Kiranya justru yang digunakan In tiong-yan kali ini adalah ilmu gulat yang paling digemari oleh para Busu Mongol, dengan gagang pedang mewakili tangannya, sodokan dan caranya menyengkelit tadi adalah gaya dari ilmu gulat yang dinamakan To panlan-sek. Kalau ganti orang lain dengan sodokan tadi pasti bisa menyengkelit tubuh lawan, karena itu meski Lian Tin-san membekal kepandaian silat yang tinggi, soalnya ia mimpi juga tidak menduga bahwa In-tiong yan juga mahir melancarkan jurus-jurus ilmu gumul dalam permainan ilmu pedangnya, maka sebelum ia siaga tahu tahu ikat pinggangnya sudah kena disodok putus untung celananya tidak kedodoran.
Tapi yang mengejutkan hati Lian Tin-san bukan karena kerugian kecil yang dideritanya ini, adalah ilmu pedangnya yang belum pernah dilihat atau ada di Tionggoan, sebaliknya justru permainan tunggal dari bangsa Mongol.
Cohaptoh adalah pegulat kelas tinggi yang paling disegani di Mongol. Sedang Liong-siang Hoatong adalah jago silat tiada tandingan dikolong langit, sebagai Koksu (imam negara) Mongol. Dari Jing-bau-khek Lian Tin san ada mendapat kabar bahwa tokoh dari Mongol ini saat mana berada di Tiong-goan maka begitu melihat permainan pedang In-tiong-yan ini mendadak teringat ia akan mereka, maka beralasanlah perkataannya itu.
Dengan tawar In tiong-yan menyahut; "Cohaptoh adalah kacung dirumahku, buat apa kau tanyakan dia??"
Tergetar hati Lian Tin-san, tanyanya pula: "Lalu Liong-siang Hoat-ong??"
In-tiong-yan terkekeh-kekeh, katanya : "Bila kulihat dia lantas kupanggil Hwesio gede, kalau hatiku sedang murung dan sedang malas tak kugubris juga tidak menjadi soal. Kau bertanya demikian melit, apa kau punya hubungan dengan mereka? Tapi jangan sekali-sekali kau mencari tahu asal usulku dari mereka seumpama kalian sahabat karib, mereka-pun belum tentu bernyali begitu besar berani menjelaskan kepada kau."
Mendengar ucapan In tiong yan terakhir ini, seketika pucat pasi muka Lian Tin-san, seperti jago yang kalah diadu, segera ia berteriak: "Teng-ngo mari kita pulang!"
"Kan masih ada dua jurus lagi apa kau tidak saksikan lebih lanjut?" demikian olok In tiong yan.
Lian Tin-san tertawa getir, katanya: "Anggaplah aku kalah dalam taruhan ini. Harap nona suka maafkan kecerobohanku. Perkara ini kami guru dan murid tidak akan ikut campur lagi!"
Menurut perhitungan Lian Tin-san setelah ia selesai mengerjakan tugasnya ini, segera ia hendak menyusul ke Lou-keh-ceng. Minta bantuan sute Jin-bau khek yaitu pemilik Lou kek ceng Lou Jin cin sebagai perantara supaya bisa memperkenalkan dirinya kepada Liong siang Hoatong. Kini setelah tahu siapa adanya In tiong yan, meski masih dirundung berbagai kecurigaan tak habis, karena sebagai tuan puteri dari bangsa Mongol kenapa membantu Su tay kim kong dari Ceng liong pang, tapi mana ia berani melawan dengan In tiong yan lagi.
Cukup hanya menggunakan tipu jurus In tiong yan berhasil menggebuk lari si Elang hitam guru dan murid yang kenamaan di Kangouw tidaklah heran kalau Su tay kim kong sama dibuat melongo dan terkejut.
