Si Tangan Halilintar Chapter 85

NIC

"Kemudian setelah aku digembleng selama satu tahun, aku meninggalkannya didalam pondok yang berada di atas pohon raksasa dalam hutan, dengan alasan akan mencari cucunya bernama Siauw Beng yang tentu saja di anggap sebagai anakku karena baginya aku adalah Bu Kui Siang. Aku pulang dan memberitahu orang tuaku tentang nenek itu. Orang tauku setuju kalau Nenek Bu di ajak tinggal di rumah kami, maka aku lalu kembali ke hutan menjemputnya. Kami sedang melakukan perjalanan menuju kota raja ketika kami mendengar tentang Si Tangan Halilintar yang melakukan kejahatan. Aku tidak percaya, lalu mengajak Nenek Bu untuk melakukan penyelidikan dan tadi kebetulan melihat engkau dikeroyok itu”.

Siauw Beng mengangguk-angguk. Neneknya itu telah menderita sakit ingatan dan mungkin benar dugaan Mayani bahwa ia melakukan kekeliruan ketika berlatih menghimpun tenaga sinkang yang berhawa panas itu.

Siauw Beng lalu duduk bersila dekat tubuh nenek Bu yang panas sekali. Napas nenek itu agak terengah seperti orang kepanasan. Siauw Beng menempelkan tangan yang tinggal sebelah itu di tengah dada bagian atas dekat leher, lalu mengerahkan sinkang. Hawa lembut dingin menyusup ke tubuh nenek itu, perlahan tapi pasti mengusir hawa yang amat panas. Pernapasan nenek itu mulai normal kembali dan panasnya menurun. Siauw Beng lalu menotok kedua pundak Nenek Bu dan mengurutkan tengkuknya.

Tiba-tiba Nenek Bu mengeluarkan teriakan dan kedua tangannya mendorong. Siauw Beng menangkis dengan tangan kanannya dan tubuhnya terpental sampai beberapa meter jauhnya! Mayani terkejut sekali melihat nenek itu dengan gerakan cepat melompat berdiri.

Siauw Beng dan Mayani melihat betapa nenek itu berdiri, memandang kepada Siauw Beng dengan alis berkerut dan pandang mata heran.

"Orang muda, siapakah engkau dan apa yang kau lakukan terhadap diriku?” pertanyaannya itu mengandung teguran dan keheranan, akan tetapi dalam kalimat yang halus teratur. Mayani dan Siauw Beng girang bukan main karena tanda-tanda ini menunjukkan bahwa Nenek Bu kini telah sembuh dari sakit ingatannya yang membuat ia lupa segalanya. Siauw Beng segera maju menghampiri dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan nenek itu.” Nenek, apakah nenek lupa kepada saya? Saya adalah Lauw Beng, cucu nenek!”.

Nenek itu membelalakkan mata, lalu mengangguk-angguk dan menyentuh dahinya.” Ya … ya … aku teringat sekarang …. Ah, seperti mimpi rasanya. Engkau Lauw Beng cucuku!”

Nenek itu maju dan memegang kedua pundak pemuda itu. Ketika ia menariknya, Siauw Beng merasa betapa neneknya itu memiliki sinkang besar sekali. Nenek Bu merangkul Siauw Beng dan menangis!.

"Cucuku …., cucuku Lauw Beng … ah, dimana ibumu, Kui Siang anakku. Rasanya aku sudah bertemu dengan anakku Kui Siang …..!”.

"Aku berada di sini, ibu!”.

Nenek itu melepas rangkulannya dari pundak Siauw Beng lalu memutar tubuhnya, memandang kepada Mayani dengan alis berkerut. Ia tampak keheranan.

"Engkau? Engkau bukan Bu Kui Siang, anakku, walaupun aku …. Rasanya wajahmu tidak asing bagiku …..!” kembali nenek itu meraba dahinya.

Siauw Beng menggunakan tangan kanannya merangkul nenek itu dan berkata dengan lembut.” Nek, marilah kita duduk dan akan kami ceritakan semua yang telah terjadi”.

"Benar, Nek, Aku adalah Mayani yang selama ini engkau anggap sebagai Bu Kui Siang dan selama setahun engkau mengajariku ilmu silat”.

"Ya …. Ya …. Aku ingat, aku bertemu Kui Siang dan melatihnya silat dalam hutan. Ah, mengapa aku berada dalam hutan? Lauw Beng, cucuku, apakah yang telah terjadi dengan diriku?”.

"Nenek yang baik dan tersayang, Mayani ini menemukan engkau dalam keadaan seperti orang kehilangan ingatan. Apakah nenek tidak dapat teringat akan apa yang nenek alami dulu, setelah nenek menghilang dari kota Keng-koan?”.

Mereka duduk di bawah pohon dan Nenek Bu meraba dahinya, mengingat-ingat.

"Ah, aku ingat …. Ketika itu aku melarikan diri setelah melihat ayahmu, mantuku Lauw Heng San mengamuk dan melawan Thio Ciangkun (Panglima Thio) dan para jagoannya, melihat ayahmu itu tewas ketika berkelahi melawan Thio ciangkun. Aku melarikan diri keluar kota menunggang kuda dan dalam sebuah hutan, aku di serang lima orang perampok. Ya, aku ingat jelas sekarang. Ketika diserang lima perampok itu, aku di tolong oleh seorang nenek gila. Ia adalah Pek Sim Kui-bo dan aku menjadi muridnya. mempelajari ilmu-ilmu aneh selama belasan tahun. Subo ( ibu guru) itu meninggal dunia dalam usia yang sudah tua sekali. Setelah itu ….. nah, setelah itu …. Wah, aku lupa sama sekali ….”.

