"Sekarang sudah memasuki Bu-lay-san, maka aku buru buru menyusulnya kemari !"
"Sungguh kebetulan sekali, rumahku berada di Bu-lay san, kita kan sejalan dan satu tujuan ! "
Terpaksa Giok-Iiong tak bisa mencari alasan lain lagi, katanya apa boleh buat.
"Kalau begitu, marilah kita naik gunung bersama, setelah sampai di persimpangan kita berpisah !"
Ang-i-moii Li Hong tersenyum penuh arti, sambil manggut.
"Baiklah!"
Lalu ia berpaling dan memberi perintah kepada Siau Sam .
"Tandu tak berguna lagi, sediakan kuda!"
Bagaikan mendapat lotre besar, Siau Sam mengiakan kegirangan.
Setelah keluar dari penginapan benring mereka naik kuda terus membedal menuju ke Bu Iay-san, sepanjang jalan ini banyak tikungan dan harus melewati hutan lebat dan himpun kembang yang berkembang semarak, aliran sungai dengan airnya yang bening, banyak panorama yang mempersonakan, BegituIah sambil bercakap cakap seenaknya mereka terus maju, tak terasa mereka sudah semakin dalam memasuki pedalaman pegunungan yang semakin jelek dan berbahaya.
Hari sudah lewat tengah hari didepan sebuah selat terlihatlah sebuah batu gunung yang berdiri setinggi lima tombak, dimana terukir huruf huruf besar yang berbunyi.
"Pintu masuk menuju Im liong pay !"
Begitu melihat tanda jalan ini, diatas kuda segera Giokliong menjura kepada Li Hong.
"Nona Li aku yang rendah harus berpisah disini. apakah kudamu ini boleh kupinjam, nanti setelah turun gunung pasti kukembalikan di penginapan itu!"
Li Hong cekikikan geli, ujarnya.
"Belum saatnya kita berpisah ucapan berpisah terlalu pagi kau katakan !"
"Apakah nona juga hendak menuju ke Im-liong gay ? (ngarai angin dingin)."
Li Hong mandah cekikikan lagi, menarik tali kekangnya di bedal meninggalkannya lari kedepan langsung memasuki selat sempit yang menuju ke Im-hong-gay itu. Mau tak mau Giok liong harus berpikir.
"Aneh ! Bagaimana mungkin dia bisa menetap di Im hong gay ?"
Tengah ia berpikir-pikir, kuda tunggangannya tanpa di kendalikan lagi segera berlari sendiri mengikuti dibelakang tunggangan Li Hong.
Tak lama kemudian pandangan di depan mendadak menjadi gelap, Kiranya di sebelah depan sana adalah selat sempit yang diapit oleh lereng gunung yang sangat curam dan tinggi, ditengah-tengahnya ada mulut selat yang mereka cukup tiba untuk jalan seorang dan seekor kuda, Ini betul-betul merupakan jalanan yang sangat bahaya sekali.
Di depan selat sempit ini terdapat pula sebuah baru pualam warna hijau yang terukir beberapa huruf berbunyi .
"Tempat terlarang Yu bing, sembarang orang tak boleh masuk !"
Baru saja Giok-Jiong hendak berseru mencegah Li Hong yang memang berjalan di sebelah depan terus membedal kudanya masuk tanpa melirik keatas batu yang penuh huruf
huruf peringatan seumpama tidak melihat saja ia terus berlari kencang memasuki selat itu.
Bukan begitu saja malah kedua kakinya menendang perut kuda, saking kesakitan sang tunggangan menjadi jmgkrak berdiri sambil berbenger keras dan memekik panjang, suaranya kumandang dan bergema lama dalam alam pegunungan yang sepi ini.
Bercekat hati Giok-liong, batinya.
"
Kalau sampai konangan oleh anak buah pihak Yu-bing mo-khek, lalu bagaimana baiknya?"