Nyo dan Pek dua orang dari Su tay kim-kong memang punya pengalaman dan pengetahuan yang luas tapi mengenai dunia persilatan di Mongol mereka terlalu asing. Sedang Lo dan Ong dua orang masih muda yang baru beberapa tahun muncul dalam Bulim lebih tidak perlu dikatakan pula. Pada sepuluh tahun yang lalu Liong siang Hoatong pernah datang sekali ke Tionggoan. Para pendekar kelas tinggi dari Tionggoan kecuali beberapa orang tokoh yang benar benar kenamaan dan lihay kepandaiannya masih banyak yang belum pernah dengar namanya, lebih pula mereka tidak tahu bahwa Liong-siang Hoatong sebagai Koksu dari Mongol.
Dalam hati Nyo Sugi membatin, ''Julukan Liong-siang Hoatong ini cukup aneh mungkin sebagai Kaucu dari suatu aliran agama sesat? Entah tokoh macam apa pula orang she Co itu ? Aneh, begitu mendengar nama nama mereka lantas kelihatan Lian Tin san ketakutan dibuatnya. Naga naganya dia sudah mengetahui asal usul nona cantik ini, cuma tidak berani mengetahuinya, apakah sebabnya?"
Nama Cohaptoh orang Mongol disangka orang she Co orang Han. Di luar tahunya bahwa dalam bahasa Mongol, "Cohaptoh" merupakan suatu huruf yang tereja tiga nada berlainan, maksudnya yaitu gagah berani.
Bagaimana juga Su tay kim kong tidak akan mereka secara cepat meski mereka dirundung curiga sebagai lazimnya tersipu sipu mereka menyatakan banyak terima kasih kepada In tiong yan.
"Orang yang sering keluar dari pintu sudah seharusnya saling bantu membantu," demikian ujar In tiong yan. "Kalian meluangkan sebuah kamar kepadaku sampai sekarang aku belum lagi sempat menyatakan terima kasih kepada kalian."
"itulah urusan kecil kenapa diambil dalam hati," lekas Lo Hou wi menjawab.
Adalah Nyo Sugi tergerak hatinya, pikirnya: "Ilmu silatnya begitu tinggi bukan mustahil percakapan kami semalam sudah dicuri dengar olehnya."
Benar juga belum lagi ia selesai berpikir lantas terdengar In tiong yan berkata sambil tersenyum penuh arti; "Kalian selamanya aku belum pernah berkenalan dengan kalian tapi toh kalian tidak curiga kepadaku malah memberikan kamar kepadaku. Kalau kalian anggap soal kecil adalah aku tidak bisa tidak merasa terima kasih dan haru akan kepercayaan kalian kepadaku."
Ucapannya mengandung arti lain yang cukup mengerti. Su tay kim kong maklum bahwa pembicaraan mereka malam itu terang sudah dapat didengar olehnya, seketika mereka menjadi risi dan kikuk dan tertawa menyengir.
Kata Nyo Sugi: "Terima kasih akan bantuan nona menggebuk lari musuh. Harap maafkan akan kelancangan pertanyaan kami siapakah nama harum nona?"
In tiong yan tidak lantas menjawab pertanyaan ini sebaliknya ia balas bertanya: "Bukankah kalian berempat sedang mencari seorang yang bernama Geng Tian Geng kongcu?" Nyo Sugi berpikir: "Urusan sudah kebeber, apa perlunya kami main sembunyi terhadap dia maka segera ia menjawab: "Benar apakah nona kenal dengan Geng kongcu?"
"Tidak terhitung sahabat karib," demikian sahut In tiong yan. "Tapi bila kalian ketemu dia katanya pernah bertemu dengan seorang seperti aku pasti dia akan teringat siapa aku sebenarnya." secara tidak langsung ia mau katakan boleh kalian tanyakan namaku kepada pemuda bernama Geng Tian itu.
"Soalnya apakah kami dapat menemukan dia. Apakah nona tahu kabar beritanya?" kata Nyo Sugi pula.
"Kemana tujuan kalian untuk mencarinya?"
"Pangcu kami suruh kita kerumah Lu Tangwan mencari berita lebih dulu konon kabarnya dia pernah bertandang kerumah keluarga Lu."
