"Benar, memang ada orang mengintip disini," kata Nyo Su gi pasti.
"Darimana kau tahu ?" Tanya Pek Kian bu.
"Lihatlah ada runtuhan tembok yang baru jatuh dilantai. Lobang ini terang dikorek lebih besar oleh seseorang menggunakan senjata tajam, mungkin karena lobangnya yang semula dianggap terlalu kecil dan kurang jelas melihat keadaan didalam."
Kata Geng Thian, "Menurut pendapatmu, mungkinkah bantuan Siang-hiong atau Siang-sat?"
"Kukira bukan, Siang-hiong dan Siang-sat pasti yakin kuat menghadapi kami berempat jika dia hanya hendak menuntut balas kepada jite, kukira tidak perlu mereka mendatangkan bantuan lainnya. Seumpama benar mengundang bala bantuan, toh tidak perlu main intip ditempat?" kata Nyo Su gi menganalisa.
"Jadi musuh lainnya mungkin?" tanya Geng Tian pula.
"Kukira bukan. Coba pikir kalau Ginkang orang itu begitu tinggi ilmu silatnya tentu tidak begitu lemah. Seorang diri Site berjaga di sini, kalau orang itu musuh bukankah kebetulan malah bisa meringkusnya dan dibawa pergi ?"
"Ucapan Toako tidak salah!'' Geng Tian memberikan suaranya. "Kalau orang itu teman kita sepantasnya mengunjukkan diri. Dia pergi setelah mengintip, agaknya bukanlah teman. Bukan musuh bukan pula teman, ini betul rada aneh dan mengherankan."
"Siapa orang itu, tidak perlu kami persoalkan," demikian ujar Nyo Sugi, "Ji te, napasmu sudah teratur belum?"
"Ya sebab musabab dari permusuhanku dengan Siang sat dan Siang hiong sudah saatnya kututurkan kepada Toako.''
"Terlalu panjang untuk menjelaskan persoalan ini, Khong Ceh dari Gi-pak-siang-hiong punya seorang adik perempuan yang bernama Khong Ling, Toako tahu bukan?"
"Menurut cerita orang," demikian kata Nyo Su-gi. "konon adiknya perempuan itu juga pernah muncul di Kangouw malah memperoleh nama yang cukup terkenal. Tapi beberapa tahun belakang ini sudah tidak pernah kabar ceritanya."
"Mewakili orang tuanya Khong Ceh ini sebagai wali menjodohkan adiknya perempuan itu kepada Gan dari Siam tiong-siang-sat."
"O, jadi mereka keluarga bersama," demikian kata Nyo Sugi, "Memangnya kenapa ?"
"Soal ini harus kujelaskan dari peristiwa lainnya," demikian tutur Pek Kian bu lebih lanjut. "Suatu ketika aku pernah mendapat perintah dari pangcu, sebagai wakilnya merestui dan memimpin pembukaan berdirinya cabang di Jiong cia, kau masih ingat bukan ?''
"Benar, kejadian itu sudah lima tahun yang lalu. Tugas yang kau jalankan mendapat sukses besar, bukankah tidak pernah terjadi keributan apa?"
"Tidak, pernah terjadi sedikit keributan. Cuma kejadian itu tidak enak kulaporkan kepada Liong pangcu."
"O, keributan apa?"
"Jiang ciu terdapat seorang buaya darat yang dijuluki Hwe-gian lo, pemilik tanah ribuan bahu, membuka puluhan pegadaian. Menindas petani, memeras orang orang miskin dengan pajak berat sehingga rakyat amat marah kepadanya. Waktu aku tiba di Jiang-ciu kebetulan sebentar rakyat yang kelaparan sedang menyerbu datang kerumahnya hendak membongkar gudang makanannya. Maka setelah aku selesai memimpin peresmian berdirinya cabang dan segala selesai, para saudara anggota dan cabang Jiang ciu mohon kepadaku untuk tinggal sementara waktu, bantu mereka menggempur Hou keh-po."
"Hm, terhitung tidak mengabaikan harapan para saudara disana, aku ikut menyumbangkan tenagaku, dengan kerja sama dari dalam dan luar, akhirnya kami berhasil membobol benteng Hwe giam lo, dan sekali golok raja tanah itu kami bunuh."
"Memberantas kejahatan membunuh buaya darat, membela yang lemah demi kepentingan khalayak ramai adalah perbuatan yang harus dipuji bagi golongan kita. Pek jiko, tidak salah kau bunuh Hwe giam lo itu!" demikian Geng Tian memberikan suaranya.
"Bukankah urusan itu pernah kau laporkan kepada Liong-pangcu?" kata Nyo Sugi.
"Dalam kejadian ini ada terbelit persoalan lain yang tidak enak kulaporkan."
"Kalau memang tidak leluasa dikatakan tidak usah kau jelaskan. Aku percaya kepada kau !"
"Permusuhanku dengan Siang-sat dan Siang-hiong ini, meski Toako percaya akan kebenaran dipihakku, tapi kalau tidak kujelaskan, kukira sulit menghilangkan rasa curiga para saudara."
"Ji-ko," timbrung Ong Beng-im, "minumlah dulu membasahi tenggorokannya."
Pek Kian-bu melanjutkan : "Waktu itu karena pertahanan dan bangunan benteng Hou-keh-po amat kukuh dan sukar dijebol, maka sebelumnya sudah kami sepakatkan, secara diam-diam aku menyelundup kedalam benteng membunuh buaya darat itu, setelah berhasil barulah kami akan bergerak serempak dari dalam dan luar."
Nyo Su-gi manggut-manggut, ujarnya : "Betul, memang harus begitu. Pertahanan benteng Hwe-giam-lo itu mungkin terlalu ketat dan kuat sekali, bagaimana kau bisa berhasil ?"
"Didalam benteng ada beberapa orang agen kami yang dipendam disana, menurut gambar yang dilukiskan kepadaku, aku menemukan kamar tidurnya, sudah tentu gampang saja kutemukan tanpa banyak keluar tenaga. Cuma, ada sebuah hal yang betul betul diluar dugaanku."
"Ilmu silat Hwe-giam-lo itu cukup tinggi ?" sela Lo Hou-wi.
"Waktu aku menemukan kamarnya dia sedang tidur memeluk seorang perempuan genit yang berdandan molek."