Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 111

NIC

"Keponakanku memang kau amat pintar !" demikian puji Toh Hok tertawa, "kepandaian kedua perwira ini cukup tinggi, Wanyen Tiang ci mengutus mereka mengirim surat urusan pasti menyangkut persoalan besar dan penting." segera ia bekerja memecah pelana itu dan benar juga didalamnya itu mendapatkan segulung kertas, setelah membacanya tiba tiba Toh Hok berseru kaget dan heran.

"Paman, apa yang tertulis dalam surat itu ?"

"Kurasa rencana untuk menghadapi Kim-ki nio kita, ternyata bukan, mereka hendak menghadapi Ceng-liong-pang."

Nyo Wan ceng terkejut tanyanya: "Cara bagaimana mereka hendak menghadapi Ceng-liong-pang?"

"Lihat, surat rahasia Wanyen Tiangci yang ditujukan kepada Li In siu penguasa kota Liangciu dianjurkan supaya menyiapkan pasukan dan bergerak secara rahasia pada waktu Tiong-chiu bergabung dengan para jagoan yang bakal didatangkan dari Taytoh, bersama menyergap markas besar Ceng liong-pang di Kim lian san."

"Kalau begitu kita harus segera menyampaikan kabar ini ke Ceng liong pang."

"Itu sudah tentu, tapi dalam wilayah dekat sini tiada orang orang dari Kim ki nio kita!" Ternyata luka luka Toh Hok walaupun tidak berat, tapi juga tidak ringan, untuk menempuh perjalanan yang begitu jauh menuju ke Kim lian san, jelas kondisi badannya tidak mengijinkan.

"Paman Toh, kenapa kau berkata demikian memangnya aku bukan orang sendiri? Meski aku tidak menjadi anggota secara resmi, tapi hubunganku dengan bibi Liu dan para paman yang lain seperti keluarga sendiri bukan? Apakah kau tidak bisa anggap aku sebagai orang sendiri dari kerabat Kim ki nio?"

Memangnya Tok Hok hendak memancing kata katanya ini, ujarnya sambil tertawa, "Baik akupun tidak perlu sungkan2 lagi kepadamu, biarlah menyulitkan kau sekali ini." Lalu dia serahkan gulungan surat itu kepadanya.

Baru saja Nyo Wan ceng hendak berangkat, mendadak Toh Hok teringat suatu urusan, serunya: "Tunggu dulu!"

"Paman Toh masih ada pesan apa?"

"Tahukah kau orang macam apa Li Ih siu penguasa kota Liang-ciu itu ?"

"Tidak tahu!" "Asalnya dia adik raja dari negeri Sehe, setelah Sehe dicaplok oleh negeri Kim, sebagian tanah wilayah kerajaan Sehe dibelah menjadi keresidenan, dikembalikan nama aslinya sebagai Liang-ciu seperti dulu. Raja Sehe sudah dihukum mati, raja Kim lalu angkat adik raja dari Sehe Li Ih siu sebagai penguasa keresidenan Liang ciu."

"Jadi apakah Li Ih siu ini pura pura menyerah kepada negeri Kim, sebetulnya sedang memikul tugas berat dan secara sembunyi untuk bangkit dan berontak memulihkan kerajaan Sehe lama?"

"Kukira tidak demikian, karena tindak tanduknya tidak pernah menunjukkan gejala macam itu. Dia sudah begitu tunduk dan patuh kepada Wanyen Tiang ci, maka Wanyen Tiang-ci amat mempercayainya. Barulah dia dapat menjabat penguasa tertinggi di Liang-ciu, karena secara diam diam Wanyen Tiang-cilah menjadi tulang punggungnya."

"Memangnya kenapa sekarang paman menyinggung dia?"

"Lain bapak lain anak, putranya itu berhaluan lain dengan bapaknya yang terima diperbudak itu."

"Secara rahasia dia ada mengikat hubungan dengan Yalu Hoan-ih diluar tahu ayahnya. Yalu Hoan ih adalah putra komandan pasukan Gi-lim-kun negeri Sehe dulu setelah negerinya runtuh, ia menduduki gunung mendirikan pangkalan sebagai raja. Dengan Kim-ki nio kita diapun sering berhubungan."

"Kiranya begitu, lalu maksud paman Toh ?"

"Marilah kita menggunakan cara sekali gempur dua sasaran."

