Si Rajawali Sakti Chapter 87

NIC

hgan mudah cepat mengelak sehingg < Mga batang anak panah Itu meluncur di inmping tubuh mereka dan tidak mengenai sasaran.

Kemudian dari atas tampak belasan rjrang berpakaian abu-abu dipimpin $e-ang gadis dan seorang pemuda yang (terjalan di depan.

"Kongcu, jangan melawan dengan kekerasan," bisik Cu Yin.

"Tapi mereka tadi menyerang untuk membunuh." bantak Kian Ki.

"Tidak, kurasa itu hanya menguji karena aku mengaku murid Subo Hwa Hwa Moli. Kalau mereka nanti menawan kita, harap menyerah dan ikut saja, jangan melawan. Percayalah, mereka tidak akan mau mencelakai murid Subo Hwa Hwa Moli." Biarpun hatinya merasa penasaran, Kian Ki terpaksa mengangguk karena dia memang amat membutuhkan bantuan orang sakti agar tercapai cita-citanya, yaitu menjadi Raja Kangouw!

Pemuda dan gadis yang keduanya mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan sulaman merah itu kini ber turun seperti terbang saja. Belasan or anggauta Bengkauw yang berpakaian sel ba abu-abu tertinggal jauh walau mereka juga lari. Setelah tiba di de Cu Yin dan Kian Ki, mereka berhenti dalam jarak sekitar tiga tombak dan pasangan ini saling berpandangan deng sinar mata penuh selidik.

Yang datang memimpin anak bua Bengkauw itu adalah Go Kim Lian daa Gu Kian. Pandang mata Kim Lian meng«| amati Kian K i penuh perhatian, sedang kan Gu Kian memandang kepada Cu Yin

Lal Cu Yin mendahului memberi hor mat, mengangkat kedua tangan depan dada sambil tersenyum dan berkata. "Mz afkan kalau kami berdua mengganggu ketenangan Cu-wi (Anda sekalian). Kami mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw."

"Engkau yang bernama Lai Cu Yi dengan julukan Ang-hwa Niocu murid Hwa Hwa Moli?" tanya Gu Kian.

"Benar," jawab Cu Yin sambil tersenyum manis. "Aku Lai Cu Yin murid ribo Hwa Hwa Moli, dan ini adalah Chou ain Ki, putera mendiang Pangeran Chou IVan Heng. Kami berdua mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw. Siapakah Ji-wi (Anda berdua)?"

Yang menjawab pertanyaan itu Co Kim Lian. "Aku puteri Ketua Bengkauw, lamaku Co Kim Lian. Ini murid ayah, Suheng Gh Kian, Sebetulnya, menghadap ayah bukanlah nal yang mudah dan biasanya tanpa panggilan ayah tidak ada yang boleh mengganggunya. Akan tetapi, aku tahu bahwa Hwa Hwa Moli adalah sahabat ayah, maka engkau boleh menghadap sal tidak berbuat macam-macam! Dan

dia ini hemmm, benarkah engkau ini

putera Pangeran Chou Ban Heng yang baru-baru ini gagal merebut kekuasaan dari Kaisar Sung?" Gadis itu menatap tajam wajah Kian Ki.

Kian Ki juga menentang pandang mata gadis remaja yang manis itu dan menjawab. "Benar, aku Chou Kian Ki adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang gugur dalam memperjuangka bangkitnya Kerajaan Chou dirampas oleh pengkhianat Chou K Yin yang kini menjadi Kaisar Sung tama. Aku ingin menghadap Ketua Be kauw, harap diberi kesempatan dan kabulkan."

"Kiam Lian menoleh kepada Gu Kian dan berkata dengan nada suara seorang atasan kepada bawahannya. "Su-heng, kurasa dua orang ini cukup memeuhi syarat umuk dibawa meoghadap Ayah."

"Akan tetapi, Sumoi, bagaimana kalau Suhu memarahi kelancangan menghadapkan tamu di luar kehendak Suhu?"

