Si Rajawali Sakti Chapter 92

NIC

Cu Yin mengerutkan alisnya. "Loci; pwe, berkali-kali sudah saya katai bahwa saya tidak mau melayani keing an Locianpwe. Harap Locianpwe keli karena tidak baik kalau dilihat orj Locianpwe memasuki kamar saya."

"Huhl Siapa berani mencegah memasuki kamar s apapun juga? AU, kubunuh dia! Dan engkau jangan sela! menolak, manis, jangan sampai kesah anku habis!" Setelah berkata demiki; Ketua Bengkauw itu menjulurkan tanj kanannya untuk menangkap. Cu Yin pat melompat ke belakang menghini akan tetapi alangkah kagetnya kar* tangan itu tetap saja dapat mencei

Lrram pundaknya. Kiranya lengan itu tupat mulur (memanjang) seperti karet |n hendak meronta, akan tetapi jari ta p^an Coat-beng-kwi menekan dan tiba ' ba tubuhnya menjadi lemas tak ber Saya! Dengan ringan, tangan Coat-beng-kwi mengangkat tubuh Cu Yin dan di a dekat pembaringan, lalu ditelentangkan di atas pembaringan. Cu Yin menjadi marah sekali, la me-

ang sudah sering bergaul dengan pria, ikan tetapi belum pernah ia dipaksa atau iperkosa. Bahkan ia yang memaksa pria

enuruti kehendaknya. Ia marah dan hawatir, merasa dihina.

"Locianpwe, kalau Locianpwe melan-utkan, kelak saya akan melapor kepada bo Hwa Hwa Moli bahwa Locianpwe memperkosa saya!"

Tiba-tiba saja pegangan Coat-beng-kwi mengendur. Dia tampak ragu-ragu, mendengus marah, lalu memaki. "Anak setan !" Dan keluarlah Coat-beng-kwi dari

kamar itu.

Cu Yin merasa lega, akan tetapi juga sedih, la menutupkan pintu kamarnya lalu duduk di atas kursi dan menangis merasa sedih karena setelah ia tc membujuk Ketua Bengkauw untuk m rima Kian Ki sebagai murid, kini se' balasan Kian K i malah menjauhinya akrab dengan Co Kim Lian. Juga ia rasa sedih dan marah karena Ketua kauw mulai mengejar-ngejarnya. Ta masih berhasil menggertaknya untuk laporkan kepada gurunya, akan te bagaimana kalau kemudian ketua kauw itu menjadi nekat dan memak memperkosanya? la akan merasa te sekali. Dan semakin sedih hatinya rf ingat bahwa tidak mungkin ia melari diri dari situ karena jalan menuruni b penuh dengan perangkap dan jeb yang amat berbahaya dan dapat mene kannya! Teringat akan semua ini, Cu menangis.

"Tok-tok-tok!" Tiba-tiba daun kamarnya diketok lagi dari luar. debar rasa jantung Cu Yin karena] mengira bahwa tentu Coat-beng-kwi datang lagi dan mungkin sekali ini akan menghiraukan gertakannya dan

aksanya untuk menuruti keinginannya* t m-diam ia mencabut pedangnya <1un «p untuk menyerang Ketua Bengkauw u. Kini ia mulai membenci orang-orang . ng selama ini ia kagumi dan suka. la nci Kian Ki, benci Coat-beng-kwi, dan mbenci serta menyesali kehidupannya - ng sudah-sudah, la mulai menyadari w hwa semua perbuatan Jahat dan keji i ng selama Ini ia lakukan pada akhirnya l endatangkan akibat yang buruk kepadanya. Biarlah, kalau perlu ia mati di tangan Coat-beng-kwi untuk menebus se-i ua dosanya J Mulai sekarang ia harus mengubah jalan hidupnya. "Tok-tok! Cu Yin, bukakan pintunya!" Cu Yin menyimpan kembali pedangnya dan bernapas lega. Itu suara wanita dan kalau ia tidak keliru, itu suara Co Kim Lian. Mau apa gadis itu mengunjunginya?

Cu Yin membuka daun pintu dan Kini Lian melangkah masuk. Begitu :a masuk dan memandang Cu Yin, Kim Lian ber kata. "Hemmm, engkau menangis, Cu Yin?"