"Apa maksudmu dengan sekali gempur dua sasaran?"

"Sepihak kita bersiap-siap melawan serbuan musuh, dipihak lain kita memperalat dan mengadu domba sesama musuh. Tapi cukup asal kaujelaskan kepada Liong pangcu bahwa Li Ih-siu dan putranya berlainan haluan. Liong-pangcu sebagai seorang yang berambek besar dan berotak cerdas, sudah tentu ia akan tahu sendiri coba bagaimana ia harus bertindak. Tidak perlu kita memberikan saran dan usul kepadanya."

Setelah mereka berpisah, Nyo wan ceng menyimpan gulungan surat itu terus menempuh perjalanan, hatinya disamping girang ia-pun merasa risau dan kebat kebit. Girang karena dengan mengantar surat kemarkas besar Ceng liong-pang di Ki lian san ini, disana ia bakal bisa bertemu dengan Geng Tian, tidak perlu mencari alasan lainnya. Tapi setelah bertemu muka dengan Geng Tian, cara bagaimana ia harus buka mulut, ini merupakan persoalan pelik pula bagi dirinya.

"Dia belum lagi tahu bahwa didunia ada orang macamku ini, bahwasanya mungkin belum tahu akan perjodohan kami ini, lalu bagaimana baiknya ?" dia merasa malu dan kikuk untuk mengemukakan persoalan ini, disamping girang adalah jamak kalau Nyo Wan-ceng merasa risau dan kebat kebit.

Rekaan Nyo Wan ceng hanya betul separo saja. Memangnya Geng Tian tidak tahu bahwa didunia ini ada orang macam dirinya. Tapi sebetulnya dia sudah tahu akan persoalan perjodohan itu.

Bersama dengan Su-tay kim kong dari Ceng liong pang, mereka dari Ciatkang timur langsung menuju ke Liang ciu, sepanjang jalan mereka mengobrol panjang lebar, masing-masing bertukar pikiran dan pengalaman, tidak sedikit masing masing mendapat tambahan pengetahuan untuk memperkaya perbendaharaan ilmu masing masing, sedikitpun mereka tidak merasa kesepian.

Tapi selama perjalanan itu, belum pernah Geng Tian kemukakan isi hatinya. Dari keempat orang dari Ceng liong-pang ini, hanya Lo Hou wi yang sebaya dengan Geng Tian, hobby dan tutur katanya juga lebih cocok. Lapat-lapat Lo Hou-wi tahu bahwa Geng Tian ada menyembunyikan isi hatinya demikian pula Geng Tian pun merasakan Lo Hou-wi tidak seluruhnya jujur terhadap dirinya.

Hari itu mereka mulai memasuki wilayah perbatasan Liang ciu, menurut perhitungan kira kira empat lima hari lagi mereka bakal sampai di Ki lian san. Karena sibuk menempuh perjalanan sehingga malam itu mereka kehilangan kesempatan menginap setelah magrib hujan rintik-rintikpun turun; untunglah diatas pegunungan yang belukar itu mereka bisa mendapatkan sebuah biara kuno untuk berteduh meski biara bobrok dan tidak terurus sementara bisa juga untuk menyembunyikan diri dari hujan bayu ini.

Mereka mengumpulkan ranting-ranting kering dan membuat api unggun ditengah ruangan biara bobroknya, ranting-ranting yang basah kena air hujan membuat api unggun sukar menyala dan mengepulkan asap hijau yang tebal, sehingga pernapasan mereka menjadi sesak. Tapi dimalam hujan deras seperti itu beberapa kawan sehaluan dan seperjuangan duduk-duduk mengobrol sambil menghadapi api unggun merupakan kejadian yang menggembirakan juga bagi mereka.

Geng Tian tiba-tiba tenggelam dalam alam pikirannya, menggunakan ranting kayu yang dipegang ia mengorek-ngorek api unggun, sampai kayu yang masih membara mengenai tangannya baru dia berjingkat kaget.

"Geng kongcu," ujar Nyo Su gi tertawa, "Pekerjaan membuat api memasak nasi tentu kau belum biasa melakukan, mari biar kulakukan saja."

"Ketahuilah!" kata Geng Tian tertawa, "Sejak kecil aku sudah biasa hidup melarat dan menderita, tadi hanya kebetulan kurang hati hati saja."

Lo Hou wi mendadak menimbrung, "Entah Geng kongcu sedang memikirkan apa tadi?"

