Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 100

CSI

Setelah Lu Giok-yau pamit pada ibu inangnya, segera ia pulang bersama sang piauko. Sepanjang jalan ini Khu Tay-teng selalu celingak celinguk; air mukanya masam kelihatannya hatinya kurang tentram.

Lu Giok yau berjalan didepan, saban saban ia berpaling kebelakang, melihat roman muka Khu Tay-seng yang ganjil itu ia menjadi heran, tanyanya: "Piauwko, apa yang sedang kau amati??"

Khu Tay seng tak sempat menyembunyikan tingkah lakunya yang kurang wajar, ia jadi gelagapan, sahutnya mengada ada. "Oh! oh! tidak apa-apa, sudah lama aku tak pernah masuk desa, melihat-lihat pemandangan saja."

Lu Giok yau tertawa geli, ujarnya: "Gugusan bukit yang gundul plontos dalam lurah sempit begini ada pemandangan apa yang enak dinikmati?"

Untuk pulang kedalam kota dari rumah ibu inang Lu Giok-yau memang harus lewat sebuah bukit yang jarang pepohonan, lembah didalam lurah ini kira kira sepanjang empat lima li.

Belum lama mereka berjalan tiba tiba tampak beberapa orang yang gerak geriknya sangat mencurigakan Lu Giok yau terkejut, pikirnya: "Daerah yang tandus dan belukar rumput alang alang begini, untuk apa orang-orang itu main sembunyi-sembunyi disana, apakah mereka itu kawanan perampok?"

Belum lagi lenyap pikirannya, orang itu sudah menerobos beramai ramai mencegat ditengah jalan. Kiranya mereka adalah serombongan pasukan tentara negeri, yang lebih mengejutkan lagi setiap orangnya menghunus senjata tajam ada pula yang memasang busur dan panah seperti sedang menghadapi musuh besar.

Dalam kejap lain mereka sudah terkepung ditengah jalan oleh pasukan negeri itu. Segera muncul seorang perwira yang membentak kepada mereka: "Mana Cin Liong hwi bocah itu?"

Khu Tay Seng jadi berdiri melongo seperti jago keok selang sesaat baru ia sempat menenangkan gejolak hatinya sahutnya tercekat: "Bahwasanya Cin Liong hwi tidak pernah datang kemari. Aku menjemput Piauwmoayku pulang tiada sangkut pautnya dengan keparat Cin Liong hwi itu, harap Koau tiang (komandan) suka memberi jalan untuk pulang."

Perwira itu tertawa dingin jengeknya: "Oo, jadi kau main main dengan kami? Apa yang pernah kau laporkan kepada kami ?" Lu Giok yau tercengang katanya: "Piauko, apakah kau kenal mereka? Apa pula yang kau laporkan?"

"Ti....tidak!" sahut Khu Tay seng sambil berkedip kedip memberi isyarat kepada Perwira itu.

Tapi perwira tidak perduli, langsung ia mencercah: "Apa berani bilang tidak? Bukankah kau memberi lapor kepadaku supaya kita meluruk kemari membekuk Cin Liong hwi anak Cin Hou siau itu turunan kawanan bandit dari Liang san? Hm sekarang bocah itu tidak kelihatan lantas kau mau mungkir, masa seenak udelmu sendiri kau hendak lepas dari pertanggungan jawab dari laporan palsumu! Hayo bekuk bocah ini!"

Ternyata Khu Tay seng menyangka Cin Liong hwi bersama Piaumoaynya melarikan diri dan menginap dirumah ibu inangnya, dia anggap Cin dan Ling dua orang ini sebagai musuh asmaranya demi menjebol penghalang ini tak segan segan ia masuk kebalai kota memberi lapor kepada residen untuk menangkap Cin Liong hwi, perwira ini adalah salah seorang anak buah Wanyen Tiang-ci yang dimutasikan ke keresidenan sini menjabat komandan tertinggi.

Sebelumnya ia sudah berjanji dengan perwira ini cuma meringkus Cin Liong hwi seorang sedang dia bersama piaumoay pura pura melawan dan berhasil melarikan diri. Tidak terduga melihat buronannya tidak ada, perwira ini main garang sekarang dirinya malah dijadikan sasaran untuk menemukan jejak Cin Liong hwi itu, yang lebih celaka rahasia dirinya memberi laporan telah dibocorkan didepan Giok yau.

Sudah tentu terkejut Lu Giok yau bukan main seketika ia menjerit kaget: "Apa? Piauko kau... bagaimana bisa melakukan perbuatan rendah ini?" meski ia sangat benci terhadap pribadi Cin Liong hwi tapi Khu Tay seng sekongkol dengan pasukan pemerintah, perbuatannya ini berarti jauh lebih jahat.

Sementara itu pasukan tentara sudah beramai ramai menyerbu maju. Khu Tay seng serba salah apakah melawan atau tidak namun tangan tentara itu sudah beramai ramai mencengkeram ke berbagai tubuhnya sekuat tenaga ia berontak tapi sekali ketok dari perwira itu berhasil memukulnya jatuh kontan ia diringkus dan dibelenggu.

