Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 97

NIC

"Selama beberapa hari beberapa malam tanpa mengenal lelah dan tidur, makan tidak bisa tidur Giok yau meladeni aku, merawat lukanya sampai sembuh. Apakah lantaran sedikit perselisihan dengan ibunya lantas aku tidak mau hiraukan dia lagi ?" Terpikir pula oleh Hong tian-lui, "Giok yau adalah Giok-yau, ibunya adalah ibunya, lain ibu lain anak. Kalau bibi Lu tidak senang kepadaku, apa sangkut pautnya dengan dia ? Yang terang dia kan suka kepadaku . . ." teringat akan kelakuan Giok yau yang begitu mesra dan prihatin terhadap dirinya selama ia sakit, teringat akan sikap dan rasa berat serta mata yang berkaca kaca karena cinta kasihnya . . . sama-sama itu, cukup jelas membuktikan betapa murni cintanya terhadap dirinya. Serta merta jantung Hong Thian lui berdegup dengan amat kerasnya, lapat-lapat ia merasakan pula ucapan ayahnya yang tidak bisa diterima akan kebenarannya.

Ling Hou tidak suka memperbincangkan persoalan Lu Tang-wan suami istri. Segera ia putar haluan dan ajak bicara kepada Hek swan-hong dan Geng Tian, katanya : "Hong hiantit, Geng hiantit, bila kalian berdua tidak ada urusan lain yang penting, kuharap kalian suka mampir ke rumahku barang beberapa hari? Anak anak muda sulit mendapat sahabat karib yang sehaluan dan setujuan, berilah kesempatan kepada putraku untuk mendapat pengalaman lebih banyak dari kalian ?"

"Memang aku ingin berkumpul beberapa hari lagi dengan Tiat-wi, tapi aku harus segera menuju Tayloh untuk menemui Liok pangcu dari Kaypang untuk memberikan laporanku dalam perjalanan ke Liang san tempo hari, dan yang terpenting menyerahkan Pinghoat itu kepada beliau supaya beliau suka memberikan keputusannya. Terpaksa harus ditunda lain kesempatan untuk menyambangi paman ?"

Ling Hou tahu betapa penting tugasnya itu maka ia berkata tertawa; "Kalau begitu aku pun tidak akan paksa kau !"

Mendadak Hong thian lui angkat bicara: "Yah, aku ingin ikut Hong toako pergi ke Taytoh untuk melihat lihat dan mencari pengalaman bagaimana pendapatmu?"

"Bukannya tidak baik, kuatirku pengalamanmu terlalu cetek, badanmu belum sehat seluruhnya, begitu berada di ibu kota negeri Kim segala sesuatunya perlu kewaspadaan yang berlebihan, apakah kau tidak membebani orang lain ?"

Hong thian lui tertawa, katanya : "Toh bukan seorang saja yang pergi ada pula Hong toako yang akan memberi petunjuk kepadaku, lukaku sudah delapan puluh persen sembuh, luka luka luar yang belum sembuh ini tidak bakal mempengaruhi diriku. Perjalanan ke Taytoh dari sini paling cepat memakan waktu satu bulan. Dalam jangka sebulan masa takkan sembuh seluruhnya?"

"Liok pangcu adalah sahabat lama yang sudah tak pernah jumpa beberapa tahun," demikian Cin Hou-siau ikut menimbrung. "Dengan kesempatan ini biarlah Tiat wi ikut menyambangi dia sekaligus menyampai salam dari kita."

Hong thian-lui berjingkrak kegirangan, serunya: "Saudara Geng, kau bagaimana?"

"Aku justru punya urusan lain. Mungkin aku tidak bisa ikut kalian pergi ke Taytoh bersama!" demikian sahut Geng Tian, lalu ia berpaling dan katanya pula : "Sam-wi Locianpwe, aku tanya, apakah kau tahu seorang pangcu Ceng-liong-pang yang bernama Liong Jiang-poh ?"

"Kau kenal dengan Liong pangcu ?" tanya Cin hou-siau.

"Beliau adalah bekas bawahan ayahku!" demikian sahut Geng Tian. "Siautit sendiri belum pernah ketemu dengan beliau, entahlah dimana letak kedudukan Ceng-liong-pang itu."

