Si Rajawali Sakti Chapter 84

NIC

ggap di tanah, rajawali itu lalu mengidap ke arah Han Lin, mengangg k anggukkan kepalanya lalu mendekam. Lin yang sejak kecil berkumpul d rajawali itu, maklum akan bahasa t ini. Dia tahu bahwa rajawali itu mi agar dia menungganginya dan baf rajawali itu memikul tugas tertentu y diberikan Thai Kek Siansu, gurunya. T tu gurunya ingin agar dia mengha* Tanpa ragu lagi dia lalu melompat atas punggung rajawali dan terba burung raksasa itu.

Akan tetapi tak lama kemudian, I Lin melihat perkelahian di bawah di bagian hutan kecil yang terbuka hingga tampak dari atas. Dia me tanda kepada rajawali untuk melay turun dan melihat bahwa yang berk adalah Kui Lin dan Eng Hoat yang tanding dengan Tung-hai-tok dan seor wanita baju putih yang lihai. Jelas bah dua orang sahabatnya itu terdesak o lawan. Maka dia cepat menyuruh raja turun dan pada saat itu, keselamatan Lin dan Eng Hoat sudah terancam haya maut karena Tung-hai-tok y ingin cepat-cepat mengalahkan law

S mengerahkan lima belas orang i buahnya untuk mengeroyok! Melihat keadaan ini, Han Lin memberi nba kepada rajawali dan dia sendiri lompat dan menerjang Tung- hai-tok mendesak Kui Lin. Rajawali yang V.gap akan aba-aba Han Lin juga me-r >ng dan menyambar-nyambar ke arah tosan orang angga u t a Tung-hai-pang se-hgga mereka menjadi terkejut dan gen-. Banyak yang kena cakar atau kena tuk dan banyak yang terpelanting oleh kulan sayap burung sakti itu!

'Trang-cring !" Sepasang pedang di

ngan Tung-hai-tok terpental, kedua I'i gannya tergetar dan nyeri ketika seusang pedangnya disambar Pek-sim-kiam »ng menangkisnya. Tung-hai-tok terkejut ban melompat ke belakang, terbelalak Irtika melihat siapa yang datang me nangkis siang- kiam di tangannya itu. Dia merasa gentar karena dia maklum akan KHfhaian pemuda yang menunggang rajawali itu.

Sementara itu, Pek Bian Ci yang tidak mengenal Han Lin, tidak peduli.

akan munculnya pemuda dengan rajaw nya itu. Dengan penuh semangat kebencian terhadap laki-laki yang M lawannya, pedangnya yang berubah mal jadi sinar bergulung-gulung, menyambi nyambar Bu Eng Hoat yang sekuat ' naga melindungi dirinya dengan putai toyanya. Namun, desakan Pek Bian membuat dia terhuyung ke belakang.

Han Lin yang sudah membuat Tu hai-tok melompat ke belakang, melir* betapa Bu Eng Hoat terancam baha Dia melompat dan sinar putih pedang menghadang desakan Pek Bian Ci. Keti gadis yang membenci laki-laki ini i lihat ada pemuda lain menghadangnya, menerjang dengan ganas dan dahsyat.

"Mampuslah!" Pedangnya membac ke arah leher dengan pengerahan si kang (tenaga sakti) sekuatnya. Han L dengan tenang menggetarkan Pek-sirr kiam dan menangkis.

"Tranggggg !"

"Aihhh !" Pek Bian Ci terkeju

bukan main. Pedangnya hampir terle^ dari tangannya dan ia merasa beta

11 pak tangannya yang memegang pe-|ng panas dan pedih. Ia memiliki sin-kng yang amat kuat. Kalau kini ada '«ng yang menangkis pedangnya dan rmbuat tangannya tergetar hebat dan <-lapak tangannya panas, maka jelas wa tenaga sakti orang itu lebih kuat .ripada tenaganya sendiri! Ketika ia oleh, ia melihat Tung-hai-tok juga ndah menjauh dan la terbelalak melihat rekor burung rajawali raksasa meng-jrak- abrik belasan orang anggauta Tung-i -pang.

Tung-hai-tok sendiri melihat Pek Bian i melompat ke belakang dengan wajah fiticat dan melihat anak buahnya ter-i lanting ke sana sini, maklum bahwa n elawan terus sama saja dengan bunuh diri. Maka dia bersuit nyaring memberi tanda kepada anak buahnya untuk melarikan diri. Dia sendiri melompat jauh dan pergi. Melihat ini, Pek Bian Ci memaki dalam hatinya.

