Ong Su dan istennya menerima datangan Ong Hui Lan dengan gi namun juga terharu. Mereka tei karena sudah mendengar akan kegagaU perjuangan Pangeran Chou Ban untuk merebut kekuasaan dan membai
mbah Kerajaan Chou, akan tetapi me-«ka merasa girang melihat puteri merc-U dalam keadaan selamat.
Bekas Kepala Kebudayaan Kerajaan hou itu juga merasa heran melihat ,r i terinya datang bersama seorang pe " uda yang diperkenalkannya sebagai Liu » in, murid S auwlimpai. Karena Hui Lan gin bicara urusan yang penting dan iwat dengan orang tuanya, maka dengan lembut' gadis itu minta kepada* Liu Cin Agar ia mendapatkan kesempatan bicara «endlrl dengan orang tuanya.
"Cin-ko, silakan engkau beristirahat lan menanti di ruangan tamu. Aku ingin 1 icara dengan ayah ibuku."
Lui Cin tersenyum dan berkata. "Jangan repot-repot mengurus diriku, Lan-' noi. Biarlah aku bermalam di rumah penginapan saja dan besok pagi aku akan datang ke sini dan berpamit. Paman dan ibi, maafkan saya, saya mohon diri."
Ong Su dan stennya mengangguk dan tereka merasa suka melihat pemuda yang gagah dan bersikap sopan itu. Setelah Liu Cin keluar dari rumah itu,
barulah Hui Lan merasa bebas nl bicara dengan orang tuanya.
"Ayah. dan Ibu, keadaan di kota sungguh terbalik dari apa yang bayangkan semula." "Apa maksudmu?' tanya Ong Su.
"Pangeran Chou Ban Heng yang ti diangkat menjadi Jenderal Penasel Perang Kerajaan itu hendak melakui pemberontakan secara keji sekali, menyuruh para pembantunya yang ter< dari orang-orang kangouw golongan untuk membunuh pejabat-pejabat merintah yang adil dan bijaksana, j pendukung Jenderal Chou Ban
-Heng| diri dari para penjahat besar.. Sei saya memang ingin menyesuaikan j membantu gerakan/ Jenderal Chou' Heng, akan tetapi, malapetaka menii diriku sehingga saya terpaksa pergi ninggalkan keluarga Chou, Ayah."
Ong Su dan isterinya bertukar dang dengan heran. "Malapetaka? maksudmu, Lan-ji (anak Lan)?1' t; ibunya khawatir.
Mendengar pertanyaan ibunya,
I m menubruk, merangkul ibunya dan t enangrs tersedu-sedu. Tentu saja ayah itan ibunya terkejut sekali melihat
«ah puten mereka itu. Sebagal orang ua yang berpengalaman, mereka men- amkannya dulu agar Hui Lan melam-. laskan rasa dukanya sampai reda melalui tangisnya. Setelah tangis gadis itu me-teda, ibunya berkata lembut.
"Hui Lan, engkau adalah seorang ga-s yang memiliki kegagahan. Hentikan mgismu dan ceritakan kepada kami apa ng telah terjadi." "Ayah, Ibu pada suat u
malam..... u Kian Ki mem..... perkosa saya " Ong Su membelalakkan matanya dan
Nyonya Ong merangkul pu terinya.
"Tapi, engkau telah mempelajari ilmu liat dari Tiong Ci Cinjin sampai ber-ahun- tahun!" Ong Su membentak. "Engkau bukan seorang gadis yang lemah dan mudah diperkosa begitu saja1 Apakah engkau tidak bisa melawan jahanam itu?1 Ong Su marah sekail.
