Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 114

NIC

Dengan sejurus Yu yan pat hong, Pek Kian bu mainkan pedangnya menerjang ke depan membuka jalan, bentaknya: "Apakah kalian menepati janji yang telah kalian katakan?" pedangnya menangkis dan menahan sepasang golok Siam-tiong siang sat. Kedua tenaga gabungan itu cukup berat, ia sendiri baru sempat berdiri dan pasang kuda-kuda hingga badannya tergetar mundur dan kakinya terpeleset masuk kedalam lumpur.

"Kata yang pernah kuucapkan sudah tentu kutepati," demikian jengek laki laki tertua serba hitam itu. "Kalau kau mampu menghadapi keroyokan mereka, mari kau lawan aku seorang diri."

Pek Kian bu tahu akan kelihayan laki-laki baju hitam ini, ia lebih rela melawan dua musuhnya dari Siam-tiong-siang-sat dari pada menghadapi orang yang jauh lebih lihay dan berbahaya. Maka tanpa bicara lagi pedangnya dimainkan merangsek gencar sebab begitu naik kedarat, kakinya lantas kejeblos kedalam lumpur. Siam tiong siang sat menempati posisi yang lebih menguntungkan, dengan gencar golok menyerang sehingga Pek Kian bu dirabu kerepotan.

Semakin tempur bercekat hati Pek Kian bu, kiranya Siam-tiong-siang sat berhasil meyakinkan semacam ilmu golok, masing-masing menggunakan tangan kiri dan kanan memegang goloknya, satu menyerang melindungi dan menjaga diri begitulah ganti berganti dengan permainan perpaduan kerja sama rapat dan ketat serta serasi, sehingga bukan saja serangannya yang gencar, pertahanan merekapun cukup tangguh. Meski Pek Kian-bu sebelumnya belum terjeblos kedalam posisi yang tidak menguntungkan, belum tentu ia mampu menghadapi paduan serangan golok mereka.

Siam tiong-siang-sat bergelak tertawa, katanya: "Berani kau mengaguIkan diri sebagai salah satu Sutay-kim kong dari Ceng-liong-pang segala, menurut pandanganku, menjadi seekor ular airpun kau tidak setimpal kalau menjadi belut kiranya rada cocok bagi kau!"

Belum lenyap suaranya mendadak terdengar sebuah suara dingin mencemooh berkata: "Anjing menjalak harimau, udang mempermainkan naga. Memangnya orang orang gagah dari Ceng-liong-pang berpandangan sesempit kalian kawanan anjing buduk."

Pertama kali suara itu berkumandang jaraknya seperti jauh tapi mendadak berubah begitu keras seperti jarum menusuk telinga sehingga kuping Siam-tiong siang sat mendengung sakit. Karuan mereka sangat kaget, waktu menoleh tampak sesosok bayangan orang sudah menembusi hutan meluncur datang. Benar-benar hebat, kumandang suaranya tiba orangnyapun tiba, kecepatannya sungguh sukar dilukiskan dengan kata kata.

Laki-laki tua baju hitam yang jadi pemimpin itu segera membentak: "Apakah engkau Nyo Su gi??" Ia lihat kepandaian silat pendatang ini cukup tinggi, maka ia sangka ketua dari Su-tay kim kong yaitu Nyo Su gi adanya, maka dengan cepat ia melangkah maju sambil merangkap kedua tangan menjura, yang digunakan adalah jurus Thong-cu-pay-koan-im. Karena Nyo Su-gi merupakan tokoh terkenal yang punya kedudukan baik di Bu-lim, maka tidak bisa tidak dia harus unjukkan sedikit rasa hormatnya. Tetapi lahirnya saja jurus yang dia gunakan itu menjura, bahwasanya dia berusaha merintangi orang.

"Blaaang!!" Telapak tangan kedua belah pihak bentrok dengan keras, luncuran tubuh orang itu seketika terhenti, sedang laki-laki baju hitam itupun terhuyung dua kali. Baru sekarang dia melihat dengan tegas, bahwa pendatang ini kiranya seorang pemuda berusia dua puluh tahun.

