Agaknya gadis baju hitam rada kecewa katanya, "Baiklah terpaksa aku harus cepat menyusul ke Ki-lian-san, selamat bertemu lain kesempatan." habis berpisah langsung ia cemplak keledainya, tenaga kaki keledainya itu ternyata tidak kalah kuat dari tenaga kuda yang tinggi kekar dalam sekejap saja, bayangannya sudah kelihatannya kecil.
Mengantar bayangan orang yang semakin jauh, terpikir Lu Giok-yau : "Tindak tanduk Nyo cici ini amat aneh, tapi ilmu silatnya memang benar-benar hebat, mungkin Ling-toako dan Geng-toako masih sedikit dibawah tingkatannya."
Seorang diri gadis baju hitam keprak keledainya berlari kencang kedepan, hatinya malah gundah dan tidak tenteram, lapat-lapat dia mulai mengenang suatu kejadian pada delapan tahun yang lalu.
O^~^~^O
Jilid 21
Waktu ia berusia tiga tahun, ayahnya meninggal, sampai ia menanjak usia tiga belas ibunyapun terserang suatu penyakit berat. Meski usianya masih kecil, namun otaknya encer dan pandai pula, tidak kenal siang atau malam dengan tekun dan rajin ia merawat ibunya.
Suatu malam kira-kira menjelang kentongan ketiga, tiba-tiba ibunya siuman dari pingsannya, semangatnya jauh lebih baik dari biasanya. Di luar tahunya bahwa hal itu sudah merupakan pertanda ajal ibunya semakin dekat, hatinya malah senang dan katanya : "Bu, biar obat kuseduh lagi, menurut pesan Ong-toako racikan obat ini harus digodok berturut-turut tiga kali. Agaknya obatnya cocok dengan penyakitmu."
"Tidak, tak usah minum obat lagi. Jangan kau menyingkir aku hendak cerita kepadamu !"
Hatinya yang masih kecil diam-diam merasa heran, sungguh ia tidak paham kenapa baru saja penyakit ibunya rada baikan lantas timbul hasratnya untuk bercerita menyuruh dirinya mendengarkan. Maka ia membujuk supaya ceritanya ditunda setelah penyakit ibunya sembuh betul-betul. Meski pun sejak kecil sebetulnya dia suka mendengar dongeng.
Dengan tersenyum, ibunya mengelus rambutnya katanya : "Ceng-ji, kau sudah tahu urusan. Tapi cerita yang hendak kukisahkan ini ada menyangkut keluarga kita.. Tahukah kau siapa ayahmu sebenarnya ?"
Sejak ia usia tiga tahun ayahnya sudah meninggal, ia hanya tahu bahwa ayahnya seorang pendekar, kini melihat ibunya bertanya hal itu dengan mimik sungguh-sungguh, sudah tentu hati kecilnya amat ingin tahu, maka iapun tidak menghalangi maksud ibunya malah tanyanya : "Siapa ayah sebenarnya ?"
"Ayahmu adalah seorang pahlawan penentang penjajah Kim." demikian ujar ibunya.
Sejak kecil ia sudah dididik secara kekeluargaan, hatinya nan kecil sudah tahu membenci bangsa Kim yang menyerbu dan menjajah negeri sendiri, mendengar sang ayah adalah seorang pahlawan menentang penjajah, hatinya menjadi girang dan berteriak, katanya : "Bu, kenapa tidak sejak dulu kau beritahukan kepadaku, bukankah hal itu cukup membanggakan keluarga kita ?"
Ibunya tertawa lebar, ujarnya : "Sebetulnya setelah kau berusia delapan belas tahun baru akan kuberitahukan kepada kau sekarang kuberitahukan padamu, ini sudah terlalu pagi. Maka jangan sekali-kali kau bicarakan hal ini dengan orang lain."
"Bu, anggapanmu aku bocah ingusan yang tidak tahu urusan ? Aku tahu bangsat Kim menjajah negeri kita, kalau kukatakan ayah sebagai pahlawan penentang mereka, tentu aku bisa ditangkap dan celakalah aku," demikian jawabnya.