"Pengecut!" Karena yang ia bela sudah melarikan diri, ia pun tidak ingin elaka di tangan orang yang lebih kuat^

daripadanya. Ia juga melompat dan larikan diri. "Lin-ko !" Kul Lin mengharu

Han Lin dan memegang lengan kakak itu, kakak angkat, dengan manja, mentara itu, Bu Eng Hoat mengham dua orang tosu yang masih berdiri situ. Dia memberi hormat dan berk kepada mereka.

"Ji-wi To-tiang (Bapak Pendeta dua), kami mengucapkan terima k bahwa 3i-wi tidak ikut menyerang kam

"Siancai! Untuk apa kami menyer kalian? Kami tidak mempunyai uru pribadi dengan kalian." kata Im Y Tosu.

Kui Lin menggandeng tangan Han kini menghampiri dua orang tosu itu. Lin segera berkata, "Ji-wi adalah pende pendeta, sekarang tidak memusuhi ka akan tetapi mengapa 3i-wi memba pemberontak Chou Ban Heng? Kami y merasa diri sebagai para pendekar m bela pemerintah, akan tetapi meng wi malah membantu pengkhianat d pemberontak?"

Kanglam Sin-kiam Kwan ln Su men-wab. "Siapakah yang memberontak? Si->> pula yang membantu pengkhianat n pemberontak? Kami adalah orang-«mg setia kepada Kerajaan Chou dan mi bahkan menentang kekuasaan pem-rontak."

Mendengar jawaban ini, Si Han Lin kr r tarik dan segera menghampiri dan r- hadapan dengan dua orang tosu itu.

"Maaf, Ji-wi To-tiang. Saya merasa hrrtarik dan heran mendengar jawaban liidi. Maukah Ji-wi memberi penjelasan l'-ntang siapa yang menjadi pengkhianat il.m pemberontak menurut pendapat To-liang?»

Kini Im Yang Tosu yang menjawab. "Siancai, selalu terjadi hal seperti ini, [undangan seperti ini dari dua kelompok yang saling bertentangan. Pin-to (Aku) nhu, kalian para pendekar muda karena menganggap bahwa Chou Kuang Yin yang kini menjadi Kaisar Sung Tha. Cu itu benar, maka kalian, berpihak kepadanya dan membela Kerajaan Sung yang didirikannya! Kalian menganggap bahwa Pangeran Chou Ban Heng seorang khianat dan pemberontak!"

"Kenyataannya memang demiki Km Lin berkata dengan galak. "Dia dak membunuh Sribaginda Kaisar bermaksud merebut tahta kerajaan!"

"Itu pendapat kalian I Akan te pendapat kami lain sama sekali bah sebaliknya dari pendapat kalian. Pange Chou Ban Heng adalah seorang patr yang setia kepada Kerajaan Chou. Se~ orang tahu bahwa Chou K uang Yin i rebut tahta kerajaan Chou dan mend* kan Kerajaan Sung. Dialah yang menj pengkhianat dan pemberontak bagi Ker jaan Chou. Adapun Pangeran Chou B Heng adalah keturunan keluarga Keraj Chou yang setia dan berniat untuk m jatuhkan Kerajaan Sung dan memban kembali Kerajaan Chou. Karena ka menganggap dia benar, dan kami ju ingin memperlihatkan kesetiaan kep Kerajaan Chou yang dijatuhkan C Kuang Yin atau Kaisar Sung Thai maka kami membantu mendiang Pan ran Chou Ban Heng!" kata Kangl

ikiam Kwan In Su menggantikan ucap-sahabatnya.

Kui Lin hendak membantah lagi akan m, lalu Han Lin memberi hormat t ida dua orang tosu itu dan berkata. "Saya hargai pendapat Ji-wi To-tiang u karena pendapat itu memang tidak tpat disangkal kebenarannya kalau hati al pikiran kita terbebas dari keakuan »ng selalu memihak demi kesenangan n kepentingan diri pribadi. Kebenaran rang atau sepihak mungkin saja diundang sebagai yang tidak benar sama *< kali oleh orang atau pihak lain. Per- li daan ini timbul dari penilaian dan pe~ i ilaian biasanya dipengaruhi kepentingan iri sendiri. Yang menguntungkan diri iribadi tentu saja dianggap baik dan tM-nar, sebaliknya yang merugikan diri pribadi selalu dianggap tidak baik dan tidak benar.