"Ayah, jahanam itu menggunakan obat bius. Saya terbius sehingga tidak sadar," kata Hui Lan sambil menahan tangisn "Setelah saya sadar, saya segera meny rang dan hendak membunuhnya. Ak tetapi, dia memiliki ilmu kepandai silat yang lebih tinggi daripada ak Ayah. Saya tidak berdaya "
"Keparat busuk Chou Kian Ki itu Akan tetapi, bukankah engkau telah me jadi tunangannya, calon jodohnya? K napa dia melakukan perbuatan terku itu?" "Karena saya menentang perbuat a kejam yang dilakukan mereka, ma* mereka sengaja mengatur hal itu. Ten dengan harapan agar aku, setelah perkosa, terpaksa mau membantu merek Akan tetapi aku tidak sudi, Ayah. Se telah malapetaka itu terjadi, saya makin membenci mereka. Saya lalu larikan diri meninggalkan rumah
Keluar ga Chou. Tahukah Ayah dan Ibu i~ yang dilakukan si jahanam Chou Kian K itu? Dia mengejar saya bersama seorang wan i t a iblis cabu 1 bernama Ang-h w J Niocu Lai Cu Yin. Dia hendak memaksa saya kembali ke rumahnya. Sebelum mal
reka muncul, saya saya tadinya hen- dak membunuh diri di hutan itu. Akan tetapi lalu datang pemuda yang tadi bersama saya, Ayah, yaitu Liu Cin me- nyelamatkan saya dan menasehati saya agar jangan membunuh diri. Dia menya- darkan saya bahwa kalau saya sakit hati dan ingin membalas dendam, saya harus memperdalam ilmu silat. Saya menurut dan ingin mencari guru lagi, lalu mun- cullah jahanam Chou Kian Ki dan wanita cabul itu. Saya melawan, dibantu Liu Cin. Kami kalah dan saya nyaris ter- tawan. Akan tetapi muncul seorang pen- dekar sakti, yaitu Si Han Lin dan dialah vang menyelamatkan kami, mengusir Chou Kian Ki dan Lai Cu Yin."
Ong Su dan isterinya semakin marah kepada Chou Kian Ki dan mereka minta kepada Hui Lan untuk melanjutkan ceritanya. Hui Lan menceritakan semua oe-i galamannya betapa bersama Liu Cin ia mempelajari ilmu berpasangan, yaitu Thian-te Im-yang Sin-kun sehingga tingkat Kepandaian mereka memperoleh kemajuan pesat.
Kemudian ia dan Liu Cin membantu Kerajaan Sung menentang m berontakan Chou Ban Heng yang diduk tokoh-tokoh sesat dunia kangouw sehi pemberontakan itu dapat dihancur bahkan Chou Ban Heng tewas di pertempuran.
"Demikianlah, Ayah dan Ibu. harap Ayah dapat mengerti meng saya membantu pemerintah Kera Sung dan menentang Chou Ban dan jahanam Chou Kian Ki itu." Ayahnya mengangguk-angguk. "He, kalau mereka sejahat itu, memang t patut untuk dibantu. Agaknya men sudah nasib Kerajaan Chou habis ri yatnya sampai di sini. Jadi, pemuda Cin itu menjadi sahabat baikmu ya telah menolong dan membelamu. Hemir katakan, apakah engkau suka padanya?'
Ditanya demikian, wajah Hui menjadi kemerahan. Sambil menundukk mukanya ia menjawab. "Saya mengagu dan suka padanya. Ayah. Dia seor* yang jujur, baik budi dan murid Siau iimpaj yang gagah perkasa."
"Dan dia mencintamu?" Ong Su n jar.
Hui Lan semakin menunduk, la hanya pat menjawab dengan anggukan kepala -a. Biarpun Liu Cin) tidak mengatakannya secara terang-terangan, akan tetapi gala gerak-gerik, ucapan, dan pandang ata pemuda itu jelas menunjukkan bahwa pemuda Itu mencintanya.
"Hui Lan, apakah dia mengetahui bahwa engkau telah telah diperkosa
rang?" tanya ibunya dengan khawatir.
Hui Lan menggelengkan kepalanya. Saya belum menceritakan hal itu, Ibu. Hanya kepada Ayah dan Ibu saja saya
m beri tahu akan hal itu."
"Engkau tidak boleh menceritakannya, Hui Lan!" kata ibunya.
"Ini tidak benar!" Ong Su mencela terinya. "Kalau dia benar-benar mencintamu dan ingin berjodoh denganmu, dia bahkan harus tahu benar akan keadaan dirimu.
Engkau harus Derttrus-terang menceritakan hal itu kepadanya, Hui Lan. Kecuali kalau engkau tidak ingin menjadi isterinya, jangan ceritakan!"
"Akan tetapi, kalau dia tahu anak kita bukan perawan lagi, tentu dia t mau menikah dengan Hui Lan!" bal Nyonya Ong. "He mm, itu tandanya bahwa tidak sungguh mencinta Hui Lan. deknya* kalau engkau juga mencint dan ingin menjadi istennya, engkau h menceritakan keadaanmu itu, Hui Lan
"Saya memang akan menceritakan Ayah. Akan tetapi hal itu akan s lakukan setelah saya dapat memb jahanam Chou Kian Ki! Saya baru 3 menikah setelah dapat membunuhnya!"
