Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 98

NIC

Kepala opas itu berkata lantang, "Baik kuberi ampun kau kali ini. Sebaliknya para tamu dalam penginapan ini perlu diperiksa hayo giring semua kekantor untuk diperiksa."

Begitu perintah itu dikeluarkan suasana penginapan menjadi ribut akhirnya pemilik penginapan itu pula yang turun tangan mohon keringanan. setiap tamu semuanya mengeluarkan uang sangunya buat menyogok kepala opas itu baru urusan tidak berkepanjangan.

Setelah tiba dan bikin gaduh dipenginapan itu setengah harian meski hasilnya tidak memuaskan tapi hitung hitung ada hasil juga, paling mereka sudah melaksanakan tugas walau tidak semestinya, mereka bisa pulang memberikan laporan kepada atasan. Maka dibawah pimpinan kepala opas itu mereka segera mengundurkan diri pulang kekota.

Setelah rombongan opas sudah jauh, bergegas Geng Tian memasuki penginapan itu.

Dengan sikap lesu pemilik penginapan maju menyambut tamunya dalam hati ia merasa heran pikirnya: "Apakah dia tidak tahu kejadian tadi kenapa tidak takut kena urusan?" maka selanjutnya ia bekerja lebih cermat ditanyakan nama pekerjaan datang dari mana dan lain lain keterangan kepada Geng Tian.

Geng Tian tertawa katanya: "Opas tadi takkan datang lagi. Kau legakan saja hatimu. Aku seorang pedagang tulen uang sewa kamar tidak akan kulunasi seluruhnya."

Walau pemilik penginginapan ini rada was was dan bimbang tapi ia bisa berpikir panjang bagaimana juga usaha dagang ini masih harus dilanjutkan terpaksa ia terima pemintaan Geng tian, memberinya sebuah kamar besar paling bagus.

Dengan suaranya yang sember seperti biasanya pemilik penginapan bertanya: "Apakah kamar ini memuaskan?''

"Bagus, cukup memuaskan!" sahut Geng Tian dengan suara kalem. Waktu berkata tiba tiba ia menutup pintu kamar rapat rapat.

Karuan pemilik penginapan terkejut setengah mati serunya; "Tuan kau....kau apa yang kau lakukan?"

"Tidak apa apa mari kita mengobrol sebentar. Silahkan duduk!" jarinya yang kecil menggatel sebuah kursi lalu diletakkan di-hadapannya. Kursi dalam penginapan itu terbuat dari kayu jati yang berat dan tebal meski tidak seberat bahan besi tapi melulu digantol dan dijinjing dengan sebuah jari kecil saja orang biasa mana mampu melakukan.

Pemilik penginapan semakin kejut tapi lantas ia berpikir: "Harta yang kumiliki sekarang tinggal barang perabot dan bahan pakaian seumpama dia seorang garong harta apalagi yang dapat kuberikan kepadanya?" maka tanpa sangsi lagi segera mendeprok duduk dengan hati hati ia bertanya; "Tuan ada petunjuk apa? Baru saja aku mengalami kesulitan keadaan yang morat marit ini belum lagi dapat pekerjaan."

"Justru aku ingin bicara soal ini," kata Geng Tian, "Bagianmu tidak kecil bukan?"

"Tidak, tidak menjadi soal!" sahutnya tergugup.

"Aku bukan orang yang suka gegares dengan rakus kau tak usah takut," ujar Geng Tian pula. "Dalam dunia ini mana ada kucing yang tidak suka makan amis, rombongan opas sekarang serigala itu berkunjung kedalam penginapan masakan tidak kena dirugikan?"

Pemilik penginapan menghela napas ujarnya; "Harap tuan suka maklum, aku sudah terima uang kamar dari beberapa tamu aku jadi bingung kemana besok aku harus cari uang untuk membeli beras buat mereka makan?" secara tidak langsung ia bermaksud: "Uang sewa kamarmu lebih baik bayar dulu?"

Geng Tian tersenyum lebar katanya, "Tak perlu kuatir, nah terimalah selembar cekku ini anggaplah pembayaran sewa kamarku ini. Ambilah!"

Dia mengusahakan penginapannya ini selama puluhan tahun belum pernah menerima pembayaran dari tamunya dengan cek, setelah menerima dan diteliti seketika itu mulutnya terbuka lebar dan terkejut melongo. Kiranya itulah sebuah cek dengan tarikan uang sebesar lima ratus tail.

