Yang kumaksudkan, kalian ini sudah jodoh untuk berjumpa di sini, menjadi ka- wan seperjalanan. Bukankah pertemuan kalian ini tidak disengaja? Nah, itulah artinya jodoh, sudah dipertemukan oleh Tuhan. Berjodoh untuk melakukan per- alanan bersama yang kumaksud, bukan jodoh hemmm, kalau soal jodoh itu,_ terserah kepada hati kalian mas masing. Nah, aku harus cepat pergi, moi. Guruku memanggilku dan mengi^ rajawali untuk menjemputku."
"Aku ikut, Lin-ko!"
"Hush, mana mungkin? Aku men gang rajawali dan burung ini tidak da membawa dua orang, selain itu gur tidak akan mengijinkan aku memba orang lain menghadap beliau. Eng.' pulanglah dulu ke rumah orang tuamu Cin-an dan setelah aku menghadap S aku akan menyusulmu ke sana. Pulan dan aku minta kepadamu, Saudara Eng Hoat, kau temanilah adikku ini lakukan perjalanan ke Cin-an."
Kui Lin hendak membantah dan Lin cepat melanjutkan kata-katan "Kalian berdua tadi melihat sendiri b wa masih ada sisa para pengikut Pan ran Chou Ban Heng yang lihai dan a' menyerang kalian kalau bertemu den kailan. Nah, dengan melakukan perjala bersama kalian akan dapat saling bantu dan saling melindungi, sehir akan lebih kuat kalau bertemu musu
ii, sekarang aku harus pergi!" Setelah r kata demikian, tanpa memberi kesemutan kepada Kui Lin untuk membantah w,- Han Lin melompat ke atas pung-iing rajawali yang sudah siap dan men-1 am di situ. Rajawali itu lalu terbang gan cepatnya.
Bu Eng Hoat menghela napas panjang ik ngan amat kagum. "Bukan main hebat-> a kakakmu itu, Kui Lin. Aku pernah ndengar cerita guruku Thong Leng osu* tentang Thai Kek Siansu yang amat kti dan melihat kakakmu yang menjadi muridnya, baru aku tahu bahwa apa yang diceritakan guruku itu memang benar."
Tentu saja Kui Lin merasa bangga. Ia adalah adik angkat Si Han Lin dan serang hatinya mendengar kakaknya dipuji-puji.
"Kakakku memang hebat," katanya. 'Akan tetapi, Bu Eng Hoat, engkau harus ihu bahwa aku sama sekali tidak per nan minta engkau untuk menemani aku pergi ke Cin-an!"
"Aku tahu, Kui Lin. Kakakmu Si Han Lin yang minta aku menemanimu, akan tetapi andaikata kakakmu tidak mem nya, aku pun sedang melakukan per an searah. Aku hendak pergi ke san, mencari guruku. Karena itu, t ada salahnya kafau kita melakukan jalanan bersama. Tentu saja, kalau kau sudi melakukan perjalanan bers aku, seorang pemuda yatim piatu miskin dan bodoh."
"Ih, siapa bilang engkau bodoh? tentang miskin, aku tidak peduli or kaya atau miskin, yang penting orartg benar dan berwatak pendekar. Lagi p bukankah engkau juga menerima ha sekantung uang emas dari Sribagir Kaisar? Dengan memiliki sekantung e rtu, engkau tidak miskin lagi."
"Jadi, engkau sudi melakukan pe jalanan bersamaku?" Eng Hoat berta penuh gairah karena gembira.
"Asal engkau tidak macam-macam!'
"K u i Lin, apa maksudmu dengan cam-macam itu?"
"Aih, sudahlah mari kita lanjut perjalanan!" kata Kui Lin sambil te senyum simpul. Mereka lalu melakukan perjalanan hama. Setelah melakukan perjalanan i sama selama beberapa hari saja, per-ulan mereka menjadi akrab. Kui Lin ndapatkan kenvataan bahwa pemuda u adalah seorang yang berwatak bersih "i baik, selalu bersikap sopan dan hor-«it kepadanya.