"Itulah terjadi pada satu bulan yang lalu. Dimana dia sekarang aku tahu pasti. Tapi bila kalian mencarinya dirumah Lu Tang wan dapat kupastikan tidak akan bisa menemukannya."
"Harap nona suka memberi petunjuk."
"Lu Tang wan sudah mengikat permusuhan dengan Lou Jin cin, Lou Jin cin memang tak perlu ditakuti tapi orang dibelakangnya yang perlu dipikirkan maka mau tidak mau Lu Tang wan harus sembunyi sementara waktu, kalau kalian mau tahu jejak Lu Tang wan kalian harus cari dulu putrinya. Beberapa hari yang lalu putrinya menuju ke arah ibu inangnya untuk menyembunyikan diri pula tahuku tempat itu termasuk bilangan Ting tau sebelah utara dimana ada sebuah lurah dalam pegunungan Hong kong san, Soal apakah nama lurah itu aku tidak tahu!"
In tiong yan mendapat tahu soal ini sebelum ia berpisah dengan Lu Giok-yau. Soalnya waktu sangat mendesak mereka tergesa-gesa untuk berpisah maka ia bicara terlalu singkat maka ia terlupakan memberi tahu nama lurah itu kepada In tiong yan. Dan karena In tiong yan sudah mendengar pembicaraan mereka, tahu bahwa Pangcu mereka adalah bekas anak buah ayah Geng Tian maka dengan lega ia berani memberi tahu hal ini pada mereka.
Mendapatkan sumber penyelidikan itu sudah tentu Nyo Su gi berempat sangat senang katanya: "Diatas Hong kong-san cuma terdapat beberapa keluarga, cukup gampang buat mencarinya, terima kasih akan petunjuk nona ini." selanjutnya beramai ramai mereka menyatakan pula terima kasih lalu sambil berpisah.
Justru tidak diketahui oleh Su-tay kim-kong bila mana mereka langsung menuju ke rumah Lu Tang-wan tanpa susah payah mereka dapat bertemu dengan Geng Tian sekarang, karena harus berputar satu lingkaran pergi kelurah yang disebutkan itu mencari putri Lu Tang-wan maka mereka jadi kehilangan kesempatan bertemu dengan Geng Tian.
O^~^~^O
DALAM pada itu, setelah berhasil lolos dari mara bahaya di Lou-keh ceng bersama Ling Hou, Cin Hou siau, Sip It-sian tidak ketinggalan Hong-tian lui, Hek-swan hong dan Geng Tian bertiga ikut pula, langsung pulang kerumah Lu Tang-wan. Ia tahu bahwa putrinya sudah berhasil lolos lebih dulu, maka harapannya setelah sampai di rumah, ia dapat bertemu dengan puterinya.
Melihat suaminya pulang membawa sedemikian banyak tamu, malah Hong Tian lui ada diantaranya Lu hujin menjadi kaget dan girang pula, tapi juga tak habis curiganya, sambil menyambut dan melayani para tamunya ia bertanya kepada suaminya; "Dimanakah kalian bersama? Para tamu ini adalah....."
"Kalau dibicarakan cukup panjang," sahut Lu Tang-wan. "Mari kukenalkan lebih dulu. Kedua orang ini adalah Ling Toako dan Cin Toako yang sering kukatakan kepadamu dan yang ini adalah maling sakti nomor satu diseluruh jagat Sip It-sian." Selanjutnya satu persatu ia perkenalkan juga Hek-swan hong dan Geng Tian.
Geng Tian berkata dengan tertawa; "Aku sudah bertemu dengan bibi, masih kuingat ada seorang Khu toako entah apakah masih berada disini?"
"Memang!" sahut Lu hujin, "Yang kau maksud adalah keponakanku yang bernama Khu Tay-seng kemarin baru saja pulang, mungkin besok datang pula kemari."
Sengaja Ling Hou menjura sekali lagi kepada Lu hujin serta berkata: "Selama berada disini anakku banyak mendapat perawatan dari Han-sio (ipar budiman), aku sebagai orang tuanya merasa berhutang budi dan banyak terima kasih!"
