Si Rajawali Sakti Chapter 83

NIC

"Siapa menuduh sembarangan? Aku menuduh karena ada sebabnya. Ketika aku menuduhmu membunuh Menteri Liong, aku diutus Pangeran Chou Kuang Tian untuk menangkapmu. Tadi aku menuduh engkau mengintai karena memang ketika aku membasuh badan, tahu-tahu engkau muncul. Apalagi kalau bukan mengintai? Dan sekarang, kenyataannya engkau berada di sini menyusul aku, apakah itu bukan mengikuti dan membayangi namanya? Hayo jawab kalau bisa!" kata Kui Lin galak.

"Akan tetapi buktinya semua tuduhanmu itu kosong dan tidak benar, kenyataannya, dulu aku bukan pembunuh bahkan pembela Menteri Liong. Dan tadinya aku sama sekali bukan ingin mengintaimu, tetapi aku mendengar suara gemericik air dan aku ingin minum dan cuci muka. Juga aku tidak mengikuti karena aku memang meninggalkan kotaraja dan hendak mencari Suhu Thong Leng Losu yang kini berada di sana. Nah, semua dugaanmu itu kotor dan keliru, bukan? Kebetulan saja kita bertemu di sini dan terus terang saja aku senang dapat bertemu dengan engkau yang sudah kukenal sebagai seorang pendekar wanita sehaluan. Sayang begitu bertemu, engkau menyangka yang buka bukan!"

"Ooo, begitukah? Kalau benar begitu maafkan aku. Aku tadi membentak dan memakimu karena kaget. Siapa yang tidak kaget tiba-tiba melihat seorang laki-laki melotot memandang ke arah kakiku?"

Eng Hoat tersenyum. "Aku tidak sengaja memandang, akan tetapi ketika melihat engkau membasuh kakimu, hemm, harus kuakui bahwa aku belum pernah melihat kaki seputih dan sebagus itu. ketika engkau hendak membuka baju, aku cepat memutar tubuh membelakangimu. Aku bukan golongan laki-laki yang kurang ajar. Kui Lin, walaupun terus terang saja, aku aku kagum dan suka melihat kakimu

yang indah tadi."

Kini sepasang pipi Kui Lin yang ke-«T«ihan. Mendengar kakinya dipuji indah, |>4ilagi yang memuji itu seorang pende-nr yang ia tahu berwatak jujur dan ikan sekadar memuji untuk merayu, I i gadis mana yang tidak merasa bang-dan senang? Akan tetapi pada saat itu, terdengar tara gaduh dan muncul belasan orang ang dipimpin oleh tiga orang yang sudah i' ' eks kenal sebagai tokoh-tokoh kang-uw yang dulu membantu Pemberontak i hou Ban Heng. Mereka itu adalah Tung-t tok, ketua Tung-hai-pang yang kini diikuti lima belas orang sisa anggauta Turvg-ii..,i-pang yang tidak tewas dalam perang i« mberontakan. Dia ditemani pula oleh

Kangiam Sin-kiam K wan In Su yang n rupakan ahli pedang yang terkenal hingga mendapat julukan Kangiam kiam (Pedang Sakti dari Kangiam). To ini berusia kurang lebih enam puluh hun, bertubuh sedang dan mukanya . sih. Adapun orang ke dua yang mene Tung-hai-tok adalah I m Yang Tosu, deta To tokoh dari utara yang tadi juga mendukung Chou Ban Heng dan ik melarikan diri setelah pemberontakan it gagal.

Tung-hai-tok, kakek berusia ha tujuh puluh tahun yang tinggi besar be muka merah itu tertawa bergelak ket* melihat K lu Lin dan Eng Hoat. Dat sesat yang menjadi raja para penjahat di] sepanjang pantai timur ini senang seka "j apalagi melihat Kui Lin yang jelita. D memang seorang yang memiliki wat mata keranjang.

