Lu Giok-yau kaget, serunya : "Apa ayahpun tidak mau pergi ?"
Agaknya Lu Hujin pun merasa heran, katanya, "Usia Yau-ji masih terlalu muda belum pernah pergi jauh lagi, memangnya kau tidak kuatir dia pergi seorang diri ? Menurut hematku lebih baik kita semua tidak keluar pintu. Besok siapkanlah bingkisan besar, bekerjalah menurut usulku tadi kutanggung urusan tidak akan salah !"
"Aku hanya dapat menerima separoh dari usulmu," demikian kata Lu Tang-wan. "Justru karena Yau-ji tidak pernah keluar pintu kecuali orang-orang dari Lou-keh-ceng, cakar alap-alap lainnya tiada yang kenal dia. Dia boleh menyamar sebagai laki-laki asal bertindak amat hati-hati, kukira perjalanannya jauh lebih aman dari pada kita pergi bersama-sama."
"Kenapa kau ijinkan dia pergi sendirian?"
"Terus terang, aku tidak begitu percaya pihak pemerintah," demikian ujar Lu Tangwan, "maka terpaksa kugunakan dua caranya berlawanan rusak gara-gara perbuatan Yau-ji, kalau dia menyingkir kamilah yang harus berusaha dengan mereka dan tiada sesuatu yang harus kita kuatirkan bisa membawa puteri kita pulang. Sebaliknya kalau mereka tidak mau memberi muka, terpaksalah berlaku nekad, biar kita labrak mereka saja, kita menjadi suami-isteri sudah puluhan tahun, maka kau pun harus dengar separo dari aturanku ini."
"Baik kita masing-masing mengalah separo. Tapi Yau-ji masih gadis perawan mana boleh kau suruh dia bergaul dengan kawanan pemberontak macam Su-tay-kim-kong itu ?"
"Siapa bilang aku hendak suruh dia ikut memberontak dengan pihak Ceng liong-pang ?"
"Lalu kau suruh Yau-ji kemana ?" Lu Tang-wan berkata pelan-pelan sambil tersenyum : "Pergi kerumah paman Lingnya itu."
Lu Giok-yau berjingkrak girang, serunya : "Kau suruh aku mencari ayah Ling Tiat-wi ?"
"Ya hubungan kita dengan keluarga Ling jauh lebih kental dari pada orang orang Ceng liong pang dan lagi kau pasti kurang bebas bila berada di Ceng liong pang."
Lu Hujin mengerut alis katanya, "Bukan kau sudah bilang kepadaku rumah keluarga Ling sudah terbakar? Malah Ling Hou dan Cin Hou siau juga orang orang dari keturunan dari pahlawan gagah Ling san meski tidak memberontak terang terangan mereka kan setali tiga uang sama orang orang Ceng liong pang?"
"Para tetangga dalam kampung mereka sangat baik asal Yau ji kesana dan tanyakan salah satu murid mereka tentu dengan gampang menemukan jejak mereka. Aku tahu mereka tidak jauh menyingkir ketempat lain." Sesaat lamanya Lu Hujin masih menepekur dan tidak bersuara. Maka Lu Tang wan berbicara lebih lanjut: "Kalau berdua bersama dengan paman Lingnya disana ia bisa mendapatkan suatu manfaat, ketahuilah keluarga Ling dan Cin menetap bersama dalam satu kampung, kepandaian silat Cin Hou siau masih lebih tinggi dari aku kalau terjadi sesuatu beliau masih kuasa melindunginya. Meski Ling thiat wi dan Hong Thian yang menuju ke kota raja cepat atau lambat toh mereka akan pulang juga. Yau ji bukankah kau ingin bertemu dengan Ling toakomu? Pergilah kerumahnya dan menetap disana beberapa waktu lamanya bagaimana menurut pendapatmu sendiri?"
Ternyata setelah Ling Hou ayah beranak pergi Lu Tang wan berpikir pikir panjang pendek kesimpulannya ia amat menyesal dan sungkan terhadap mereka. Bahwa sekarang dia suruh putrinya menyusul kerumah keluarga Ling maksudnya memang hendak menyempurnakan perjodohan putrinya dengan Hong thian lui, sekaligus ia hendak menjauhkan dengan keponakannya yaitu Khu Tay seng.
Bahwa dirinya disuruh pergi kerumah keluarga Ling bagi Giok yau justru diminta mintapun sulit terlaksana segera ia menunduk malu dan menjawab lirih: "Bukannya aku berkukuh kau harus pergi ke Ceng liong pang terserah kepada kehendak ayah!"