Karena pikirannya segera ia congklang kudanya semakin cepat mengejar ketat dibelakang Li Hong, serunya dengan suara tertahan.
"Nona Li ! Kini sudah sampai ditempat terlarang, menurut hematku ... Tak sangka dari atas kuda Li Hong berpaling sambil unjuk senyum manis, katanya menggoda .
"Kau takut?"
"Aku hanya khawatir kau terbawa-bawa dalam kericuhan ini."
"Haaa! Hahahaha"
Ang-i-mo-li Li Hong terloroh loroh geli diatas kuda, sambil meliuk-liuk badan dan menekan perut, Bukan begitu saja malah nada tawanya ia tekan dengan mengunakan lwekang sehingga gelak tawanya melengking tinggi membelah kesunyian dialam pegunungan, mungkin suaranya bisa terdengar sejauh lima li dengan jelas.
Keruan Giok-liong semaki gelisah, Tapi hakekatnya mereka sudah beranjak terlalu dalam paling tidak sudah sampai ditengah-tengah selat sempit itu, seumpama tidak bisa menembus terus kedepan untuk putar balik juga tidak mungkin lagi.
Apa boleh buat dalam hati ia mengeluh panjang pendek.
"Celaka ! jikalau anak buah Yu-bing-mo khek meluruk datang karena suaranya tadi, Li Hong mana mungkin kuat menghadapi mereka I"
Karena pikirannya ini hatinya menjadi semakin gugup, serunya .
"Nona Li ! Apakah kau tahu untuk tujuan apa aku meluruk datang ke atas Bu-lay-san ini ?"
"Kalau tidak kau jelaskan mana aku bisa tahu,"
Sahut Li Hong tawar.
"Aku ada janji dengan pihak Yubing-mo khek untuk menyelesaikan suatu pertikaian !"
"O, begitu ?"
Ujar Li Hong acuh tak acuh sedikitpun ia tidak terkejut atau heran. Giok-liong menambahkan .
"Karena itu kuharap nona berhenti sampai disini saja supaya tidak terbawa-bawa dalam urusan yang tak ada habisnya ini."
"Yu bing-mo khek itu adalah serigala atau harimau?"
"Ini ..."
"Kau sendiri tidak takut kepada mereka, masa aku Li Hong harus takut ?"
"Bukan begitu maksudku !"
"Kalau tidak, mengapa kau selalu mendesak aku kembali saja ?".
"Karena aku tidak ingin melihat nona terlihat dalam urusan ini, maka ...
"
"Seumpama tidak ingin terlihat juga tidak mungkin lagi."
"Kenapa begitu ?"
"Sebab dengan adanya kau, aku ..."
Ucapannya yang terakhir tak terdengar lagi oleh Giok-liong saking lirihnya.
sambil menoleh ke belakang tampak sepasang mata Li Hong yang memancarkan cahaya yang cemerlang melirik penuh arti kepada Giok-liong.
Saat mana mereka sudah dekat mulut keluar selat sempit itu.
Tidak jauh didepan sana dalam semak belukar sudah tampak gerak gerik bayangan orang.
Melihat ini segera Giok liong tarik tali kekangnya membedal kuda menerobos lewat kedepan menghadang di depan Li Hong, dengan suara berat ia membentak .
"Nona Li berhenti, lihatlah !"
Belum hilang suaranya dari berbagai penjuru di semak belukar itu beruntun melompat keluar puluhan laki laki seragam abu-abu berambut panjang, sambil bersuit nyaring mereka menghadang didepan jalan.
Rombongan laki laki ini semua berambut panjang terurai, jubah panjang menyentuh tanah, terang mereka setingkatan dengan para rasul dan pihak Yu bing-mo khek, sudah tentu hal ini membuat Giok liong kaget dan bersiaga ? Dari atas kuda Giok liong melompat tinggi setombak lebih terus hinggap diatas tanah, serunya sambil membusung dada .