"Ha-ha<-heh-hefi. bagus sekail! 3' T tiang (Kedua Pendeta To), mereka i alah t dua orang dj antara para pe bantu Pangeran Chou Kuang Tian. Z ngan membunuh mereka, setidaknya ke

lahan kita yang lalu dapat terbalas!" "Siancai!" Im Yang Tosu berseru, o tidak mempunyai permusuhan pri-1 'i dengan mereka, Tung-hai Pang-cu. lau pin-to (aku) membantu Pangeran liou Ban Heng, hal itu adalah untuk gakkan kembali Kerajaan Chou. ' an tetapi usaha itu telah gagal, Pa-eran Chou Ban Heng telah tewas dan i pin- to, tidak ada permusuhan pribadi dengan siapa pun, juga dengan pe-" *da dan gadis ini!"

"Hemmm, Im Yang Tosu, engkau ti-ckik setia! Mari, Kangiam Sin-kiam, kita Jk rdua bunuh pemuda ini dan tangkap gadis jelita ini, aku ingin bersenang-v nan g dulu dengannya sebelum membunuhnya. Jangan pedulikan Im' Yang [Tosu yang tidak setia!" ajak Tung-hai-tok kepada Kwan In Su. Akan tetapi tosu i pun menggelengkan kepala. "Aku pun tidak me Keri permusuhan pribadi, apalagi membantumu yang mempunyai keinginan keji menuruti nafsu setan. Tidak, aku tidak mau membantumu." Tung-hai-tok marah sekali dan pada saat itu tampak bayangan putih berMfl bat dan di situ telah berdiri sed»1 wanita berpakaian serba putih, orang memandang penuh perhatian kari mereka tidak mengenal wanita itu. U«»< nya sekitar tiga puluh tahun, wajah' cantik berkulit putih, bentuk muk bulat. Namun kecantikannya ftu mci bayangkan kekerasan hati, mulutnya berbentuk indah itu selalu tampak sini seperti tersenyum mengejek dan sepas matanya tajam dan dingin galak.

Agaknya Tung-hai-tok mengenai nita cantik itu. "Hai, bukankah engk Pek Bian Ci, murid pertama dari Hwa Moh di puncak Ang-hwa-san (( nung Bunga Merah)?" Wanita itu dengan sikap dingin merl jawab. "Benar, Tung-hai Peng-cu (Keti Perkumpulan Laut Timur). Mengapa enj kau dan para anggauta Tung-hai- mengepung pemuda, gadis, dan dua oranjj tosu itu? Siapa mereka dan apa persoalannya?"

"Kebetulan sekali engkau datang, Pc Bian Ci. Engkau tentu telah mendengar Inpa perjuangan para pahlawanan un-i menegakkan kembali Kerajaan Chou l' K telah direbut oleh para pemberon-yang mendirikan Kerajaan Sung telah jal. Banyak kawan kami pera pahlawan bela Kerajaan Chou tewas. Pemuda >> gadis ini adalah dua di antara mere-yang mefrtbantu pengkhianat Chou " ng Yin, maka aku ingin membunuh «-reka untuk membalas dendam. Akan tapi dua orang tosu ini yang tadinya i< mbantu perjuangan sekarang berbalik lak mau membantuku membunuh peda dan gadis ini. Pek Bian Ci, mengikat akan persahabatanku dengan Hwa iwa Moh gurumu, kuharap engkau suka embantuku membunuh pemuda dan pdis yang membela pemberontak Chou tuang Yin ini."

Pek Bian Ci mengerutkan alisnya dan Umpak ragu-ragu. Akan tetapi Tung-i i-tok segera menyambung. "Pek Bian i r, bukankah gadis yang berjuluk Ang iwa Niocu itu juga datang dari Ang i wa-san dan merupakan murid Hwa Hwa Srtoli?"

"Ia adalah Lai Cu Yin, sumoi-ku seperguruanku). Di mana ia?" tanya Bian Ci. "Sumoi-mu? Ia pun tadinya memba kami akan tetapi ketika terjadi per ia sudah tewas juga." Tung-hai-tok bohong untuk memanaskan hati baju putih itu.