"Kau kuatir kalau cekku ini palsu?" Geng Tian menegas, "Cobalah kau periksa cek keluaran dari bank Thong ki liong diseluruh kota kota besar dalam wilayah besar dalam lima provensi daerah Utara ini dapat ditukarkan dengan uang kontan."

Bank Thong ki liong berpusat di Taytoh disetiap kota kota besar yang tersebar diberbagai propensi daerah utara ada didirikan berbagai cabang merupakan usaha perbankan yang terbesar pada jaman itu. Meski pemilik penginapan belum pernah menerima cek dengan nilai sebegitu besar nilainya tapi banyak diantara para tamunya yang menginap pernah ia melihat cek yang bernilai puluhan tail uang perak setelah diteliti cap bentuk dan tanda gambarnya memang bukan palsu mau tidak mau ia harus percaya akan ketulenan cek ditangannya itu.

Saking kaget dan takutnya dengan gemetar pemilik penginapan menyodorkan kembali cek itu, katanya: "Tuan, jangan kau membuat aku celaka tidak berani menerima cekmu ini!"

Geng Tian tertawa katanya: "Kau kuatir kalau cekku ini hasil curian?"

"Tidak, tidak sewa kamarmu tidak dibayar begini banyak." sebenarnyalah memang ia kuatir kalau cek itu hasil rampokan.

"Legakan hatimu!" ujar Geng Tian sambil mendorongnya pelan pelan. "Kau terima saja!" lalu dikeluarkan pula beberapa tail uang receh.

Sudah tentu pemilik penginapan itu sambil takut dan tak berani menerima. Terpaksa Geng Tian sesapkan cek dan uang receh itu kedalam sakunya, katanya tertawa : "Mari duduk dan dengarkan, kau punya sanak kadang tidak?"

"Aku orang tua sebatang kara, tiada punya istri dan putra putri dan tidak punya sanak famili pula. Cuma seorang keponakan bekerja dikota Ai-seng yang jauh dari sini, beberapa tahun belum tentu jumpa sekali."

"Apakah keponakanmu dapat dipercaya ?"

"Keponakanku seorang jujur dan polos cuma kurang berbakti pada leluhur, sudah likuran tahun usianya masih belum menikah!" melihat bicara Geng Tian sopan santun dan kenal peradatan rasa gugup dan takut hatinya lambat laun menjadi berkurang. Namun dalam hati ia bertanya-tanya untuk apa Geng Tian menanyakan urusan keluarganya serta tetek bengek lainnya.

Geng Tian tertawa lebar, ujarnya, "Aku kuatir kau kehabisan uang kontan maka kuberi uang receh tadi sebagai sangu diperjalanan. Dalam satu dua hari ini kau harus menjual penginapanmu ini, pergilah kekota Ai-seng dan dirikan pula sebuah penginapan di-sana yang lebih mewah dan mentereng, suruhlah keponakanmu menjadi pembantu di Ai-seng kau tidak perlu kena diperas oleh para opas lagi, lima ratus tail uang perak sebagai modal cukup berkelebihan bukan?''

"Cukup! Dengan dua ratus tail uang perak cukup untuk mendirikan sebuah penginapan yang mewah. Tapi..''

"Kelebihannya dapat kau gunakan sebagai perongkosan mengawinkan keponakanmu."

Pemilik penginapan jadi berpikir, "aku cukup punya alasan setelah diperas oleh para opas itu untuk menghentikan usahaku dan pindah ketempat lain, tanggung tidak menimbulkan curiga orang lain." Maka ia segera berkata: "Terima kasih banyak pada siang-kong yang telah memberikan segala bantuan ini, tapi aku orang tua sungguh tidak berani menerima hadiah ini tanpa berjasa. Entah Siangkong punya pesan atau petunjuk apa silahkan katakan saja.''

"Memang aku punya sebuah persoalan yang akan kutanyakan kepada kau!"

Pemilik penginapan menjadi gugup pula katanya; "Entah apakah orang tua macam aku ini dapat memberikan bantuan."

"Kau tidak usah takut, aku cuma tanya beberapa patah kata saja dan tidak akan kukatakan kepada orang lain. Empat orang tamu yang menginap dipenginapanmu malam itu, mereka ada pernah bicara apa dengan kau??"

"Semula mereka minta dua kamar besar kelas satu, tapi akhirnya yang sebuah di-antaranya diberikan kepada seorang gadis remaja berpakaian serba hitam, malam itu aku orang tua tiada mempunyai kesempatan untuk bicara dengan mereka."

