Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 103

NIC

Walaupun Pek Kian-bu dirangsang ketegangan untuk melawan musuh, namun serta dia mendengar pujian Lou Jin cin akan Ngo hou-toan bun-to ini, mau tidak mau tergerak hatinya, pikirnya: "Ternyata Samte memang mengelabuhi aku, aneh, dari mana ia berhasil mempelajari ilmu golok yang sudah lenyap dan putus turunan ini?" demikian ia bertanya dalam hati.

Dengan sepasang kepelan tangannya Lou Jin cin harus menghadapi golok dan pedang kedua musuhnya meski belum terdesak dibawah angin, lambat laun ia mulai kerepotan juga. Beberapa jurus kemudian dalam suatu kesempatan tiba-tiba ia mencelat keluar dari arena pertempuran, wuut!!'' tahu tahu segulung angin menyamber diatas kepala, entah kapan ternyata tangannya sudah memegang seutas pecut panjang, dimana ia putar pecutnya dengan angin menderu-deru langsung memecut kearah Pek dan Lou berdua. Ternyata senjata pecutnya yang lemas ini bila tidak digunakan suka dilibatkan dipinggang sebagai sabuk.

Dengan mengunakan senjata keadaan Lou Jin cin jauh lebih enak, sekilas pandang dapatlah dilihat dalam gebrak-gebrak selanjutnya ia sudah dapat menempatkan dirinya dalam posisi yang menguntungkan, serangan senjatanya bertubi-tubi menghujani kedua musuhnya sehingga lawan berloncatan mencak mencak seperti monyet joget.

Cara permainan pecutnya ini jauh berbeda dengan ilmu pecut umumnya, begitu dia kembangkan ilmu pecutnya, laksana lengan seperti jari jari senjatanya begitu hidup seperti kepala ular pula, bergerak lincah dan gesit mematuk dan menusuk bergantian, dan yang paling berbahaya pula dapat melibat senjata lawan.

Seolah olah lengan manusia yang bisa mulur sampai setombak lebih, dapat menutuk, memukul, memecut, membetot, membelit, menyapu dan menotok banyak ragam perobahan serangannya. Secara tidak langsung dengan pecutnya yang panjang dan lemas ini seolah-olah ia dapat melancarkan ilmu Kim-na-jiu hoatnya yang hebat dan lihay itu.

Dengan pecut lemas melancarkan permainan Kim-na-jiu hoat adalah ilmu tunggal dari perguruan Lou Jin-cin. Sudah tentu Lo dan Pek dua lawan mudanya ini belum pernah menyaksikan atau menghadapi langsung permainan silat yang lucu dan aneh ini, meski ilmu golok Lou Hou wi amat cepat dan lihay, walau ilmu pedang Pek Kian-bu cukup tinggi pula soalnya mereka tidak tahu bagaimana untuk menghadapi permainan musuh yang aneh ini, maka seringkali golok dan pedang mereka kena terbungkus dan hampir tidak bisa berkutik oleh rangsekan sinar pecut lawan yang gesit.

Lou Jin cin terbahak-bahak serunya: "Su-tay kim-kong dari Ceng-liong-pang kiranya juga cuma begini saja kepandaiannya!'' tengah ia mengumbar mulutnya, tiba-tiba terasa segulung angin keras menerpa kearah mukanya. Kiranya Nyo Su-gi sudah berkesempatan menyerbu kearah dirinya, belum lagi orangnya sampai, tenaga pukulan Bik gong ciangnya sudah dilancarkan dari kejauhan.

Lekas-lekas Lou Jin cin menggentakkan pecutnya, laksana naga hidup tiba-tiba pecutnya menyambar turun terus melecut kearah kedua kaki Nyo Sugi, seraya serunya: "Apakah yang datang ini adalah Nyo Tayhiap dari tertua Suthay-kim-kong? He, he, Tiat-cian-kay-pi Nyo Sugi memang tidak bernama kosong, lohu tadi berlaku tekebur mengobras mulut sekarang terpaksa harus kujilat kembali ludahku!"

