"Cun-ko …..!” Song Cin berseru ketika melihat kakaknya. Song Cun segera memberi, mengangkat kedua tangan dengan dada dan membungkuk terhadap tiga orang paman gurunya.
"Sam-wi Su-siok (Tiga Paman Guru), apakah selama ini susiok baik-baik saja?” katanya hormat dan lembut. Mereka memandang kepada Song Cun dan Ai Yin dengan heran, lalu Ciang Hu Seng tertawa, "Ha-ha-ha, Song Cun ! Kemana saja engkau selama ini? Dan siapa pula gadis cantik ini?”.
"Teecu (saya) selama ini merantau mematangkan kepandaian, su-siok. Ini adalah seorang sahabat teecu bernama Wong Ai Yin, puteri dari lo-cian-pwe Bu-tek Sin-kiam Wong Tat”. Song Cun memperkenalkan.
"Hei, Song-ko, mengapa mereka ini menyebutmu Song Cun dan siapakah orang-orang gagah ini?” Ai Yin bertanya. "Yin-moi, dulu namaku memang Song Cun. Mereka ini adalah tiga orang paman guruku yang tergabung dalam Ciong-yang Ngo-taihiap, yaitu susiok Ciang Hu Seng, susiok Bhe Kam dan susiok Lee Bun.Sedangkan pemuda itu adalah Song Cin, adik kandungku”.
"Ah, aku sudah mendengar akan nama besar Ciong-yang Ngo-taihiap! Jadi engkau ini putera seorang dari mereka, Song-ko? Mengapa engkau tidak menceritakan hal itu dahulu?”.
"Aku sedang merantau dan mengasingkan diri, Yin-moi, maka sengaja menggunakan nama lain”.
Sementara itu, tiga orang dari Ciong-yang Ngo-taihiap memandang kepada Ai Yin penuh perhatian. "Bagus, Nona! Kami juga mengenal baik Bu-tek Sin-kiam Wong Tat sebagai seorang yang gagah perkasa. Kami girang engkau pandai memilih teman, Song Cun”.
"Paman bertiga sedang hendak pergi kemanakah? Mengapa semua meninggalkan Liong- san? Apa yang telah terjadi?” Tanya Song Cun.
"Kami sedang mencari si jahanam Lauw Beng, Si Tangan Halilintar yang kini semakin jahat itu! Kami harus membunuhnya!” kata Lee Bun yang kurus dan mukanya seperti tengkorak.
"Si Tangan Halilintar Lauw Beng harus kita bunuh ! Dia telah …….”.
"Bhe susiok …..!” Song Cun memotong ucapan Bhe Kam dan ayah Bhe Siu Cen yang marah itu menghentikan kata-katanya yang tadi hendak menceritakan bahwa Si Tangan Halilintar telah memperkosa puterinya ! Teringatlah dia bahwa peristiwa yang celaka itu tidak seharusnya diceritakan kepada orang lain karena merupakan aib yang menimpa keluarganya. "Si Jahat Lauw Beng? Kami juga sedang mencari bala bantuan untuk menghadapinya, Su-siok!” kata Song Cun.
"Ah, engkau juga sudah mendengar akan semua kejahatan Si Tangan Halilintar?” Tanya Ciang Hu Seng.
"Tentu saja, susiok. Siapa yang belum mendengar akan kejahatannya? Bahkan kami baru kemarin dulu bertemu dengan Si Tangan Halilintar Lauw Beng si jahanam itu!”.
"Ah, benarkah? Dimana dia sekarang? Kita harus menangkap dan menghukumnya!” kata Bhe Kam. "Sayang kami tidak dapat menangkap atau membunuhnya beberapa hari yang lalu”.
"Ah, susiok sudah bertemu dengan jahanam itu?” Song Cun bertanya.
"Ya, beberapa hari yang lalu, kami berempat dan Kang-lam Jit-hiap bertemu dengan jahanam Lauw Beng. Kami sebelas orang mengeroyoknya dan pada saat dia sudah terdesak, muncul Puteri Mayani dan nenek gila yang lihai itu. Si Tangan Halilintar itu dapat melarikan diri dan kita kehilangan jejaknya. Kang-lam Jit-hiap berpisah dari kami untuk melacak jejaknya dari lain jurusan “, kata Bhe Kam dengan nada suara kecewa bahwa penjahat pemerkosa puterinya itu dapat lolos. "Dimana engkau bertemu dengan dia, Song Cun? Cepat ceritakan!”.
