Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 99

CSI

Diam diam Geng Tian menjadi geli, batinnya; "Kalau siang siang sudah tahu lebih baik aku tetap tinggal dirumah keluarga Lu, meski dibenci oleh istri Lu Tangwan sekarang jadi berabe harus putar balik lagi mengejar mereka."

Setelah mendapat keterangan yang diinginkan, Geng Tian mengantar pemilik rumah penginapan keluar dari kamarnya. Dengan tenang dan nyenyak dia tidur semalam suntuk. Hari kedua pagi pagi benar ia sudah melakukan perjalanan menelusuri jalan yang sudah dilalui waktu datang kemarin.

O^~^~^O

Sejak berada dirumah ibu inangnya Lu Giok yau merasa kesepian tahu tahu empat hari telah berlalu, maklum ibu inang Lu Giok yau itu sudah berusia lanjut dan berbadan lemah lagi kebetulan waktu Lu Giok yau tiba penyakit asmanya sedang kambuh!

Putra dan mantunya sedang repot menuai padi disawah ladang mereka diatas gunung, Lu Giok yau menjadi rikuh untuk mengganggu mereka terpaksa ia beralasan untuk menyambangi ibu inangnya dalam hati ia sudah memperhitungkan setelah penyakit ibu inangnya rada sembuh baru ia akan memberi penjelasan. Tak terduga tepat pada hari keempat piaukonya sudah menyusul datang.

Lu Giok yau pun sudah kangen akan keadaan keluarganya melihat datangnya sang Piauko sudah tentu ia merasa senang tapi pun rada heran dan curiga tanyanya: "Piauko dari mana kau bisa tahu aku berada di sini?"

"Paman ada bilang katanya ada orang melihat kau melarikan diri dari Lou keh ceng tunggu punya tunggu kau belum lagi pulang kerumah maka beliau suruh aku mencari tahu," demikian Kho Tay seng memberi penjelasan.

"Hah ayah sudah pulang?" seru Lu Giok yau kegirangan. "Beliau tidak kurang sesuatu apa bukan!"

"Luka luka sudah sembuh kembali tepat pada malam itu melarikan diri dari Lou keh Ceng itu bersama beberapa orang teman temannya beliau membuat keributan dan menggegerkan Lou keh ceng Ling Tiat wi juga berhasil tertolong keluar."

Hampir saja Lu Giok yau berjingkrak kegirangan katanya: "Kenapa dia tidak kemari bersama kau?"

"Ling toako hanya tinggal semalam esok harinya lantas berangkat lagi secara tergesa-gesa."

Lu Giok yau menjadi lemah dan kecewa tanyanya: "Kenapa?" dalam hati ia membatin, "Mungkin karena peristiwa tempo hari itu ia masih rada sirik terhadap ibu. Kan seharusnya tunggu aku pulang."

"Aku tidak tahu," sahut Kho Tay seng dengan angkat pundak. "Aku pernah bujuk dia supaya tunggu kau pulang tapi mukanya masam tak mau bicara."

"Sungguh mengherankan kenapa dia uring uringan dan agaknya marah padaku?"

"Menurut dugaanku justru sebaliknya, bukan dia marah atau uring uringan adalah dia sendiri yang malu menemui kau." dengan kata katanya ini sengaja ia hendak mengatakan bahwa Ling Tiat wi sudah ingkar janji dan memberikan cintanya kepada orang lain.

"Kan dia tidak pernah berbuat kesalahan terhadapku soal dia gendak dengan In-tiong yan apa segala kan merupakan kabar angin atau issue orang lain belaka."

"Apakah kau sudah jelas duduk perkaranya waktu berada di Lou Keh ceng tempo hari ?"

Soalnya asal usul In tiong yan merupakan suatu rahasia, maka Lu Giok yau segan membicarakan soal ini kepada Piaukonya, apalagi soal pertemuan dengan In tiong yan maka ia menyahut tegas; "Tak perlu cari tahu lagi aku percaya kepadanya."