Lu Tang wan terbatuk batuk ujarnya: "Baik, kami putuskan demikian saja. Setelah ketemu dengan paman Ling dan Cin sampaikan salam dan minta maafku kepada mereka."
Lu Giok yau mengiakan sambil mengangguk lalu menambahkan: "Bu, segera aku berangkat!"
Meski tidak suka putrinya pergi kerumah keluarga Ling namun karena keponakan kesayangannya sudah terlibat perkara meski Lu Hujin hendak menentang juga tidak bisa apa apa maka iapun tidak menyinggung persoalan pernikahan puterinya, apa boleh buat ia melepas putrinya pergi dengan rasa berat.
Lu Giok yau menyamar menjadi seorang lelaki malam itu juga dia berangkat, terbayang olehnya bahwa dalam waktu tidak lama lagi ia bakal berkumpul sama Ling Thiat-wi, seketika tersimpul senyum manis pada wajahnya. Tak nyana dua hari kemudian ditengah jalan ia mengalami suatu peristiwa diluar dugaan.
Maklumlah sebagai putri pingitan yang belum pernah keluar pintu apa lagi menempuh perjalanan jauh. Sementara Lu Tang wan menyangka tiada orang yang bakal mengenal samarannya ini siapa nyana hari itu kebetulan ia baru saja beranjak keluar dari perbatasan karesidenan kampung halamannya ditengah jalanan justru ia bersua dengan seorang yang mengenal dirinya.
Orang ini adalah si laki laki jubah hitam yang pernah ditemuinya diatas gunung tempo hari waktu ia masih bersama dengan In tiong yan.
Lu Giok yau menempuh perjalanan melewati sebuah jalan gunung kecil disaat ia berlenggang itulah tiba tiba didengarnya sebuah tertawa dingin dan Jing bau khek itu tiba tiba menyusul didepannya katanya, "Anak muda yang ganteng sekali, o, kiranya kau nona Lu, he he aku kenal kau apakah kau masih teringat siapakah aku?"
Kontan Lu Giok yau melolos pedang dampratnya, "Apa kehendakmu?"
Sudah tentu Jing bau khek tidak pandang sebelah matanya katanya terbahak bahak: "Nona cilik kalau kau undang ayah kau untuk bantu melawan aku mungkin masih setanding, kau tidak akan mampu melawan aku. Tapi akupun tidak berniat menindas kau, aku hanya ingin menyerapi jejak seseorang, kalau kau suka bicara secara jujur aku tidak akan mempersulit dirimu dimana In tiong yan yang kemarin dulu bersama kau?''
Kaget dan dongkol pula hati Lu Giok yau dibuatnya tapi dasar wataknya lebih keras kukuh dari ayahnya segera ia menjawab dengan ketus: "Aku tidak tahu meski tahu juga tidak sudi beritahu kepada kau."
"Bagus kau tidak mau beritahu kepadaku terpaksa biar kuundang kau pergi ke Lou-keh-ceng saja." ternyata hari itu ia melarikan diri karena digertak oleh In tiong-yan, setelah ia bertemu dengan Liong-siang Hoatong barulah diketahui bahwa In-tiong yan sedang minggat tanpa pamit. Liong siang Hoatong sendiri ingin segera kembali ke Mongol maka ia minta bantuannya untuk menyirap jejak In tiong yan.
"Siapa sudi pergi bersama kau?" bentak Lu Giok-yau. "Sret" pedangnya lantas menebas kepergelangan orang yang diulurkan hendak menyengkeram lengannya.
"Memangnya kau belum tahu akan kelihayanku ya?" demikian jengek Jing bau-khek, dimana ia membalikkan pergelangan tangan, sebat sekali mencengkeram pergelangan Lu Giok yau yang memegang pedang, secara kekerasan ia hendak merampas senjata orang. Tak duga meski kepandaian Lu Giok-yau terpaut amat jauh tingkatannya, namun permainan pedangnya cukup lihay dan lincah ganas lagi jurus serangan ini justru merupakan satu jurus ilmu pedangnya yang paling dibanggakan. Begitu tiga jari Jing bau khek mencengkeram datang, sebat sekali Lu Giok yau memutar tajam pedangnya kebawah dan hampir saja berhasil memapas kutung jari-jarinya lekas Jing-bau-khek menarik tangan kedalam lengan bajunya, dengan lengan bajunya itu dia mengibas dan menggulung ujung pedang orang terus membentak, "Lepas pedang."
Tanpa kuasa pedang Lu Giok-yau benar-benar tertarik jauh dari cekalannya tapi semula Jing-bau-khek berniat dalam satu jurus dapat meringkusnya, toh usahanya gagal. Begitu senjatanya terlepas jatuh, dengan mengerutkan dada dan jumpalitan ditengah awan Lu Giok yau mencelat mundur satu tombak lebih kebelakang.