Telapak besi Nyo Sugi segera menekan turun menjepit kearah ujung pecut musuh, berbareng kakinya sebat sekali menggeser maju terus menyerbu dengan serangan gencar. Tiba tiba ujung pecut Lou Jin cin itu seperti kepala ular bisa mendongak keatas mematuk kearah jalan darah dipergelangan tangannya. Cepat cepat Nyo Sugi berkelit kesamping dengan telapak tangannya ia membacok miring kearah ujung pecut. Sementara disebelah sampingnya Lou Hou wi juga beruntun membacok tiga kali sedang Pek Kianbu juga tidak mau ketinggalan menusukkan pedangnya pula dengan kekuatan gabungan mereka barulah berhasil mendesak mundur Lou Jin cin, mau tak mau ia menarik mundur pecutnya untuk menangkis dan melindungi dirinya terlebih dahulu.

Bersama kedua saudara angkatnya Nyo Sugi baru berhasil memukul mundur Lou Jin cin mau tidak mau dalam hati ia mengeluh dan rada kecewa bentaknya: "Apakah kau Lou Jin cin cengcu dari Lou keh ceng?"

Lou Jin cin mendongak sambil bergelak tawa ujarnya: "Nyo tayhiap tidak malu diangkat sebagai pentolan dari Su tay kim-kong, pengalaman dan pengetahuanmu cukup luar sekilas pandang saja lantas dapat mengelabui asal usul lohu. Benar memang akulah Lou Jin cin dari Lou keh ceng."

"Lou cengcu!" demikian seru Nyo Sugi, "Kau pun terhitung seorang tokoh dalam dunia persilatan kenapa kau bantu kelaliman dan menjadi kaki tangan bangsa penjajah untuk menindak kawan segolongan?"

"Sejak lama aku sudah tutup pintu dan menyimpan senjata tak pernah berkecimpung dalam Bulim, masa kau belum tahu?"

O^~^~^O

Jilid 20

Pek Kian-bu menjengek dingin selanya : "Tutup pintu simpan senjata apa segala. Yang terang kau sekarang bantu pasukan pemerintah penjajah, apakah ini yang dinamakan tutup pintu simpan senjata ?"

"Aku cuma kemari menyambut keponakan perempuanku ini!" demikian Lou Jin-cin membela diri dan mengada-ada. "Asal kalian tak menganggap dalam air keruh ini aku orang she Lou tidak suka cari perkara dengan Ceng-liong-pang kalian !" ia tahu bahwa Su-tay kim kong tidak akan mau menyudahi persoalan ini demikian saja, dasar pintar bermuka-muka dan bermulut manis, ia mengadu-ngadu dengan alasan kekeluargaan yang lepas dari persoalan atau aturan Kangouw.

Lo Houw-hwi menjadi gusar, bentaknya, "Kau bangsat tua ini memang bukan orang baik-baik. Toako perlu apa kau putar lidah membujuk manusia rendah ini !"

Lou Jin-cin mendengus gusar serunya : "Benar memang aku bukan sehaluan dan segolongan dengan kalian dari Ceng-liong-pang. Kan Nyo-tayhiap sendiri tadi yang mengagulkan diriku. Terima kasih !"

Si perwira tinggi itu juga berkesempatan membuka suara katanya : "Tepat, Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang sebenarnya merupakan buronan dari pemerintah pusat, lekas kau bantu ringkus mereka jasamu tentu tidak kecil !" Ia kuatir Lou Jin-cin suka mengikat persahabatan dengan musuh, maka setelah mendengar Lou Jin-cin menjelaskan pendiriannya, sengaja ia mengumpak dengan pahala dari pemerintah untuk memperuncing situasi.

Sebetulnya tanpa dipesan juga Lou Jin-cin akan bekerja sekuat tenaga, senjata pecutnya sudah dimainkan dengan seluruh kemampuannya, sedemikian kuat tenaga yang ia kerahkan sehingga senjatanya mengeluarkan angin menderu-deru, pasir dan debu beterbangan.

Pasukan pemerintah yang mengepung disekelilingnya sama terdesak mundur sempoyongan, tiada satupun yang mampu mendesak maju untuk membantu. Mendengar orang menyinggung Lu Giok-yau, Lo Hou-wi lantas tersentak sadar, cepat ia berseru : "Nyo toako, betapapun jangan sampai nona Lu kena terjatuh ditangan musuh !"