Demikian pula dengan adanya bentrokan antara sisa pengikut Kerataan Chou dan pengikut Kerajaan Sung. Akan tetapi, kalau kita dapat menyisihkan keakuan yang selalu mementingkan diri sendiri itu, akan muncul kebijak an dapat melihat kenyataan. Melihat Jiwi Totiang, tentu Jiwi masih n akan keadaan pemerintah sebelum Ke jaan Sung berdiri. Lima Wangsa tic tenggelam dalam waktu singkat, kera* demi kera aan bangun dan jatuh karf terjadinya perebutan kekuasaan dan rang saudara. Juga tercatat dalam i an orang-orang tua betapa Kera Chou juga demikian, rapuh dan pemer tahannya dipenuhi orang-orang yang nt; jadi penguasa lalim, korup dan mempe kaya diri sendiri, bahkan memeras rak jelata. Lalu bandingkan dengan kebij sanaan pemerintah Kerajaan Sung ya sekarang! Tidak ada yang dapat meT ingkari akan kebijaksanaan Sribagi Kaisar Sung Thai Cu yang selalu i jauhi pertikaian dengan bersikap adil pemurah, juga bersikap adil dan ker terhadap pejabat yang menyeleweng * peraturan pemerintah. Karena itu kami mendukung dan membela Keraja Sung yang pemerintahannya mulai usaha sekuatnya untuk memerangi

inan dan menyejahterakan rakyat a. Kami para pendekar akan selalu 'i rubela kepentingan rakyat, bukan ke-tingah diri pribadi." Dua orang tosu itu memandang kagum, .uni berdua juga bukan orang-orang ung nekat tanpa mau melihat kekeliruan

)iii sendiri, orang muda yang bijaksana." > a Kwan In Su sambil memandang ka k'jm. "Setelah berada di gedung mendiang 'ungeran Chou Ban Heng, baru kami -tahui bahwa dia berjuang karena ambisi I» ibadi, ingin menjadi Kaisar dan dia juga mengundang tokoh-tokoh kangouw yang sesat untuk membantunya. Hal ini k.imi sadari, maka setelah usaha merebut kekuasaan itu gagal, kami tidak mau terlibat oleh permusuhan pribadi yang rl perlihatkan Tung-hai-tok tadi. Mulai rang, kami akan berhati-hati dan tidajk mudah dipengaruhi pihak yang mt-i uruti nafsu keinginan pribadi dengan berkedok perjuangan. Kami ingin tekun dalam pertapaan kami."

Dua orang tosu itu memberi salam lalu keduanya pergi dari tempat itu. Han Lin menghadapi Kui Lin dan Eng H sejenak memandang mereka bergant' lalu tersenyum. "Hemmm, bagus sekali kalian bekerja sama menghadapi serangan T hai-tok dan wanita baju putih yang li itu. Seandainya kalian tidak melaku' perjalanan bersama, tentu akan lain sudahannya."

"Akan tetapi kalau engkau tidak gera muncul menolong, kami berdua t tu tidak akan hidup saat ini." kata Eng Hoat.

"Bukan aku yang menolongmu at rajawali itu, melainkan Tuhan yang men atur sehingga aku dan Tiauw-ko (Ka* Rajawali) datang pada saatnya yang t pat. Bu Eng Hoat, aku juga berteri kasih atas perlindunganmu terhadap adi ku Kui Lin."

"Ah, aku tidak melindunginya, mungkin malah la yang melindungiku ata

kamj saling melindungi, begitulah kata Eng Hoat bingung karena dia me mang

tidak pandai bicara.

"Lin-ko, aku tidak melakukan pernan bersama dia!" kata Kui Lin. "Benar, Saudara Han Lin. Kami ha-.i kebetulan saja bertemu di sini." Kata ig Hoat membenarkan.

Han Lin tersenyum. Dia senang mevit adik angkatnya itu bergaul dengan j Eng Hoat yang gagah, ganteng dantan. "Ha-ha, ini artinya kalian sudah Hoh "

"Lin-ko !" Kui Lin menjerit sambil melotot kepada kakak angkatnya, mukanya merah padam. Eng Hoat juga terkejut dan menundukkan mukanya yang l>erubah kemerahan.

"Ha-ha-ha, dengarkan dulu omonganku il n jangan marah, dulu, anak manis!" kata Han Lin. "Omonganku tadi belum lesai sudah kau sambar begitu saja.

Posting Komentar