"Tidak, Hui Lan, jalan pikiranmu! tidak betul! Mengapa engkau membias dirimu diracuni dendam? Kalau ena mengejar Chou Kian Ki dan dapat nemukannya, belum tentu engkau da^ membunuhnya, karena dia mungkin -sudah mempunyai kawan- kawan y' lebih tangguh lagi. Engkau bahkan m bahayakan dirimu."
"Akan tetapi perbuatannya yang kutuk itu harus dihukum. Ayah!"
"Apa dia kurang mendapat hukum; Usaha pemberontakan ayahnya gagal d
' rtcur, ayahnya sendiri tewas, mungkin keluarga orang tuanya dihukum, dia sen ri menjadi pelarian dan buruan peme r intah, kawan-kawan pendukungnya bina ka. Apakah Itu bu' an merupakan hukuman yang amat berat baginya? Dia sudah lerhukum, Hui Lan. Engkau tidak perlu iagi memikirkannya. Sebaiknya mengatur dirimu sendiri. Engkau sudah cukup dewasa, dan kalau ada kecocokan dengan Liu Cin, sekaranglah saatnya engkau berterus terang kepadanya dan e'ihat bagaimana tanggapannya. Kalau keadaan « rimu itu tidak membuat cintanya ber--bah, aku dan ibumu yang akan mem-i icarakan urusan perjodohan ini karena dia sudah yatim piatu. Kalau cintanya ber->bah, berarti dia tidak berharga bagimu lan sebaiknya engkau putuskan hubunganmu dengannya!"
Setelah mempertimbangkan pendapat ayahnya dan melihat kebenarannya, Hui Lan mengambil keputusan untuk membuat pengakuan kepada Liu Cin.
Atas permintaan Hui Lan, mereka berdua pada suatu sore keluar dari kota
Nan-king dan mendaki sebuah bukit ke Dari atas bukit itu mereka dapat i lihat kota Nan-king dari atas. Sunyi situ karena hari sudah sore. Tidak s orang lain mengganggu percakapan me ka.
"Cin-ko, engkau tentu heran meng^ aku mengajak engkau berjalan-jalan pergi ke tempat ini.1'
"Engkau agaknya hendak membic kan sesuatu yang penting, yang ti boleh didengar orang lain, Lan-moi. narkah dugaanku?"
Hui Lan mengangguk. "Benar, C ko. Ingatkah engkau betapa dulu 1 menggantung dan hendak membunuh dir
"Tentu saja aku ingat. Bagaimana dapat melupakannya? Peristiwa itu rupakan hal yang paling mengerikan y pernah kulihat sepanjang hidupku!"
"Dan ingatkah engkau betapa nekat hendak memperdalam ilmuku aku dapat membunuh jahanam Chou Ki?"
Kembali Liu Cin mengangguk. "Dan tahukah engkau mengapa
emikian putus asa hendak bunuh-diri dan demikian besar dendamku kepada jahanam Chou Kian Ki?"
"Hem m m, maukah engkau menceritakan hal yang dulu kau rahasiakan itu kepadaku, Lan-moi?"
"Tadinya memang hendak kurahasia- an, aka tetapi setelah aku bicara de- ngan ayah dan ibuku, aku mengambil keputusan un tuk membuka rahasia itu kepadamu, Cin-ko. Engkau tentu tahu bahwa aku telah dltunangkan dengan Chou Kian Ki dan oleh ayah dikirim ke kota raja untuk membantu Chou Ban Heng yang menurut ayah tadinya di- anggap seorang pejuang yang hendak membangun kembali Kerajaan Chou. Akan tetapi setelah berada di sana dan melihat cara-cara yang dilakukan Chou Ban Heng yang membunuhi para pejabat yang ter- kenal baik dan bijaksana, aku menentang mereka. Kemudian, pada suat u malam, aku terbius dan dalam keadaan tidak sadar karena terbius itu aku aku te-
lah diperkosa oleh si jahanam Chou
Kian Ki! Nah, legalah hatiku kini. Engkau tahu bahwa tadinya aku hendak mc bunuh Chou Kian Ki karena aku t diperkosanya, aku.»., aku bukan pera lagi, Cin-ko."
Hui Lan menahan tangisnya, la C mau tampak lemah, tidak mau disa~ minta dikasihani oleh Liu Cin. la n nanti dengan tenang, siap mengha tanggapan bagaimanapun dari Liu Cin.
