurkaan, ketakutan, iba diri, semua itu seolah asap-asap hitam yang menutupi sinar kebahagiaan sehingga kita tidak lagi merasa bahagia!”. "Walah, dengar itu Nek, khotbah seorang pendeta tua!” Mayani berkata sambil tertawa.
"Memang, khotbah yang baik sekali, Mayani. Sayang sekali, kita manusia ini biasanya mudah menangkap artinya dan mengerti akan kebenarannya, namun alangkah sukarnya untuk melawan semua perasaan yang timbul dari nafsu-nafsu itu sehingga dalam kehidupan kita ini, kita lebih terombang-ambing antara kesenangan dan kesusahan, kepuasan dan kekecewaan, kesabaran dan kemarahan dan sebagainya sehingga sinar kebahagiaan itu tidak pernah terasa.
Mereka sudah makan minum dan kenyang. Mayani membungkus sisa makanan dan memasukkannya ke dalam buntalan pakaiannya. Mereka sudah siap untuk pergi melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi tiba-tiba tampak banyak bayangan orang berkelebatan dan tahu-tahu muncul tiga belas orang yang telah mengepung mereka ! Lauw Beng dan Mayani segera mengenal siapa Ciang Hu Seng, Bhe Kam, Lee Bun, Song Cun dan Song Cin. Juga Lauw Beng mengenal Wong Ai Yin sehingga dia merasa terheran-heran. Mayani tidak mengenal tujuh orang Kang-lam Jit-hiam, juga Lauw Beng tidak mengenal mereka. Melihat Mayani berada di situ bersama Lauw Beng, Song Cun merasa khawatir kalau-kalau puteri Mancu itu akan membuka rahasianya yang telah memperkosa Mayani, maka dia tidak ingin banyak bicara lagi.
"Bunuh Si Tangan Halilintar!” Setelah berkata demikian, dia sudah menerjang maju menyerang Mayani. Pedangnya menyambar kearah leher gadis itu. Ingin dia segera membunuh gadis itu agar tidak sampai membuka rahasianya.
"Singggg ….. plakkk!” Pedang itu di tampar dari samping oleh tangan Nenek Bu sehingga terpental.
"Pengecut!” bentak Nenek Bu. "Engkau menyerang secara gelap tanpa membuka pembicaraan untuk mengatakan apa sebabnya kalian ini mengepung kami! Engkau hendak membuntungi lengan Mayani seperti yang kau lakukan kepada Lauw Beng secara licik dahulu?”.
Bentakan ini membuat muka Song Cun menjadi merah, dan Ciang Hu Seng, seorang yang sejak muda berwatak pendekar gagah perkasa, mengerutkan alisnya dan berkata kepada Song Cun. "Song Cun, biarkan mereka mengakui dulu kesalahan mereka!”.
Pada saat itu terdengar seruan orang, suaranya lembut namun mengadung getaran kuat. "Omitohud ! Cu-wi (anda sekalian) harap menunggu kami untuk ikut mengadili penjahat!”
Semua orang menengok dan tampaklah serombongan orang terdiri dari Lu Kiat dan Lu Siong, dua orang tokoh Siauw-lim yang pernah dikalahkan Nenek Bu dan Mayani, juga Lauw Han Hwesio wakil ketua Thian-li-tang, juga seorang murid Siauw-lim dan seorang hwesio tinggi kurus yang bukan lain adalah Tiong Hwi Hwesio, wakil ketua Siauw-lim-pai yang membawa tongkat panjang.
Melihat datangnya empat orang lagi, Nenek Bu tertawa. "He-he, semakin ramai! Berapa orang semua? "Ia menghitung mereka yang sudah mengepung itu. "Satu, dua, tiga ….. enam belas, tujuh belas! Wah, tujuh belas orang yang tampak gagah seperti pendekar, akan tetapi yang hendak mengeroyok dua orang muda dan seorang nenek! Bagus, sungguh kalian semua memperoleh kemajuan pesat dalam hal kecurangan!”.
