.1 tingkat kepandaian gadis itu, maka i memandang rendah dan merasa yakin iwa dalam beberapa jurus1 saja dia »n mampu mengalahkan gadis itu. Dia »1 h mendapat gagasan untuk menang-> Hui Lan hidup-hidup karena dia tahu ar bahwa Chou Kian Ki amat men-ta gadis itu dan «pemuda itu pasti n girang dan berterima kasih sekali danya kalau dia dapat menangkap «lis itu hidup-hidup dari diserahkan pada pemuda itu.
Maka begitu dia menghindar dari r ifjgan Hui Lan dengan lompatan ke lakang, dia menggunakan ilmu sihirnya, melontarkan pedangnya' ke atas menjadi knar kuning dan nui-kiam (pedang terung) itu meluncur dan menyerang ke nah kepala Hui Lan. Niatnya adalah i' embua.t gadis itu repot menangkisi M-rangan pedang terbangnya sehingga dia ii pat menggunakan kedua tangannya l«ntuk menotok dan menangkap gadis itu tanpa melukainya.
"Trang-trang-cringgg !M Tiga kali dang sinar hijau di tangan Hui Lan menangkis dan menghantam pedang bang itu sedemikian kuatnya sehl pedang itu akhirnya terpental dan baii kepada Hongsan Siansu! Ketua sanpai ini menjadi bengong, terkejut memandang terbelalak. Rasanya t mungkin! Baru beberapa bulan saja pandaian dan tenaga sakti gadis itu dah meningkat demikian hebat sehi bukan hanya mampu menangkis ped terbangnya, bahkan dapat membuat , kiam itu terbang kembali kepadanya! segera menangkap gagang pedangnya dengan marah dia menerjang ke ~ tidak ingat lagi untuk menangkap hi hidup gadis itu. Sekarang tujuannya nya satu, yakni membunuh gadis y merupakan lawan cukup berbahaya it Akan tetapi dia benar-benar kecehk. f angannya yang dahsyat dan gencar i iapat ditangkis dengan baik oleh H l.an, bahkan gadis itu pun dapat me ^alas dengan serangan yang cukup be vahaya. Mereka segera bertanding deng seru, saling serang dan biarpun Hui L masih kalah pengalaman dan kalah ti
liatnya, namun gadis itu melawan !»Krtr> gigih dan dapat bertahan walau- agak terdesak. , Song Kui Lin yang melihat Ang-hwa Jim u Lau Cu Yin tak dapat menahan u arahannya. Ia pernah bertanding me-nn gadis yang cantik dan galak ini, ka ia segera berseru mengejek. "Wah, ini nenek-nenek jelek dan jahat mcu! juga di sini. Nah, sekarang nona-u tidak akan melepaskanmu lagi. Ke-lamu yang jelek dan tua itu tentu m menggelinding putus!" Ang-hwa Niocu segera mengenal Kui Lin yang dulu mengaku berjuluk Hek | Lihiap. Biarpun gadis muda yang cantik Mil cukup lihai, namun dulu ia mampu mendesaknya dan kalau tidak ada Si Kan Lin yang amat lihai, tentu ia dapat mengalahkannya. Maka, kini mendengar rjekannya, ia hanya mampu berseru marah.
"Bocah setan, mampuslah!" Pedangnya yang mengeluarkan sinar merah Itu sudah menyerang dengan dahsyat. Kui Lin memutar pedangnya menangkis, pedang tipis yang biasa ia pakai sebagai sabuk. "Tranggg !" Bunga api berpijar keduanya segera
saling serang dengan mati-matian.
Bu Eng Hoat yang berada dekat Lin melihat pula Aog-hwa Niocu. dulu dikejarnya karena dia tahu jbe jahatnya iblis betina itu. Dia ingin membantu Kui Lin, akan tetapi baru saja memutar toyanya hendak membantu, Lin sudah berseru marah.
"Aku tidak butuh bantuan, cari lawan lain!"
