Si Rajawali Sakti Chapter 90

NIC

Menghadapi serangan kata-kata dari Kim Lian, Gu Kian tidak bicara, hanya menunduk dan salah ka Kini mendengar Coat beng-kw kata.

"Kian Ki, engkau ternyata cukup

u patut menjadi muridku. Akan tetapi, menjadi penasaran melihat murid uvng Hongsan Siansu dapat menga kan muridku. Maka, biar aku yang nguji sendiri sampai di mara kehebatanmu. Bersiaplah!" Ketua Beagkauw itu ni bangkit dari kursinya.

Ayah, bukankah ujian yang dilakukan Suheng sudah cukup?" seru Kim Lian hawatir. "Kim Lian, engkau anak kecil, jangan *ut»ikutln ayahnya membentak dan Kim Lian cemberut manja*

Cu Yin yang juga merasa khawatir ikan keselamatan kian Ki, segena berkata. "Maaf, Locianpwe. Chou Kongcu datang menghadap Locianpwe adalah tuk mohon diberi pelajaran ilmu, karena kami yakin bahwa Locianpwe me« tki kesaktian yang amat hebat. Kalau hou Kongcu merasa iebih lihai daripada Locianpwe, pasti dia tidak akan mohon imbingan Locianpwe. Locianpwe sudah menerimanya sebagai murid, bagaietana «-karang Locianpwe akan turun tangan sendiri? Kalau sampai dia tewac di tangan Locianpwe, apakah har ini ti akan menodai nama besar Locian yang terhormat?"

Muka kakek itu berubah merah matanya melotot memandang Cu 'Bocah perempuan! Kalau tidak i bahwa engkau ini murid Hwa Hwa ucapanmu Itu menjadi alasan cukup ku untuk membunuhmu. Siapa akan bunuh Chou Kian K i yang sudah kuter menjadi muridku? Aku hanya ingin m uji kekuatannya, apakah cukup un menerima ilmu Coart-beng Tok-cl Kian Ki, bersiaplah engkau, sambut kulanku ini f" Kakek itu dengan gerakan ringan cepat sekail melompat ke depan Kian lalu memukul dengan dorongan kanannya. Angin pukulan dahsyat nyambar ke arah dada Kian Ki. P ini cepat menyambut dan mengera sinkangnya dan menggunakan kedua ngannya untuk menyambut dengan dor an pula.

"Syuuuttt..... desss&s !'!." Perte kedua tenaga itu seolah mengguncan

9 urun ruangan. Kian KI mengerahkan

iaga yang lebih kuat daripada ketika i<* menyambut pukulan yang dilontarkan u Kian tadi. Akan tetapi tetap saja >«-mbatasi tenaganya, tidak mengerahkan t urunnya. Akibat benturan dua tenaga kti yang amat kuai itu, t ibu Kian Ki

dorong mundur lir. . langka'1* akan h tapi dia tidak roboh. Akan tetapi Coat- ng-kwi juga ncrasa a bei pa tubuh-iya terguncang. Hai ru n e unjukkan iS.»hwa pemuda itu U-Uh m ki tenaga > ng cukup kuat, jawh lebih kuat dari-i-ida tenaga Gu Kian dan sudah cukup »uat untuk mempelajari ilmu Coat-beng Tok-ciang.

Ketua Bengkauw itu mengangguk-ngguk, diam-diam dia merasa kagum dan girang karena benar seperti yang katakan «uterinya tadi, murid barunya m akan semakin mengangkat nama besarnya di dunia persilatan. Dia jauh lebih dapat diandaikan daripada Gu Kian, apa-agi dia adalah keturunan keluarga Kera-aan Chou!

"Bagus, engkau telah lulus dari ujian,

Kian Ki. Mulai sekarang, engkau kuberi pelajaran iimu4imuku yang -pa tinggi."

Kian Ki merasa girang sekail dan menjatuhkan diri berlutut di depan Coat-beng-kwl. "Terima kasih. Suhu. T akan menaati semua petunjuk Suhul"

Cu Yin ikut gembira, apalagi ke ia diperbolehkan tinggal di perkampun Bengkauw sebagai pengikut atau peli Chou Kian Ki. Yang merasa penasa iri hati, dan marah yang terpendam lah Gu Kian. Dia merasa benci ' kepada Kian Ki, akan tetapi karena rurrya sudah menerima pemuda bangsa itu menjadi murid, pula karena dia tahu bahwa Klan Ki memiliki ilmu pandaian yang tinggi, maka dia ha menyimpan dendam kebenciannya da hati. Co Kim Lian juga merasa r _ karena dara remaja ini diam-diam t tarik kepada Chou Kian Ki. Akan te ia juga tidak senang bahwa Cu Yin perbolehkan ayahnya tinggal di situ.