"Nyonya Bu, aku mengenal siapa engkau ! Dahulu, engkau adalah isteri pendekar patriot Bu Kiat yang tewas oleh penjajah mancu! Kemudian engkau menjadi selir Pangeran Abagan yang menjadi pejabat tinggi di Keng-koan dan berganti nama menjadi Thio Ci Gan. Engkau juga telah mengkhianati mendiang suamimu dan juga bangsamu! Sekarang engkau hendak melindungi Si Tngan Halilintar Lauw Beng, anak dari mantumu mendiang Lauw Heng San yang juga seorang pengkhianat bangsa?” Ciang Hu Seng yang gemuk pendek itu agaknya marah sekali sehingga dia lupa tertawa seperti biasanya. Nenek Bu mengangguk-angguk. "Mungkin semua tuduhan itu kalian anggap benar, aku tidak peduli. Aku membela Lauw Beng karena dia cucuku! Sebaliknya kalian ini orang- orang yang mengaku pendekar patriot gagah, akan tetapi bagaimana kenyataannya tindakan kalian? Sekarangpun kalian hendak menggunakan jumlah tujuh belas orang untuk mengeroyok kami yang hanya bertiga. Itukah kegagahan kalian?”.
"Omitohudd …… ! Nyonya Bu, pinceng (saya) mohon agar engkau tenang dan bersabar sedikit. Kami sama sekali bukanlah pengecut-pengecut yang suka mengeroyok orang, apalagi orang yang tidak bersalah. Akan tetapi kalau kami berhadapan dengan seorang penjahat yang berbahaya sekali dan yang tinggi ilmu silatnya, untuk menghukumnya kalau perlu terpaksa kami harus mengeroyoknya. Ini demi keadilan karena penjahat tidak boleh dibiarkan merajalela terus meresahkan kehidupan rakyat, bukan? Pinceng adalah Tiong Hwi Hwesio, wakil ketua Siauw-lim-pai dan curang merupakan satu di antara pantangan kami yang utama”.
"Tiong Hwi Hwesio, aku adalah Puteri Mayani, akulah yang menjadi saksi utama bahwa kami bertiga tidak bersalah apapun. Kalau ada yang menyalahkan seorang di antara kami, itu hanya fitnah belaka!”.
"Mayani, biarkan lo-cian-pwe ini bicara. Silahkan, Lo-suhu, kami bertiga siap mendengarkan mengapa cu-wi (anda sekalian) datang menghadang perjalanan kami?” kata Lauw Beng dengan sikap tenang.
"Huh, masih pandai berlagak bodoh dan bersih!” bentak Bhe Kam dengan marah teringat betapa puterinya tersayang telah di perkosa pemuda lengan buntung ini. "Engkau telah memperkosa puteriku Bhe Siu Cen!”.
Lauw Beng terkejut bukan main mendengar tuduhan ini. Akan tetapi dia menahan diri dan bertanya lagi. "Barangkali masih ada tuduhan lain? Silahkan mengatakannya semua, satu demi satu”.
"Bukankah engkau juga telah memperkosa nona Gui Cin, lalu membunuhnya dan membunuh pula ayahnya, Paman Gui Ling? Mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai ! Aku yang menjadi saksi ketika pembunuhan itu terjadi dan aku melihat bahwa pembunuhnya adalah bayangan orang berlengan satu yang menggunakan ilmu silat Lo- han-kun ! Dan engkau tentu telah mempelajari ilmu itu dari Paman Ma Giok yang juga seorang tokoh Siauw-laim-pai!” kata Lu Siong. Dia tidak menuduh langsung, melainkan bertanya karena memang sudah ada keraguan dalam hatinya. "Hemmm, begitukah? Apakah masih ada lagi?” Tanya Lauw Beng.
"Si Tangan Halilintar ! Engkau telah memperkosa seorang keponakan kami, untuk itu engkau sekarang harus bertanggung jawab dan menerima hukuman kami!” kata seorang dari Kang-lam Jit-hiap dengan marah.
"Hemmm, sudah tiga tuduhan? Apa masih ada lagi?” Tanya Lauw Beng sambil memandang Ai Yin. Gadis itu lalu berkata lagi dengan suara nyaring.