"Bagus kau tahu diri, sungguh membuat aku senang. Sekarang hendak kuberitahu siapakah Sucoumu itu ?"
Sekilas ia melengak, lalu tanyanya, "Bukankah ilmu silat kami ajaran leluhur ? Pernah kudengar kau berkata bahwa ayah adalah ahli waris tunggal dari Ngo-ho-toan-bun-to jadi Sucou adalah kakek bukan ?"
"Benar, ajaran golok itu adalah warisan leluhur. Tapi ayahmu punya seorang guru lainnya, kepandaian silat yang dipelajari dari gurunya lebih hebat dari ajaran leluhurnya sendiri, sayang usiamu masih kecil, aku hanya bisa mengajarmu satu babak ilmu golok itu, kepandaian lain yang diyakinkan ayahmu, aku paham hanya separonya, sekarang tidak sempat kuajarkan kepadamu pula."
"Siapakah Sucou itu, beliaupun seorang penentang penjajahan Kim?"
"Betul, tigapuluh tahun yang lalu Su-couwmu itu guru silat kenamaan di Siok-ciu yang bernama Cin Tiong. Beliau wafat ditangan jago penjajah. Kisah yang hendak kututurkan kepadamu adalah cerita mengenai keluarga Sucouwmu itu."
"Bu, mari minum dulu secangkir teh panas ini."
Setelah minum teh panas ibunya melanjutkan kisahnya : "Sucoumu Cin Tiong membuka Bu-koan (perguruan silat) dikampung halamannya, dia sudah menerima sepuluh murid didikan. Tapi yang betul-betul mendapat ajaran aslinya hanya dua orang saja. Salah satu adalah muridnya terbesar bernama Le Keh-cun, seorang yang lain adalah ayahmu yaitu Nyo Yan-sing."
"Apakah Sucou tidak mempunyai putra atau putri ?"
"Hanya punya seorang putri, bernama Cin Liong-giok. Sudah tentu kepandaian silat Sukomu ini jauh lebih tinggi, dia adalah lihiap yang pernah menggetarkan selatan dan utara sungai besar pada duapuluh tahun yang lalu. Sekarang sebagai isteri seorang panglima perang."
"O, sekarang jadi nyonya penggede ?"
"Suaminya adalah panglima perang kerajaan Song, bukan penjabat tinggi dari pihak penjajah. Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari isterinya, merupakan seorang tokoh panglima perang melawan penjajah yang paling tenar. Beliaupun seorang tokoh kosen yang sangat disegani oleh kaum persilatan, dia yang diagungkan sebagi Kang-lam Tayhiap Geng Cian."
"Dia adalah keponakan Sucoumu, setelah mengalami berbagai kesukaran dan derita barulah kedua saudara misan itu berhasil mengikat perjodohan, sayang aku tiada tempo mengisahkan cerita mereka yang tersendiri. Hanya secara ringkas aku bisa memberitahu kau. Dua puluh tahun yang lalu dialah yang memimpin sepasukan tentara yang dinamakan pasukan harimau terbang berhasil memukul mundur dan melabrak pasukan negeri Kim kocar-kacir akhirnya menjadi panglima tertinggi digaris depan yang melawan serbuan pasukan penjajah. Merupakan pasukan yang paling kuat dan pandai berperang dari kerajaan Song." (Kisah Geng Cian bacalah Pendekar latah).
Begitu pesona dia mendengar kisah keperwiraan dari Kanglam Tayhiap ini, maka ia mengajukan pertanyaan: "Bu, kau sengaja mengisahkan keluarga Sucou adakah mereka hubungan dengan kami?"
Tersulam senyum manis pada wajah ibunya, katanya sambil menggenggam tangan, "Benar kau memang pintar, sekali tebak lantas kena. Sekarang aku lanjutkan pada ceritaku yang kedua cerita ini bukan saja ada hubungan dengan keluarga kita terutama ada sangkut pautnya dengan kau."