Eog Hoat mengerutkan alisnya. En bagaimana, sejak pertemuan perfa hatinya amat tertarik kepada gadis yang lincah Jenaka dan galak namu cukup lihai itu. Dia sendiri berhati kerai akan tetapi terhadap Kui Lin dia tida dapat memperlihatkan kemarahannya wj laupun hatinya mendongkol mendenga teguran itu. Selagi dia meragu, tampa seorang kakek tinggi besar bermuka mc rah dengan kumis jenggot dan ramt masih hitam, mukanya persegi dan nRis.
"Heh-heh, orang muda, apa engkau i.ih bosan hidup dan mencari kemati-f Mari kuantar engkau ke alam baka!"
ck itu mencabut senjatanya siangkiam KKisang pedang). "Karena engkau membantu perriberon-dan berada di pihak yang jahat, eng lah yang akan mati!" kata Bu Eng Mt sambil maju menyerang dengan jngkatnya. Pemuda murid Thong Leng i>iu ini selain memiliki ilmu toya gaya 'ibet, juga memiliki tenaga yang kuat » hingga biarpun belum lama dia ber-Krcimpung dalam dunia persilatan, dia dikenal sebagai Sin-tung Tal-hlap (Pen-|il«'kar Tongkat Sakti) karena permainan i -ya atau tongkatnya yang luar biasa. Namun sekali ini Bu Eng Hoat bertemu tangan lawan yang amat tangguh karena ek muka merah itu adalah Tung-hai ITok (Racun Laut Timur) yang sakti! Dia [harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk dapat melindungi tubuhnya dan bertahan terhadap desakan lawan.
Di pihak pemberontak masih ada enam orang lagi yang lihai» yaitu Kwan In Im-yang Tosu, Kailon, Bantok M< Cuibeng Lokui, dan Boa Su Kok. Meti ini dikeroyok oleh para panglima perwira, dibantu para perajurit. tetapi mereka adalah orang-orang y amat lihai sehingga banyak per a j yang roboh ketika mengeroyok mer< Para panglima dan perwira juga sukar untuk dapat merobohkan e orang yang mengamuk itu.
Pertempuran Mu berlangsung seru mati-matian, terutama perkelahian an para tokoh yang mendukung pemberot... dan para pendekar muda yang memban Pangeran Chou K uang Tian. Pangeran i sendiri tidak ikut bertempur, hanya me atur pasukannya untuk membasmi p anak buah pemberontak dan dalam ini dia mulai berhasil mendesak p pemberontak. Banyak sudah anak pemberontak yang tewas dan terluka , kini sisanya mulai merasa gentar sehing ga bertempur tidak seganas tadi, bahka kurang semangat.
Perkelahian yang hebat terjadi antan Kj Kian Ki dar. Si Han Li. Kian Ki rasa penasaran bukan main karena imua serangannya selalu dapat dihindar y» Han Lin dengan tangkisan maupun ikan. Betapapun kuat dan cepat dia rnyerang dengan pedangnya, selalu it ditangkis dengan sama kuatnya dan akkan dengan sama cepatnya. "Hyaaahhhhh !" Kini dia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut-i>>a,
tangan kirinya dengan telapak ta M«n terbuka didorongkan ke arah Han Lin dengan mengerahkan seluruh tenaga «m-kangnya. Rupanya rasa penasaran dan I marah membuat Kian K i menyerang de [iigan niat mengakhir pertarungan itu. danai dia tahu benar bahwa pukulannya perti itu kalau bertemu dengan tenaga yang lebih kuat. dapat membuat tenaganya membalik dan akan melukai atau merusak isi dadanya!
Han Lili juga maklum akan serangan maut yang amat berbahaya itu. Dia melihat telapak tangan Chou Kian K i menjadi merah seperti berlumur darah. Dia teringat akan keterangan gurunya. Tha)
Kek Siansu, bahwa di antara pukulan-puj an jarak jauh yang ampuh dart rriema.i terdapat pukulan yang disebut Ang-b ciang (Tangan Merah Darah) dan pOk» itu kalau mengenai korban yang kurang naga saktinya, dapat membuat korban I tewas seketika! riahkan pukulan ini ka*r nya lebih jahat daripada Hek-tok-ciang ( ngan Racun Hitam) atau Pek-tok-C (Tangan Racun Putih), karena kalaG' pukulan itu membuat orang terluka dan lau diikhtiarkan masih ada obafpenawa nya sebaliknya Ang-jifak-cianjj mem korban tewas seketika dan tidak disembuhkan lagi.