Lu hujin menjadi kikuk, sahutnya sambil tertawa dibuat buat, "Mana, mana, kukuatirkan putramu menyalahkan pelayananku kurang cermat, maka ia tinggal pergi begitu cepat, untung sekarang kalian pulang bersama, legalah hatiku."
Ia pura-pura kelihatan senang, bahwasanya dalam hati ia menggerutu kepada suaminya: "Mereka adalah orang orang kangouw yang sering terlibat dengan hukum, setiap orang yang sering berhubungan kental dengan mereka bukan mustahil kena bencana, sebaliknya kau bawa gerombolan orang orang liar ini pulang kerumah."
Sebagai seorang suami yang tahu sifat dan kekuatiran isterinya, suara sang istri tidak memperlihatkan rasa kurang puasnya, cepat Lu Tang-wan berkata: "Perjalananku sekarang ini diluar dugaan mengalami suatu peristiwa yang hampir saja merenggut jiwaku, untung ada Ling dan Cin toako memberi pertolongan dengan cepat kalau tidak mungkin aku sudah menemui ajalnya ditengah jalan dan tak bisa pulang menemui engkau lagi."
"Benar?" ujar Lu-hujin, "katanya kau merawat luka-lukanya dirumah Ling-toako, siapakah yang melukai kau ? Apakah sudah sembuh seluruhnya ?"
"Sudah lama sembuh, siapa orang yang melukai diriku sampai sekarang belum diketahui. Peristiwa ini pelan-pelan akan kuceritakan kepadamu dilain saat," demikian sahut Lu Tang-wan, mendadak ia merasa seperti heran, lalu tanyanya : "Dari mana kau bisa tahu bahwa aku merawat luka-lukaku dirumah Ling-toako ?"
Sekilas Lu-hujin pandang kearah Cin Hou-siau, mulutnya ragu ragu bicara : "Ini, ini . . . ." sesaat ia menjadi serba sulit, entah cara bagaimana ia harus bicara dihadapan sekian banyak orang. Ternyata ia anggap putrinya minggat bersama Cin Liong-hwi.
Ling Hou tertawa, katanya : "Semua urusan yang tidak begitu penting baiknya dibicarakan lain waktu saja. Sekarang tibalah saatnya kau tanya soal putrimu!"
Sebetulnya memang Lu Tang wan sudah ingin menanyakan putrinya sejak tadi. Soalnya mereka baru saja tiba dan para tamu belum dilayani sebagaimana mustinya, adalah jamak kalau mereka harus basa basi sekadarnya bersama istrinya. Setelah mendengar ucapan Ling Hou dengen tertawa baru berkata : "Terima kasih akan perhatian kalian ayah dan anak kepada putriku. Sebelum duduk perkaranya dibikin terang, mungkin Thiat-wi Hiantit jauh lebih gelisah daripada aku." Lalu ia berpaling kepada istrinya serta bertanya : "Apakah Yau ji sudah pulang kerumah ?"
"Apakah kau sudah tahu ?" balas tanya Lu hujin.
"Maksudmu soal Yau-ji meninggalkan rumah ?" Lu Tang wan menegas. "Memang aku tahu dia pernah pergi ke Lou keh ceng, kusangka sekarang sudah pulang kerumah !"
"Apa pula yang telah kau ketahui?"
Lu Tang-wan tertegun, ia menjadi heran, tanyanya lagi : "Masih ada apa ?"
Mendadak Lu hujin menekuk dengkul menjura kepada Cin Hou-siau, katanya : "Cin-lung-hiong, harap maaf sebelumnya akan kelancanganku. Aku mau bertanya, apakah kau punya seorang putra yang bernama Liong-hwi ?"
Rada tercekat hati Cin Hou-siau, pikirnya : "Mungkinkah bocah celaka itu pernah kemari?" segera ia menyahut: "Benar putraku memang bernama Liong-hwi. Dari mana hianso bisa tahu ?"