Cu Yin tidak dapat menyembunyikan keadaannya. Ia mengusap air mata masih membasahi pipinya dan berka

"Aku aku tidak betah tinggal di s'

Kim Lian. Duduklah, ada keperluan kah engkau datang ke kamar ini?"

"Aku tahu kenapa engkau menan Cu Yin. Aku melihat tadi ayahku ma ke sini dan keluar lagi dalam keada marah-marah."

Cu Yin menghela napas. "Kim L* aku aku sudah tidak tahan lagi. tidak betah

tinggal di sini."

"Kalau begitu, kenapa engkau tid pergi saja meninggalkan Hek-kwi-san?" "Bagaimana mungkin, Kim Lian? tidak bisa meninggalkan bukit yang pe alat rahasia jebakan yang berbahaya i Aku akan terjebak dan mati sebel dapat turun ke bawah." Kim Lian tersenyum mengejek. "EJ kau benar ingin pergi? Meninggalk Chou Kongcu? Bukankah engkau a setia kepadanya?"

"Aku mg n pergi, meninggalkan muanya! Dia tidak peduli lagi kepada Aku ingin pergi meninggalkan tem

akan tetapi bagaimana mungkin?" "Kalau memang ingin pergi, apa sukarnya? Aku dapat membawamu turun t t tanpa bahaya."

"Aih, benarkah, Kim Lian? Benarkah i gkau mau menolongku? Kalau begitu, »r ari' kita pergi, tolong aku dengan men-l*di penunjuk jalan yang aman dari je-kikan!" "Tidak sekarang, akan tetapi nanti r, enjelang pagi. Bersiaplah, aku akan menjemputmu menjelang pagi nanti." Setelah berkata demikian, Kim Lian tersenyum dan meninggalkan kamar itu.

Malam itu Cu Yin sama sekali tidak t dur. Setelah membungkus semua pakai-ya dengan kain ia lalu duduk melamun. Terkenanglah ia akan semua pengalaman idupnya sejak ia meninggalkan tempat ggal gurunya, Hwa Hwa Moli, di pun-ak Ang- hwa-san. Kenangan akan semua pengalamannya itu sungguh kini tampak emalukan dan menyedihkan. Ia memarkan dirinya diperhamba nafsu-nafsu-ya sehingga mencampakkan semua per-mbangan, hanya bertindak menuruti ke

inginan dirinya untuk bersenang-se** belaka. Kini timbul perasaan sesal { malu. Tadinya ia tinggal di puncak A hwa-san bersama Hwa Hwa Moli, gu nya, dan Pek Bian Cit suci-nya seperguruannya). Saif< gurunya ma sucinya itu keduanya merupakan wani wanita pembenci pria. Perasaan m benci kaum pria ini ditanamkan hf Hwa Moli kepada dua orang murioV sehingga Lai Cu Yin,.seperti juga sucin

dasar hatinya membenci kaum . Kalau ia kemudian mempermainkan hal itu bukan terdorong rasa suka a cintanya, melainkan terdorong na semata. Karena itu. setelah ia mer bosan dengan seorang pria, la tidak gan-segan untuk membunuhnya atau ninggalkannya begitu saja! Hal ini lakukan setelah ia meninggalkan Ang-san dan mulai merantau. Kini ia m menyadari akan semua perbuatannya l jahat dan ia mulai merasa meny malu dan muak kepada diri sendiri.

Pada waktu menjelang pagi, sete terdengar ayam berkeruyuk, Kim L

engetuk pintu kamarnya. Cu Yin mei.g-gendong buntalan pakaiannya, lalu im engikuti jejak kaki Kim Lian menuruni puncak sehingga ia selamat tiba di kaki

ukit Hek-kwi-san. "Kalau engkau ingin tiba di bagian kaki Pegunungan Beng-san ini engkau pergilah menuruni lereng di kaki Bukit

ek-kwi-san ini ke selatan. Bagian selatan itu merupakan bagian paling mudah ntuk menuruni Pegunungan Beng-san," demikian Kim Lian berkata, lalu gadis tu pergi mendaki bukit dan naik lagi ke puncak H ek-kwi-san.