"Aku sendiri hampir menjadi korban kebiadaban Si Tangan Halilintar yang buntung lengan kirinya ! Masih untung aku dapat meloloskan diri!”.
Lauw Beng mangangguk-angguk. "Ah, kiranya begitu, Ai Yin? Pantas engkau marah- marah dan hampir membunuhku. Apa masih ada lagi?”.
Karena sudah tidak ada lagi yang melakukan tuduhan, Tiong Hwi Hwesio berkata, "Omitohud, selain mereka yang datang dan menuduhmu ini merupakan bukti akan kejahatanmu, juga kami semua mendengar betapa banyaknya gadis di kota dan dusun yang menjadi korban kebiadabanmu, Si Tangan Halilintar ! Karena itu, lebih baik engkau menyerah mempertanggungjawabkan semua kejahatan untuk menerima hukuman sebagai orang gagah daripada kami keroyok dan tewas sebagai seorang jahat yang mati dikeroyok“.
"Locianpwe Tiong Hwi Hwesio dan cuwi yang gagah perkasa. Saya percaya dan yakin bahwa cuwi (anda sekalian) adalah golongan pendekar yang gagah perkasa, yang selalu membela kebenaran dan keadilan, karena itu tentu cuwi tidak menuduh sembarangan atau menjatuhkan fitnah kepada saya. Akan tetapi, ada sebuah kemungkinan, yaitu bahwa ada seseorang yang sengaja menyamar dan menggunakan nama Si Tangan Halilintar, melakukan semua kejahatan itu untuk menjatuhkan dan merusak nama saya. Oleh karena itu, saya harap cuwi tidak tergesa-gesa menuduh saya, melainkan menyelidiki dulu dengan seksama agar kelak tidak merasa menyesal setelah menghukum saya lalu ternyata bahwa saya tidak bersalah”.
"Jahanam, setelah semua bukti dan saksi, engkau masih berbohong untukmembela diri? Kamu harus mampus!” bentak Song Cun dan dia sudah menyerang lagi dan menusukkan pedangnya kearah dada Lauw Beng. lauw Beng menggeser kaki miringkan tubuh lalu melompak ke belakang.
"Wuuukkk … bllaarr ……!” Dari samping Nenek Bu sudah mendorong dengan tangan kirinya dan Song Cun terhuyung ketika angin pukulan yang amat dahsyat itu menyambar ke arahnya.
"Omitohud, tidak semestinya toanio (nyonya besar) menggunakan kekerasan untuk membela yang bersalah “, kata Tiong Hwi Hwesio dan dia sudah maju menghadapi Nenek Bu. Nenek Bu yang sudah marah melihat cucunya di tuduh semua orang itu, kini mendorongkan kedua tangannya ke arah wakil ketua Siauw-lim-pai.
"Omitohud ….!” Tiong Hwi Hwesio menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.
"Syuuttt … blaarrr ….!” Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dengan dahsyat dan kedua orang tua itu terdorong mundur beberapa langkah!.
"Omitohud …..!” Tiong Hwi Hwesio berseru kaget. "Hebat sekali tenagamu, Bu Toanio!”
Akan tetapi Nenek Bu yang di puji sudah menerjang maju dan kedua orang yang memiliki kepandaian tinggi itu sudah saling serang dengan hebatnya. Gerakan mereka tampak lambat saja dan pukulan mereka tampaknya tanpa tenaga, akan tetapi di sekeliling mereka ada angin-angin pukulan yang menyambar-nyambar dengan amat dahsyat sehingga pakaian semua orang berkibar tertiup angin.
Melihat ini, Song Cun sudah menyerang Puteri Mayani karena puteri inilah yang paling berbahaya baginya. mayani mencabut pedang bengkok dan melawan dengan penuh kemarahan karena iapun ingin membunuh pemuda yang pernah menghina dan memperkosanya itu!.
Akan tetapi orang-orang yang merasa sakit hati kepada Si Tangan Halilintar, sudah menerjang dan mengeroyok Lauw Beng. Mereka adalah Bhe Kam, Song Cin, Lu Kiat dan ketujuh Kang-lam Jit-hiap ! Lauw Beng terpaksa mencabut pedangnya untuk membela diri karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang lihai.