Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 104

NIC

"Bukanlah beberapa hari yang lalu kalian pernah bersama dia, itulah gadis pakaian hitam yang sepenginapan dengan kalian. Peristiwa didalam hotel yang kalian alami aku sudah tahu dari penuturan pemilik hotel."

Baru sekarang Nyo Sugi sadar, katanya: "Jadi gadis itukah yang bernama In-tiong yan yang tenar itu, tak heran si Elang Hitam Lian Tin san pun kena digertak lari terbirit birit!"

"Geng toako," tiba tiba Lu Giok-yau menimbrung bicara: "Aku hendak tanya mengenai diri seseorang terhadap kau......."

Belum ia habis bicara, Geng Tian sudah tertawa dan menukas: "Kau hendak mencari tahu keadaan Ling Tiat-wi bukan? Beberapa hari dia pernah menetap dirumahmu, sekarang mungkin sudah pulang bersama ayahnya." Lalu ia ceritakan cara bagaimana mereka berhasil menolong Hong thian lui dari Lou-keh ceng.

Sesaat Lu Giok-yau terlongong, ujarnya: "Kiranya dalam peristiwa ini Kho toako tak menipu aku."

Mau tak mau Lu Giok-yau menerka didalam hati: "Pasti sikap ibu yang kurang simpatik terhadap para tamu, maka Ling-toako dan lainnya meninggalkan pergi dengan rasa dongkol." teringat ibunya begitu sayang dan percaya kepada sang Piauko yang ternyata terima diperbudak dan menjadi mata-mata musuh, tanpa merasa ia merinding dibuatnya.

Geng Tian beramai-ramai mengantar Giok-yau sampai didepan rumahnya, mendadak ia ingat sesuatu katanya: "Kita tidak usah masuk, harap nona tolong sampaikan salam kami kepada ayahmu!"

"Kenapa???" tanya Lu Giok-yau melenggong. "Sudah didepan pintu kalian tidak mau mampir, kalau diketahui ayah, pastilah aku yang dimarahi."

"Kukira ayahmu pasti tahu dan paham akan kesulitan kami."

Nyo Sugi pun tersenyum, ujarnya: "Betul lebih baik tidak usah mampirlah."

Bahwa tamu tamunya tidak mau masuk Lu Giok-yau tidak bisa memaksa mereka, terpaksa ia menghaturkan banyak terima kasih dan berpisah didepan rumahnya.

O^~^~^O

Lu Tang Wan suami isteri sedang menunggu dengan hati gundah dan was was, untunglah puterinya akhirnya pulang juga tanpa kurang suatu apa. Lu Hujin segera bertanya: "Dimana Piaukomu? Bukankah dia yang menemukan kau dan membawamu pulang? Kenapa tidak pulang bersamamu?"

"Bu, masih kau tanyakan dia menyinggung dia menjadi aku marah saja!''

Lu Hujin mengerut kening katanya, "Jelek jelek dia adalah Piaukomu dalam soal apa dia berbuat salah terhadapmu?"

"Khu Tay seng tidak pernah berbuat salah kepadaku malah dia selalu menjilat dan mengambil hatiku!"

"Nah kenapa kau marah marah kepadanya?''

"Bu kalau kukatakan janganlah kau kaget. Coba kau terka. Orang macam apa keponakanmu itu?"

Lu hujin melenggong katanya: "Orang macam apa dia bukankah dia Piaukomu?"

"Benar dia adalah keponakanmu tidak dapat tidak harus memanggilnya Piauko. Bu, tahukah kau bahwa dia itu seorang penghianat bangsa yang terima menjadi mata mata musuh penjajah?"

Lu hujin amat kaget selebar mukanya pucat pias serunya: "Apa katamu dia adalah mata mata musuh?"

"Benar dia adalah mata mata musuh!" sahut Lu Giok yau tegas.

Adalah kaget dan gusar Lu Tang wan jauh melebihi isterinya. "Brak!" tiba tiba ia menggeprak meja katanya; "Urusan macam ini tidak boleh sembarangan dibicarakan. Jikalau benar kalau ibumu tidak mau membersihkan keluarga akulah yang akan mewakili dia menghukumnya. Coba katakan kau punya bukti apa?"