Pek Bian Ci tampak marah. "Kepar siapa berani membunuhnya? Hanya yang berhak membunuhnya!"

"Siapa lagi kalau bukan mereka-m ini yang membela pengkhianat C K uang Yin? Marilah kita bunuh mef untuk membalas dendam, Pek Bian Ci."

Mendengar ini, Pek Bian Ci lalu cabut pedangnya dan ia menghampiri Eng Hoat. "Biar kubunuh pemuda ja nam ini!" katanya dan tanpa banyak kap lagi ia sudah menyerang den dahsyatnya. Pedangnya meluncur menusuk ke arah dada Eng Hoat de jurus Sian-li-coan-ciam (Dewi Menusu kan Jarum). Gerakannya cepat dan dangnya menjadi sinar perak menyera dada lawan. Bu Eng Hoat sudah s'

V^v»^

«fran^lr..!" Pertemuan pedang to/l nSltlkan Derekan bunga api dan

begitu menangkis, «^^ajSte£ «Sah balas menyerang dengan jurus Liong ,^uwluat (Naga Masuk Gua Harimau). Dengan Toyanya. Dia menangkis dengajfl gerakan Sian- jin-sui-po (Dewa Menyama but Mustika).

"Tranggg !" Pertemuan pedang dai toya menimbulkan percikan bunga afl dan

begitu menangkis, ujung toya yaicM lain sudah balas menyerang dengan jurufl Liong-jip-houw-hiat (Naga Masuk Gvm Harimau). Toya itu dengan dahsyat sudahi menusuk ke arah perut Pek Dian Ci. Na-J mun dengan gerakan yang amat gesit! Pek Bian Ci sudah mengelak dan bala*! menyerang. Segera terjadi perkelahian I yang amat seru antara Pek Bian Ci dani Bg Eng Hoat. Pek Bian Ci adalah se-1 orang wanita pembenci pria, maka begitu! mendapat lawan seorang pria, denganl semangat berapi-api ia menyerang de-l ngan niat membunuhnya!

Sementara itu, melihat Pek Bian Ci sudah membantunya dan menyerang Bu Eng Hoat, Tung-hai-tok sambil tersenyun menghadapi Song Kui Lin. Dengan mulu cengar cengir dia berkata.

"Nona manis, apakah tidak lebih baik kalau engkau menyerah saja dan men- I" ti sahabatku? Sayang kalau sampai m< litmu yang halus itu terluka."

"Jahanam keparat tua bangka mau I»' mpus!" Kui Lin membentak marah Aambil melepaskan pedang yang dililit-an di pinggangnya sebagai sabuk. "Tutup lt< ulutmu yang busuk itu dan bersiaplah imtuk mampus!" Ia menggerakkan pedangnya yang Irmas itu. "Singgggg !" Pedang itu

ubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia memutarnya, kemudian sinar Itu mencuat dan menusuk ke arah dada Tung-hai-tok!

Tung-hai-tok sudah tahu akan kehebatan gadis ini, maka ia juga tidak berani memandang rendah. Kalau tadi dia mengharapkan untuk dapat menawan gadis ini dalah karena dia mengandalkan bantuan dua orang tosu itu. Akan tetapi ternyata Kwan In Su dan Im Yang Tosu tidak mau membantunya, maka karena dia hanva maju seorang diri, dia tidak berani memandang ringan dan segera mencabut sepasang pedangnya. Dia menangkis lalu memutar siangkiam(sepasang pedang) itu, membalas serangan Kui Lin dengan syat sehingga mereka lalu berta mati-matian.