Han Lin segera menenggelamkan di dalam penyerahan kepada Thian Ya' Maha Kuasa, menyimpan semua peria* dan yang mengalir dari tangan klriny hanyalah hawa murni yang Adi Kodrati yang timbul dari jiwa manusia yang ber serah diri dan terbimbing sepenuhny oleh Kekuasaan Tuhan. Dia menjulurk telapak tangan kirinya untuk menyambu pukulan lawan.
"Wuuttt wesss !!* Kian Ki terke"
W inya, yang kuat jitu bertemu dengan i yang lunak dan lentur, membuat an kirinya .terpental dan dia sendiri /Wong dan terhuyung ke belakang Itipai enam langkahi Dia bernapas panji dap merasa lega karena tidak men- ita luka. Dia pun maklum bahwa talinya ini benar-benar tangguh. Dia «us bertanding mati-matian melawan Si )n Lin.
"Engkau atau aku yang mati di sini!!" a membentak dan hendak menerjang I»-
"Sayang sekali kalau engkau membuat knazah ayahmu terlantar tidak ada yang Ktcngurusnya dengan baik," kata Han Lin t mang. Tiba-tiba Kian Ki teringat akan Irnazah ayahnya yang dia tinggalkan di l"wah pohon besar. Kalau dia bertanding timpai napas terakhir dan mati di situ, bukan saja jenazah ayahnya tidak ada yang mengurus dengan semestinya, bahkan siapa yang akan membalaskan dendam sakit hati ayahnya? Teringat akan Ini Kian Ki mengeluarkan pekik melengking dan dia lalu melompat jauh melampaui kepala para perajurit yang bertempur dan menghampiri mayat a nya, dipanggulnya dan dibawanya meninggalkan tempat itu sambil nangis! Han Lin tidak mau mengejar cepat dia membantu para panglima terdesak hebat oleh enam orang I yang mengamuk dan membunuhi ban perajurit. Pertama-tama dia menyerbu arah Cuibeng Lokui yang bersama Ban Moko merupakan dua orang golong sesat yang membantu pemberontak yang paling kejam membunuhi para pe jurit. Begitu dia menyerbu, Cuibeng Loku terkejut dan segera mengenal Han Li yang pernah membuat dia kewalahan da melarikan diri ketika dia ikut murid muridnya menyerbu rumah Nyonya Kak, ibu Song Kui Lin, di Ctn-an. buah tamparan dari Han Lin yang di tangkisnya membuat tubuhnya terhuyun ke belakang. Kakek tinggi besar muk codet yang berpedang biru ini menja semakin gentar dan ini membuat gerakan nya kacau dan ketika tiga orang pangmenyerangnya, dia hanya mampu »«i gkis dua batang pedang. Pedang panglima ke tiga mengenai lehernya Cui-beng Lo-kui roboh mandi darah tewas.
h.mtok Moko yang sedang mengamuk an tongkat ularnya yang beracun, iibur)uhi banyak perajurit, tiba-tiba lihat bayangan putih berkelebat dan ikat ularnya disambar sinar putih. "Crakkk. !!" Tongkat ularnya ter-Hong menjadi dua! Dia
terkejut dan mpir tidak percaya. Tongkat saktinya og mampu menandingi segala macam ljata pusaka itu demikian mudah pa-.>., hanya sekali bertemu dengan pedang rsinar putih. Ketika dia melihat siapa ng menangkis dan membikin patah, dia kejut bukan main. Dia segera menge-I pemuda yang dulu bersama seekor rung rajawali telah membuat dia dan Murid serta anak buahnya lari ketika vereka menangkap Ong Hui Lan! Hatinya enjadi gentar sekali dan keadaannya itu Atembuat dia tidak mampu menghindarkan diri ketika empat orang perwira,
menyerangnya dengan berbareng. Se tombak menembus dari punggung ke danya dan dia pun roboh dan tewas ketikal
Han Lin segera membantu para wira lain dan kini pihak ,pembe menjadi semakin kacau.
