Si Tangan Halilintar Chapter 87

NIC

Ia sama sekali tidak terbangun ketika ada bayangan membuka daun jendela dan bayangan itu melompat masuk seperti seekor kucing, tidak menimbulkan suara apapun. Di lain saat kedua kaki dan tangan Ai Yin sudah terikat kuat-kuat. Di ikat seperti itupun Ai Yin tidak terbangun. Ini menunjukkan bahwa gagis itu telah terpengaruh obat bius yang tadi tercampur dalam minuman air teh. Api lilin kecil di kamar itu belum padam sehingga mendatangkan cuaca remang-remang. Bayangan itu lalu mengeluarkan botol kecil, membuka tutupnya dan mendekatkan botol ke hidung Ai Yin. Tak lama kemudian Ai Yin terbangun dan membuka matanya. Ia terkejut sekali ketika tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan di lihatnya orang yang tadi dekat dengannya itu melompat ke jendela berdiri sejenak di lubang jendela. Ai Yin terbelalak. Bayangan itu adalah Siauw Beng! Tidak salah lagi. Lengan kiri bayangan itu buntung dan bentuk tubuhnya juga tegap. Sayang ia tidak dapat melihat wajahnya karena cuaca hanya remang-remang dan jendela itu agak jauh dari pembaringannya.

"Siauw Beng ……… !!” Ia berseru memanggil dan bayangan itu melompat ke atas wuwungan rumah. Ai Yin meronta dan berusaha melepaskan diri dari ikatan kaki tangannya akan tetapi ikatan itu kuat sekali. Sementara itu, ketika bayangan itu dengan ringan dan gesitnya melompat ke atas atap, dia terkejut karena di situ berdiri tiga orang. Kegelapan malam membuat dia tidak dapat melihat siapa mereka. Akan tetapi bayangan itu menyangka buruk, maka cepat dia menerjang dan memukul orang terdekat dengan pukulan yang amat dahsyat. Angin berdesir ketika tangannya memukul ke arah dada orang itu. Akan tetapi yang di pukulnya dengan gerakan aneh menangkis pukulan tangan kanan si lengan buntung ini dan berbareng tangan kanannya menyambar.

"Wukkk.. plakkkk!” Tangan orang yang di serang itu sudah menampar dada si bayangan berlengan kiri buntung.

"Auhh …..!” Bayangan itu berseru, kaget dan heran akan tetapi dia ternyata cerdik. Maklum bahwa lawannya amat tangguh, dia sudah menggulingkan tubuhnya seperti orang jatuh oleh tamparan tadi, menggelinding ke bawah atap!

Tiga orang itu bukan lain adalah Nenek Bu, Mayani dan Siauw Beng. Seperti kita ketahui, tiga orang ini melakukan penyelidikan dan ketika tiba di kota Kwi-cu, mereka segera pergi ke rumah Tung Ci. Dari seorang penduduk dusun di luar kota Kwi-cu mereka mendengar akan adanya seorang perampok berlengan satu bernama Tung Ci yang tinggal di luar kota Kwi-cu. maka mereka bertiga segera mengunjungi rumah itu dan mendapatkan Tung Ci rebah dalam keadaan sakit dan lemah.

Tung Ci menceritakan bahwa siang tadi dia juga kedatangan seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang bertanya tentang Si Tangan Halilintar. Mendengar ini, Nenek Bu bertanya di mana adanya dua orang itu. Tung Ci mengatakan bahwa mungkin mereka berada di kota Kwi-cu. Demikianlah, karena tidak mau memperlihatkan diri di waktu siang, tiga orang itu memasuki Kwi-cu dimalam hari dan langsung saja berlompatan ke atas atap rumah-rumah kota itu untuk melakukan penyelidikan.

Ketika mereka tiba di atas atap rumah penginapan, kebetulan sekali mereka melihat bayangan hitam yang berlengan satu melompat naik dan tiba-tiba menyerang Nenek Bu. Mungkin si bayangan hitam berlengan satu itu tidak menduga bahwa yang di serang adalah seorang yang tinggi ilmunya, maka dia menjadi lengah dan dengan mudah menerima tamparan pada dadanya oleh Nenek Bu.

"Kalian kejar dia, aku akan memeriksa ke bawah!” kata Siauw Beng dan dia sudah melompat ke bawah. Ketika tadi mendengar keterangan Tung Ci yang menggambarkan keadaan gadis dan pemuda itu, dia sudah menduga bahwa gadis itu tentu Ai Yin. Akan tetapi dia tidak dapat menduga siapa pemuda itu yang agaknya membantu Ai Yin melakukan penyelidikan untuk menangkap Si Tangan Halilintar palsu.

Ketika melewati kamar Ai Yin, Siauw Beng mendengar gerakan-gerakan dalam kamar itu. Dia melihat jendela terbuka, maka cepat dia melompat ke dalam kamar. Pada saat itu, Ai Yin sudah berhasil melepaskan ikatan kaki tangannya.