"Aku yang rendah menepati janji tiga bulan yang lalu ke Imhong gay ! Lekas laporkan kepada ketua kalian!"
Tak duga para rombongan seragam abu-abu seperti tidak mendengar seruannya, mata mereka semua tertuju kearah Ang i-mo li Li Hong masih bercokol diatas kuda.
Keruan Giok-liong menjadi uring-uringan dan gelisah.
Tapi Li Hong sendiri bersila tenang seperti tidak terjadi apa apa, malah unjuk senyum menggumam, katanya kepada Giok liong dengan lembut.
"Naiklah kekudamu, perjalanan masih cukup jauh."
Giok liong terlongong heran serunya gugup.
"Nona Li, orang orang ini ..."
Maksudnya hendak berpaling lagi menunjuk rombongan abu-abu itu serta memberi lahu kepada Li Hong siapa mereka adanya, siapa tahu, waktu ia menoleh balik lagi, orang orang seragam abu-abu itu seperti hilang di telan bumi tak kelihatan lagi bayangannya, entah kemana perginya.
"Aih ! "sesaat Giok liong menjadi melongo ditempatnya karena tak menduga sebelumnya. Ang i-mo-li Li Hong bersikap biasa suaranya juga wajar, katanya menunjuk tunggangan Giok-liong.
"Naiklah mari kita lanjutkan kedepan !"
Giok-liong seperti tenggelam dalam lautan kabut tebal yang gelap, matanya menjelajah kesekitarnya, tapi keadaan sunyi senyap tanpa suara apa-apa, terpaksa ia naik keatas kudanya lagi, katanya coba memancing.
"Nona Li rumahmu ..."
Tanpa menanti Giok-liong berkata habis Li Hong sudah menunjuk gunung gemunung di depan sana sembari berkata.
"Di depan itulah tak jauh lagi !"
Walaupun hati Giok-liong penuh curiga tapi terpaksa ia mengintil maju terus.
kira-kira beberapa ratus meter kemudian, disebelah depan dpinggir jalan terdapat sebuah pohon besar diatas pohon inilah terpasang papan kayu diatas kayu ini digambar setan terbentuk makhluk aneh, dimana tertulis delapan huruf besar yang berwarna merah darah berbunyi "Daerah terlarang, masuk mati."
Giok liong tak tahan lantas berteriak sambil membedal kudanya mengejar kedepan.
"Nona Li, lekas turun, lekas turun !"
Li Hong mandah berseri tawa, sikapnya wajar ujarnya dengan nada menggoda.
"Kenapa?"
"Tidakkah kau melihat papan larangan itu?"
"Didepan masih ada satu lagi !"
Betul juga kira-kira puluhan meter kemudian diatas pohon ada pula papan kayu yang dipancang diatas pohon, kali ini berbunyi.
"Dilarang kembangkan silat letakkan senjata tajam!"
Giok-liong lantas berpikir.
"Sungguh aneh kalau melarang orang masuk kenapa dipasang lagi papan larangan kedua yang satu sama lain menjadi kontras, bukankah berarti menampar mulutnya sendiri !"
Ang i-mo li Li Hong agaknya dapat menyelami isi hati Giok liong, ujarnya genit.
"Papan larangan ini khusus di tunjukan kepada kaum dalam orang orang Mo-khek sendiri !"
"Oh, masa orang-orang Mo-khek sendiri kalau masuk ke dalam sarang juga harus meletakkan senjata dan dilarang menggunakan ilmu sifatnya ?"
"Sudah tentu, sesuai dengan larangan itu !"
"Lalu kita ini ... ."
"Kita juga termasuk orang sendiri, maka tidak perlu mendapat larangan sesuai dengan papan larangan pertama !"
"Kita ? Orang sendiri ?"
"Kau diundang kemari, dan aku tinggal disini, bukankah termasuk orang sendiri!"
"Ada orang datang."