Mulai hari itu, Kian Ki dlgembl oleh Coat-beng-kwi, dan karena dia te iikl dasar yarid amat kuat, bahkan ngnya tanpa diketahui Coat-be sendiri felaH1 Wncapai kekuatan bahkan tidafc1 kalah dibandingkan gan slnkang Ketua Bengkauw itu, a dia dapat menguasai ilmu-ilmu u itu dengan mudah.

Pagi Itu udara di puncak Bukit Cerna di Pegunungan Cin-ling-san amat ce-h. Matahari pagi mulai memancarkan yanya yang keemasan gemilang, mem-

ngunkan alam dari tidurnya. Halimun ng semalam menyelimuti bumi perlahan-lahan meninggalkan bumi, terbawa gin dan perlahan membubung ke atas «"-olah disedot sinar matahari. Kedingln-* nya yang lembab meninggalkan embun r bun bergantungan di ujung daun-daun an rerumputan. Alangkah indah dan enda tangkan kebahagiaan menyambut hari baru dengan menikmati keindahan alam yang serba, baru itu. Bukan kel an yang diulang-ulang dan dikenang, rena keindahan, yang disimpan ingatan untuk diulang-ulang meo, putu

Dan jauh di bawah bukit te suara sapi menguak dan kambing embek, pertanda bahwa fajar telah ganti pagi dan para penggembala menggiring hewan ternak mereka ke dan kandang menuju ke padang nur Rumah-rumah di bagian bawah, di dusunan yang hanya tampak genteng saja dari puncak, mulai tampak meng kan asap, pertanda bahwa para ibu sibuk di dapur, menjerang air un membuat minuman penghangat atau yang mempunyai persediaan, tidaknya membuat bubur untuk kel nya.

Di atas puncak Bukit Cemara itu, depan sebuah pondok sederhana r~._ bersih, duduk Thai Kek Siansu di a' sebuah batu bundar yang lebar dan rata permukaannya. Di situlah serin kakek itu duduk bersamadhl atau me

11 keindahan yang terbentang di de-ya, dikelilingi puncak-puncak bukit di urungan itu, dan lembah-lembah yang nifauan. Biasanya pia hanya duduk Tang diri saja, tertera* dalam' kebesar-alam, menjadi batfian dari semua _zhan alam itu. rean tetapi paoa hari ku, di ofc£erinya, juga di atas buah batu yang rata permukaannya, kuduk Si Han Lin. Pemuda itu baru saja ' ang di puncak itu pada waktu fajar >di, menunggang burung rajawali yang mi bertengger di atas pondok, tampak- .

a beristirahat setelah melakukan pe-bangan jauh dan melelahkan. Sejak menghadap gurunya pada waktu i ar tadi, setelah menjerang air dan

>- -nNjetkan air teh untuk gurunya, Han i m duduk di depan gurunya dan dia men

-makan semua pengalamannya, tentang r^mberontakan dan perang itu. Setelah < a selesai bercerita, Thai Kek Siansu

hela napas panjang. "Ya Tuhan, betapa menyedihkan men-iengar cerita tentang perang! Perang i r rupakan puncak kekejaman manusia apalagi perang saudara, bunuh me dalam puncak nafsu kebencian an bangsa sendiríl Padahal, manusia ad mahluk termulia di antara semua luk hidup, yaf)g dikaruniai hati akal kiran sehingga

^apat membedakan n yang baik can mjioa yang buruk, d kebe)basan untuk memilih. Melihat si sifat yangn mulia dan paling baik antara segala mahluk, dapat dimenga bahwa Yang Maha Kuasa menghendii agar manusia menjadi pemimpin dua menjadi pengatur dunia, dan hidup se manusia menjadi pembantu kek Tuhan, menjadi penyalur berkat dunia seisinya. Akan tetapi celaka, nal nafsu daya rendah menguasai man meracuni hati akal pikiran sehingga jadilah segala macam bentuk kejaha dan kekejaman di antara manusia sen Betapa menyedihkan !1'

"Suhu, teecu juga yakin bahwa Tu menciptakan segala sesuatu di dunia tentu mempunyai maksud yang baik."

Tentu saja. Han Lin. Tiada satu ciptaanNya yang tidak ada manfaa

Wmua yang tampak di dunia ini, hasil i taan Tuhan, semua itu bermanfaat. L ha t saja, adakah sesuatu yang tidak da manfaatnya bagi yang lain? Bahkan tanah pun bermanfaat secara mutlak, batu-batu, pasir dan semua barang yang disebut barang mati tak bergerak itu ada manfaatnya. Sarnpah yang dianggap paling rendah tingkatnya itupun bermanfaat bagal pupuk. Lalu kini yang hidup na-un tak bergerak seperti tumbuh-tumbuhan. Semua tumbuh-tumbuhan itu berguna bagi yangn lain, bahkan «nenghidupkanl Bayangkan saja kalau tidak ada, tumbuh-tumbuhan yang perlu untuk dimakan manusia, dimakan ^matang, dan untuk keseimbangan alam.

Posting Komentar