"Ai Yin …..!” Siauw Beng segera mengenal Ai Yin. "Jahanam, engkau jahat …..!” Ai Yin sudah mencabut pedangnya dan menyerang Siauw Beng. Pemuda itu cepat mengelak dan melompat keluar.

"Ai Yin, bukan aku …..”

"Keparat busuk, masih menyangkal lagi?” Ai Yin menyerang lagi dengan lebih sengit saking marahnya. Namun Siauw Beng hanya mengelak dan ketika pedang Ai Yin kembali menyambar, ada pedang bengkok menangkis.

"Traanggg …..!” Ai Yin terkejut bukan main karena lengan kanannya terasa bergetar hebat ketika pedangnya tertangkis. Ia melihat seorang wanita cantik sekali dan dari pakaiannya tahulah ia bahwa gadis itu adalah seorang gadis bangsawan Mancu. Ia marah dan jengkel sekali, akan tetapi maklum bahwa ia tidak akan menang melawan mereka. Baru melawan Siauw Beng saja, kalau pemuda itu membalas, ia tidak akan menang. Apalagi di situ ada gadis Mancu ini yang membela Siauw Beng. Gadis Mancu …….?

Ah, ia teringat sekarang. Tentu ini Puteri Mayani yang di bela Siauw Beng sampai lengannya buntung ! Hatinya semakin panas dan ia melompat pergi sambil terisak!. Keributan itu memancing datangnya banyak orang. Mendengar ini, Nenek Bu yang sudah muncul pula berkata,” Lebih baik kita pergi sebelum orang-orang itu datang ke sini”.

Siauw Beng dan Mayani setuju dan mereka bertiga lalu berkelebat dengan cepat meninggalkan rumah penginapan itu dan sudah pergi jauh ketika orang-orang berdatangan ke tempat itu. Mereka ramai membicarakan keributan yang terjadi di rumah penginapan itu dan menduga-duga apa yang telah terjadi. Pengurus rumah penginapan hanya dapat menceritakan bahwa dua orang tamunya seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik, telah pergi meninggalkan kamar mereka sebelum membayar uang sewanya!.

Setelah tiba di luar kota Kwi-cu, mereka bertiga berhenti berlari dan Siauw Beng lalu bertanya tentang bayangan lengan satu yang dikejar Nenek Bu dan Mayani.

"Kami kehilangan dia, karena malam gelap sekali dan dia menghilang tanpa meinggalkan jejak”, kata Mayani. Nenek Bu menggeleng kepala.” Aku tidak membunuhnya dan membatasi tenagaku, akan tetapi aku yakin bahwa kulit dadanya hangus dan ada bekas telapak tanganku di dadanya yang tidak mudah dia hilangkan”.

"Siauw Beng, siapakah gadis tadi? Tampaknya ia marah sekali padamu dan berusaha membunuhmu. Akan tetapi mengapa engkau tidak melawan sama sekali?” Mayani bertanya heran.

Siauw Beng menghela napas panjang.” Ia adalah Wong Ai Yin, puteri Bu-tek Sin-kiam yang dilarikan orang Mongol ketika ia dan aku di keroyok banyak orang itu. Kami melakukan perjalanan berdua mencari jejak Si Tangan Halilintar palsu. Ketika aku bertemu dengannya tadi, ia langsung memaki dan menyerangku. Jelas bahwa ia mengira bahwa aku benar-benar penjahat itu”.

"Hemmm, aku ingat, Bu-tek Sin-kiam adalah seorang pendekar pejuang yang gigih. Kalau sikapnya berubah seperti itu, hal ini jelas bahwa tadi ia sudah atau hampir menjadi korban penjahat itu, maka begitu melihatmu langsung menyerang”, kata Nenek Bu.

"Agaknya memang begitu. Kami bersabahat baik dan kalau ia bersikap memusuhi seperti tadi, berarti ia yakin bahwa sayalah penjahat itu, Nek. Keyakinan ini tentu timbul karena ia melihat penjahat itu. Akan tetapi melihat keadaannya, ia belum menjadi korban. Nek, kita harus dapat menangkap penjahat itu agar dia tidak menimbulkan korban lagi!” Kalimat terakhir ini di ucapkan dengan nada penasaran dan marah oleh Siauw Beng.

"Benar, ku rasa dia belum berlari jauh. Mari kita mengejarnya”, kata Mayani dan tiga orang itu lalu melanjutkan pencarian mereka. Nenek Bu merasa menyesal mengapa ia tadi tidak memukul lebih keras untuk merobohkan penjahat itu. Hal ini adalah karena ia tidak ingin membunuhnya, hanya ingin membunuhnya, hanya ingin menangkap dan ia sama sekali tidak menduga bahwa penjahat itu ternyata memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat sehingga tamparannya itu sama sekali tidak mampu merobohkannya.

