Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 95

NIC

Benar juga terdengar Lu-hujin melanjutkan : "Dua hari yang lalu putramu baru datang kemari dia mengatakan ..."

"Apa katanya ?" cepat Cin Hou-siau mendesak.

Lu-hujin melanjutkan : "Dia berkata mendapat perintah dari ayahnya kemari untuk memberi kabar. Dari mulutnyalah baru aku tahu soal ayah Yau-ji merawat luka-lukanya dirumah kalian."

Cin Hoa-siau menjadi jengkel katanya, "Bocah keparat itu berani kemari membual!"

Lu-hujin pura-pura terkejut katanya : "Apakah bukan kau yang suruh putramu kemari ?"

Sip It-sian segera campur bicara bujuknya : "Cin-twako tidak perlu naik darah, dia memberi kabar kemari kan juga soal baik."

Lu Tang-wan seperti terdebar katanya : "Sip-twako, katamu putriku tertolong oleh seseorang, mungkinkah orang itu Liong-hwi adanya?"

Sahut Sip It-sian, "Waktu itu aku hanya mendengar suaranya tidak melihat bentuk orangnya. Tapi menurut keadaan dan situasi waktu itu bila mereka pergi ke Lou-keh ceng bersama, bila nona Lu kena tertawan musuh, adalah jamak kalau Liong-hwi harus menolonginya keluar!" Ia kuatir akan watak Cin Hou Siau yang berangasan pikirnya : "Bila dia tahu duduk perkara sesungguhnya, mustahil putranya itu tidak dipukulnya sampai mampus."

Ling Hou bersifat jujur dan bijaksana, segala urusan selalu ia terpikir kearah kebaikan, setelah mendengar penuturan Sip It-sian, cepat iapun campur bicara : "Benar, keadaannya pastilah begitu. Entah darimana keponakan Liong-hwi mendapat tahu bahwa putraku tertawan di Lou-keh-ceng, maka ia kemari mengajak nona Lu untuk menolongnya, Cin twako, Seumpama ia membual dan mengada ada, kaupun tak perlu terlalu menyalahkan dia!"

Sebaliknya Cin Hou siau tidak berani begitu saja mempercayai putranya, dengan sikap dingin ia memperhatikan, mendadak dilihatnya wajah Lu hujin menunjuk rasa hina dan senyum sinis yang memualkan, terbayang pula olehnya pandangan matanya yang aneh waktu menatap dirinya tadi, semakin besar rasa kecurigaannya itu.

"Bocah keparat itu terang tahu bahwa luka luka Lu Tang-wan sudah hampir sembuh dan segera bakal pulang ke rumah, kenapa ia memburu datang kemari memberi kabar? Jing-bau khek itu sudah menekannya menjadi muridnya, mana mungkin mandah melepaskannya pergi begitu saja?" segala persoalan yang tidak terjawab ini menjadi ganjalan disanubari Cin Hoa-siau samar samar ia merasakan persoalan ini rada ganjil.

Dilain pihak Lu Tang wan juga sedang berpikir: "Orang yang menolong Yau ji itu jika benar adalah Liong hwi, seumpama mereka tidak tahu peristiwa yang terjadi di Lou-keh ceng semalam seharusnya Yau-ji sudah mengajakku pulang kerumah."

Karena belum mengetahui kabar berita dan jejak Lu Giok-yau berdua, perjamuan yang akan diadakan malam itu menjadi kurang meriah.

Setelah perjamuan bubar dan mengantar tamunya masuk istirahat, Lu Tang wan suami istri pulang kedalam kamarnya, Lu Tang-wan berkata : "Kelihatannya masih ada urusan apa yang masih belum kau katakan, ya bukan ?"

"Benar," sahut Lu hujin. "Dihadapan sekian banyak tamu masa enak kuucapkan ?"

Sebagai Orang berpengalaman dalam tata kehidupan hati Lu Tang-wan sudah menebak beberapa bagian, katanya ; "Coba kau terangkan sekarang !"

"Menurut pendapatmu, bagaimana karakter Cin Liong-hwi itu?"

"Soal karakter dan ilmu silatnya kurang sebanding sama Ling Tiat-wi!''

"Tapi paras mukanya jauh lebih cakap dari Ling Tiat wi, apalagi mulutnya yang bawel itu pandai mengoceh !"

Berdetak jantung Lu Tang wan, katanya : "Apakah Yau-ji telah tertipu olehnya ??"

"Keburukan rumah tangga sendiri pantang diketahui orang luar. Dihadapan sekian banyak tamu tak enak kukatakan. Ketahuilah Yau-ji telah minggat bersama bocah itu!"

"Haaah !" seru Lu Tang wan terperanjat. "Bukan secara terang-terangan ia mengajak Yau-ji untuk membantunya?"

"Sebelumnya memang sudah direncanakan, kusuruh Yau-ji dan Tay-seng pergi ke rumahnya menyambut kau pulang siapa tahu malam itu secara diam-diam mereka berdua mengeluyur pergi tanpa pamit, tulisanpun Yau-ji tidak meninggalkan untuk aku !"