Kata Cin Hou-siau: "Aku kenal dengan Liong Jiang-poh itu, tapi sudah sekian tahun aku tidak kelana didunia kang-ouw, entah dimana markas besar Ceng-liong-pang itu !"

Sekarang Sip It-sian campur bicara : "Berita tentang Ceng-liong-pang aku pernah dengar sedikit, semula markas besarnya didirikan di Hu-gu-san, konon kabarnya tahun yang lalu sudah hijrah ke Ki-lian-san."

"Wah ! pindah sedemikian jauhnya !" seru Cin Hou-siau.

Perlu diketahui Hu-gu-san terletak di Tiong-ciu wilayah Holam, sebaliknya Ki-lian-san terletak di Kam-siok daerah barat laut, jarak kedua gunung ini terpaut beberapa ribu li jauhnya, sebab Cin Hou-siau tahu bahwa Ceng Liong-pang merupakah satu perkumpulan rahasia yang melawan kerajaan Kim, dengan memindahkan markas besarnya ke Ki-liansan berarti mempersukar segala pergerakan dan fasilitas maka ia mengajukan pertanyaan yang mengherankan itu.

Sip It-sian menjelaskan : "Justeru karena rahasia Ceng-liong pang sudah diketahui oleh pihak kerajaan Kim. Komandan Gi-lim-kun dari kerajaan Kim yang bernama Wanyen Tiang-ci hendak mengirim pasukannya untuk menumpas mereka, begitu mendapat kabar ini, Liong Ciau tahu bahwa Hu-gu-san tidak mungkin kuat untuk bercokol Iebih lama pula, maka jauh-jauh mereka pindah ke Ki-lian-san, disana mereka hendak menyusun kekuatan pula!!"

"Beritamu ternyata cukup aktuil. Rahasia yang sangat penting ini, darimana kau dapat dengar?" Cin Hou-siau bertanya sambil bergurau.

Sip It sian tertawa, tuturnya : "Kalau dibicarakan berita rahasia ini aku jauh lebih dulu mendapat tahu dari Liong Jiang poh sendiri. Gundik kelima dari Ciangkun yang bercokol di Aiciu mempunyai serenteng Ya-bing-cun seharga puluhan laksa tail perak yang dibeli dari seorang pedagang dari Persia. Mendapat kisikan dari seorang ahli sebetulnya aku berniat mencuri serenteng mutiara itu tidak kuduga belum lagi rentengan mutiara itu berhasil kucuri justru surat perintah Wanyen Tiang ci kepada panglima di Ai-ciu itu berhasil kucomot!"

Cin Hou siau bergelak tertawa, serunya, "Hasilmu ini jauh lebih berharga dari nilai serenteng Ya-bing-cu itu!"

"Secepatnya aku segera mengirim berita ini ke Hu ga-san," demikian Sip It sian melanjutkan. "Tatkala itu memang Liong Jiang-poh sudah mendapat sedikit berita, tapi tidak sejelas seperti yang kuperoleh. Setelah melihat surat rahasia itu baru dia berkepastian untuk memindahkan tempat tinggal markas besarnya itu. Tapi waktu itu hanya diputuskan untuk pindah tempat dan belum mendapat kepastian tempatnya. Baru belakangan ini aku mendapat tahu mereka sudah pindah ke Ki liansan.

O^~^~^O

"Dan bulan yang lalu aku bertemu dengan Nyo Sugi, tertua dari anak buahnya yang mendapat gelar Su-tay-kim-kong, katanya Liong-jiang-poh sangat kangen kepadaku, minta aku suka mertamu kesana."

Geng Tian menjadi girang, katanya, "Kiranya Sip lociang punya hubungan begitu kental dengan Liong-pangcu, kalau sudi kesana bersama Wanpwe itulah bagus sekali."

Sip It-sian tertawa, ujarnya; "Aku masih punya urusan jual beli besar yang perlu segera kulaksanakan. Undangan Liong-pangcu terpaksa harus kutundakan setengah tahun lagi baru bisa kupikirkan. Lote, dihadapan Liong pangcu harap kau suka sampaikan salamku kepadanya."

Geng Tian ingin tahu lebih banyak mengenai seluk beluk Ceng-liong-pang ini, maka ia bertanya lebih lanjut: "Aku hanya tahu Ceng-liong-pang mempunyai seorang pangcu entah masih punya tokoh tokoh penting siapa lagi?"