Dua orang tosu itu tidak mau r bantu Tung-hai-tok, akan tetapi tidak mau membantu Kui Lin dan Hoat. Mereka tadinya membantu Pa ran Chou Ban Heng untuk memperj kan bangkitnya kembali Kerajaan C. Sekarang, perkelahian itu adalah uri yang sama sekali tidak menyangkut > juangan melainkan dendam pribadi. A lagi Tung-hai-tok mempunyai niat k terhadap gadis cantik itu. Mereka t ingin mencampuri dan hanya menonton

Perkelahian itu seru dan m ti-mat Akan tetapi setelah lewat tiga pt jurus, mulai tampak betapa Kui Lin repotan melawan Tung-hai-tok, dan t Hoat juga terdesak oleh Pek BianJ yang ternyata lihai bukan main. Keli an wanita itu tidaklah aneh kalau dun bahwa ia merupakan murid tersay dari Hwa Hwa Moli dan suci (kakak

rguruan) dari Ang-hwa Niocu Lai } Vin yang sudah kita kenal kelihaiannya!

Kwan In Su dan Im Yang Tosu hanya Imonton. Mereka tidak mau mencam-, i perkelahian itu karena merasa bah-i«i itu bukan urusan mereka dan tidak 'a sangkut pautnya dengan perjuangan.

an mereka merasa tidak enak dan Kiah siap untuk meninggalkan tempat u. Akan tetapi mereka terkejut men-Irngar suara melengking di angkasa dan pelihat seekor burung rajawali meluncur kurun dengan cepat. Di punggung rajawali Itu duduk seorang pemuda yang mereka .mal karena pemuda itu pernah membantu pemerintah Kerajaan Sung e i wan pemberontak. Karena hati mereka tarik, maka mereka tidak jadi pergi dan ingin melihat apa yang akan terjadi.

Yang datang adalah Si Han Lin dengan rajawalinya. Seperti diketahui, Si Man Lin dengan para pendekar muda lainnya menghadap Kaisar, diantar oleh Pangeran Chou Kuang T'an dan menolak pemberian kedudukan akan tetapi tidak mungkin menolak pemberian hadiah sekantung uang emas. Dia tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan selama dua hari dia berjalan-jalan dan gumi keadaan kota raja yang ramal serba mewah. Akan tetapi di san gedung-gedung besar dan megah, melihat kenyataan bahwa gubuk-kecil reyot lebih banyak jumlahnya mereka berada di perkampungan, sembunyi di belakang gedung-gedj megah itu. Dia melihat pula

toko-t yag dibanjiri pengunjung yang rata-berpakaian indah dan mewah, ada yang menunggang kereta. Namun ju mereka masih kalah jauh dibandin dengan mereka yang berpakaian hana, pakaian lusuh, bahkan banyak para pengemis berkeliaran di jalan r? mengharapkan dermaan dari para har wan yang kebanyakan lewat tanpa nengok seolah para pengemis itu t tampak oleh mereka.

Melihat perbedaan yang mend antara si kaya dan si miskin ini, h Han Lin menjadi terharu dan sedih, lalu menukarkan uang emasnya pemberf Kaisar kepada para pedagang besar un mendapatkan potongan uang yang le1 ll sehingga sekantung uang emas itu menjadi lima kantung uang dengan ngan yang lebih kecil. Malamnya, dia 11 berkeliling dan diam-diam, tanpa hu penghuninya, dia membagi-bagi * melemparkan potongan emas kecil ke i i gubuk mereka. Bagi para penduduk kin itu, sepotong emas kecil kiranya tip untuk makan sekeluarga beberapa I m lamanya!

Setelah uangnya habis, pada keesokan i ya Han Lin meninggalkan kota raja. tibanya di luar kota raja di waktu f>i, tiba-tiba terdengar suara yang amat i nalnya di udara. Dia menengadah dan inibirà sekali melihat rajawali terbang r* layang di udara. "Tiauw-ko !" Dia berseru sambil

engerahkan tenaga dalamnya sehingga nya dapat mengandung getaran kuat i*ng mencapai rajawali itu. Sang raja-

li mendengar dan sambil memekik

ng dia meluncur turun dan hinggap di las tanah di dekat Han Lin. Begitu

Posting Komentar