Sedapat mungkin Lu Tang-wan menghibur diri, katanya : "Mungkin Yau-ji takut kau rintangi, maka secara diam-diam mengajaknya meluruk ke Lou-keh-ceng ? Yau-jie jelas jatuh hati kepada Ling Tiat-wi, hal ini aku tahu Cin Liong-hwi adalah sutenya, dalam keadaan terdesak untuk menolongnya adalah jamak kalau mereka memburu waktu kesana janganlah kau menilai mereka terlalu buruk !"

Tapi terdengar Lu-hujin tertawa dingin katanya : "Anggapan Cin Liong-hwi dan Ling Tiat-wi berhubungan begitu kental laksana saudara sepupu layaknya? ketahuilah begitu sampai disini lantas ia mengobral mulutnya menjelek-jelekkan nama baik suhengnya !"

Lu Tang-wan menjadi heran dan curiga katanya : "Apa saja yang dia katakan ?"

"Katanya Tiat-wi sudah kepincut pada seorang putri bangsa Mongol, sekarang sudah menyerah pada Mongol, dan siap berangkat ke Holin menjadi menantu raja di sana."

"Putri Mongol mana yang dimaksudkan ?"

"Siluman perempuan yang bergelar In-tiong-yan yang suka menimbulkan geger di kalangan persilatan beberapa tahun belakangan ini. Betapa waktu yang lalu kabarnya masih berada di Lou-keh-ceng."

Lu Tang-wan bergelak tertawa, ujarnya : "Mana ada kejadian itu, aku ada di. . . . " lekas-lekas Lu-hujin mendesiskan mulutnya, katanya menukas : "Perlahan sedikit, suaramu mungkin didengar oleh mereka !"

Mana suami istri ini tahu diatas atap kamar mereka Sip It-sian sedang mendekam mencuri dengar percakapan mereka, soalnya Sip It-sian sendiri merasa kurang tentram karena persoalan Cin Liong-hwi, ingin ia mengetahui apa saja yang telah dikatakan Cin Liong-hwi kepada Lu-hujin. Ia melihat sikap dan air muka Lu-hujin yang kurang wajar tadi, maka sengaja ia datang untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Dengan suara lirih Lu Tang-Wan berkata : "Mana ada kejadian itu ? Waktu di Lou-keh ceng aku sendiripun pernah melihat In-tiong-yan itu !"

"Sudah tentu aku tahu bahwa ucapannya itu bodong belaka, kalau tidak masa Ling Tiat-wi bisa pulang bersama kau ? kuceritakan kepada kau supaya kau tahu bahwa Cin Liong-hwi itu membual dan membuat laporan palsu untuk menipu Putri kita," bahwasanya yang membuat dan memberi laporan palsu masih ada Khu Thay-seng seorang, namun hal ini ia tutupi keadaan suaminya.

Sungguh kejut dan gusar pula Lu Tang-wan dibuatnya, katanya : "Keparat ini berani berbuat tidak senonoh terhadap puteri kami? Dihadapan Ling-twako dan ayahnya aku pernah menyinggung soal perkawinan Tiat wi dan Yau ji keparat inilah juga aku."

Lu hujin mandah tertawa dan mengejek, katanya, "Begitu bocah ini datang lantas aku tahu maksudnya yang tidak baik. Sepasang matanya yang kurang ajar ini selalu menatap Yau-ji dengan jelalatan, mana dapat mengelabui aku? Maka kuutus Tay seng seraya ikut mereka menyambut kau siapa duga mereka minggat pada tengah malam tanpa setahuku."

Lu Tang-wan menjadi gelisah, katanya: "Bagaimana baiknya Cin Hau siau menanam budi besar telah menolong jiwaku, bila anak itu benar salah melakukan perbuatan terkutuk menodai nama baik kita, betapapun aku tidak bisa bertindak terhadapnya."

"Jadi putri kita mandah kena rugi begitu saja?"

"Meskipun Yau ji tidak mengenal betapa culasnya hati manusia, tapi dia seorang yang mengerti tata krama dan pandai menjaga diri kemungkinan dia tidak akan melakukan perbuatan yang terkutuk dengan bocah keparat itu!" ucapan ini tidak lebih untuk menghibur hatinya sendiri.

"Semoga begituIah!" jengek Lu hujin dingin; "bahwasanya aku memang tidak setuju kau jodohkan Yauji dengan Ling Tiat wi. Sekarang terjadi peristiwa yang memalukan ini, maka betapa juga putri kita tidak mungkin dinikahkan kepada keluarga Ling. Coba kau pikir keluarga Ling dan Cin punya hubungan kental sejak nenek moyang mereka, bila Yau ji menikah dan masuk keluarga Ling, setiap hari harus bersua dengan bocah she Cin itu. Apakah tidak malu?"

Posting Komentar