"Site, sudah bantu kesana," demikian seru Nyo Su-gi, sambil melirik kearah sana tapi segera pula ia berseru terkejut : "Hah, celaka. Site mungkin bukan menjadi lawan mereka, Pek-loji lekas kau kesana bantu dia." ternyata setelah berhasil mendesak mundur Lu Giok-yau, Lou Ing-hou lantas memapak maju ke arah Ong Beng-im yang menyerbu datang. Sedang si perwira tinggi mengganti kedudukannya melawan Lu Giok-yau.

Kepandaian silat Lou Ing hou setingkat alias sama kuat lawan Ong Beng-im, namun Lou Ing hou mendapat bantuan dari pasukan pemerintah yang mengepung diluar kalangan, meski kepandaian mereka rendah betapapun tusukan-tusukan dan hantaman-hantaman tombak dan bacokan golok mereka merupakan ancaman juga bagi Ong Beng-im. Bukan saja Ong Beng-im harus melayani Kim na-jiu-hoat Lou Ing-hou yang banyak ragamnya itu sekali tempo ia harus pula menyelamatkan diri dari samberan anak panah musuh, maka tidak perlu dibuat heran dalam gebrakan selanjutnya ia semakin terdesak kerepotan, berulang kali ia menghadapi ancaman elmaut.

Dasar Pek Kian-bu memang rada jeri menghadapi Lou Jin-cin, menjadi kebetulan malah ia disuruh membantu Ong Beng-im. Tapi justru Lou Jin-cin tidak mau melepas dirinya, disaat ia bersikap hendak menerjang keluar dari kepungan, sekonyong-konyong ujung pecut Lou Jin-cin melingkar menyelubungi seluruh badannya.

Diam-diam Nyo Su-gi kerahkan seluruh tenaga dalamnya, setelah tangannya mengincar tepat tiba-tiba sebelah tangannya terayun membacok miring, jurus Tiat ciang-kay-pi memang bukan alang kepalang hebatnya. Meskipun pecut lemas Lou Jin-cin terbuat dari baja tulen yang gemblengan, seketika kena disampok mental kesamping oleh pukulan telapak tangannya.

Namun permainan pecut Lou Jin-cin memang sangat menakjubkan, begitu aneh dan lihay pula, begitu terpental sekalian ia menyendal terus mengayun kebawah dan kaki "plak" tepat sekali mengenai punggung telapak tangan Pek Kian-bu. Cuma karena sudah terkena dorongan pukulan tangan besi Nyo Su-gi sehingga tenaganya sudah banyak berkurang, meski dengan telak mengenai punggung tangan Pek Kian-bu permainan tiga gelombang lingkaran selanjutnya menjadi sukar dimanfaatkan. Sementara itu meski punggung tangan kena kesambet, tapi Pek Kian-bu berhasil juga menjebol keluar.

Ong Beng im memang sudah kepayahan kedatangan Pek Kian-bu tepat pada waktunya, beruntun tusukan dan tabasan pedangnya berhasil merobohkan beberapa pasukan negeri yang mengepung diluar kalangan lalu dengan Swan-hong-kiam-hoat ia berhasil pula memukul mundur Lou-ing-hou. Dalam lain kejap, mereka berdua sudah berhasil menerjang keluar dari kepungan, lalu menerjang kelompok disampingnya dan bergabung bersama Lu Giok-yau.

Jumlah pasukan negeri teramat banyak mereka menjadi sulit untuk menerjang keluar perwira tinggi itu tidak bisa menggunakan Ginkang tapi golok yang besar dari berat itu dimainkan sedemikian mahir, ilmu goloknya berat dan merupakan tekanan yang harus dilayani juga. Lu Giok yau sendiri sudah kehabisan tenaga, napaspun ngos ngosan. Pek Kian-bu juga sudah terluka tinggal sebelah tangannya saja yang masih dapat memainkan senjatanya. Maka si perwira tinggi dan Lou Ing hou sudah cukup berkelebihan untuk mereka bertiga, ditambah pasukan negeri yang mengepung rapat diluar kalangan dengan senjata lengkap mereka semakin menjadi sulit untuk menjebol keluar.