"Biar aku yang bertanggung jawab! Mari, Chou Kian Ki dan engkau Lai Cu Lin, kalian berjalan bersamaku dan jagah langkah kalian agar mengikuti jejakku."

Gadis itu lalu mulai mendaki bukit, ikuti oleh Kian Ki dan Cu Yin. Mereka berdua dengan hati-hati dan teliti mengikuti jejak kaki gadis puteri Ketua Beng uw itu karena mereka maklum bahwa salah langkah sedikit saja dapat menimbulkan bahaya maut bagi mereka. Gu Kian dan para anak buah Bengkauw mengiringkan dari belakang, tentu dengan maksud berjaga-jaga agar dua orang muda itu tidak melakukan hal-hal akan merugikan Bengkauw.

Ketika mendengar bahwa tamu yang tidak diundang datang untuk menghadp padanya, mula-mula Beng-kauw-cu (Ket Bengkauw) merasa terganggu dan marah. Akan tetapi Kim Lian yang datang melapor bersama Cu Kian di depan ayahnya, segera menjawab.

"Harap ayah tidak menjadi mara Tadinya, aku juga menolak mereka ya ingin menghadap ayah tanpa dipangg' akan tetapi setelah mereka menga" siapa mereka, terpaksa aku mengan mereka menghadap dan kini sudah m nunggu di luar."

"Hemmm, siapa mereka yang membuat engkau terpaksa memenuhi permintaan merekaa?" tanya Coat beng-kwi Sai dengan suara bengis. Biarpun terkesan bengis dan berwatak aneh, namun penampilan ketua Bengkauw ini sama seka tidak menyeramkan. Dia seorang tua berusia sekitar enam puluh tahun, mukanya bersih tanpa jenggot kumis, dan an dengan sepasang mata yang memandang tajam.

"Ayah, yang pemuda bernama Chou Kian Ki dan dia adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang memberontak terhadap Kerajaan Sung. Adapun yang wanita bernama Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin, murid dari Hwa Hwa Moli Ang-hwa-san."

Mendengar disebutnya Hwa Hwa Mol, h Co Sai tampak berubah cerah dan segera berkata, 'Bawa mereka menghadap!"

Melihat ketua itu menggerakkan tangan memberi isarat kepada Kim Lian Cu Kian untuk pergi meninggalkan ruagan itu, mereka lalu keluar dari ruangan.

Setelah tiba di luar, Kim Lian berkata kepada Kian Ki dan Cu Yin bahwa mereka diperkenankan memasuki ruangan dimana ayahnya telah menunggu. Kemungkinan ia sendiri mengantar mereka berdua masuk, sedangkan Cu Kian menanti di luar.

Murid ini tidak berani masuk dia tidak disuruh masuk gurunya tadi Ketua Bengkauw telah mengisarat agar dia keluar. Akan tetapi Lian yang selalu manja dan tahu ayahnya tidak akan marah kepada dengannya tenang mengantar kedua tamu itu masuk.

Sebelum melan ambang pintu ia berbisik kepada m agar berlutut di depan ayahnya. Kian Ki dan Cu Yin memasuki ruangan dan oleh Kim Lian di bawa menghampiri seorang laki-laki tua yang d dengan gagahnya.

"Ayah, inilah mereka, Chou Kian dan Lai Cu Yin!" kata Kim Lian u? perkenalkan. Cu Yin segera menjatu diri berlutut dan biarpun sebenarnya enggan, namun mengingat akan kebut annya, Kian Ki juga menjatuhkan f berlutut. Kim Lian berdiri di belak mereka.

"Locianpwe, terimalah salam guru saya Hwa Hwa Mbli!" kata Cu dengan hormat.

"Heh-heh, Hwa Hwa Moli itu ip? Gurumu itu dulu adalah kekasihku, sayang ia tidak mau menikah dengan aku dan memilih menjadi perawan tua sampai sekarang.