"Baik sekali kalau percaya," sahut Khu Tay seng. "Maaf kalau tadi aku banyak mulut!" Sebenarnya Khu Tay seng kuatir bila bualannya diketahui Lu Giok yau.

"Setelah ayah pulang apakah orang orang Lou-keh ceng ada meluruk datang cari perkara?"

"Tidak!" "Kalau tahu begitu, siang-siang aku sudah pulang, ai!! Piauko, apa yang sedang kau pikirkan; marilah kami pamit pada ibu inang!"

"Piauwmoay!" Tiba-tiba Khu Tay-seng berkata. "Cuma kau seorang yang tinggal di sini?''

"Putera dan mantunya sedang bekerja diladang, saat ini belum pulang."

"Bukan anak dan mantunya yang kumaksud."

"Maksudmu bocah she Cin itu?"

Mendengar orang menyebut Cin Liong-hwi dengan sebutan kasar "bocah she Cin," Khu Tay seng menjadi tertawa senang, ujarnya: "Benar, malam itu bukankah kau kabur bersama dia ke Lou keh-ceng?? Kenapa kalian bertengkar?"

"Bocah keparat itu bukan orang baik-baik, selanjutnya jangan singgung keparat itu."

Khu Tay seng mengiakan. Hatinya merasa senang dan takut, pikirnya: "Ling Tiat wi bocah itu sudah pergi, dan sibocah Cin Liong-hwi itu juga sudah tidak memperoleh simpatik dari piauwmoay, dengan hilangnya kedua penghalang ini, harapanku jadi lebih besar. Cuma rencana sudah kuatur itu menjadi gagal total, entah bagaimana aku mempertanggung jawabkan persoalan ini."

Begitulah Lu Giok yau ajak Khu Tay-seng masuk kedalam gubuk. Ternyata penyakit asma ibu inangnya masih kumat dan rebah diatas ranjang. Waktu Khu Tay seng tiba tadi kebetulan ia sudah tertidur, sekarang kebetulan ia sudah siuman.

Mendengar suara pembicaraan mereka, dengan bersanggah tongkatnya ibu inangnya merangkang terus keluar dengan gentayangan katanya: "Piausiauya kaupun datang. Kenapa tidak menginap semalam saja, sekarang juga hendak berangkat?!"

"Ayah sudah kembali, beliau suruh aku pulang," demikian Lu Giok-yau memberikan alasannya. "Beberapa hari lagi biar kami datang kemari."

"Ai aku selalu mengharap kedatangan kaIian, sungguh berat rasanya kalian tinggalkan," demikian keluh ibu Inang.

Mendadak Khu Tay seng menyela: "Ibu inang begitu sayang kepada kau, engkau boleh tinggal dua hari lagi disini biar aku kembali memberi lapor kepada Ih-tio."

Lu Giok yau menjadi heran: "Piauko, bukankah tadi kau katakan ayahku sangat mengharap kedatanganku?"

Khu Tay seng jadi tergagap, sahutnya: "Ini kupikir bila beliau tahu kau berada di rumah ibu inang sini, pasti beliau berlega hati, pulang dua hari rada terlambat kukira tidak mengapa."

"Tidak!" kata Lu Giok-yau tegas, "sebaliknya aku sangat kangen kepada ayah. Bukankah luka lukanya baru saja sembuh?"

Dan soal yang paling ingin diketahui adalah berita mengenai diri Hong-thian lui, cuma hal ini tak enak ia utarakan.

Melihat betapa bakti Lu Giok-yau terhadap ayahnya, ibu inang menjadi rikuh untuk menahannya lagi, katanya: "Kalau begitu, kau boleh pulang dulu, kalau senggang kemari lagi nanti!"

Lu Giok yau mengiakan, lalu sambungnya: "Kau orang tua harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, setiba dikota akan kucarikan tabib kemari untuk memeriksa penyakitmu!"

Ibu inang batuk-batuk, katanya sambil tertawa: "Penyakitku ringan begini masa perlu diperiksa tabib segala, cukup makan ramuan obat-obatan rumput saja pasti sembuh."

Posting Komentar