Ilmu pukulan beracun dan keji itu biasanya jarang ia gunakan kecuali menghadapi lawan tangguh, sudah sepuluh tahun dia tidak menggunakan jurusnya ini, soalnya ia sudah jeri terhadap gadis baju hitam ini maka begitu bentrok lantas dia keluarkan ilmu simpanannya itu. Sangkanya dalam satu gebrakan secara tak terduga pasti ia berhasil mengerjain lawannya, siapa tahu dengan gampang saja gadis baju hitam ternyata dapat memunahkan serangannya.
Dengan punggung telapak tangan gadis baju hitam menyerang musuh, ilmu permainannya itu dinamakan Toa-su-kun didalam permainan kerasnya mengandung daya lunak yang amat besar prabawanya, ilmu macam ini berasal dari India, dalam wilayah Tionggoan belum pernah ada orang yang mampu menggunakan ilmu ini, celakanya Toa su kun ini justru lawan mematikan bagi ilmu pukulan menutuk Hiat to dari seperguruannya.
Waktu Jing bau khek masih muda dan belajar silat dengan gurunya, pernah dia melihat gurunya mendemontrasikan Toa su kun ini. Menurut omongan gurunya, beliaupun hanya mengenal kulitnya saja tentang ilmu ini, belum pernah mempelajarinya secara mendalam, maka permainannya itu boleh dikata mencontoh saja, supaya para muridnya tahu kira kira sampai di mana tingkat kelihayan dari ilmu pukulan ini kelak bila kebentur bisa berjaga jaga.
Jing bau khek tahun ini berusia lima puluh tujuh, diwaktu gurunya mempertontonkan Toa su kun dulu ia baru berusia tujuh belas, sampai sekarang sudah empat puluh tahun. Selama empat puluh tahun ini, belum pernah ketemu seorang yang bisa memainkan Toa-su-kun, sungguh tidak nyana justru hari ini ia bentrok dengan seorang gadis remaja yang berumur dua puluh tahun mahir gunakan ilmu Toa su kun.
Jing bau khek menginsyafi bahwa Toa-su kun adalah lawan mematikan dari ilmu silat ajaran perguruannya, maka mengandal latihan lwekangnya yang lebih tangguh ia menyerang dulu menempatkan posisi yang menguntungkan, pikirnya: "Setelah tenaganya terkuras menjadi lemas, barulah kugunakan Kim na jiu-hoat meringkusnya. Kalau aku hanya membela diri tanpa balas menyerang dalam waktu dekat tentu dia tidak akan bisa menemukan titik kelemahanku."
Gadis baju hitam itu mentertawakannya, "Kenapa baru gebrak lantas ketakutan?" dalam berkata-kata itu selincah kupu kupu yang menari diantara rumpun kembang bagai kecapung menutul permukaan air, baru saja ia mengucapkan sepatah kata tahu-tahu sudah berpindah delapan tempat menyerang dua puluh empat jurus.
Karena tahu pukulan lawan merupakan lawan mematikan dari ilmu silatnya, takut didahului dan disergap titik kelemahannya terpaksa Jing bau khek harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia tidak berani ikut lompat maju menyerang, meski ia bisa menutup diri dengan rapat, namun tenaganya yang terkuras ternyata jauh lebih besar dari gadis baju hitam. Berarti pula bahwa strategi perkelahiannya ternyata mengalami timbal balik dari rencana semula.
Disaat pertempuran mencapai puncaknya tangan Jing bau-khek seolah-olah seperti diganduli barang seberat ratusan kati, setiap jurus mempermainkannya kelihatan amat lamban kelihatan payahnya ia mengerahkan tenaga. Sampai Lu Giok yau yang berada satu tombak diluar kalangan pun merasa angin kencang dan kuat menyampok mukanya, hendak ikut membantu juga tidak mungkin bisa melangkah saja.
Sebaliknya sikap gadis berbaju hitam tetap tenang dan wajar, seperti kupu-kupu yang menari diatas kuntum-kuntum bunga, sambil berlincahan ia memutar mengelilingi lawan serta menyergap dengan berbagai serangan lihay. Tangannya yang halus memiliki jari-jari yang runcing dan manis dengan cakar kukunya yang panjang-panjang terawat baik sekali, setiap kali jari jarinya berkembang laksana duri-duri kembang yang selalu mengarah hiat-to mematikan dibadan lawan dibarengi dengan gerak gerik yang lemah gemulai yang mempesonakan lagi sungguh enak dipandang, lama kelamaan Lu Giok yau sampai mendelong dan terbelalak dibuatnya.
