Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 110

NIC

"Coba kau mainkan biar Suhu menilainya."

Setelah dia mainkan selintas permainan Ngo-hou-toan Bun-to hoat itu, Bu-lim thian-kiau tersenyum lebar sambil mengelus jenggotnya katanya : "Kecuali dua tiga gerak perubahan yang belum kau latih dengan sempurna, permainanmu sudah cukup baik. Nah ajarkanlah Ngohou-toan Bun-to-hoat ini kepada orang ketiga dari Su-tay-kim-kong yang bernama Lo Hou-wi itu."

"Apa ?" gadis baju hitam menjerit geli dan terkikih-kikih katanya : "Aku sendiri toh belum tamat belajar sama kau, mana bisa menerima murid ?"

"Dengarkan penjelasanku," demikian ujar Bu-lim-thian-kiau. "Ayah Lo Hou-wi adalah murid seorang guru silat dari Ciang ciu yang dikenal sebagai Tobusu. Ngo hou-toan bun to itu sebetulnya adalah ilmu golok dari warisan leluhur keluarga Toh itu, sayang sudah lama sekali putus turunan. Toh Busu tidak memperoleh ajaran murni dari ilmu golok leluhurnya yang hilang itu, selama hidup ia amat menyesal dan merasa diri dia tidak punya anak, hanya seorang murid she Lo itu, sebelum ajal ia ada berpesan kepada muridnya supaya mewarisi cita citanya melanjutkan pencariannya terhadap ajaran golok peninggalan leluhur yang hilang itu."

Baru sekarang ia paham seluruhnya, katanya, "Kukira ayah Lo Hou wi juga tidak berhasil menemukan ajaran ilmu golok yang sudah putus turunan itu bukan?"

Bulim thian kiau manggut manggut katanya: "Kau memang pintar tebakanmu tidak salah, ajaran ilmu golok itu setelah ia meninggal secara tak sengaja aku dapat menemukannya didalam koleksi buku buku rahasia pelajaran silat seorang Cianpwe. Maka kuminta kau mengajarkan ilmu golok itu kepada putranya. Letak rumah keluarga Lo berada disebuah kampung di Siok cio."

Setelah Bulim thian kiau menjelaskan alamat Lo Hou wi kepada putrinya ia berkata lebih lanjut, "Menurut apa yang kuketahui didalam Ceng liong pang tenaga Lo Hou wi amat dihargai merupakan pembantu yang amat dipercaya. Kabarnya sekarang dia mendapat tugas keluar mungkin sedang berada di Tay toh. Tay toh tidak jauh dari Siok ciu setelah tugasnya selesai di Tay toh mungkin dia akan mampir pulang ke kampung halamannya. Inilah kesempatan paling baik bagi kau untuk menurunkan ilmu golok itu disana. Seperti kau sejak kecil Lo Hou-wi pun sejak kecil sudah ditinggal mati ayahnya punya seorang guru lain. Bahwa pelajaran ilmu golok keluarga Toh yang putus turunan itu bisa dia memainkan dengan baik kalau diketahui orang kemungkinan sekali mereka dapat menimbulkan keributan. Maka kau harus wakili aku berpesan wanti wanti kepadanya supaya jangan sembarangan dipertontonkan dihadapan sembarang orang. Kelak kalau saatnya sudah tiba akan kupersiapkan suatu pertemuan besar mengundang para Ciangbun dari berbagai golongan menjelaskan duduknya perkara, tatkala itu barulah diangkat secara resmi supaya ia menjadi Ciangbun dari aliran Ngo hou to sudah tentu kaupun harus menganjurkan ilmu golok ini secara rahasia kepadanya.

Sesuai menurut pesan gurunya memang di rumah keluarga Lo di Siok ciu itu ia menemukan Lo Hou wi, itulah kejadian satu tahun yang lalu, teringat akan pengalamannya yang dulu itu sampai sekarang ia masih tertawa geli.