Merah jengah sampai kekupingnya roman laki laki baju hitam, bentaknya: "Kau Lo Hou wi atau Ong Beng im?'' Sementara dalam hati ia membatin: "Masakah Losam atau Losi dari Ceng liong-pang ini membekal Iwekang yang begini hebat?"

Terlihat oleh Geng Tian, Pek Kian bu sudah keteter keadaannya. Cukup gawat, dibuktikannya pula orang yang mencegat dirinya berkepandaian tinggi tiada tempo ia melayani pertanyaan orang, bentaknya, "Siapa sudi berkenalan dengan kau minggir!" kedua tangan kiri, telapak tangannya menyodok ke Tiong-kiong dengan kekerasan ia hendak menerjang lewat.

Laki baju hitam itu tertawa serunya: "Sudah puluhan tahun aku orang she Toh malang melintang di Kangouw, Nyo Sugi melihat aku pun tidak berani bertingkah kau bocah ini ternyata kurang ajar main bentak lagi kepadaku?"

Dalam sekejap kedua pihak sudah saling serang puluhan jurus dengan cepat sekali Geng Tian merangsek gencar dengan pukulan mautnya tenaga pukulan lawan pun cukup kuat dan kokoh mesti tidak secepat permainannya namun bagai tembok baja ia menghadang di depan Geng Tian, setapakpun tidak memberi peluang kepadanya. Tetapi serangan gencar Geng Tian toh hanya mendesak lawan mundur tiga tapak dalam gebrakan puluhan jurus itu.

Diam2 mencelos juga hati Geng Tian, batinnya, "Musuh Pek jiko kiranya begitu liehay." di luar tahunya kalau toh ia kaget lawannya lebih kaget pula.

Laki laki baju hitam she Toh dan laki-laki baju hitam lainnya yang dipanggil orang Gi pak siang hiong (dua orang gagah dari Hopak) mereka sudah malang melintang di Kangouw puluhan tahun belum pernah menemukan tandingan kecuali pernah satu kali mereka bentrok dengan pendekar kelana yang terkenal yaitu Jio cu kan kun Hoa Kok ham, mereka berdua maju bersama, selamanya tentu satu lawan satu.

Semula laki laki she Kong itu masih berpeluk tangan menonton dari samping namun semakin mengikuti pertempuran saudaranya semakin terkejut hatinya, pikirnya: "Kalau sampai Toako dikalahkan oleh anak muda dari angkatan muda itu masakah nama Gi pak siang hong masih bisa kumandang di kalangan kangouw?" seketika timbul nafsunya membunuh, pikirnya: "Mumpung Nyo Sugi belum keburu datang biar kubunuh dia biar tutup mulut." menurut perhitungan Pek Kian bu pasti dapat dibunuh oleh Siam tiong siang sat asal Geng Tian berhasil dibunuhnya siapa pula yang bakal tahu bahwa Gi pak siang hiong pernah menindas anak muda dari angkatan mendatang secara keroyokan.

Begitu timbul nafsunya membunuh orang she Kong ini lalu beranjak maju ketengah gelanggang, katanya dingin: "Satu kaki kau menghormati aku kubalas satu tombak, kau bocah ini tidak kenal aturan berani memandang rendah kami Gi pak siang hiong, kami pun tidak perlu mematuhi aturan Kangow segala."

"Baik sekali!" jengek Geng Tian. "Silahkan kalian maju bersama ingin aku lihat sebetulnya kalian ini orang gagah atau binatang sebangsa anjing atau binatang." Dalam berkata kata ini tahu tahu tangan kiri sudah mengeluarkan kipas lempitnya, begitu cakar orang she Khong mencengkeram tiba, kipas Geng Tian segera menutuk kejalan darah dipergelangan tangan orang.

Orang she Khong mencemooh dengan suara dingin lalu berseru: "Cepat benar!" sigap sekali ia merubah jurus serangannya, kedua jarinya terangkap bagai jepitan besi seraya membentak: "Diberi tidak membalas kurang hormat kau bisa main main tutuk memangnya aku tidak bisa?"