Dengan berkurangnya tenaga Pek Kian bu keadaan Nyo Su-gi dan Lo Hou wi menjadi jauh lebih berbahaya meski permainan golok cepat Lo Hou wi cukup hebat dan ganas, sayang lwekangnya terpaut terlalu jauh dibanding Lou Jin cin, lebih mendingan keadaan Nyo Su-gi kepandaiannya cuma kalah setingkat tapi permainan pukulan tangan besinya menjadi kewalahan dan kepayahan. Sepasang tangan besinya memang cukup kuat menangkis dan menghadapi pecut baja lawan, soalnya ia pun harus meladeni bagian badan lainnya yang cukup berbahaya, untung Lo-Hou wi bisa bekerja sama dengan rapi, seumpama anak kambing yang tidak takut pada seekor harimau ia bertempur dengan nekad dan mati-matian hingga Lou Jin cin harus berjaga-jaga menghadapi golok kilatnya. Sedang cara permainan Nyo Su-gi justru berlainan selama itu ia bisa bermain tenang dan mantap setiap ada lobang tentu ia merabu dan merangsek dengan serangan yang berbahaya, perhatian Lou Jin-cin lebih dicurahkan untuk menghadapi permainan pukulan tangan besinya yang lihay itu dari pada golok kilat Lo Hou-wi, oleh karena itu dia harus berada diatas angin, namun ia tidak berani terlalu mendesak dan pandang enteng kedua lawannya.

"Trang" sekonyong-konyong terdengar benturan senjata yang sangat keras lalu disusul pula suara kerontangan, ternyata golok Lo Hou-wi kena dipukul jatuh oleh pecut baja lawan pergelangan tangannyapun tergores luka luka panjang oleh senjata lawan.

Lo Hou wi mendorongkan badannya ke-samping sambil mundur, tapi secepat itu pula ia sudah mendesak maju tapi kali ini tangannya sudah menggenggam sebilah belati meski ukuran pendek tapi cukup dibuat senjata untuk melawan. Dengan senjata pendek ditangan ia bertempur lebih berani dan semakin gigit. Tapi betapapun belati ini kurang mencocoki seleranya seperti golok yang merupakan gaman bawaannya, keadaannyapun menjadi semakin payah.

Lo Jin cin terbahak-bahak lagi serunya; "Sutay-kim kong menjadi seperti dewa lempung, dewa lempung lewat sungai jiwa sendiri belum tentu dapat diselamatkan, maka kunasehati kalian janganlah turut campur urusan orang lain!"

O^~^~^O

Geng Tian menempuh perjalanan tanpa mengenal lelah, larinya dikebut seperti mengejar setan tepat sekali ia tiba pada waktunya. Dari jarak yang jauh ia mendengar seruan Lou Jin-cin akan nama Su-tay kim kong keruan girangnya bukan main, sebat sekali badannya melayang maju lalu teriaknya lantang : "Lou Jin-cin menurut hematku justru kaulah yang menjadi "dewa patung" yang belum dapat menyelamatkan jiwamu sendiri."

Lenyap suaranya tiba pula orangnya, tahu-tahu Lou Jin-cin merasa kesiur angin menyerbak kemukanya, kiranya kipas Geng Tian sudah disebatkan dihadapan mukanya, dengan gesit Lou Jin-cin menghindar dengan gaya Hong-thin-thay (burung hong manggut-manggut), sementara sebelah tangannya membalik terus melancarkan Kim-na-jiu-hoat mencengkeram senjata lawan, cepat-cepat Geng Tian merangkapkan kipasnya terus menutuk jalan darah Kiu-hiat di lengannya. Terpaksa Lou Jin-cin menekuk tangan menurunkan pundaknya, dengan sejurus tipu Kim-na-jiu-hoat yang khusus untuk berkelahi dalam jarak dekat ia membebaskan diri. Dalam pada itu Nyo Su-gi dan Lou hou wi menjadi berkesempatan melancarkan serangan gencar bertubi-tubi sehingga lawan terdesak mundur berulang-ulang.