-
Chou Kian Ki berlutut, mendekam 1m menangis di depan gundukan tanah di ana dia baru saja selesai mengubur jenazah ayahnya. Dia tenggelam ke dani kenangan yang menyedihkan tentang iyahnya, tentang keluarga ayahnya, dan 'ntang dirinya sendiri. Perjuangan ayahnya membangun kembali Kerajaan Chou gal, bahkan ayahnya tewas. Dia sendiri masih belum hilang kedukaannya karena i ehilangan Ong Hui Lan, satu-satunya adis yang sangat dikasihinya, bahkan iidah menjadi tunangannya dan lebih daripada itu, sudah digaulinya. Bia dengan mudah dia dapat mencari g gadis lain yang cantik, namun tidak yang dapat dikasihinya seperti dia ngasihi Ong Hui Lan. Perjuangan ga ayahnya tewas, kekasihnya meninggal, nya. Biarpun dia mendengar bahwa dan keluarga ayahnya tidak dihukum oj Kaisar Sung Thai Cu, namun dia mer malu untuk kembali -ke kota raja. Put belum tentu Kaisar Sung Thai Cu a Pangeran Chou Kuang Tian akan mi ampuninya dan tidak menghukumnya i perti ibu dan keluarga ibunya karena sendiri terjun secara langsung da pemberontakan ayahnya. Setelah agak reda tangisnya dan menghapus air matanya, dia tampak le! tenang walaupun sepasang matanya me jadi kemerahan dan wajahnya mura rambut dan pakaiannya kusut tidak perti biasanya d?a selalu ber penampi I mentereng dan pesolek. Tiba-tiba mendengar suara banyak orang dan tika dia menoleh, ternyata yang datai adalah Tung-hai-tok bersama bela i i g anak buahnya. Wajah kakek ini mpak muram dan marah, akan tetapi i.« gembira dapat bertemu dengan Chou ian Ki di tempat itu. "Chong Kongcu!" katanya sambil mem-irri hormat.
"Pangcu (Ketua)," kata Kian Ki. "Se-L g hatiku melihat engkau dapat me i tamatkan diri. Di mana teman-teman lnin? Apakah tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dan sudah terbunuh Mrnua?"
Tung-hai-tck tidak menjawab karena memandang ke arah gundukan tanah kuburan itu. "Chou Kpngcu, siapakah yang dikubur di situ?"
Dengan lesu Kian Ki menjawab. "Aku baru saja mengubur jenazah ayah di sini." "Ahhh !" Tung-hai-tok lalu menghampiri kuburan itu lalu menjatuhkan
diri berlutut, diikuti oleh belasan orang anak buah Tung-hai-pang. Setelah mem-
beri hormat kepada kuburan Pangeran Chou Ban Heng, kembali Tung-hai-tok duduk di atas tanah berumput menghadapi Kian Ki.
"Pangcu, engkau belum menja pertanyaanku tadi. Di mana teman-terl yang lain?" Tung hai-tok mengepal kedua tang.t nya dengan wajah merah karena mani "Hemmm, sungguh menggemaskanl K tahuilah, Kongcu. Tadi aku berhasil larikan diri dengan belasan orang a buahku dan juga bersama Kwan In dan Im Yang Tosu. Di dalam perjalan kami bertemu dengan dua orang di antar musuh-musuh kita, yaitu gadis yang be nama Song Kui Lin dan Bu Eng Hoa Aku sudah merasa girang akan dapat membalas dendam membunuh dua orang itu. Akan tetapi' sungguh menggemaskan, dua orang tosu brengsek itu tidak ma membantuku dan hanya menjadi pen ton!"
"Hemmm, kenapa begitu? Bukanka selama ini mereka berdua menjadi pem' bantu setia dari mendiang ayahku?"
"Mereka mengatakan bahwa urusan memperjuangkan Kerajaan Chou telah gagal dan selesai, dan mereka tidak m membuat permusuhan pribadi. Sunggu rVnyebalkan!"
"Lalu bagaimana? Bukankah engkau Jrrsama belasan orang anak buahmu, l.ngcu?"
"Dua orang muda itu cukup lihai dan betulan pada saat itu muncul Pek Bian \\, gadis murid Hwa
Hwa Moli dari Ang--san. Ia mau membantuku karena aku pengenal baik gurunya dan kami berdua >idah mendesak dua orang musuh itu dan indah hampir membunuh mereka akan
r tapi " Tung-hai-tok menghela napas panjang.
"Akan tetapi bagaimana, Pangcu?" "5ungguh sialan! Mendadak saja mun-ful pemuda yang menunggang rajawali )tu!"