"Umpamanya yang kusebut sebagai Su-tay-kim-kong itu tadi," sahut Sip It-sian, lalu ia jelaskan nama, raut wajah serta usia dari Su-tay kim kong itu satu persatu kepada Geng Tian. Setelah semua bicara jelas, beramai ramai mereka ambil perpisahan di tengah jalan.

Geng Tian ingin selekasnya menemui Liong Jiang-poh. Maka malam hari ia menempuh perjalanan. Hari itu ia tiba disebuah kota kecil, dalam kota kecil itu hanya terdapat sebuah penginapan, baru saja Geng Tian menuju kerumah penginapan itu, tahu-tahu didepan pintu kelihatan segerombolan petugas hukum yang menunggang kuda sedang mengepung rumah penginapan itu. Agaknya rumah penginapan itu seperti ada menyembunyikan seorang gembong penjahat yang sedang diburu oleh para opas itu.

Didepan penginapan ini terdapat sebuah warung minuman, lekas-lekas Geng Tian masuk kedalam dan sembunyi disana, sembari menikmati air teh dengan seksama ia memperhatikan kejadian didepan itu.

Tatkala itu sebagian petugas opas itu sudah meluruk masuk kedalam, mereka mulai mengadakan razia dengan segala kegaduhan, tidak luput pemilik rumah penginapan itu menjadi sasaran berbagai pertanyaan dan ancaman. Dari tempat duduknya didalam warung kecil itu Geng Tian dapat mendengarkan dengan jelas sekali.

Mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring, sebuah suara serak berteriak, "Ong losan kau tahu apa dosamu?" Geng Tian tak melihat orang berada disebelah dalam, dalam hati ia membatin: "Orang itu pasti kepala opas karena mendengar sikapnya yang begitu garang ternyata tidak lebih seorang penyakitan yarg diluar kelihatan kuat sebenarnya dalamnya sudah keropos. Hai, didengar dari nada nada katanya, kelihatannya belum lama ia pernah terluka dalam. Kalau penginapan itu benar ada sembunyi sebangsa perampok yang berkepandaian tinggi, kepala opas macam dia mana melaksanakan tugasnya!"

Selanjutnya terdengar pula suara Ong lo-san yang gemetar, "Hamba membuka rumah penginapan ini dengan modal kecil, selamanya bekerja untuk ketentuan ketentuan yang ada entah dosa apa sebenarnya yang telah kami perbuat ?''

Kepala opas itu membentak: "Coba buka matamu lebar-lebar lihat siapa aku? Huh, hmm kenal tidak? Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau menyembunyikan bangsat bangsat pelarian dari Ceng-liong-pang, berani kau mungkir dan main debat apa segala?" Ternyata penginapan ini adalah tempat dimana In-tiong-yan dan Su-tay-kim-kong tempo hari menginap, dan kepala opas ini tidak lain tak bukan adalah orang yang dilukai oleh In tiong-yan malam itu.

Kini setelah luka lukanya rada sembuh tahu bahwa orang orang Ceng liong pang itu pasti sudah tiada didalam penginapan itu, sengaja ia datang untuk mencari gara gara melampiaskan kemendongkolan hatinya dan tak lupa tentunya ia sudah memeras sipemilik rumah penginapan demi keuntungan kantongnya.

Mendengar nama Ceng liong pang, Geng Tian menjadi girang dan terkejut pula pikirnya: "Bila pemilik rumah penginapan ini punya hubungan erat dengan Ceng liong pang bagaimana juga aku tak bisa berpeluk tangan!"

Terdengar sipemilik penginapan itu sedang berkata: "Harap Tayjin suka periksa dengan adil, sesuai dengan fungsi sebagai penginapan adalah jamak kalau aku menerima para tamu dari luar daerah, hari itu aku hanya tahu kedatangan empat orang tamu seperti lazimnya orang orang yang melakukan perjalanan jauh mana hamba tahu dia dari pihak Ceng liong pang atau Ui liong pang?"

Kepala opas itu menyeringai dingin jengeknya; "Apa benar kau tidak tahu asal usul mereka? Lalu siluman perempuan baju hitam itu kau juga tidak tahu siapa dia?"