Melihat Geng Tian mendadak muncul, Lu Giok-yau menjadi kegirangan, segera teriaknya : "Geng toako !"

Begitu mendengar teriakan Lu Giok-yau, Nyo Su-gi jadi ikut kegirangan, cepat ia bersuara : "Geng kongcu, harap tanya, apa hubunganmu dengan Kanglam Tayhiap Geng Ciau ?"

Geng Tian tersenyum, sahutnya : "Beliau adalah ayahku !"

"Geng kongcu !" teriak Nyo Su-gi tak tertahan lagi. "Betapa sulit dan susah payah kami mencari kau !"

Dalam berkata-kata itu kipas Geng Tian sedang mengancam dulu hati Lou Jin-cin yang sudah siap hendak menyerbu lagi. Tadi Lou Jin-cin sudah belajar kenal akan kehebatan permainan senjata kipasnya, kini melihat orang selalu bergerak mendahului menekan lawan dengan tipu-tipu aneh dan lihay mau tak mau ia harus berpikir: "Berkelahi satu lawan satu, aku tidak akan terkalahkan oleh dia, soalnya Nyo Su-gi dan Lou Hou wi membantu dari samping dengan sergapan yang berbahaya, sekali seranganku gagal pasti aku bakal celaka!"

Maklum bagi tokoh persilatan tingkat tinggi bila berkelahi pantang salah menggunakan tipu permainan dan harus dapat memanfaatkan peluang yang ada, pihak orang yang merangsak terutama harus dapat menduduki posisi yang menguntungkan, tapi dalam hal pertahanan juga harus diperhatikan, karena jika pihak sendiri sedang menyerang adalah lumrah jika pertahanan diri sendiri menjadi lemah, kelemahan ini paling gampang digunakan oleh lawan untuk balas menyergap dan menemukan kelemahan pihak sendiri. Dalam keadaan yang demikian, bila satu lawan satu masih boleh dicoba-coba. Tapi sekarang keadaannya lain, pihak musuh masih ada dua tokoh kosen yang bisa selalu memberikan tekanan berat pada dirinya, betapapun aku tidak boleh sembarangan bergerak tanpa perhitungan, demikian pikirnya.

Siperwira itu tidak kenal siapa Geng Tian dan ia tidak tahu akan kelihayannya begitu mendengar orang adalah putra Kang-lam Tayhiap Geng Ciau, tak tahan lagi segera ia berteriak : "Lou Ceng-cu bocah she Geng itu jauh lebih penting dari pada bandit-bandit dari Ceng-liong-pang, hayo bekuk dia kenapa kau tidak maju lagi? Mari kubantu kau !" Tanpa pedulikan Lu Giok-yau dan lain-lain sambil menenteng golok cepat ia memburu kearah Geng Tian.

Geng Tian tertawa, ujarnya : "Nona Lu, tempo hari waktu aku bertandang ke rumahmu, aku datang dengan bertangan kosong tanpa oleh-oleh apapun hari ini biarlah kuberikan sebuah kado padamu untuk menebus kesalahanku tempo hari."

Terdengar Lou Jin-cin berteriak kaget : "Tayjin, awas !" bicara lambat terjadinya justru teramat cepat sekonyong-konyong secepat kilat Geng Tian sudah mencelat lewat dari atas kepalanya lekas-lekas Lou Jin cin mengayun pecutnya keatas, pecut panjangnya melingkar ditengah udara terus menggubat turun kearah dua kaki Geng Tian, Tapi Nyo Su-gi dan Lo Hou wi tidak tinggal diam, golok Lo Hou-wi yang berhasil dijemputnya kembali secepat kilat membacok kearah lengan kiri sedang telapak tangan besi Nyo Su-gi menepuk ketengah dadanya, sedang Geng Tian yang melayang ditengah udara juga tidak mandah diserang kipasnya yang terangkap itu mengetuk ke ubun diatas batok kepalanya.