Cu Yin merasa berterima kasih sekali, la lalu melanjutkan perjalanan menuju ke, arah selatan, menuruni bukit-bukit dari Pegunungan Beng-san yang luas itu. Matahari mulai menumpahkan sinarnya yang lembut, mengusir halimun putih yang menghalangi pandangan mata.

Akan tetapi ketika Cu Yin tiba di sebuah jalan tebing yang curam, tiba-tiba ia mendengar teriakan orang dari arah belakangnya, la cepat menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, la melihat Kian M dan Kim Lian be cepat menghampirnya. Hatinya ml tidak enak. Ia tahu bahwa* Kian Ki J setuju kalau ia pergi meninggalkan I kwl-san. Bagaimana sekarang dia d mengejarnya? Ah, pasti Kim Lian *, memberitahu! Apa sih niat hati g remaja itu? Cu Yin sama sekali t' mengira bahwa Kim Lian adalah se gadis amat cerdik. Diam-diam Kim merasa tidak suka kepada Cu Yin datang bersama Kian Ki dan ta menjadi teman akrab pemuda yang kaguminya itu. Maka ia ingin agar Yin pergi dari Hek-kwi-san, dan seff ia sendiri yang menjadi penunjuk j sehingga Cu Yin dapat menuruni Setan Hitam dengan selamat, la mendaki lagi dan memberitahu k Kian Ki bahwa Cu Yin telah melar diri dari situ!

Tentu saja Kian Ki kejut dan marah. Dia tidak ingin Cu pergi karena hal itu membahayakan selamatannya. Maka, bersama Kim dia segera melakukan pengejaran. J saja mudah bagi Kim Lian untuk

tahui ke arah mana Cu Yin pergi karena la sendiri yang menunjukkan kepada Cu Yjn agar la lari ke arah selatan.

Setelah berhadapan dengan Cu Yin, Kian Ki berkata dengan suara ketus. "Cu Yin, engkau hendak pergi ke mana? Beraninya engkau pergi meninggalkan Hek-kwi-san tanpa memberitahu kepadaku!"

"Chou Kongcu," kata Cu Yin dengan suara memohon. "Biarkan aku pergi. Engkau sudah berhasil mencapai keinginanmu menjadi murid Ketua Bengkauw. Aku sudah tidak betah lagi tinggal di sana, maka biarkanlah aku pergi."

"Tidak! Engkau harus kembali ke puncak Hek-kwi-san I Engkau tidak boleh pergil" bentak Kian Ki marah.

"Suheng, kalau ia dibiarkan- pergi, ia dapat membuka rahasia Bengkauw dan mengabarkan bahwa engkau berada di Bengkauw," kata Kim Lian.

"Cu Yin, hayo engkau ikut dengan kami, kembali ke perkampungan Bengkauw!" sekali lagi Kian Ki membentak.

Cu Yin mengerutkan alisnya. Kini ia menyadari bahwa Kim Lian memang sengaja mengatur agar Kian Ki ma kepadanya dan memaksanya kembali.

"Tidak, sampai mati pun aku t sudi kembali ke sana!" Cu Yin berka lantang. "Kalau begitu terpaksa aku gunakan kekerasan kepadamu!" Kian berseru dan dia

menerjang maju he menangkap lengan Cu Yin. Gadis ini j sudah marah sekali, maka begitu menai lengannya mengelak, ia langsung mencabut pedangnya yang memakai ro ronce merah. Melihat gadis itu menge" dan mencabut pedang hendak meta Kian K i memuncak kemarahannya. K tadi dia hanya ingin membawa kera Cu Yin karena bagaimanapun juga masih membutuhkan Cu Yin yang cer dan juga dapat menjadi kekasih y menyenangkan, kini dia menganggap ga itu sebagai musuh. "Singgggg !" Tampak sinar hit berkilat ketika Klan Ki mencabut H kong-kiam.