Geng Tian membatin: "Naga-naganya pemilik penginapan ini ada tiada sangkut pautnya dengan pihak Ceng-liong-pang," maka ia berkata: "Kalau begitu coba kau tuturkan kejadian malam itu sejelasnya!!"

Setelah mendengar peristiwa malam itu, Geng Tian bertanya: "Apakah kau tahu kemana mereka melanjutkan perjalanannya??"

"Sejujurnya aku orang tua tidak tahu sama sekali!"

"Kau takut aku dari petugas pemerintah yang berpakaian preman??"

"Siangkong begitu baik terhadapku. Kalau petugas dari kalangan pemerintah, mana kenal aturan? Malam itu begitu gugup dan takut aku dibuatnya, sehingga aku bersembunyi di-kolong meja, bagaimana akhirnya akupun tak berani tanya kepada mereka!"

Geng Tian menjadi kecewa, sedang ia berpikir, "Anggap saja kelima ratus tail uangku itu sebagai sumbangan untuk menolongnya."

Tiba-tiba pemilik rumah penginapan berseru sambil menepuk pahanya: "Hah teringat olehku sekarang!"

"Teringat apa?" tanya Geng Tian kegirangan.

"Kudengar gadis berpakaian hitam itu ada menyebut nama seorang Enghiong dari ciatkang timur, dia suruh keempat laki-laki itu pergi mencari putrinya."

"Siapakah Lo-enghiong yang dimaksudkan itu?"

"Seperti bernama Lu Tang-wan kalau tidak salah !"

Kiranya nama besar Lu Tang-wan sudah begitu tenar, ratusan li dalam daerah di-sekeliling rumahnya tiada seorang yang tidak kenal akan kebesaran namanya. Setelah para opas itu pergi pemilik penginapan masih ketakutan dan repot mengumpulkan perabot rumah makannya yang bercerai berai dan banyak rusak itu, sudah tentu ia tiada minat untuk para tamunya bicara, setelah mendengar In-tiong yan menyinggung nama Lu Tang-wan, baru ia ada perhatian. Soalnya dia merasa waswas dan kuatir maka ia tidak berani bicara secara tegas, sebelum menyebut nama Lu Tang-wan malah harus ditambah dengan kata kata ''seperti'' dan akhirnya ditambah pula dengan "kalau tidak salah".

Geng Tian menjadi sadar batinnya: "Tak salah lagi gadis berpakaian hitam itu pasti In tiong yan adanya. Dari mulut Hong thian lui, ia tahu Lu Tangwan pernah melindungi aku di masa lalu maka dia suruh Suthay kim kong pergi kerumah keluarga Lu untuk mencari berita tentang diriku. Tapi kenapa tidak dikatakan untuk mencari Lu Tangwan justru disuruh mencari putrinya? Apakah mungkin In tiong yan sudah tahu bahwa Lu Giok yau tidak bakal pulang kerumahnya?" soal ini ia hanya dapat meraba sebagian saja dan sebagian lainnya salah terkaan. Yang jelas bahwa Suthay-kim kong sebenarnya memang mendapat perintah dari pangcu untuk mencari Lu Tangwan.

Kata Geng Tian: "Coba kau ingat ingat lagi apa pula yang mereka perbincangkan?"

"Agaknya gadis itu ada pula menyebut nama sebuah tempat kalau tidak salah bernama ....bernama Hong hong san!"

Geng Tian mengerutkan keningnya, katanya: "Agaknya Lu Tangwan tidak tinggal di Hong hong san bukan?" demikian ia menirukan logat sipemilik penginapan.

Pemilik penginapan itu berkata; "Hong hong san terletak diperbatasan antara keresidenan Ceng tian dan Ui wan, merupakan gugusan sebuah pegunungan kecil yang belukar hanya ada beberapa keluarga yang bertempat tinggal disana. Masa mudaku dulu aku pernah berkelana menjual dagangan kecil kecilan mengembara sampai keplosok plosok." Sampai disini ia berhenti seperti mengingat-ingat lalu sambungnya; "Tatkala itu aku pun rada heran keluarga Lu tidak tinggal di Hong hong san? Tapi kenapa perempuan itu suruh mereka pergi menyusul ke Hong hong san? Maka waktu kau tanya padaku tadi akupun belum berani memberi penjelasan kalau salah mungkin kau akan mencurigai aku tidak bicara sejujurnya." Akhirnya ia memang sudah bicara secara jujur.

Posting Komentar