Semula Lo Hou wi tidak mau percaya akan omongannya malah anggap orang sengaja hendak mempermainkan dirinya. Setelah dia menggunakan Ngo hou toan bun to mengalahkannya barulah dia terima kalah lahir bathin malah begitu tinggi rasa hormatnya sehingga ia hendak berlutut angkat guru kepadanya. Dikatakan orang sudah melaksanakan cita cita ayahnya meski hanya wakil mengajarkan ilmu golok itu kepadanya tapi boleh dianggap sebagai guru juga. Sudah tentu tidak mau menerima setelah mengeringkan lidahnya barulah ia berhasil membujuk dan mengikat persahabatan sebagai teman setingkatan.

Teringat kepadanya Lo Hou wi seketika terkulum senyum geli pada wajah gadis baju hitam pikirnya: "Benar benar seorang pemuda yang polos jujur dan lugu, kabarnya diapun pandai melaksanakan tugasnya. Ha, menggelikan benar kalau dia menjadi muridku, memang sebetulnya aku mengharap punya seorang abang besar seperti dia itu. Usianya lebih tua empat tahun, hem, kebetulan sebaya dengan Geng Tian."

Teringat akan Geng Tian, gadis baju hitam itu merasa rikuh dan sungkan tapi rikuh dan sungkan terhadap Lo Hou wi. Ternyata mewakili gurunya gadis baju hitam mengajarkan ilmu golok kepada Lo Hou wi dan menetap dirumahnya selama setengah bulan, selama itu mereka selalu gaul bersama, sejak mula Lo Hou wi menghormatinya, patuh akan segala petunjuknya belum pernah terjadi suatu perbuatan yang tidak senonoh namun gadis baju hitam itu sendiri merasakan bahwa diam diam Lo Hou wi telah menaruh hati kepadanya. Perasaan yang aneh ini tidak usah diucapkan dengan kata kata. Setiap lirikan dan senyuman, sebuah kata kata yang diucapkan tanpa sengaja dapatlah menggetarkan sanubari seorang gadis yang tajam perasaannya.

"Mungkin Geng Tian belum tahu bahwa didunia ini terhadap seorang Nyo Wan ceng macam aku ini. Tapi ikatan jodoh dengan menunding perut entah sudah dia ketahui belum? Cara bagaimana aku harus membuka mulut bicara dengannya?"

Terpikir pula oleh Nyo Wan ceng, "Setelah Lo Hou wi bertemu dengan dia entah menyinggung tentang diriku tidak? Meski dia pernah dipesan supaya tidak membocorkan soal pelajaran ilmu goloknya itu tapi hubungan Geng Tian dengan mereka bukanlah sembarang hubungan, dia adalah majikan muda mereka. Sayang sebelum ini aku belum tahu akan asal usul Liong-pangcu dari Ceng liong pang, kalau tidak perlu aku menghadapi Geng Tian sendiri dengan sikap yang kikuk dan malu malu."

Sepanjang jalan pikirannya timbul tenggelam tanpa terasa ia sudah menempuh puluhan li jauhnya. Tiba-tiba didengarnya dentingan beradunya senjata dari arah depan sana, "eh siapakah yang bertempur disiang hari bolong ?" karena ingin tahu segera ia keprak tunggangannya menyusul kedepan untuk melihat dari dekat.

Setelah dekat dilihatnya dua orang perwira sedang mengerubuti laki-laki pertengahan umur yang memelihara jenggot kambing. Kedua perwira itu adalah dua orang militer yang melarikan tunggangannya seperti mengejar angin waktu tadi ia turun gunung. Seorang menggunakan Hou thau hou (gaitan kepala harimau) seorang lain bersenjatakan golok panjang yang melengkung, ilmu silat mereka agaknya tidak lemah.

Nyo Wan ceng amat kaget teriaknya : "Paman Toh."

Melihat kedatangannya sungguh laki laki pertengahan umur itu amat girang, iapun berteriak, "Nona Nyo, sungguh kebetulan kedatanganmu itu."

Sebelum ucapan orang itu selesai diucapkan Nyo Wan ceng sudah melayang turun dari punggung tunggangannya dan memburu datang, teriaknya pula : "Baik Toh sioksiok, kau mundurlah istirahat, biar kuwakili mengajar adat kedua cakar alap alap ini."

Ternyata laki laki berjenggot kambing ini bukan lain adalah seorang Toa thau-bak dari Kim ki-nio yang bernama To Hok, waktu itu badannya sudah terluka ditiga tempat, sebentar lagi terang tidak akan kuat bertahan.