Sementara itu, Ai Yin melarikan diri sambil menangis. Ia keluar dari kota Kwi-cu. Ia merasa penasaran, marah dan juga sedih bercampur panas hati. Siauw Beng yang ia kagumi, yang ia percaya sepenuhnya, ternyata adalah pelaku semua kejahatan yang keji itu ! Siauw Beng bahkan nyaris memperkosanya! Yang lebih memanaskan hatinya, gadis cantik puteri Mancu itu telah membela Siauw Beng! Tentu mereka saling mencinta, kalau tidak begitu, tidak mungkin Siauw Beng membelanya dengan mengorbankan lengan kirinya buntung! Panas, sedih, penasaran, cemburu, semua teraduk dalam hati Ai Yin yang berlari sambil menangis. Menjelang pagi, ia sudah berada jauh diluar kota Kwi-cu.

"Yin-moi …..!”

Ai Yin terkejut dan menoleh ke kanan. Ia melihat Cun Song berlari menghampirinya. Ai Yin yang sudah kelelahan itu terkulai dalam rangkulan Cun Song, tubuhnya terasa lemas dan tangisnya mengguguk.

"Yin-moi, tenanglah. Mengapa engkau menangis? Apa yang telah terjadi?” pemuda itu menghibur dan mengelus pundak Ai Yin. Ai Yin melanjutkan tangisnya dan setelah tangis mereda, ia baru menyadari bahwa ia dipeluk Cun Song, maka dengan halus ia melepaskan diri dari rangkulan itu. "Song-ko, engkau benar …..” katanya setelah dapat menenangkan dirinya sambil duduk di atas batu melepaskan lelah. Cun Song duduk di depannya.” Siauw Beng sendiri penjahat buntung Si Tangan Halilintar itu!”.

"Hemmm, apa yang telah terjadi? Apa yang dilakukan jahanam busuk itu kepadamu, Yin- moi? Akan ku hancurkan kepalanya, kalau ia berani menjamahmu!” Cun Song bangkit berdiri dan mengepal tinju, mukanya berubah merah saking marahnya.

"Aku beruntung dapat melepaskan diri, Song-ko. Kaki tanganku sudah dia ikat, akan tetapi aku dapat melepaskan diri dan ketika dia muncul, aku menyerangnya. Akan tetapi muncul seorang gadis Mancu membelanya. Aku merasa tidak akan mampu mengalahkan mereka berdua, maka aku lalu melarikan diri. Jahanam keparat itu jelas Siauw Beng sendiri! Aku tertipu!”.

"Sudah ku duga sejak dahulu, Yin-moi. Dan gadis Mancu itu tentulah Puteri Mayani. Pasangan busuk itu memang jahat sekali!”.

"Mari kita cari mereka, Song-ko. Kita bunuh mereka berdua!”.

"Tenanglah, Yin-moi. Aku tahu bahwa mereka lihai bukan main. Kalau kita berdua melawan mereka dan kita kalah, bukan saja usaha kita gagal, bahkan nyawa kita pun terancam. Mari kita mencari bantuan dan kalau sudah kuat, baru kita mencari dan membunuh sepasang manusia busuk itu!”.

Mereka lalu pergi dari situ. Di sepanjang perjalanan Ai Yin masih nampak penasaran, marah dan kecewa kalau ia mengingat apa yang telah dilakukan Siauw Beng yang diam- diam telah membuat ia kagum dan jatuh hati itu. Dengan pandainya Cun Song menghiburnya dengan kata-kata lembut dan memberi harapan bahwa mereka pasti akan dapat membalas dan membunuh si jahat tangan buntung Siauw Beng itu. Ai Yin diam saja, akan tetapi dalam hatinya terjadi pertentangan. Ia sama sekali tidak menghendaki Siauw Beng di bunuh, bahkan mungkin ia akan membelanya kalau pemuda itu akan di bunuh orang.

Akan tetapi yang menyakitkan hatinya melihat Siauw Beng ternyata jahat dan terutama sekali ketika melihat betapa Mayani yang cantik jelita itu saling bela dengan Siauw Beng! Panas dan penuh cemburu rasa hatinya.

Dalam perjalanan itu, yang menjadi petunjuk jalan adalah Cun Song karena dia yang akan berusaha mencari bala bantuan untuk menghadapi penjahat Si Tangan Halilintar Siauw Beng dan Puteri Mayani. Cu Song atau nama aslinya Song Cun telah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa rombongan Siauw-lim-pai dan rombongan Lam-liong (Naga Selatan) Ma Giok sedang mencari Si Tangan Halilintar Siauw Beng, maka dia mengajak Ai Yin untuk menghadang mereka. Ai Yin yang kini sudah menaruh kepercayaan besar sekali kepada Cun Song, tidak membantah dan menurut saja kemana pemuda itu mengajaknya pergi.

****

Pada keesokan harinya, bertemulah Cun Song dengan rombongan Ciong-yang Ngo- taihiap yang terdiri dari Ciang Hu Seng, Bhe Kam, Lee Bun dan Song Cin. Ketika melihat empat orang ini, Song Cun mengajak Ai Yin cepat menyambut mereka dan mereka saling bertemu di jalan umum itu.

Posting Komentar