Lekas Lou Jin-cin merendahkan badan, sementara cambuk lemasnya ditarik dengan naik turun, didalam waktu yang singkat saja ia sudah berhasil menyampok golok cepat Lo Hou-wi serta melindungi dada sendiri, untunglah ia berlaku sigap sehingga dirinya tidak kena pukulan tangan besi Nyo Su-gi. Kalau dalam pertarungan ini ia satu lawan satu, cambuk lemasnya itu pasti berhasil melilit badan Geng Tian, tapi golok cepat Lo Hou-wi dan telapak besi Nyo Su-gi merangsek datang bersama dari dua arah, terpaksa dia harus menyelamatkan diri lebih dulu.

Tentara perwira itu sedang memburu datang kearah Geng Tian, kebetulan memapak kedatangan Geng Tian yang melambung tinggi melampaui kepala Lou Jin-cin.

Ditengah udara Geng Tian gunakan gaya burung dara jumpalitan, meski perwira itu sangat mahir menggunakan golok panjangnya diatas kuda, namun bicara soal ilmu silat sudah tentu ia belum pernah melihat kepandaian ginkang yang begitu menakjubkan, belum lagi senjatanya bekerja hatinya sudah kaget dan ciut nyalinya. Maka disaat golok besarnya terayun dengan jurus Soat-hoa-kay-ing (bunga salju menutupi kepala) kalau kepala bisa terlindung sebaliknya dadanya terbuka lebar belum lagi goloknya mampu menyentuh ujung baju Geng Tian tahu-tahu ia rasakan badannya kesemutan dan lemas, ternyata sudah kena ditotok oleh Geng Tian.

Geng Thian mainkan gaya kera berjoget seperti menjinjing anak ayam saja ia angkat perwira itu diputar putar terus dilontarkan ketengah udara, lalu disambernya pula tengkuk orang serta mengancam: "Kalau ingin hidup lekas tarik pasukanmu!"

Semula perwira itu hendak main keras kepala, tapi setelah dilontarkan turun naik dua kali ketengah udara, arwahnya serasa copot dari badan kasarnya, saking ketakutan badan lemas lunglai, terpaksa ia memberikan perintahnya, "Berhenti kalian lekas mundur !"

Kata Geng Tian: "Jiwamu boleh kuampuni, tapi kalau tidak kuberi sedikit hajaran mungkin kau bisa mencari keributan pula !" jari tengahnya lantas menutuk dengan ilmu tunggal seperguruannya, seketika perwira merasa seluruh badannya kesakitan seperti dicocoki ribuan jarum, badan tidak mampu bergerak, tapi mulut masih bisa bicara: "Ampun Hohan, segera kutarik pasukanku dan pulang kekota, sekali tidak berani kemari lagi!"

"Kau tidak akan mampus, dua belas jam kemudian jalan darahmu akan bebas sendiri. Kalau kau tidsk tahan derita boleh kau suruh Lou Jin cin bantu membuka tutukan Hiat tomu."

Dalam sekejap saja pasukan pemerintah itu sudah keluar lembah dan semakin jauh, Nyo Su-gi undang ketiga saudaranya untuk memberi hormat kepada Geng Tian, katanya, "Kita mendapat perintah dari pangcu untuk memapak kedatangan Kongcu, tidak nyana Kongcu telah tiba lebih dulu. Markas pusat kita ada di Ki-lian-san. Kongcu kalau tiada urusan penting lainnya, silahkan pulang bersama kita."

"Aku memang harus menemui Liong pangcu kalian, tapi kita harus mengantar nona Lu ini pulang lebih dulu!"

Ditengah jalan bertanyalah Lu Giok-yau: "Geng toako, darimana kau bisa tahu kalau aku berada disini?"

"Secara tidak langsung In tiong yan yang memberi tahu kepadaku!"

"Secara tidak langsung? Apakah In tiong yan suruh orang memberitahu kepada kau?"

Dua tahun belakangan ini nama In tiong yan sudah cukup tenar di Kangouw, Su-tay-kim kong pun pernah mendengar kebesaran namanya, kata Nyo Su gi: "Geng kongcu, kau baru saja tiba di Tionggoan, cara bagaimana kau bisa kenal dengan perempuan iblis itu?"

"Apakah kau tidak kenal dia?" tanya Geng Tian tertawa.

"Sudah lama kudengar namanya, cuma belum pernah bertemu muka."

Posting Komentar