"Hemmm, Si Han Lin itu?" "Benar, Kongcu. Dia muncul dan ber-lama rajawalinya membantu dua orang musuh kita itu sehingga usahaku membunuh mereka gagal. Terpaksa kami melarikan diri karena dengan adanya penunggang rajawali itu, kami kalah kuat."
"Hemmm, menyebalkan sekali Si Han Lin itu! Aku pernah bertanding melawan dia dan aku belum kalah. Lain kali k kami saling bertemu, aku akan tr bunuh dia!" kata Chou Kian Ki ger Dia ingat bahwa selain menjadi peny: gagalnya perjuangan ayahnya, juga Han Lin itu yang menggagalkan dia n bawa pulang Ong Hui Lan, tunangan wanita yang dikasihinya.
Tung-hai-tok yang sudah tahu be lihainya putera Pangeran Chou Ban t ini, mengangguk-angguk. Aku perc Kongcu pasti akan mampu mengala dan membunuhnya. Dan kalau sew waktu Kongcu membutuhkan bant kami, Kongcu mengetahui ke mana mencari Tung-hai-pang. Kami selalu membantumu."
"Terima kasih, Pangcu. Aku t akan pernah melupakan bantuan Pa dan Tung-hai-pang yang setia memba mendiang ayah. Kalau kelak aku berh menjadi Raja Kang-ouw, aku pasti m. membantu untuk memperbesar dan i perkuat Tung-hai-pang sebagai sa utama."
Tung-hai-tok bersama anak buah
-ntai Timur, meninggalkan Chou Kian J yang kemudian duduk termenung lagi depan makam ayahnya. Setelah merasa puas duduk termenung depan makam ayahnya, Kian Ki lalu engambil sebuah batu gunung yang be-«r, menggulingkannya sampai di depan iburan ayahnya dan pedagnya Hek- kong-Kiam (Pedang Sinar Hitam) dia perguna m untuk mengukir nama ayahnya di permukaan batu besar itu. Pedang pusaka s mg tajam itu, digerakkan tangan yang dipenuhi tenaga sakti, mengukir huruf-huruf besar berbunyi: MAKAM YANG MULIA CHOU BAN HENG DARI KERAJAAN CHOU. Setelah merasa puas dia segera pergi setelah memberi penghormatan terakhir.
Baru saja keluar dari hutan di bukit itu, tiba-tiba terdengar suara wanita memanggilnya. "Chou Kongcu !"
Kian K i berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya. Dia melihat Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin berlari cepat menghampirinya. Wanita itu sama sekali tidak tampak seperti seorang yag b saja mengalami kekalahan perang 1 melarikan diri. Ia masih tampak cant pakaiannya indah mengenakan perhi mencolok, dan tiga bunga merah di J butnya masih seperti biasa, berseri per t i juga wajahnya yang cantik. Ro" ronce di gagang pedangnya berkibar k ka ia berlari cepat.
"Yin-moi !" Kian Ki berseru gira
"Sukur engkau dapat meloloskan dengan selamat." Ketika Lai Cu mendekat, Kian Ki merangkul yang d balas dengan penuh kemanjaan dan (< mesraan oleh Lai Yu Cin. Mereka b4 cumbu di tempat sunyi itu untuk n? lepaskan kerinduan dan terutama unti menghibur hati mereka yang gundah rena kekalahan dalam pertempuran lawan para pendukung Kerajaan Sung.
Setelah melepaskan kerinduan ha\ mereka duduk di atas batu-batu ya banyak terdapat di luar hutan itu.
"Kongcu, engkau sekarang hendj pergi ke manakah?" tanya Cu Yin. Kian Ki menghela napas panjan u u masih belum tahu ke mana aku *n pergi. Setelah kegagalan kita, aku iik berani pulang ke kota raja dan di 111 kota besar aku tentu akan dikejar-lj.-ir alat pemerintah sebagai seorang pruan. Aku ingin sekali memperdalam i ilmu-ilmuku agar kelak aku dapat rnbalas kekalahan ini dengan cara lain. i-11 ingin menjadi Raja Kangouw dan ngerahkan seluruh kekuatan dunia gouw untuk menentang Kerajaan Sung!" U menghela napas lagi. "Sayang guruku iur g terakhir, Thian Beng Siansu, telah mggal dunia. Siapa lagi yang dapat if-mperdalam ilmuku?"
"Ah, yang dapat memperdalam ilmu-i