Siauw Beng mengangguk-angguk.” Agaknya mulai saat itulah Nenek kehilangan ingatan”.

"Benar, Nek. Engkau muncul menolongku ketika aku akan di bunuh orang-orang yang menamakan dirinya para pendekar namun picik itu. Engkau menganggap bahwa aku adalah Bu Kui Siang anakmu. Karena kasian aku membenarkannya saja dan aku menjadi muridmu selama setahun dalam hutan di Kui-san itu. Aku lalu bicara tentang cucumu yang bernama Lauw Beng, dan mengajakmu untuk pergi ke rumah orang tuaku di kota raja. Dan kebetulan sekali kita melihat Siauw Beng dikeroyok banyak orang tadi. Ketika engkau bertemu dengan Siauw Beng cucumu, engkau begitu girang dan tiba-tiba roboh pingsan. Begitulah ceritanya, Nek”.

Nenek itu mengangguk-angguk, wajahnya berseri.” Ah, aku senang sekali ! Bukan saja bertemu dengan engkau cucuku, akan tetapi aku juga sudah ingat semua. Akan tetapi engkau, Nona yang selama ini ku anggap puteriku, siapakah engkau dan dimana sekarang puteriku Bu Kui Siang?”.

"Aku bernama Mayani, Nek. Ayahku adalah Pangeran Ceng San di Kota raja. Menurut keterangan ayahku, dia juga mengenal baik Pangeran Abagan atau Thio Ciangkun yang tinggal di Keng-koan”.

"Pangeran Ceng San? Ah, apakah dia Pangeran Gunam?”. "Benar, Nek”.

"Aku ingat sekarang. Pangeran Gunam dan isterinya adalah orang-orang yang baik dan ramah, dahulu keluarga kami menjadi sahabat baik. Akan tetapi, Lauw Beng dimana adanya Bu Kui Siang ibumu?”.

Siauw Beng menghela napas panjang.” Harap tenangkan hatimu, Nek. Sesungguhnya, Ibu Bu Kui Siang telah …… meninggal dunia ketika melahirkan saya”.

"Ah, Kui Siang …..!” Nenek Bu tiba-tiba menangis. ”Alangkah buruk nasibmu ….”.

Siauw Beng dan Mayani memandang dengan haru dan membiarkan nenek itu menumpahkan kesedihannya dalam tangis. Akan tetapi tidak lama nenek itu menangis. "baiklah, sekarang aku sudah tahu benar siapa kalian. Nah, sekarang ceritakan, Lauw Beng, mengapa lengan kirimu buntung? Dan mengapa pula tadi engkau dikeroyok banyak orang?”.

Dengan sabar, jelas namun singkat Siauw Beng menceritakan semua pengalamannya sampai lengan kirinya dibabat buntung oleh Song Cun. Dalam kesempatan ini. Mayani juga terus terang menceritakan betapa ia nyaris di bunuh orang-orang dari Ciong-yang Ngo-taihiap karena di tuduh menyebabkan kematian dua orang dari mereka. Juga ia menceritakan betapa ia diperkosa oleh Song Cun dan ia pasti sudah tewas kalau tidak di tolong Siauw Beng. "Aih, mengapa orang-orang yang menamakan dirinya para pendekar itu demikian jahat dan kejam? Hanya Ma Giok itu saja yang baik. Dahulu, sebelum menjadi selir Pangeran Abagan, aku adalah isteri pendekar pejuang Bu Kiat yang mengenal baik Ma Giok. Ma Giok telah melindungi Bu Kui Siang sampai meninggalnya anakku itu, kemudian dia merawat dan mendidikmu, Lauw Beng. Bagaimana dia dapat terpengaruh fitnah dan masih tidak percaya kepadamu? Dan sekarang, bagaimana sampai engkau dikeroyok banyak orang?”.

"Mungkin engkau tidak ingat lagi, Nek. Sebelum engkau sadar dan pulih kembali ingatanmu, kita berdua sudah mendengar bahwa ada fitnah baru terhadap diri Siauw Beng. Ada penjahat berlengan kiri buntung melakukan perkosaan dan pembunuhan keji dan ia mengaku berjuluk Si Tangan Halilintar, yaitu julukan Siauw Beng. Maka mereka semua menduga bahwa Siauw Beng penjahat itu”.

"Wah-wah, mengapa engkau menjadi bulan-bulanan fitnah orang, Lauw Beng. Apakah engkau benar-benar melakukan semua kejahatan itu?” Tanya Nenek Bu sambil memandang tajam wajah cucunya.

"Sama sekali tidak, Nek ! Aku yang menjadi saksi dan menanggung bahwa cucumu ini adalah seorang pendekar sejati!” seru Mayani dengan suara penuh semangat.

"Kalau benar begitu, sudah pasti ada orang yang amat benci padamu, yang sengaja melakukan perbuatan itu dengan memakai nama julukanmu. Coba ingat-ingat, siapakah yang begitu membencimu?” Tanya Nenek Bu.

Siauw Beng menggeleng kepalanya.” Saya tidak tahu, Nek. Saya sendiri tidak pernah membenci siapapun”. "banyak sekali, Nek!” tiba-tiba Mayani berkata.” Memang Siauw Beng ini terlalu baik hati sehingga dia tidak pernah membenci orang. Akan tetapi banyak orang membencinya, menduganya pengkhianat dan mengatakan bahwa mendiang ayahnya juga pengkhianat. Mungkin orang-orang yang iri hati terhadap dirinya. Juga karena dia akrab dengan aku, maka banyak orang menuduhnya menjadi antek Pemerintah Ceng!”.

"Hemmm, coba katakan, siapa di antara mereka itu yang paling membenci Lauw Beng?”.

Posting Komentar