Melihat gadis remaja nan ayu itu bagai bidadari dan mendatangi perwira yang bergaman golok melengkung itu tidak tega turun tangan bentaknya: "Apa kau cari mampus ? Lekas menyingkir saja."

Bicara lambat kejadian justru berlangsung amat cepatnya tahu-tahu Nyo Wan ceng sudah menyerbu tiba dengan menyilangkan kedua tangannya, dia melancarkan Khong-jiu ji-pek-to (bertangan kosong merebut senjata lawan). Adalah perwira yang menggunakan gantolan kepala harimau itu segera berteriak kejut, "Awas ! Dia Siau-moli !"

Belum lenyap suaranya, terdengarlah, "Trang" golok si perwira itu dengan membacok kearah lengannya Nyo Wan-ceng. Si perwira menyangka dengan bacokan yang telak itu, lengan Nyo Wan-ceng terang tertabas putus, baru saja hatinya mengeluh : "Sayang !! Kasihan!" Tak nyana mendadak ia mendengar suara "Traang" pula, karuan dia kaget dibuatnya.

Ternyata bacokannya ia sedikitpun tidak melukai kulit lengan Nyo Wan ceng, goloknya tepat sekali mengenai gelang perak yang melingkar dilengannya itu, meninjau tenaga bacokan lawan yang keras kuat ini, Nyo Wan-ceng mencelat mundur satu tombak, gelang perak itu sudah ditariknya memanjang menjadi seutas cambuk lembut, disaat hati perwira itu belum lagi tenang, ujung cambuk peraknya itu sudah berhasil menggubat golok melengkung lawan.

Ternyata melihat kepandaian silat kedua perwira ini tidak lemah, maka ia berkeputusan untuk bertindak cepat secara kilat mengakhiri pertempuran, apalagi dilihatnya Toh Hok sudah terluka maka ia menggunakan permainannya yang aneh untuk mengalahkan kedua musuhnya.

Perwira yang bersenjatakan Hou-thau-kau segera menubruk datang berusaha menolong temannya, Nyo Wan-ceng tertawa serunya : "Nih, kuberikan kepada kau !" Cambuk peraknya terayun, golok melengkung yang digubatnya melayang dan kebetulan ujung cambuk menggubat gagang golok sehingga tajam golok yang berkilauan itu memapak kearah leher lawan.

Kapan si perwira pernah melihat permainan yang aneh dan menakjubkan ini saking kaget ia menjadi gugup dan tersipu-sipu, tapi kepandaian silatnya yang cukup baik dalam keadaan gugupnya itu, lekas ia gunakan Ki hwe-liau-thian (mengacungkan obor menerangi langit) dimana ujung kepala harimaunya yang merupakan gantolan itu mengait dan ditarik, tepat sekali mengait ujung golok melengkung, serta menariknya kebawah, tapi cambuk perak Nyo Wan-ceng yang lemas itu dapat bergerak segesit belut dan setangkas ular sakti, kalau golok itu kena digaet jatuh, ujung cambuk itu tiba-tiba mulur kedepan dan berhasil menggubat lehernya. "Li enghiong am .... ampun !" belum lagi kata-kata 'ampunnya' sempat diucapkan napasnya sudah berhenti dan putuslah jiwanya.

"Tinggalkan jiwanya!" seru Toh Hok mencegah. "Ai . . . sayang."

"Kan masih ada seorang yang masih hidup, paman Tok Hok tidak usah kuatir."

Adalah perwira yang bergaman golok melengkung ini adalah ternyata seorang yang tabah dan keras kepala, tahu bahwa bukan tandingan Nyo Wan-ceng, ia jemput golok melengkungnya itu terus digorokkan keleher sendiri.

Sudah tentu nona Nyo tidak membiarkan orang bunuh diri. 'Tar' begitu cambuknya terayun berhasil ia menggulung jatuh golok melengkung itu, sekali ia menggentak lagi, cambuknya berhasil menutuk Hiat-tonya, katanya : "Aku hanya suka membunuh orang yang takut mati, kau tidak seperti temanmu takut mati, aku jadi tidak tega membunuhmu malah !"

"Nona Nyo," ujar Toh Hok tertawa. "Baru satu tahun berpisah kepandaianmu lebih maju lagi. Apa gurumu baik-baik ?"

