Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 93

NIC

"Samwi Toako," ujar In-tiong yan, "aku ingin merundingkan suatu urusan dengan kalian."

"Urusan apa?" tanya Nyo Su gi.

"Pertempuran kalian cukup ramai dan sengit, akupun senang menonton tapi akhirnya aku menjadi kegatalan. Maka siIahkan kalian istirahat sebentar biarlah akupun menjajal dan bermain beberapa gebrak. Ingin aku mohon petunjuk dengan si elang hitam yang kenamaan di Kangouw ini."

Baru sekarang Nyo Su-gi berlega hati bahwa ternyata orang membantu pada pihaknya karena mereka senang tapi juga dirundung rasa heran, dalam hati sama membatin: "Coba kulihat cara bagaimana Lian Tinsan menghadapinya!" maka merekapun tidak bersuara lagi dan mundur kepinggir.

"Nona," seru Lian Tinsan, "Kenapa bicaramu plintat plintut tidak bisa dipercaya?"

"Dalam hal apa aku tidak menepati janji?" tanya In-tiong-yan.

Kata Lian Tinsan, "Tadi kau katakan kau dengan pihak Ceng-liong-pang tak ada sangkut paut apa-apa, kenapa kau sekarang hendak bantu mereka mencari permusuhan dengan aku?"

"Memang aku tidak kenal dengan mereka," demikian sahut In-tiong-yan, "Tapi aku toh juga tidak kenal dengan kau! Apakah kau dapat menyebutkan nama dan she ku?"

"Bukankah tadi kau mengatakan cuma menonton dan berpeluk tangan saja?"

"Tadi aku cuma mengatakan, asal kalian tidak sampai melibatkan diriku, aku tidak akan menghalangi tugas kalian. Kan tidak pernah aku mengatakan menonton berpeluk tangan?"

Lian Tin-san berpikir, memang dia tak pernah mengatakan cara demikian, hanya dirinya yang beranggapan demikian, maka berkerut alisnya katanya: "Apa pula bedanya?"

"Sudah tentu berbeda sangat jauh," ujar In tiong yan tertawa, "Pertama. Orang orangmu pernah berbuat kurang ajar terhadap aku memang kau sudah minta ampun dan akupun sudah menghukum mereka, tapi aku toh tidak melulusi untuk menarik panjang urusan ini, demikian juga rasa dongkolku belum lagi terlampias. Kedua. Aku hanya ingin jajal kepandaianmu, bukan sengaja mau merintangi urusan tugasmu. Bila kau dapat kalahkan aku silahkan nanti kalian lanjutkan pertempuran, aku tidak perduli, bila kau tidak mampu kalahkan aku paling banyak cara tiga lima puluh jurus saja, tidak akan menghambat pekerjaanmu!"

Lian Tin-san menjadi berang, pikirnya: "Kalau musuh kuat tidak kuhadapi mana bisa kubiarkan budak busuk macam kau bertingkah dihadapannya?" Meski hatinya marah sebetulnya ia tak berani bertempur lagi lawan In-tiong-yan sebanyak tiga lima puluh jurus soalnya ia sendiri tahu tenaganya sudah banyak terkuras, seumpama dia dapat mengalahkan In-tiong-yan, gebrak selanjutnya pasti tak mampu melawan Su tay-kim-kong dari Ceng liong pang itu.

Mendadak tergerak hati Lian Tin-san segera ia kendalikan kemarahan hatinya, tertawa tak tertawa mulutnya terbahak bahak, ujarnya: "Kau sangka aku tak tahu asal usulmu, marilah kita bertaruh saja."

In tiong-yan melengak, tanyanya, "Bertaruh bagaimana?"

"Kita batasi lima jurus saja. Dalam lima jurus ini aku pasti dapat rnengetahui asal usulmu!"

"Bila kau tidak tahu bagaimana?"

"Kami guru dan murid segera menghindarkan diri perkara itu pun tak perlu kita urus lagi. Tapi kalau aku bisa menyebutkan asal usulmu, kau tak boleh ikut campur dalam hal ini." Ternyata Lian Tin-san memang banyak pengalaman dan luas pengetahuannya sekali pandang lantas ia tahu dari aliran mana permainan silat orang, ia membatasi lima jurus, menurut dugaannya sudah cukup berkelebihan.

"Baik,'' sahut In-tiong-yan, "Jadilah taruhan ini, tapi kali ini aku harus menggunakan senjata lho?"

"Sret" ia lolos pedangnya.

"Nanti dulu!" seru Lian Tin san.

"Apa pula yang perlu kau katakan?"

"Para sahabat dari Ceng Liong-pang, muridku berhantam satu lawan satu dengan saudara kalian dia masih terhitung Siaupweku, harap kalian menepati aturan Kangouw jangan menggunakan kesempatan ini main kerubut terhadap muridku itu!"

Nyo Su gi menjadi gusar, dampratnya, "Kau terlalu menghina orang! Kami berempat masa sudi mengerubut muridmu yang bagus ini? Baiklah kalau hatimu takut, perlu kami tegaskan lebih dulu, bila kau terkalahkan oleh Lihiap ini kami pun tak akan turun tangan lagi mengambil keuntungan."

In tiong yan tertawa geli, ujarnya, "Wah kalian terlalu mengagulkan aku kalau begitu." Lalu ia berpaling kepada Lian Tin san serta sambungnya tertawa, "Nah ketiga belah pihak sudah sama aku. Awas, hati hatilah kau, aku hendak mulai. Nih jurus pertama."

"Sret", tahu ujung pedangnya sudah masuk kedepan, ujung pedangnya bergetar memancarkan tabir sinar pedang yang tajam, cara dan gaya tusukannya sangat aneh dan hebat, Lian Tinsan terkejut, "Ilmu pedang dari aliran manakah ini?" meski ia berhasil memunahkan jurus serangan ini, tapi dia tak bisa menebak asal usul ilmu pedang lawan.