Laki laki she Toh itu membarengi dengan dua kali pukulan telapak tangannya yang menderu, angin pukulannya bergelombang menyampuk miring kipas Geng Tian, kejadian berlangsung teramat cepat, jari-jari orang she Khong itu sudah hampir mengenai Teciang hiat Geng Tian.

Walaupun dua orang turun tangan bersama barulah orang she Khong bisa meluputkan dari tutukan tunggal kipas Ceng Tian tapi Ceng Tian itu dengan dijuluki San tian jiu tangan kilat begitu ujung kipasnya terapung miring maka tutukannyapun tidak mengenai sasarannya namun gerak kemampuannya ini sudah cukup hebat juga.

Dua pihak saling berloncatan segesit kelinci selincah burung kutilang, dua pihak sudah saling menjajaki dalam gebrakan pertama ini Geng Tian harus melawan kedua musuhnya bagaimana juga ia terdesak di bawah angin. Tapi matanya yang jeli dan kupingnya dipasang mendengarkan situasi sekitarnya, dilihatnya Pek Kian bu dirabu Siam-tiong-siang-sat kepayahan, apalagi kedua kakinya kejeblos kedalam lumpur, sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, hendak laripun tidak mungkin lagi. Jiwanya diambang kematian, keruan hatinya amat gugup.

Pertempuran tokoh tokoh silat tingkat tinggi mana boleh perhatian terpencar ? Terdengar suara "Plak !" yang rada keras, kipas ditangan Geng Tian tepat kena diselentik oleh jari orang she Kong, sehingga terpental terbang dari cekalannya.

"Bagus," teriak Geng Tian. "Biar aku adu jiwa dengan kalian!" sigap sekali gerakan kedua telapak tangannya, telapak tangan bergerak membundar kekanan, sementara tangan kanan bergerak kearah yang berlawanan pula keduanya tergabung menjadi sebuah lingkaran bundar besar, kelihatannya tidak menggunakan tenaga dan tidak membawa kesiur angin sedikitpun, namun kekuatan yang menerjang keluar justru bagaikan gugur gunung dahsyatnya menerjang kearah kedua laki laki baju hitam.

Kontan kedua pihak tersurut mundur tiga langkah besar, Geng Tian merasakan dadanya sesak oleh darah yang bergolak, seolah-olah di perutnya jungkir balik dan sakit luar biasa.

Toh dan Khong dua orang itupun mengalami penderitaan yang tidak ringan, terutama orang she Khong yang Lwekangnya lebih rendah, merasa mata berkunang kunang kepala pusing tujuh keliling sampai sekian lamanya baru dia bisa membuka mata dan pandangan menjadi jernih kembali, keruan mencelos hatinya.

Ternyata dengan gabungan kekuatan mereka berdua meski setingkat lebih unggul tetapi orang she Khong ini tahu bahwa kerugian yang diderita Geng Tian jauh lebih besar dari pihaknya, tak urung ia menjadi jera.

Bahwa orang she Khong sudah teramat kaget, justru Toakonya, orang she Toh itupun jauh lebih kaget dari dia. Tapi orang she Toh ini bukan hanya kaget oleh kekuatan pukulan Geng Tian yang kokoh dan kuat, yang lebih dikejutkannya adalah bahwa orang melancarkan sejurus Tay-gao-pat-sek. Sekilas ia menenangkan hati, disaat orang she Khong itu sudah siap hendak menubruk lagi. Cepat ia berseru mencegah : "Tunggu sebentar !" Orang she Khong melengak, tanyanya, "Toako, kenapa ? Memangnya kau hendak melepas bocah ini ? Belum tentu kita bisa dikalahkan olehnya !"

Berkata laki-laki baju hitam itu dengan nada berat; "Tanyakan jelas dulu baru dilanjutkan." lalu ia berpaling kepada Geng Tian dan tanyanya : "Harap tanya kau she Siang atau she Kongsun?" nada ucapannya rada lembut.

Mendengar pertanyaan itu sekilas Geng Tian melengong katanya : "She Siang atau Kongsun tiada yang mempunyai sangkut paut dengan diriku kalau kau hendak tanya sanak atau kadang, salah kalau kau mencari aku."