"Teecu kira nona Woang Ai Yin yang lebih jelas ceritanya karena ia bertemu langsung dengan Si Tangan Halilintar”.
Semua orang memandang Ai Yin dan gadis ini bercerita dengan nada suara penasaran dan marah. "Aku dan Song-ko tinggal di sebuah rumah penginapan di kota Kwi-cu. Ketika itu Song-ko sedang pergi dan aku seorang diri dalam kamarku. Aku tertidur, mungkin terbius dan ketika aku sadar, aku berada dalam keadaan terikat dan aku melihat orang berelngan buntung dikamar itu. Aku dapat melepaskan diri dan bayangan itu lenyap. Kemudian orang itu muncul lagi dan ternyata dia adalah Siauw Beng! Aku sudah hampir membunuhnya dengan pedangku akan tetapi tiba-tiba muncul puteri Mancu itu membelanya. Terpaksa aku melarikan diri karena merasa tidak mampu melawan mereka berdua”.
"Jahanam busuk ! Tentu dia itu mempunyai keinginan yang keji terhadap diri adik Wong Ai Yin. Manusia itu harus di bunuh, kalau tidak tentu akan membahayakan masyarakat!” kata Song Cun.
Pada saat itu muncul tujuh orang-orang gagah berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, semua mempunyai sebatang pedang ronce kuning di punggung mereka.
"Ah, kiranya Kang-lam Jit-hiap yang datang!” kata Lee Bun. "Bagaimana hasil melacak jejak jahanam itu?”.
"Kami tidak berhasil menemukannya ", kata orang pertama yang wajahnya pucat dan jenggotnya panjang.
"Kebetulan sekali kalian datang. Kami sudah menemukan jejaknya. Dia berada di Kwi-cu. Mari kita cepat melakukan pengejaran!” kata Bhe Kam yang ingin segera dapat membunuh Si Tangan Halilintar Lauw Beng yang telah berani menodai puterinya.
Mendengar ini, Kang-lam Jit-hiap girang sekali dan mereka semua, tiga belas orang, segera melanjutkan perjalanan mengikuti Song Cun yang menjadi petunjuk jalan, mencari Si Tangan Halilintar Lauw Beng.
**** Nenek Bu, Puteri Mayani, dan Lauw Beng duduk di bawah sebatang pohon besar di tepi jalan yang sunyi itu. Siang hari itu panasnya menyengat dan mereka telah melakukan perjalanan sejak pagi. Ketika melihat pohon besar yang rindang itu, Nenek Bu mengajak dua orang muda itu berteduh dan mengaso. Nyaman sekali diwaktu siang hari panas berteduh di bawah pohon itu. Angin semilir seperti mengipasi tubuh mereka, terasa sejuk dan nyaman. Puteri Mayani lalu mengambil makanan dan minuman dari buntalan pakaiannya. Makanan itu dibelinya pagi tadi di sebuah dusun. Ia membuka buntalan dan belasan butir bak-pauw besar tampak, dengan seguci air jernih, mengundang selera makan mereka.
Nenek Bu yang kini merasa berbahagia sekali karena selain keadaannya sudah pulih, juga ia sudah bertemu dengan cucunya, makan dengan lahap dan mereka bercakap-cakap dengan gembira.
"hemm, kalau kita sudah makan minum seperti ini, jelas terbukti bahwa bukan makanan mahal dan tempat yang megah yang membuat kita dapat makan enak “, kata Puteri Mayani.
Nenek Bu tertawa. "He-he, tentu saja bukan, Mayani. Yang membikin kita dapat makan enak adalah perut lapar!”.
"Ku kira apa yang dikemukakan Mayani dan Nenek tadi hanya merupakan sebagian saja yang menjadi penyebab makanan dapat terasa enak. Bukan hanya makanan mahal, tempat megah, atau hanya perut lapar saja yang membuat kita dapat makan enak, akan tetapi banyak penyebabnya. Yaitu, perut lapar, badan sehat, pikiran tentram, hati senang. Akan lebih menyenangkan lagi kalau empat keadaan itu di tambah dengan makanan lezat mahal, ruangan yang indah mewah. Yang empat itu merupakan hal pokok, satu saja kurang, tak mungkin bisa makan enak. Contohnya, biar perut lapar, badan sehat, pikiran tentram, kalau hati tidak senang, pasti makan tidak terasa enak.
Demikian pula kalau perut lapar, badan sehat, hati senang tapi pikiran tidak tentram, atau kalau perut tidak lapar atau kalau badan tidak sehat. Betul tidak?”