Beberapa tentara yang lain memburu ke arah Giok yau salah seorang diantaranya cengar cengir katanya, "Gendak ini cukup rupawan!" dan seorang yang lain menanggap: "Jangan kesusu gendak ini adalah putri Lu Tang wan. Kita harus mendengar petunjuk Congping dulu."

Maka terdengar perwira itu berseru: "Peduli Lu Tangwan atau setan ringkus saja!"

Lu Giok yau jadi naik pitam pedang dilolos keluar bentaknya: "Kalau tidak diberi hajaran rupanya kalian anggap nonamu gampang dibuat permainan." ... Sret, sret sret ! cukup tiga kali tebasan pedangnya kontan beberapa orang terjungkel roboh bergelundungan. Untung ia masih punya rasa kasihan tak mau main bunuh cukup ia tutuk berbagai jalan darah mereka dengan ujung pedangnya.

Perwira itu menjadi gusar, bentaknya ; "Budak yang kejam, biar kau rasakan kelihayanku!" perwira ini adalah salah seorang anak buah Wanyen Tiangci yang gagah berani ilmu silatnya sangat tinggi, senjatanya merupakan sebilah golok baja yang besar dan berat. Lu Giok-yau dapat mengembangkan kelincahan tubuhnya dengan gerak pedangnya yang tangkas dan gesit, tapi ia tidak mampu menembus pertahanan musuh, setiap kali pedangnya kebentur dengan senjata berat lawan, pergelangan tangannya tergetar sakit dan senjata sendiri hampir terpental lepas.

Tiba2 dari pasukan pemerintah itu berjalan keluar dua orang laki laki tua dan muda yang berpakaian preman. Begitu tiba digelanggang pertempuran, siorang tua itu lantas bergelak tertawa, serunya: "Nona ini adalah keponakanku, harap Koantiang suka memandang mukaku, biar dia kubawa pulang diserahkan kepada bapanya supaya diberi hajaran."

Orang tua ini bukan lain adalah Teng-cu Lou-keh-ceng Lou Jin cin.

Perwira itu lantas tertawa: "Tidak pandang muka Hwesio harus pandang Budha jadi Lou cengcu adalah sahabat Lu Tang wan, baik kupandang muka Lou-cengcu kubebaskan dia dari persoalan ini!"

Lalu ia sentakkan goloknya mendesak mundur Lu Giok-yau serta katanya pula : "Lou-cengcu menanggung kau, lekas ucapkan terima kasih dan ikut Lo-cengcu pulang.''

Lu Giok-yau menjadi gusar makinya, "Lou Jin cin kau ini musang berbulu ayam, sekali gagal kau ingin mencelakai aku lagi ? lebih baik aku mati ditanganmu. Jika aku mati pasti ayah menuntut balas bagi aku!''

"Aduh kenapa kau berkata demikian," Lou Jin-cin menarik suaranya, "mau ditolong malah mentung."

Lu Giok-yau menjengek dingin, ujarnya: "Kau ini anjing galak yang selalu ingin menggigit orang tanpa menunjukkan gigimu?"

Perwira itu mencak mencak gusar timbrungnya: "Budak liar ini tidak tahu diuntung berani ia kurang ajar terhadap orang tua, kuserahkan dia pada kau orang tua untuk membereskannya.''

Lou Jin cin mengiakan lalu bersama pemuda itu ia maju lebih lanjut, katanya : "Keponakanku yang baik, agaknya kau masih marah karena peristiwa malam itu, Hehe, soalnya Cin Liong-hwi bocah keparat itu datang bersama kau, mana aku tahu bahwa kawanmu itu seorang manusia berhati binatang kenapa pula kau salahkan aku. Tapi meski begitu paling tidak aku juga punya kesalahan tidak becus melindungi kau, hari ini aku sengaja menyusul kemari bersama putraku ini, supaya ayahmu tidak terlalu berkuatir."

Sembari berkata ia beranjak maju lebih dekat sampai dihadapan Lu Giok yau, Lu Giok-yau diam saja tiba-tiba ujung pedangnya menyelonong maju menusuk ke tenggorokan orang bentaknya : "Cin Liong hwi bukan orang baik-baik, tapi kau jauh lebih jahat dari dia! Anggapan aku gampang kau tipu!"

Lou Jin cin angkat tangannya menjentik.

"Treng!" Ceng kong-kiam Giok yau diselentik mental kesamping dengan sikap tawa tidak tertawa mulutnya mengoceh lagi : "Kau tidak tahu kebaikan, masa aku harus berpandangan seperti bocah ingusan. Kalau kau ingin berkelahi biarlah anakku ini mengiringi kehendakmu. Hehe, kalian belum pernah ketemu, kalau tidak berkelahi tentu tidak akan kenal, hayolah kalian belajar kenal dengan adu kepandaian silat!"

Ternyata setelah mendapat laporan rahasia Khu Tay seng sebagai keturunan bandit bandit Liang-an tentu kepandaian Cin Liong hwi cukup lihay kuatir dirinya tidak mengatasi maka sengaja ia undang Lou Jin-cin dan putranya untuk membantu.

Posting Komentar