Selintas pandang memang sikap gadis baju hitam kelihatan acuh tak acuh, secara kenyataan sebetulnya dia sendiripun sudah mengerahkan segala kemampuannya, hatinya pun kaget dan sedang menerawang, "Kalau sebelumnya aku tidak mengetahui asal usulnya serta mempelajari ilmu pukulan itu mungkin aku bukan menjadi tandingannya." walaupun ia berada diatas angin namun untuk menang dia sendiri tidaklah yakin.
Dalam pada itu Jing bau-khek sudah basah kuyup oleh keringatnya, sorot matanya memancarkan rasa gusar yang meluap luap. Lu Giok-yau yang menonton diluar gelanggang menjadi jeri melihat tampang itu.
Mendadak gadis baju hitam itu tertawa terkikik serunya: "Kau suheng Lou Jin cin yang bernama Sat Hiu jong bukan! Kabarnya kau menyembunyikan diri di gunung, sudah berhasil meyakinkan Tok si ciang kenapa tidak kau gunakan ilmu simpanannya?"
Haruslah diketahui bahwa namanya saja Sat Hiu jong adalah suhengnya Lou Jin cin adalah kepandaian silat Lou Jin cin semua ia pelajari dari suhengnya Sat Hiu-jong yang mewakili gurunya. Maka tiga ilmu tunggal perguruannya yang amat hebat Lou Jin cin hanya dapat mempelajari Kim na jiu saja.
Lu Giok yau amat heran mendengar percakapan ini, adalah Jing-bau khek sendiri bukan kepalang kejutnya mendengar kata-kata gadis baju hitam, ternyata sudah dua puluh tahun dia mengasingkan diri dan menyembunyikan nama dan asal usul, baru beberapa bulan yang lalu ia muncul kembali didunia kangouw. Pikirnya, "Aneh, usianya masih begini muda, dari mana ia bisa tahu nama asliku? Tidak soal bisa tahu namaku, malah dia tahu aku sudah berhasil meyakinkan Tok sa ciang." Bagi tokoh silat tingkat atas yang paling ditakuti adalah bahwa ilmu tunggal perguruannya yang diyakinkan diketahui seluk beluknya oleh lawan, mau tidak mau timbul rasa curiga Jing bau khek. "Dia membongkar ilmu rahasiaku yang beracun, dan menantang supaya digunakan, mungkinkah dia sudah punya pegangan dan cara untuk mematahkan Tok sa-ciangku?"
Ternyata Tok sa ciang yang diyakinkan Jing bau khek adalah ilmu sesat beracun yang dia turunkan kepada Cing Liong hwi, setiap pemakai ilmu pukulan beracun ini, adalah untung kalau Iwekang sendiri belum mencapai tingkat tinggi, bagi yang sudah lihay keyakinannya, bila tidak kuasa melukai musuh, hawa racun bisa membalik dan menerjang jantung dan melukai badan sendiri akibatnya tentu amat fatal. Bahwa gadis baju hitam itu bisa memecahkan ilmu pukulan tunggal perguruannya, siapa tahu jika orang pun bisa memecahkan ilmu telapak tangannya? Maka setelah seluk beluk sendiri dibongkar oleh lawan Jing-bau-khek menjadi jeri dan tak berani menggunakan ilmu itu.
Mendadak Jing bau khek melompat keluar kalangan, entah apa tahu tahu tangannya telah mencekal seutas cambuk lemas, katanya: "Bertanding pukulan tiada artinya lagi, marilah kita sudahi pertandingan ini dengan menggunakan senjata!" cambuk lemasnya itu ternyata biasa ia gunakan sebagai ikat pinggang.
Gadis baju hitam tertawa, katanya, "Terserah apapun yang kau kehendaki, pasti kuiringi permintaanmu." Ia melolos sebuah gelang tangan, begitu kedua tangannya saling tarik kedua arah, gelang membundar itu tahu tahu sudah mulur menjadi seutas cambuk perak yang panjang dan kecil, gelang menjadi cambuk perak senjata ini benar lebih aneh dari cambuk lawan yang peranti untuk ikat pinggang. Jing bau khek yang banyak pengalaman tak urung mengawasi mendelong, pikirnya ; "Perempuan siluman ini memang serba aneh."