Llu Cin tersenyum! Bukan seny mengejek seperti yang dikhawatirkan Lan, melainkan senyum yang tulus.
"Terus terang saja, Lan-moi. banyak memikirkan keadaanmu. Meli engkau hendak menggantung diri, bertekad membunuh Chou Kian Ki, sudah mengambil kesimpulan bahwa kau tentu mengalami penghinaan amat hebat, yang dilakukan Chou Ki. Dan penghinaan apakah yang I hebat bagi seorang gadis daripada perkosa7 Aku sudah menduga bahwa kau, entah bagaimana terjadinya, t diperkosa oleh jahanam itu." "Engkau sudah menduganya, Cii Dan engkau engkau tidak meman
cendah, tidak memandang kotor diriku?" Kini Hui Lan hampir tak dapat menahan angisnya.
Kembali Liu Cin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Mengapa memandang rendah atau memandang kotor? an-moi, apakah kau kira aku sepicik
itu? Aku aku menghormatimu, aku
mencintamu dan keadaan dirimu itu ter-adl karena bukan kesalahanmu. Engkau enjadi korban kejahatan, bagaimana ungkin aku malah menghinamu? Sama kali tidak, Lan-moi, aku mengasihani mu." Keharuan dan kelegaan hatinya membuat Hui Lan tidak mampu lagi membendung air mata yang sudah sejak tadi emenuhi pelupuk matanya, la menangis tersedu-sedu. Liu Cin mendekati dan etika dia menaruh tangannya dengan embut di pundak gadis itu untuk meng-iburnya, Hui Lan menjatuhkan diri da-am pelukan Liu Cin, menangis di atas dada yang bidang itu. Ia merasa Jega dan bahagia, seolah ada batu besar yang eJama ini menghimpit dalam dadanya ini terangkat.
"Lan-moi, engkau tentu dapat mera kan betapa aku menghormati dan men hargaim karena aku cinta padamu, La moi." Liu Cin menahan agar suaran tidak terdengar sedih ketika dia mela utkan. "Akan tetapi, patutkah oran seperti aku mencintamu, Lan-moi?"
"Cin-ko I" Hui Lan membanta "Kenapa engkau berkata begitu? Aku yang tidak patut mendapatkan cint
'Tidak, Lan-moi. Engkau puteri orang yang terhormat, engkau mas' mempunyai ayah dan ibu. Sedangkan ak aku seorang yatim piatu yang tidak me punyai apa-apa, miskin dan papa "
"Cukup, Cm-ko. Jangan bicarakan ] itu lagi. Mari, mari kita menghadap ay dan ibu. Ayah ingin bicara dengan m Cin-ko."
"Bicara denganku? Tentang apa, L moi?" Liu .Cin bertanya, nadanya kag dan khawatir.
"Tentang kita " Hui Lan men gandeng tangan pemuda itu dan mere cepat menuruni bukit dan kembali
im kota Nan-king.
Atas persetujuan Ong Su dan isteri-a, Liu Cin dijodohkan dengan Ong Hui Lan. Karena Liu Cin merupakan seorang «muda yatim piatu, maka Ong Su lalu Menghubungi guru pemuda itu, ialah Ceng Im Hosiang yang kini berada di Siauw-n- pai (Kuil Siauwlim) dan hwesio ini di-.1 ggap sebagai wali dari Liu Cin. Tentu ia a Ceng In Hosiang merestuinya dan («rayaan pernikahan antara Liu Cin dan Hui Lan dirayakan di rumah keluarga Ong Su dengan meriah. Tentu saja para aba t diundangnya, di antaranya tidak ketinggalan hadir pula Si Han Lin, Bu Lng Hoat, dan Song Kui Lin.
Si Han Lin merasa semakin bei bahagia ketika dia berhasil membujuk Perwira Kwa Siong, ayah tiri Song Kui Lin, dan ibu gadis itu, untuk menjodohkan Kui Lin dengan Bu Eng Hoat. Seperti juga ha nya Liu Cin, Bu Eng Hoat yang ' piatu diwakili oleh gurunya, Thong Losu.
Sampai di sini pengarang mengak kisah Rajawali Sakti ini dengan har mudah- mudahan kisah ini ada man nya bagi para pembacanya. Kalau k an mengijinkan, pengarang akan meu kai kisah di mana akan muncul t tokoh dalam kisah ini, terutama sekali Han Lin, Chou Kian Ki dan yang lain. Sampai jumpa di lain cerita.
TAMAT