Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 96

NIC

Entah berapa banyak Lu Tang wan pernah menghadapi persoalan besar kecil yang cukup rumit, namun belum pernah terjadi peristiwa seperti halnya terjadi sekarang ini yang cukup membuatnya serba runyam, hatinya gundah dan gugup, katanya: "Sekarang yang terpenting segera mencari Yau-ji kembali, soal perkawinan kita bicarakan kelak !"

"Soal ini tidak boleh tersiar keluar. Besok panggil Tay seng kemari dia ikut bantu mencari !"

Lu Tang wan kehilangan pegangan terpaksa menyahut sejadinya. Tanpa disadari olehnya justru sang istri sudah punya pegangan dalam penyelesaian soal ini.

Kata Lu hujin pula, "kau pulang bersama sekian banyak tamu, adakah orang luar yang tahu??"

"Semua orang Lou keh ceng tahu, kenapa?" kata Lu Tang wan geregetan.

"Lou Jin cin adalah begal besar yang sudah cuci tangan, apa yang diucapkan pihak pemerintah belum tentu mau percaya, lebih baik kau berusaha mengantar para tamumu pulang secepatnya. Kelak bila diusut, masa kita bisa mungkir??"

Lu Tang wan menjadi gusar, katanya: "Jiwaku ini toh mereka yang tolong, masa aku tega mengeluarkan kata kataku?"

"Kau punya keluarga, punya harta benda, punya istri punya anak kau mau berlaku nekad sendiri demi kesetiaan kawan tanpa kau hiraukan keluarga, harta benda dan anak istrimu ?"

Sebaliknya Lu Tang wan membatin: "Putrimu sudah pergi dan yang kau pikirkan melulu kepentinganmu sendiri." tapi ia tidak berani membuat ribut dengan istrinya, bila sampai bertengkar bukan mustahil suara mereka bakal terdengar oleh para tamu.

Lu hujin berkata pula, "Betapa jerih payah kita untuk mengumpulkan kejayaan ini, kau sendiri tempo hari pernah bilang, dunia kangouw penuh bahaya kejahatan, kau sendiri sudah tidak mau lagi keluntang-kelantung diluar, kecuali kau antar para tamumu pulang, hidup selanjutnya baru bisa aman sentosa."

"Cobalah kau tidak cerewet lagi," sentak Lu Tangwan lagi mendongkol. "Cobalah beri waktu untuk aku berpikir," dalam hati ia membatin, "Ai kenapa semakin lama ia tak dapat melihat gelagat dan suasana, siapa tidak mendambakan hidup sentosa dan sejahtera tapi bila melakukan perbuatan terkutuk terhadap sahabat sendiri, masa aku Lu Tangwan masih ada muka bertemu dengan para kawan?"

Sip It-sian mendekam diatap rumah, mencuri dengar sampai disini ia berpikir, "Dugaanku ternyata betul. Istrinya tidak senang akan kedatangan para tamu yang tidak diundang ini. Tapi tidak perlu heran, perempuan mana yang tidak pernah takut mendengar nama "Pelarian". Demi sahabat dan keluarganya, kita tidak seharusnya merembet dan bikin susah mereka." lalu berpikir pula: "Urusan Liong hwi sementara ini terpaksa harus dirahasiakan terhadap Cin toako dan Ling-toako."

Hari kedua pagi pagi benar, mendadak Cin Hou siau beramai-ramai menemui Lu Tangwan dan mohon diri bersama, keruan saja Lu Tang wan terperanjat, batinnya: "Apakah perkataan ibu Yau ji semalam dapat didengar oleh mereka ?" dengan ngotot ia menahan para tamunya.

Dengan suara lirih Cin Hou-siau berkata, "Hong hiantit mendapatkan satu jilid Ping-hoat, kita harus membantunya menyerahkan kepada kepala pimpinan laskar pergerakan dalam waktu sesingkat mungkin. Maka setelah dipikirkan secara masak, terpaksa kami harus segera mohon diri kepadamu. Toh waktu masih panjang, kelak kami masih bisa datang kemari." Ternyata Cin Hou-siau beramai memang mendapat nasehat dari Sip It sian, sehingga mereka berkeputusan untuk segera meninggalkan rumah Lu Tang-wan ini. Alasan yang dikemukakan ini memang tepat.

Memang alasan tepat dan keperluan memang penting, Lu Tang-wan sendiri mengetahui pula persoalan Ping-hoat itu, hatinya curiga tapi toh ia kewalahan menahan tamu tamunya, akhirnya ia berkata; "Kalau begitu, Tiat-wi Hiantit sementara biar tinggal di sini saja, luka lukanya kan belum sembuh seluruhnya?"

Ling Hou berkata; "Terima kasih atas kebaikan Lu toako, penyakit anakku sudah kuperiksa rasanya tidak bakal kambuh lagi. Gurunya minta segera ia pulang untuk mengurus Bukoannya di kampung jejak sutenya itu juga perlu bantuan untuk ikut mencari."