"Sambut seranganku !" gadis baju hitam membentak, tangan sedikit menggentak cambuk peraknya yang lembut itu tanpa suara menyabet kearah lawan, berkerut alis Jing-bau-khek, lekas iapun ayunkan cambuk lemasnya dari bawah memapak keatas tujuannya hendak menggubat cambuk perak orang.
Gadis baju hitam maklum bahwa lwe-kangnya setingkat lebih rendah, cambuk lemas lawanpun bobotnya lebih berat dan kasar kalau kedua senjata saling bentrok dan gubat menjadi saling tarik, tentu pihak sendiri yang mendapat rugi, lekas pergelangan tangannya sedikit berputar dan menyendal cambuk lembutnya bagai seekor ular sakti menerjang miring, menghindar dan merangsak lekas Jing-bau-khek menggunakan Ih Sing-hoat-wi mencari posisi lain seraya memainkan senjata cambuk lemasnya yang berbunyi menderu kencang, cambuk kasar yang lemas itu mendadak menjadi kaku seperti sebuah tombak menusuk ke arah dadanya, bahwa cambuk lemas dapat dibuat kaku seperti tombak itu menandakan bahwa lwekangnya sudah cukup hebat dan tinggi.
Panjang cambuk kedua pihak ada setombak lebih, cambuk perak gadis baju hitam lebih lembut dan panjang, masing-masing menyerang kepada lawan dengan serangan keji meski beberapa jurus sudah berselang, senjata kedua pihak masih belum pernah menggubat. Tapi dalam beberapa jurus serang menyerang itu, kedua pihak sama menghadapi serangan- serangan berbahaya, sedikit lena saja darah pasti akan membasahi bumi, sungguh cepat dan menggiriskan.
Cambuk lemas milik Jing-bau-khek itu dengan jarak tertentu ada beberapa bundelan yang menonjol keluar menyerupai tulang-tulang jari manusia permainan ilmunya juga berlainan dari ilmu cambuk umumnya, bundelan yang menonjol keluar itu bisa digunakan untuk memukul Hiat-to orang. Tapi cambuk perak gadis baju hitam itu lebih aneh dan menakjubkan lagi, begitu lembut sebesar ujung kaki, pergi datang tidak membawa jejak dan tak berbekas lagi membuat orang sulit untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan.
Jing-bau-khek kejut dan heran pula dibuatnya, pikirnya, "Kabarnya waktu Sian-moli menundukkan para pangcu dari lima sindikat besar dari sungai Huangho, menggunakan Ngo ho-toan-ban-to-hoat, tak nyana permainan cambuknya ternyata begini mahir juga, aku sendiripun belum pernah lihat dan dengar entah dari aliran mana. Mungkinkah mereka terdiri dari dua orang yang berlainan. Ai dua puluh tahun tidak muncul di kangouw tak nyana generasi muda semakin banyak dengan bekal kepandaian yang amat tinggi pula."
Memang diluar tahunya gadis baju hitam ini memang murid dari maha guru silat yang maha tinggi dan agung, delapan belas macam senjata pernah dipelajari ilmunya, terutama permainan cambuk dan golok merupakan keahliannya. Meski Jing bau khek membekal ilmu cambuk yang lihay, betapa pun masih kalah seurat dibanding ilmu cambuknya itu. Bahwa Jing-bau khek tidak berani menggunakan Tok-sa ciangnya malah mengajak adu senjata, ini berarti membuat yang panjang menggunakan yang pendek.
Sekejap saja pertempuran yang sengit sudah mencapai ratusan jurus, jurus aneh dan keji dari permainan cambuk lembut si gadis baju hitam terus berdatangan dengan gaya yang indah tak berkeputusan. Meski cambuk Jing bau khek dapat memukul Hiat-to, apa pula gunanya walau toh dia sendiri tak kuasa menyentuh ujung baju orang. Ditengah pertempuran seru itulah, sekonyong-konyong terdengar gadis baju hitam berseru : "Kena !" Jing-bau khek melihat sinar perak berkelebat, tahu bahwa sulit untuk meluputkan diri iapun berlaku nekad ikut membentak : "Lepaskan cambukmu !" cahaya seperti pecah berderai menangkap bahaya, menggunakan kecepatan gerak tangan cakar tangannya terjulur mencengkeram cambuk perak orang.