Apakah ia baik-baik sehat?"

Subo dalam keadaan baik-baik dan hat, Locianpwe." "Locianpwe, saya Chou Kian Ki memberi hormat kepada Locianpwe."

"Hemmm, engkau putera Pangeran Chou Ban Heng yang gagal dalam pemberontakannya terhadap Kaisar Sung? i bahkan gugur dalam usahanya itu? lu, engkau anaknya sekarang ada maksud apa datang menghadap kami?"

"Locianpwe, maksud saya menghadap Cianpwe adalah untuk mohon belas kasihan Locianpwe agar Locianpwe sudi memberi petunjuk dan pelajaran ilmu silat kepada saya. Saya membutuhkan ilmu silat yang tinggi untuk dapat membalas dendam atas kematian ayah saya."

Ketua Bengkauw mengerutkan alisnya Vilu memandang kepada Cu Yin dan bertanya. "Dan engkau, Lai Cu Yin, apa keperluanmu ikut menghadap di sini

Apakah engkau murid Hwa Hwa juga ingin belajar ilmu dariku?"

"Saya akan berbahagia sekali Locianpwe sudi mengajarkan ilmu pada saya. Akan tetapi saya tidak berani merimanya sebelum Subo mengijinkan. Saya datang menghadap hanya untuk mengantar Chou Kongcu menghadap cianpwe."

"Hemmm, apakah hubunganmu Cou Kian Ki ini?" tanya Coat-beng-Co Sai dengan sinar matanya yang corong seperti menembus dan menjer isi hati wanita itu.

Akan tetapi, Ang-hwa Niocu Lai Yin cukup tenang dan tangkas mengh« pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Saya1 membantu perjuangan i mendiang P« ran Chou Ban Heng dan sekarang menghambakan diri untuk memo] Chou Kongcu dalam usahanya membalas dendam.".

Ketua Bengkauw itu mengerul alisnya dan berpikir sejenak, agal mempertimbangkan permintaan Kian tadi. Kian Ki dan Cu Yin menanti!

ngan jantung berdebar tegang. Mereka tahu bahwa kakek itu adalah seorang yang selain sakti jaga memlBci watak aneh sekali, bahkan terkadang dapat bertindak kejam.

Coat-beng-kwi Co Sai menggee gka kepalanya lalu tiba-tiba dia berkata. "Wah, tidak bisa, tidak b «a! Engkau Lai Cu Yin mengingat akfen gurumu Hwa Hwa Mol I, engkau boleh tinggal dan bermain-main di sini asalkan tidak membuat ulah. Akan tetapi engkau Chou Kian Ki, engkau harus pergi meninggalkan tempat ini. Aku tidak bisa menga arkan ilmu kepadamu!"

Tentu saja Kian K menjadi kecewa dan penasaran sekali. "Akan tetapi, Locianpwe.^.."

Kakek itu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya ke arah "kian Ki. t>e*MJda itu terkejut dan hampir saja dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi diri, akan tetapi dia teringat akan pesan Cu Yin agar tidak memperlihatkan bahwa dia telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat berkat gemblengan mendiang Thlan Beng Siamu. Maka dia membiark diri/iya dilanda angin pukuJan yang dahsyat sehingga tubuhnya teri e r sampai dua tom^ dan jatuh. J

Cu Yin menjerit dan segera melonc ke dekat Kian Ki, membantunya bangki la merasa khawatir sekali melihat bet wajah pemuda itu menjadi pucat seka dan perlahan- lahan ada warna kel pada wajahnya.

"Sekati aku bilang pergi tidak bol dibantah lagil" kata Coat-beng-kwi Sai.

Tiba-tiba Kim Lian menghampiri aya nya dan suaranya lantang ketika ia ber seru.

"Ayah, perbuatan ayah ini sungg» keliru dan tidak adili"

Posting Komentar