Terpaksa Geng Tian mengakui, "Benar aku sedang terkenang kenang seorang sahabat ayahku."

"Entah siapa Cianpwe yang kau maksudkan itu?"

"She Nyo bernama Yan-jing. Beliau adalah murid Gwakong (kakek luar)ku."

"Belum pernah aku bertemu dengan dia, tapi dia punya seorang suheng bernama Li-Keh cun, sekarang sebagai salah seorang Toa-thaubak, hubungannya cukup baik denganku, tahun yang lalu aku berkumpul beberapa lama dengan Li Keh-cun."

"Adakah dia pernah menyinggung soal Sutenya terhadapmu?"

Nyo Sugi manggut manggut, ujarnya: "Menurut katanya, sutenya itu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."

"Entah adakah dia meninggalkan putera atau puterinya?"

"Hal itu dia tak mengatakan maka aku tidak tahu. Apakah ayahmu menyuruhmu mencari jejak mereka ?"

Geng Tian menghela napas, tuturnya, "Ketika aku masih kecil, bersama ibu menyembunyikan diri dirumah mereka. Ketika kami berpisah dengan paman Nyo, usiaku belum genap empat tahun, tapi lapat lapat aku masih ingat keadaan waktu itu, mereka amat miskin setiap datang hujan, sekeluarga pasti sibuk menyingkirkan barang barang mengatasi kebocoran, semalam suntuk tidak bisa tidur, karena tiada tempat yang kering. Mereka kuatir aku kedinginan, selalu membuat api unggun menghangatkan badanku. Sering mereka duduk mengelilingi api unggun itu sambil mengobrol seadanya. Keadaannya persis seperti sekarang ini. Cuma kalau dulu didalam rumah bobrok, sekarang didalam kelenteng reyot. Bila terbayang akan kegetiran hidup masa lalu betapa aku tidak akan terkenang kepada mereka? Ai sayang aku tidak akan bisa berterima kasih lagi kepada paman Nyo."

"Gampang saja untuk menyirapi berita keluarga Nyo itu setelah kami tiba di Ki lian-san, tulislah sepucuk surat biar kuantarkan ke Kim ki nio mintalah Li Keh cun datang menjenguk kau."

"Biar setelah aku berhadapan dengan Liong pangcu, aku akan menyambangi paman Li di Kim ki-nio saja, cara ini kukira rada kelihatan menghargai beliau sebagai orang yang lebih tua."

"Menurut maksud Liong pangcu, seperti yang kuketahui, beliau hendak minta kau sementara mewakili jabatan Pangcu itu, mungkin dalam waktu dekat kau tidak akan ada tempo meninggalkan tempat kami."

"Aku masih terlalu muda cetek pengalaman lagi, mana setimpal menjadi Pangcu segala? Nyo toako, harap kau suka bantu membujuk pangcu, sekali-kali membatalkan niatnya itu."

"Kita toh belum sampai di Ki lian-san kelak kita bicarakan lagi setelah tiba di sana."

Dimana mereka bercakap cakap mengenai keluarga Nyo ini Lo Hou wi tidak membuka suara, hatinya sedang risau dan gundah sejak beberapa kali nama Nyo Wan ceng sudah sampai diujung mulutnya, namun toh tidak sampai terucapkan olehnya. Sambil menunduk ia mengorek ngorek api, tanpa ia sadari ia mencontoh perbuatan Geng Tian tadi, malah abu panas mengenai punggung tangannyapun belum disadarinya.

"Sam ko tadi kau katakan aku kurang hati hati, kenapa kaupun tak hati hati?" demikian goda Geng Tian, "Lihatlah, lengan bajumu sudah berlobang termakan api." tiba-tiba tergerak hatinya katanya pula, "Samko apa yang sedang kau pikir? Kami sedang membicarakan almarhum Nyo Yan sing Nyo Lung hiong, apa kau tahu?"

"Waktu Nyo Yan sing meninggal dia belum lagi kelana, mana bisa tahu?" demikian ujar Nyo su gi tertawa.

Hampa pikiran Lo Hou wi pikirnya: "Haruskah kuberitahu kepadanya?" setelah ragu sejenak, ia lantas menyahut: "Tidak apa apa, Geng Tian mendengar kau menyisihkan kehidupanmu yang getir diwaktu kecil mau tak mau menimbulkan kenangan lamaku pula."

Posting Komentar