"Oho kalau begitu tentu kau she Geng," seru laki laki baju hitam pula : "Kanglam Tayhiap Geng Ciau pernah apamu ?"

O^~^~^O

TERNYATA serangan yang dilancarkan oleh Geng Tian tadi adalah salah satu jurus dari Tay gan-pat-sek. Tay-gan pat sek adalah ilmu silat warisan keluarga Bulim Cianpwe Siang-Kian thian. Siang Kian thian tidak punya putera hanya punya dua anak putrid. Kedua putrinya ini berturut turut akhirnya menikah sama seorang yang bernama Kongsun Ki. Bagi orang orang Bulim yang tidak tahu seluk-beluknya secara mendalam hanya tahu bahwa kedua putri Siang Kian thian sama kawin dengan Kongsun Ki maka warisan ilmu keluarga Siang yaitu Tay-gan pak-sek selanjutnya pastilah akan menurun ditangan mereka. Harus diketahui bahwa Tay gan-pat-sek dari keluarga Siang ini sebetulnya tidak diturunkan kepada orang luar, tapi ayah Geng Tian yaitu Geng Ciau secara tak terduga karena kebetulan ketiban rejeki jadi mempelajari Tay-gan pat-sek, terjadilah suatu ketika untuk menyelamatkan jiwa Geng Ciau, putri kedua keluarga Siang sebelumnya tidak diberi penjelasan, menipunya mempelajari Tay gan-pat-sek itu kejadian jurang atau orang Kang-ouw yang mengedahului sampaipun Geng Tian hanya tahu bahwa Tay-gan pat sek bersumber dari keluarga Siang, cara bagaimana ayahnya bisa mempelajarinya, diapun tidak tahu. (untuk mengetahui hubungan Geng Ciau dengan keluarga Siang, bacalah pendekar latah)

Sekarang putri Siang Kun thian dan Kongsun Ki sudah meninggal, dalam dunia ini yang bisa menggunakan Tay gan-pat sek hanyalah Geng Ciau ayah beranak dan Siang Ceng hong ibu beranak empat orang saja.

(Kongsun sendiripun tidak pernah meyakinkan Tay gan pat-sek karena latihan Lwe-kang Siang Ceng Long kurang tinggi, latihan Tay gan pat-seknya pun kurang matang malah putranya Kongsun Bok mendapat didikan langsung dari Geng Ciau yang mewakilinya. Cuma usia Kongsun Bok lebih tua dari Geng Tian, waktu Geng Tian kembali ke kanglam, Kongsun Bok sudah lama meninggalkan rumah keluarga Geng)

Yang aneh bahwa laki laki baju hitam ini tidak tahu bahwa Tay-gan-pat-sek sudah putus turun diantara keluarga Siang sendiri bukan setiap orang ada meyakinkan (oleh karena itulah maka tadi ia bertanya apakah Geng Tian she Siang atau she Kongsun). Tapi ia tahu bahwa ayah Geng Tian ada meyakinkan ilmu tunggal keluarga Siang.

Untunglah Geng Tian sendiripun tidak begitu jelas mengenai asal usul Tay gan-pat sek ini yang diherankan hanyalah dari mana laki-laki baju hitam ini bisa tahu ilmu yang digunakan tadi adalah Tay gan-pak-sek, malah berani memastikan bahwa dirinya tentulah orang she Geng. "Apakah dia kenalan baik ayah?" demikian batin Geng Tian.

Namun rasa permusuhan meski belum lenyap mendengar orang dikalangan menyinggung nama ayahnya, menggunakan sebutan Kanglam Tayhiap dengan sikap yang hormat terpaksa Geng Tian harus merubah sikap sahutnya sopan: "Tidak berani, Kanglam Tayhiap yang kau maksud adalah ayahku!"

Laki laki she toh berbaju hitam itu segera berseru tertahan, katanya; "Jadi kau Geng Kongcu adanya, sungguh kami bertindak kelewat batas!" ucapannya semakin sungkan dan hormat, menyusul ia menghela napas serta ujarnya: "Sayang, sayang!"

"Sayang apa?" tanya Geng Tian keheranan.