"Baik paman Toh, bagaimana luka-lukamu, mari biar kububuhi obat."

"Luka seringan ini tidak menjadi soal, terlambat sedikit dibubuhi obat tidak menjadi halangan," demikian kata Toh Hok, lalu ia jinjing perwira yang tertutuk Hiat-tonya kedalam hutan, segera ia mengompres keterangannya : "Kau diutus oleh Wanyen Tiang-ci bukan? Kemana ? Untuk tugas apa ? Bicaralah terus terang !"

Perwira itu hanya tertutuk Hiat tonya, sebetulnya masih bisa bicara tapi ia tutup mulut tidak mau bersuara.

Toh Hok sudah menggeledah seluruh badannya yang mati, namun tidak menemukan apa-apa, lalu iapun menggeledah seluruh badan perwira yang masih hidup ini, hasilnyapun nihil. Akhirnya Toh Hok hilang sabar dan membentak : "Masa kepalamu lebih keras dari golok baja ini ! Katakan tidak ?"

"wuutt" golok terayun terus membacok batok kepalanya.

"Trang" lekas Nyo Wan-ceng menjemput golok melengkung orang untuk menangkis golok baja Toh Hok, katanya : "Orang ini adalah seorang gagah, seorang Enghiong, lepaskan saja dia pergi !"

Sebetulnya bacokan Toh Hok itu hanya gertakan saja, tadi ia berpura-pura mengukuhi pendapatnya, katanya; "Keponakan yang baik, kau tidak tahu orang ini membawa surat penting, hari ini kebentur di tangan kami masakah harus melepas pergi begitu saja ?"

"Lebih baik tidak mendapatkan surat penting itu, orang gagah macam kaya dia, harus kita hargai."

"Yah, apa boleh buat kupandang mukamu biar kulepas bangsat ini tapi kudaku terpanah mati oleh mereka, maka kuda tunggangan itu harus kutahan."

Segera Nyo Wan ceng membuka tutukan Hiat-to orang itu, katanya; "Tiada urusanmu lagi pergilah !"

Agaknya orang itu tak menduga bahwa jiwanya akan selamat tak kurang suatu apa terutama Nyo Wan ceng menyuruh pergi, dia malah ogah pergi.

Berkata To Hok tawar: "Keponakanku kau melepasnya pulang mungkin sesampainya di Tay-toh, Wanyen Tiang ci pun tidak akan mengampuni jiwanya."

"Soal itu tidak perlu kita risaukan, dia mau tidak pulang ke Tay toh adalah urusannya. Memangnya Bulim thian kiau Tan pwecu juga sudi tinggal di Tay toh?" Lalu ia berpaling kepada siperwira, katanya: "kau seorang pintar, semoga kau paham akan maksudku."

Perwira itu melenggong sebentar, mendadak berkata: "Nona Nyo, apakah gurumu Bulim thian kiau Tan ih-tiong?"

"Benar, guruku memang adalah Tam-pwecu kalian."

Siperwira kertak gigi, katanya nekad: "Nona, kau menghormati aku satu kaki, kubalas satu tombak; gurumu adalah tokoh yang selalu kukagumi pula, mengandal kata-katamu tadi, surat penting dan rahasia itu biarlah kuserahkan kepadamu. Silakan kau bongkar pelana itu, surat penting itu kusembunyikan disana." habis berkata terus putar tubuhnya tinggal pergi.

Ternyata siperwira amat heran akan penghargaan Nyo Wan ceng terhadap dirinya. Seperti pula kata kata Toh Hok, dengan kehilangan teman dan surat penting itu pastilah Wanyen Tiang ci akan menjatuhkan hukuman sesuai dengan undang undang militer. Bahwa Toh Hok hendak menahan tunggangannya, rahasia pada pelana itu cepat atau lambat konangan, lebih baik ia merelakan saja dengan memperlihatkan kebesaran jiwanya kepada Nyo Wan ceng sebagai imbalan. Ditambah sebab keempat, ia tahu guru Nyo Wan-ceng adalah Pwecu (pangeran) negeri Kim, dan dia sendiri masih punya ikatan famili sebagai angkatan muda dari Tan pwecu ini.

Posting Komentar