"Dia mengundang pasukan pemerintah untuk meringkus Cin Liong hwi tetapi Cin Liong hwi tidak seperjalanan dengan aku. Karena tidak berhasil menangkap Cin Liong hwi maka pasukan itu malah menangkap dia karena dituduh memberikan laporan palsu."

Lu Hujin semakin ketakutan serunya gemetar: "Hanya dia kena ditangkap oleh pasukan pemerintah?" meski kaget namun hatinya menjadi lega pikirannya. "Untung dia ditangkap pasukan pemerintah terang Yau jie tidak bisa membunuhnya!"

Melihat sikap ibunya yang nampak bukan dilakukan pura pura maka ia membatin, "Agaknya sebelum ini ibu memang belum tahu akan hal ini." maka ia ceritakan duduk perkaranya kepada ayah bundanya.

Mendengar puterinya bersama Su tay kim kong dari Ceng liong pang dan Geng Tian melabrak pasukan pemerintah sungguh kejut Lu Hujin lebih besar dan cepat pula katanya membanting kaki, "Ai kau budak ini memang tidak tahu urusan beruntun mengadakan bencana cara bagaimana baiknya,.,.,? bagaimana baiknya?"

Berkata Lu Tang wan dengan nada berat: "Urusan sudah terlanjur tiada gunanya kau mengomel panjang lebar. Kalau bicarakan keponakan mestikamu Khu Tay senglah yang menjadikan gara, Yau ji tidak bersalah. Sebagai gadis perawan masakah ia harus menyerah ditelikung dan dijamah oleh kawanan tentara?"

Lu Hujin tidak terima katanya: "Dalam hal ini Tay-sengpun tidak bisa disalahkan, Cin Liong-hwi bocah keparat itu bukan manusia baik baik adalah pantas kalau Tay-seng melaporkan dia. Belum tentu dengan perbuatannya ini lantas dituduh sebagai cakar alap alap kerajaan. Bukankah kau sendiri pun ada hubungan dengan penjabat pemerintah?"

Lu Tang-wan menjadi gusar semprotnya; "Aku ada hubungan dengan penjabat pemerintah hanyalah untuk bermuka-muka saja kan belum pernah aku bantu melakukan sesuatu demi kepentingan mereka, yang benar Cin Liong hwi itu bukan anak baik tapi Khu Tay seng melaporkan dia sebagai keturunan dari pahlawan Liang san kepada pemerintah apalagi kalau tidak dituduh sebagai cakar alap-alap?"

Lu Hujin belum pernah melihat sang suami marah sedemikian besar, keruan ia jadi malu dan jengkel pula, ia jadi kebingungan juga, terpaksa ia gunakan siasat halus katanya; "Urusan sudah terjadi tiada gunanya kau marah marah. Sekarang bencana sudah meluruk keatas kepala kita, yang penting lekas mencari cara untuk menghadapinya."

"Mencari cara apa, dalam keadaan ini terpaksa harus menyingkir sejauh mungkin."

"Masakan tidak bisa dicari daya upaya lainnya?" tanya Lu Hujin lemah lembut.

"Coba kau punya daya apa, ayo kemukakan."

"Untunglah Cin Liong-hwi tiada hadir, Sutay-kim kong dari Ceng-liong-pang dan Geng Tian baru terakhir dijumpai kalau masih bisa mencuci bersih kesalahan Yau-ji."

"Memangnya mereka mau dengar alasan ini? Dan lagi Lou Jin-cin si bangsat tua itu masakah dia mau memberi kelonggaran kepada kita?"

"Meski Lou Jin cin ada sedikit salah paham dengan kau sama-sama orang sekampung masakan dia tidak sudi memberi sedikit muka kepada kau, bukankah Yau-ji tadi ada bilang sikapnya semula amat sungkan?"

"Sikapnya itu hanya pura pura untuk menipu aku, aku saja tidak percaya kepadanya. Bu, kau yang lebih tahu seluk beluk kehidupan kenapa kau suka percaya kepadanya?"

"Bukan aku percaya kepadanya, tapi kita bisa mencari jalan damai kepadanya, ketahuilah dia punya pegangan terhadap kita untuk bertindak."

"Hm, hm kau ingin aku berdamai kepadanya?"

"Kalau kau tak mau jadi damai kepadanya, carilah jalan lain, lekas kau cari hubungan dengan para penjabat, rubah dulu urusan besar ini menjadi urusan kecil."

Posting Komentar