Tak tertahan Lu Giok yau yang menonton dengan asyik dan melongo itu tiba tiba menjerit kaget sambil menutup mulut sendiri.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dilihatnya cambuk panjang bagai seekor naga hidup terbang ketengah udara, tapi terang bukan cambuk perak sigadis baju hitam.
Kiranya meski Jing bau-khek berhasil menangkap cambuk peraknya, tapi batang cambuk itu terlalu kecil dan lembut, sedikit gadis baju hitam menarik dan menyendal, belum lagi mencengkeram tangannya mengekang, telapak tangannya sudah terasa panas dan sakit, tahu-tahu cambuk perak sudah membrosot lepas dari sela jari jarinya malah ujungnya seperti kepala ular mematuk kepergelangan tangannya yang memegang cambuk, sekali lagi gadis baju hitam memperlihatkan kemahirannya, sebelah tangan kirinya menggantol dan menarik, maka cambuk lemas orang kena ia rebut dan dilempar ketengah udara.
Gadis baju hitam terkikik-kikik, serunya, "Kau masih punya senjata apa lagi, apapun yang kau gunakan akan kuikuti, pasti kulayani sesuka hatimu."
Beruntun mengalami kekalahan, mana Jing-bau-khek berani melanjutkan pertempuran, tanpa hiraukan cambuk lemasnya lagi, segera ia putar badan terus ngacir sipat kuping.
Kembali gadis baju hitam melinting cambuk peraknya menjadi gelang tangan dibelitkan di lengan atasnya, katanya tertawa, "Nona Lu, bikin kau kaget saja. Sekarang kita bisa bicara lebih leluasa."
"Terima kasih akan pertolongan Lihiap entah dari mana Lihiap bisa tahu namaku ?" demikian ujar Lu Giok-yau. "Belum lagi aku mohon tanya nama besarmu ?"
"Kau kan putri tunggal Ciatkang Tay-hiap Lu Tang-wan yang termasyur itu, mana aku tidak kenal kau ?" lalu ia menambahkan. "Jangan kau panggil aku Lihiap apa segala, kedengarannya menusuk kuping. Tahukah kau, orang lain memaki aku sebagai Siau-moli (iblis perempuan kecil). Aku she Nyo, usiaku mungkin rada tua sedikit, baiklah kau padaku panggil Nyo cici saja. Aku ingin tanya seseorang kepada kau."
"Siapa yang hendak Nyo cici ketahui?" tanya Lu Giok-yau.
"San-tian-jiu Geng Tian yang datang dari Kanglam, kabarnya dia pernah mertamu kerumahmu."
"Benar, tapi itu terjadi kira-kira satu bulan yang lalu."
"Kabarnya akhirnya kau masih pernah bertemu sama dia pula."
"Memang, ucapanku toh belum selesai tadi," demikian ujar Lu Giok-yau geli, "Beberapa hari yang lalu aku pernah melihatnya lagi, cuma kali ini dia tidak tinggal dirumahku."
"Kemana dia, apa kau tahu ?"
"Dia menuju ke Ki-lian-san bersama Su-tay-kim-kong dari Ceng-liong-pang."
"Haah, jadi dia sudah bertemu dengan Su-tay-kim-kong. Apa kau baru kenal pada Su-tay-kim-kong ?"
"Yaa, disaat mereka datang pula bersama Geng toako itulah baru aku sempat berkenalan dengan mereka."
"Apa kau tahu sigolok cepat Lo Hou-wi orang ketiga dari Su-tay-kim-kong ?"
"Tentu tahu, golok cepatnya memang bagus sekali. Kau sahabatnya ?"
Gadis baju hitam tidak mengakui dan tidak menyangkal, tanyanya malah : "Adakah Lo Hou-wi pernah membicarakan mengenai seorang perempuan she Nyo dengan kau ?"
"Tidak. Dalam waktu singkat kenal lantas berpisah secara tergesa-gesa, tiada kesempatan banyak bicara lagi."