Geng Tian semakin heran pikirnya: "Pihak Ceng liong pang yang datang ada empat orang? Dua hari yang lalu Sip Lo cianpwe ada bilang tentang Suthay kim kong apakah mereka ini yang dimaksud? Masa bisa begitu kebetulan? Aku sedang mencari tahu berita mereka bila hal ini benar benar aku tak perlu susah lagi mencari kemana mana. Tapi siapa pula siluman perempuan baju hitam itu?"

Baru hilang pikirnya terdengar kembali pemilik rumah penginapan itu menyambung lagi dengan suara terputus putus; "Aku...aku... aku lebih tidak tahu soal dia." kiranya saking ketakutan badan gemetar suaranya tenggelam ditenggorokan.

Kepala opas agaknya semakin mendapat angin jengeknya lagi, "Bila kau tidak hubungan erat dengan dia mana kau sudi memberikan tempat kepada seorang muda belia yang kelenteng kelenteng diluaran seorang diri? Hmm malah kudengar kau ada menumpah barang barang curiannya! Hayo bicara terus terang dihadapan hukum jangan kau main mungkir lagi!"

Gigi pemilik penginapan berkerutukan saking ketakutan sahutnya: "Mana....mana ada..... kejadian itu. Mana ada kejadian itu......!"

"Berani mungkir lagi?" bentak kepala opas, "Emas yang melong melong dan perak yang gemerlapan ada orang yang menjadi saksi bahwa begal perempuan itu mencerahkan kau!"

Mendengar tekanan opas itu semakin garang mau tak mau Geng Tian berpikir, "Entah siapakah siluman perempuan baju hitam itu. Tapi toh ia berada sama orang orang Ceng liong pang, terang dia adalah kaum pendekar yang mengamalkan bhaktinya. Tidak mungkin orang orang Ceng liong pang itu ada menyembunyikan harta curian apa segala dalam penginapan ini, jelas adalah fitnah belaka dari para opas itu untuk memeras. Hm mungkin para cecurut hukum ini akan menggunakan kompresnya, sudah saatnya aku turun tangan."

Baru saja Geng Tian hendak menerjang kesana melabrak para opas itu diluar dugaan percakapan dalam rumah penginapan itu mendadak menjadi sirap dan tak terdengar lagi. Sebagai seorang yang pernah melatih kepandaian senjata rahasia ia menegakkan telinganya untuk mendengarkan dengan cermat samar samar didengarnya suara tawa kesenangan dari kepala opas itu.

Dan tamu yang duduk di meja sebelah terdengar sedang berbisik bisik kata salah seorang: "Menurut hematmu apakah benar Ong lo san ketiban rejeki nomplok?"

Seorang yang lain menyahut, "Mana mungkin ada kejadian itu. Ong losan seorang yang takut kena perkara kalau hanya tanpa akan persenan kecil mungkin jadi menerima hasil rampokan kuduga dia mana berani?"

"Kenapa ia tidak membela diri?" Cepat kawannya ini angkat pundak katanya tertawa: "Kau tanya aku mana aku tahu? Pendek kata aku percaya akan kebersihan hati Ong losan.''

Geng Tian juga menjadi serba salah pikirnya, "Kenapa kepala opas itu berubah lunak dan tidak mengompresnya lebih lanjut, tidak terdengar suara siksaan?"

Ternyata pemilik penginapan itu mendadak memperoleh ilham teringat olehnya akan sebuah pepatah yang berkata, menghabiskan harta benda untuk membendung malapetaka pikirnya: "Mungkin dia tahu bahwa nona itu ada memberi aku sebutir kacang emas sangkanya entah berapa banyak persen yang kuperoleh. Ah, sebetulnya sebutir kacang emas itu taju." Segera ia keluarkan kacang emas itu lalu disesepkan ketangan kepala opas serta memberi keterangan seperlunya ditambah lagi dengan seluruh uang kontan yang ada didalam lacinya. Mengingat penginapan kecil yang tidak mungkin diperasnya lebih lanjut, kepala opas itu akhirnya menerima hasil yang cukup.

Setelah menerima uang sogokan kepala opas itu pura pura membentak pula dengan suara garang: "Jadi kau benar benar tidak tahu kemana larinya perampok itu ?"

"Hamba benar benar tidak tahu," sahut pemilik penginapan setelah sogokannya berhasil hatinya menjadi besar dan bangkit pula nyalinya suaranyapun lebih tenang dan keras.

Posting Komentar