Melihat sikap Ling Hou banyak lebih kaku dan dingin dari kemarin, Lu Tang-wan jadi lebih sedih dan terketuk perasaannya. Tapi pikiran lain lantas berkelebat dalam benaknya, ia sendiri belum punya keputusan akan menikahkan putrinya kepada Hong thian lui, istrinyapun ingin agar para tamunya ini lekas-lekas meninggalkan rumah, apa boleh buat.

Lu Tang wan mengantar para tamunya sampai kepintu depan, Khu tay seng melangkah masuk dari pintu belakang.

Segera Lu hujin membawa masuk kekamar dalam katanya berbisik: "Piaomoaymu sudah ada beritanya."

Khu Tay seng kegirangan, "Berita apa?" tanyanya.

"Ternyata mereka pergi ke Lou keh ceng."

Khu Tay-seng terkejut benar, katanya kemudian: "Piauwmoay begitu besar nyalinya, berani dia meluruk kesana untuk menolong bocah itu!! Ah!! Ilmu silat Lou Jin cin bukan kepalang lihaynya apakah Piauwmoay kena tertawan oleh Lou keh ceng?"

"Bukan begitu," Lu hujin menjelaskan, "Kabarnya mereka sudah berhasil meloloskan diri, apakah kau melihat para tamu yang diantar Kohtiomu? Diantara mereka ada ayah Ling Tiat wi dan ayah bocah she Cin itu!!"

Dengan ringkas segera ia beritahukan tentang Cin, Ling dan lain lain yang membuat keributan di Lou-keh ceng, serta Sip-it sian melihat Lu Giok-yau pula dimana akhirnya Khu Tay seng berkata: "Piauwmoay tidak berani pulang, darimana bisa tahu kemana mereka melarikan diri?"

"Ada sebuah sumber penyelidikan, coba kau susul dia kesana."

"Dimana tempat itu??" tanya Khu Tay-seng tersipu-sipu.

Tutur Lu hujin: "Hari itu Cin Liong hwi berbohong mendapat pesan ayahnya memberi kabar kemari kuduga iapun tidak berani pulang. Aku jelas akan wataknya Piauw-moaymu, betapapun besar nyalinya tak akan berani keluyuran dengan seorang laki-laki sembarangan. Mungkin dia masih belum tahu bahwa Ling Tiat hwi sudah tertolong keluar oleh ayahnya tapi dia menyirapi berita. Cobalah kau susul kerumah ibu inangnya, kecuali aku ibu inangnya ini paling sayang padanya setelah lolos dari Lou keh-ceng tiada tempat lagi untuk meneduh pasti ia menuju kerumah inangnya itu."

Setelah perundingan rahasia antara bibi dan keponakan ini selesai Lu Tang wan baru masuk kedalam, segera Khu Tay-seng menghadapi sekedarnya, lalu bergegas tinggal pergi. Apa yang menjadi perundingan mereka tadi sekecap pun tidak disampaikan kepada Lu Tang-wan.

O^~^~^O

Setelah meninggalkan rumah keluarga Lu, Ling Hou dan rombongannya menempuh perjalanan dengan langkah cepat, masing-masing memikirkan urusannya sendiri, terutama Ling Hou kelihatan rada murung dan kesal.

Segera Cin Hou siau membujuknya : "Pernikahan ini, bilamana jadi itulah baik kalau batalpun tidak menjadi soal. Bukan aku suka menggagalkan muridku, ilmu silat dan martabat Tiat-wi sukar dicari keduanya, seorang laki-laki kenapa kuatir tidak bisa memperoleh seorang isteri yang cantik dan bijaksana ?"

"Bukan aku menyayangkan pernikahan yang belum menentu ini." demikian Ling Hou menjelaskan. "Aku menyayangkan tindakan Lu-toako seorang laki-laki, seorang enghiong yang gagah perkasa, kenapa berkuping lemah. Ai, aku mengajukan pinangan untuk anak Wi, mungkin tindakanku rada ceroboh."

Perkataan "kuping lemah" yang dimaksud adalah takut bini, segala sesuatunya percaya akan obrolan sang istri.

Sip It-sian tertawa, selanya : "Belum tentu Lu Tang-wan itu selalu tunduk pada ucapan istrinya. Yang terang istrinya tidak senang hati terhadap kita, sehingga kita sendiri yang tak enak tinggal terlalu lama dirumahnya, semalam waktu kucuri dengar percakapan mereka kelihatannya Lu Tang-wan sangat menyetujui Tiat-wi, bocah itu belum tentu soal pernikahan ini tiada harapan."

"Kalau tidak mendapat simpatik dari sang mertua, menantu ini tidak jadi saja, soal pernikahan Tiat-wi, selanjutnya akupun tidak perlu menyinggungnya pula kepadanya !"

Tidak enak bagi Hong-thian lui untuk ikut membicarakan persoalan perkawinannya, dasar sifatnya yang keras kepala dan tinggi hati ia merasa ucapan ayahnya sangat benar dan mencocoki seleranya. Sekonyong-konyong bayangan Lu Giok-yau berkelebat dalam benaknya, tanpa merasa sekujur badannya terasa bergidik.

Posting Komentar