Sementara itu, Hui Lan yang me Hongsan Siansu terdesak hebat, demi pula Liu Cin yang melawan Thong Lama juga kewalahan. Hui Lan cerdik lalu sengaja menggeser diri dekati Liu Cin, dikejar oleh Hon Siansu. Setelah dekat, tiba-tiba Hui berseru.
Thian-te Im-yang!" Tiba-tiba la lompat dan menyerang Thong Thian ma dan Liu Cin yang segera maklum yang dikehendaki Hui Lan juga melom dan berbalik menyerang Hongsan Sian Dua orang kakek sakti itu terkejut ! tika tahu-tahu mereka telah berga lawan dan mulailah Liu Cin dan Hui La bersama-sama memainkan Ilmu Thian* te Im- yang Sin-kunl Tubuh mereka sel olah dikendalikan satu pikiran, berger Ml ketika merasakan betapa tenaganya i kuat itu bertemu dengan hawa yang tk dan lentur, membuat tangan kirinya kental dan dia sendiri terdorong dan Buyung ke belakang sampai enam langit Dia bernapas panjang dan merasa L karena tidak menderita luka. Dia \r> i aklum bahwa lawannya mi benar-wir tangguh. Dia harus bertanding Lu matian melawan Si Han Lin. pnp teriang karena gerakan gadis dan imuda yang berselang-seling itu sungguh pmbuat mereka bingung.
Tiba-tiba Hui Lan memindahkan pe-kngnya ke tangan kiri, kemudian ia rentangkan tangan kanan yang disam-|rt oleh tangan kiri Liu Cin. Keduanya gerahkan tenaga sakti seperti yang
r
eka pelajar i dari kitab Thian-te Im-g Sin-kun, dua aliran hawa Im dan ong kini saling tunjang dan disalurkan r arah pedang di tangan mereka. Kemu-lan. mereka menerjang maju bersama ke «ah Thong Thian Lama. Pendeta Lama ¿1 terkejut, cepat dia memutar tasbilv a dari baja hitam. Tasbih menjadi gulungan sinar merupakan perisai nangkis tusukan pedang Hui Lan totokan tongkat pendek di tangan Cin yang sudah menyelipkan tc kirinya ke Ikat pinggang.
"Blarrrrr ?" Tasbih itu putus ut annya dan biji-biji tasbih itu jatuh tebaran di atas
tanah. Sebelum 1 Thian Lama dapat mengatasi kaget pedang Hui Lan sudah menyambar ngan tenaga gabungan yang amat menusuk ke arah dada pendeta itu. "Cappp !H Pedang itu menusuk v dan ketika dicabut kembali, tubuh per ta Lama
itu terkulai roboh. Hong* Siansu marah sekali dan sambil meng luarkan teriakan nyaring, pedangnya ; bersinar kuning menyambar ke arah Lan sementara tangan kirinya m«;nggi kan Thai-lek-jiu (Tangan Halilintar/ mukut ke arah Liu Cin! Sungguh meri kan serangan sekaligus kepada dua < yang bergandeng tangan itu secara syat sekali.
Akan tetapi Hui Lan dan Liu Cl
HhK masih bergandeng tangan dan mengabungkan tenaga mereka, tidak takut
^biyambut serangan itu. Hui Lan meng-^Hinkan pedang di tangan kirinya untuk
^biangkis pedang Hongsan Siansu se-^bgkan pukulan Thai-lek-jiu itu disam-b.t tangkisan tongkat pendek yang dialiri naga sakti gabungan yang amat kuat. "Krekkk..... desss Hn Pedang kuning M< tangan Hongsan Siansu menjadi patah
Mm ketika pukulan halilintar tangan kiri-bva bertemu tongkat, tangannya Itu terbantai, diikuti tubuhnya terjengkang dan i« banting keras sekali. Wajah Hongsan piansu menjadi kebiruan dan dia tewas ►«ketika karena tenaga sakti yang me iigandung hawa beracun dalam Thai-Iek )iu tadi membalik dan menyerang jantungnya sendiri sehingga dia tewas se-ketikal