"Perempuan rendahi Kau bosan hid; bentaknya dan dia segera menyer

-ngan pedang hitamnya. Cu Yin rn» F»t ngkis dan balas menyerang. Terjadi l- rkelahian mengadu silat pedang yang trru. Kim Lian hanya menonton, dalam tutinya merasa gembira sekali. Siasatnya V-rhasil. Ia ingin agar Kian Ki mem-nci Cu Yin dan sekarang pemuda itu kan ingin membunuh Ang-hwa Niocu al Cu Yin! Kalau Kian Ki sudah mem-I' nuh Cu Yin berarti ia tidak mempunyai t ngan lagi untuk mendapatkan cinta K muda putera pangeran itu.

Biarpun Cu Yin melawan mati-matian, namun kini tingkat kepandaiannya kalah ksuh dibandingkan tingkat kepandaian ► an KI. Dalam hal ilmu pedang, raung -h n ia tidak kalah, juga dalam hal gin- ng (ilmu meringankan tubuh) yang mem-)uat ia mampu bergerak cepat, kecepat nnnya tidak kalah banyak dibandingkan Kian Ki.

Akan tetapi ia kalah jauh da Lam hal tenaga sakti sehingga setiap kali aedang mereka bertemu di udara, pe-g Cu Yin terpental dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan nyeri. Namun ia tetap melawan dengan gigih dan mati-matian. Ia memang sudah kat. Dan pada harus kembali ke Be kauw dan menjadi bahan penghin lebih baik mati saja di tangan Chou K Ki pemuda yang tidak mengenal budi i Ia sudah membantu perjuangan ayah K Ki mati-matian, bahkan la yang m~ usahakan agar Kian Ki diterima men mur id Bengkauw, akan tetapi kini K Ki berusaha untuk membunuhnya!

Karena kalah jauh dalam kekua sin-kang, maka lewat tiga puluh ju saja Cu Yin mulai terdesak dan me lelah sekali karena untuk menangkis dang lawan ia harus mengerahkan luruh tenaganya. Apalagi kini Kian menyelingi gerakan pedang di tari kanannya dengan dorongan tangan yang mengandung hawa pukulan dahs Beberapa kail Cu Yin terhuyong ke kang. Tanpa disadarinya, ia m mundur sampai di tepi tebing yang ram. Melihat ini, tiba-tiba Kian Ki seru nyaring dan setelah menyi pedangnya, dia merendahkan tubu dan mendorong dengan kedua tangan

tawa pukulan yang amat dahsyat nif-ambar dan mendorong tubuh Cu Yin hingga terpental ke belakangi Cu Yin

> enjerit ketika merasa tubuhnya me ang ke bawah.

Kian Ki melompat ke tepi tebing dan enjenguk ke bawah, diikuti oieh Kim an yang merasa girang melihat Cu Yin terjerumus jatuh ke jurang yang demi-an curamnya. Akan tetapi ketika mereka menjenguk ke bawah, tidak tampak pa-apa saking dalamnya jurang Itu. Mereka yakin bahwa tubuh Cu Yin pasti hancur terjatuh dari tempat sedemikian ingginya.

Melihat Kian Ki seperti termenung, eolah menyesali tindakannya terhadap Cu Yin, Kim Lian lalu menggandeng tangannya dan menariknya bangkit.

"Sudahlah, Chou Suheng. Gadis yang genit itu telah binasa, untuk apa dipikirkan lagi? Untung ia telah tewas karena kalau ia kembali ke Bengkauw, ia hanya akan mendatangkan kekacauan saja. Kau tahu, dengan genitnya ia telah mencoba untuk merayu ayahku."

Kian Kl menatap tajam wajah rj Lian. "Ah. benarkah?"

"Apakah engkau tidak percaya ku, Chou Swheng? Aku melihat ketika ia mencoba untuk merayu ayahki

Kian Ki mengerutkan alisnya. "Her sungguh tak tahu malu1" katanya maral "Sudahlah, Suhepg* Untuk apa mjkirkan orang seperti ia? Bukankah sini ada aku? Mari kita pulang!" Kj| Lian menggandeng tangan Kian Kl mereka segera kembali mendaki Bi Setan Hitam dan tidak lagi mempeaj kan Lai Cu Yin yang mereka yakini tu sudah mati di dasar jurang.

Posting Komentar