Kiranya pelajaran ilmu pedang In tiong yan hasil dari bibinya yaitu puteri Minghui. Ilmu pedang pelajaran Minghui ini hasil dari pelajaran Ting-hui Sinni. Ilmu pedang dari aliran agama Ting hui Sinni ini selamanya belum pernah muncul di kalangan Kangouw, mana mungkin Lian Tinsan bisa tahu asal usulnya?

Sementara itu secepat kilat jurus kedua dari serangan In tiong yan sudah menyusul tiba. Jurus kedua ini justru ia ubah dari pu kulan Bik-lek ciang kepandaian khusus Hong thian lui itu pada jurus ilmu pedangnya. Pernah beberapa kali ia bergebrak dengan Hong-thian lui, waktu berada di Hou keh-ceng ia sering pula menemani dan mengobrol soal ilmu silat dengan Hong-thian lui maka ia dapat mengombinasikan ilmu pukulan Bi lekciang pada permainan jurus pedangnya. Jurus gubahan dari ilmu pukulan menjadi jurus tipu pedang meski hanya mendapatkan gayanya saja dan belum memperoleh intisarinya namun demikian sudah dapat mengelabui mata seorang ahli macam si Elang hitam Lian Tinsan.

Benar juga Lian Tin san kena terjebak kontan ia menjerit tanpa banyak pikir, "Jurus ketiga dan selanjutnya tidak perlu dilancarkan lagi. Aku sudah tahu asal usulmu!"

"Baik, coba kau terangkan sejelasnya, bagaimana asal usulku!"

Dengan bangga dan membusungkan dada Lian Tin san berkata, "Kau orang she Cin bukan? Bi lekciang Cin Hou-siau itu ayahmu atau gurumu?" Sebenarnya nama Cin Hou-siau memang cukup tenar dan cemerlang tapi diwaktu usianya menanjak ia lantas mengundurkan diri jarang kelana di Kangouw, orang yang pernah melihatnya juga cuma sedikit saja, apalagi orang yang mengetahui seluk beluk keluarganya lebih jarang pula Lian Tin san hanya tahu bahwa beliau adalah seorang tokoh lihay dalam bidang pukulan Bi ciang tapi tidak tahu sebetulnya orang punya berapa putera dan puteri. Melihat In tiong-yan dapat mengubah pukulan Bilek-ciang kedalam permainan ilmu pedangnya ia merasa bukan saja sebagai murid mungkin genduk ini adalah putrinya Cin Hou-siau.

Terdengar In-tiong-yan terloroh loroh serunya: "Cin Hou-siau nama ini memang pernah kudengar, tapi belum pernah melihat atau bertemu. Entah kau punya dendam permusuhan apakah dengan dia kenapa begitu kejinya kau menyumpahinya?"

Lian Tinsan melengak tanyanya: "Siapa bilang aku menyumpahinya?"

"Ayahku sudah lama mati tadi kau katakan beliau adalah ayahku, bukankah kau menyumpahinya supaya lekas mati?"

Terdengar Nyo Sugi menyela dengan suara datar dan tawar: "Kiranya si Elang hitam yang bernama besar dan tenar itu berpandangan begitu cupat! Biar kuberi tahu pada kau, Cin Hou siau Lunghiong cuma punya seorang putra sedang putrinya masih belum lagi lahir! Memang dikampung halamannya beliau membuka Bu-koan (perguruan silat) ada beberapa banyak murid muridnya. Tapi selamanya tidak menerima murid perempuan. Apakah soal yang seperti ini tidak kau ketahui?''

Tiada pernah terjadi dalam kolong langit ini bila orang tuanya masih hidup, putra atau putrinya berani mengatakan beliau sudah mati. Maka seumpama Lian Tin san tidak percaya pada keterangan Nyo Sugi, tidak bisa tidak ia harus percaya akan ucapan In-tiong-yan. Mau tidak mau ia harus memeras otak berpikir kembali, waktu In-tiong yan melancarkan jurus kedua tadi, meski seperti galian dari Bi-lek ciang, tapi tidak dilandasi macam pukulan Bi lek ciang yang perlu menggunakan tenaga dalam yang ampuh, maka dapatlah dikata cuma persis kulitnya saja. "Celaka sedikit kelalaianku, aku masuk jebakan genduk licik ini.'' bahwasanya Lian Tin san belum terkalahkan dalam permainan jurus, tapi sudah kalah muka keruan merah padam selebar mukanya.

In tiong yan menggoda tertawa, "Tebakanmu tiada punya dasar dan kurang disitu, sudah mengaku kalah saja?"

"Kau baru bermain dua jurus, kan masih ada sisa tiga jurus lagi," demikian ujar Lian Tin san menebalkan muka, karena kehilangan muka dan harga diri, pada bicaranya tidak berani keras-keras dan ketus lagi.

"Baiklah,'' ujar In-tiong yan, "Perhatikan baik baik. Jurus ketiga dimulai!"

Seiring dengan peringatan ''sreet" kembali ujung pedangnya sudah nyelonong ke-depan. Lekas lekas Lian Tinsan mengebutkan lengan bajunya untuk menyampok ujung pedang, In-tiong-yan mendadak putar balik sebaliknya gagang pedang menyodok kedepan maka terdengarlah suara cras kontan In tiong yan tergentak mundur tiga langkah, sebaliknya ikat pinggang LianTin-san kena tersodok putus.

Seketika berubah air muka Lian Tin-san katanya: "Apa sebutanmu terhadap Liong-siang Hoat ong? Apa hubunganmu dengan Cohaptoh ?"

Posting Komentar