"Ayahmu adalah pendekar besar yang dihormati dan dikagumi orang orang Bulim sebaliknya kenapa kau bergaul dengan manusia rendah yang dina ini?''

Dalam seribu kerepotannya, Pek Kian bu masih sempat berteriak: "Geng Kongcu, jangan kau percaya obrolan mereka!"

Siam tiong siang-sat menjadi gusar dampratnya: "Perbuatan yang pernah kaulakukan berani kau memungkirnya?" sepasang golok mereka menyerbu lebih gencar lagi. "Bret !" lengan baju Pek Kian-bu terpapas sobek oleh golok lawan, celaka dia lengan kirinya tergores luka sepanjang tiga dim, untung tidak sampai mengenai tulangnya.

"Sukalah kau suruh kedua temanmu itu berhenti lebih dulu," pinta Geng Tian.

"Baik," sahut laki she toh baju hitam itu. "Hiantit berdua sementara tak usah kalian turun tangan keji, marilah dengar apa yang hendak diucapkan oleh Geng Kongcu."

"Jangan turun tangan keji dan berhenti, berlainan artinya. Siam tiong-siang-sat mendengus bersama katanya: "Kulihat muka Toako biar nanti sebentar kubereskan jiwamu." sinar golok ditangan mereka tiba tiba melingkar lingkar rapat, gerak gerik Pek Kian-bu masih terbungkus didalam sinar goloknya. Cuma serangan-serangan ganas yang mematikan tidak dilancarkan untuk sementara memang jiwa Pek Kian bu tidak perlu dikuatirkan.

"Perbuatan apa yang pernah dilakukan oleh Pek jiko, kalian memakinya begitu rendah dan hina?" tanya Geng Tian.

Laki-laki berbaju hitam she toh itu menjawab: "Malu aku menjelaskan biar kutanya kau lebih dulu, cara bagaimana kau bisa mengikat persahabatan dengan dia?"

"Dia kan salah satu dari Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang, bukankah kalian sudah mengetahuinya?''

"Memangnya kenapa dengan Ceng-liong-pang?" jengek laki laki she Khong itu.

Geng Tian itu melengak tanyanya: "Apakah kalian tidak kenal Liong pangcu dan Ceng liong pang?''

"Pernah kudengar dia bernama Liong-Jiang-poh," ujar laki laki she toh dengan nada tawar.

"Kalau kalian sudah tahu Liong Jiang-poh memangnya kalian tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh Ceng-liong-pang?"

"Tidak tahu," lagi-lagi lelaki she Khong itu menanggapi dengan nada dingin.

"Ceng liong-pang merupakan organisasi rahasia dibawah tanah yang melawan penjajah bangsa kim, tapi golongan pendekar dari kalangan kangouw banyak yang tahu akan tujuan mereka." Berpikir Geng Tian; "Agaknya mereka tidak kenal dan tak ada hubungan dengan paman Liong mungkin pula tidak pernah bergaul dengan golongan pendekar!" sebetulnya rahasia ini Geng Tian tidak boleh membocorkan kepada orang luar, tapi melihat orang she Toh itu bersikap hormat, dan menyegani ayahnya apalagi kalau tak dijelaskan mungkin jiwa Pek Kian-bu sulit diselamatkan.

Sebentar Geng Tian berpikir, lalu ambil putusan memikul tanggung jawab ini, katanya: "Liong Jiang-poh adalah sahabat lama ayahku, pertempuran di Jay-ciok ki dia memberikan pahala paling besar. Ia mendirikan Ceng Liong-pang atas anjuran ayahku. Disaat Ceng Liong pang berdiri, Pek jiko sudah ikut berjuang selama ini, ia menjadi pembantu Liong pangcu."

Tampak laki-laki she Toh itu melenggang lalu menegas: "Betul ucapanmu?!"

"Memang aku berani menggunakan nama baik ayahku menipu kau?"

Laki laki she Toh menghela napas ujarnya: "Kupandang Geng kongcu dan Liong pangcu. Jiwi Hiante biarkan bajingan itu pergi."

"Toako, sakit hatiku tak terbalas," teriak Siam tiong siang sat.

Posting Komentar