"Nona cilik," ejek Jing bau khek. "Memangnya kau bermain petak dengan aku! jangan harap kau bisa lolos."
Lu Giok-yau lari menuju kelereng bukit dan berputar-putar diantara batu-batu gunung yang berserakan dimana mana, dalam waktu dekat jelas Jing bau khek tidak akan mampu membekuk dia.
Tiba tiba dari jalan dibawah sana didengarnya derap kaki bertapal mendatangi semakin dekat, dari ujung jalan gunung sana tampak seorang gadis berpakaian serba hitam mendatangi menunggang seekor keledai. Melihat diatas lereng ada orang sedang berkelahi, bukan tidak segera menyingkir malah dia menghentikan tunggangannya dan melompat turun maju mendekati.
Sebagai kawakan kangouw melihat gadis ini bernyali begitu besar, diam diam bercekat hati Jing bau khek, pikirnya: "Dilihat dari dandanannya mungkinkah dia ini yang baru-baru ini sekaligus menundukkan kelima Pangcu dari sungai besar sepanjang sungai Huangho yang bergelar Sian moli?"
Disaat ia berpikir itulah, didengarnya gadis baju hitam itu membuka suara lantang: "Cici ini apakah bukan putri kesayangan Lu Tang wan Lu lo enghiong yang bernama Lu Giok-yau?"
Lu Giok yau melengak heran batinnya: "Belum pernah aku melihat orang ini, dari mana ia bisa tahu namaku. Tapi dari nada bicaranya kelihatannya amat mengindahkan terhadap kebesaran ayah, kiranya tidak mengandung maksud jelek." maka segera ia menjawab: "Benar memang akulah Lu Giok-yau."
"Bagus, kalau begitu biar kubantu kau melabrak bangsat tua ini." kedatangannya secepat kilat pertama kali bicara ia masih berada di bawah lereng belum lagi ia habis bicara tahu tahu bayangannya sudah berkelebat didepan Jin bau khek.
Melihat gerakan badan orang begitu sebat dan cepat Jing-bau-khek tidak memandang ringan musuhnya, lekas kaki kanannya melangkah setapak, sementara kepalan kiri dia jotoskan memapak kedatangan orang, langsung ia menyerang lebih dulu.
Sebetulnya mengandalkan kedudukan dan nama gengsinya didalam Bulim menghadapi seorang angkatan muda seharusnya dia memberi kesempatan kepada gadis baju hitam untuk menyerang lebih dulu, meski ia berusaha menyergap lawan dan mengambil inisiatif penyerangan paling tidak ia harus bersuara memperingati lawannya lebih dulu. Soalnya kedatangan gadis baju hitam ini teramat cepat, terpaksa ia harus bertindak cepat tanpa sempat memberi aba peringatan lebih dulu. Dari sini dapatlah kita bayangkan betapa jeri dan takut hatinya menghadapi gadis baju hitam ini.
Menunggu kepalan orang sudah dekat kira kira satu dim didepan mukanya barulah gadis baju hitam dengan tangkas dan lemah gemulai menggerakkan pinggangnya, seraya mengulapkan punggung telapak tangannya. Maka kedua belah pihak jadi saling serempet lewat begitu saja, kepalan masing-masing tidak saling sentuh sedikitpun juga. Jing-bau-khek mengeluarkan seruan tertahan, agaknya ia amat heran dan kaget.
Ternyata kepandaian ilmu pukulan, ilmu pedang, ilmu golok ataupun semua ilmu yang dia yakini merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya dari lain cabang ilmu dari golongan sesat yang cukup keji dan ganas beracun lagi jauh berlainan dengan ilmu kepandaian aliran ini. Kelima jarinya yang terkepal itu kekuatan jari jarinya tidak merata diantara jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya itu masing-masing terselip dan menonjol keluar tiga lembar senjata rahasia yang berbentuk segi tiga, tiga biji senjata rahasia yang berbentuk segitiga ini,dapat digunakan untuk memukul Hiat to lawan. Ibu jarinya terjulur keluar khusus untuk mengerahkan tekanan tenaga luar biasa dari ilmu Toa jiu in dari ajaran Mi ciong dari Tibet. Toa Jiu in dari Mi ciong mengutamakan serangan tenaga dalam dari tekanan ibu jarinya itu, dapat melukai urat nadi dan Hiat-to mematikan di badan lawan meski ia hanya menggunakan sebuah ibu jarinya sama saja dapat membawa akibat yang fatal bagi lawannya.