Pak-hay su-lo mengunjuk senyum simpul yang misterius dengan ragu-ragu mereka menyahut samar samar Selama kelana di kangouw, belum pernah Giok liong melupakan rahasia riwayat hidupnya, Hakikatnya selama ini belum pernah diperoleh sumber pemecahan tentang asal usul dirinya, sekarang secara diluar dugaan mengalami peristiwa yang sangat diharapkan betapa juga dia tidak akan menyianyiakan kesempatan bagus ini.
Akan tetapi, Suhu yang berbudi jauh menempuh bahaya ke Bu-lay hong demi memenuhi perjuangan dirinya, sebetulnya mengandal kepandaian dan Lwekang To-ji Pang Giok, dapatlah dipercaya bahwa gurunya takkan mungkin kena cidera di Yu bing-mo-khek.
Tapi sebagai seorang murid yang mengerti tata kehidupan dan budi pekerti, bagaimana juga dirinya tidak boleh tinggal berpeluk tangan menonton saja.
Apalagi bukannya Pat ci-kay ong memberi pesan untuk disampaikan kepada gurunya.
kematian Wi thian ciang Liong Bun tersangkut paut dengan pedang dan meletusnya bencana dunia persilatan yang bersumber dari Hutan Kematian, hal ini juga harus segera dilaporkan kepada Suhunya, banyak persoalan ini benar benar membuatnya serba sulit.
Giok-liong merenung sekian lamanya, baru akhirnya berkata penuh kepastian.
"Bagaimana juga aku harus menyusul Suhu di Bu-lay-san dulu, harap kalian pulang dulu ke Pak-hay, laporkan kepada cukong kalian, baru setelah urusan di Bu lay-san selesai, aku pasti segera berangkat kesana, harap para cianpwe nanti memberi petunjuk!"
Pak hay su lo saling pandang terpaksa mereka manggut manggut saja, King-thian-sin Lu Say merogoh saku mengeluarkan sebuah kantongan suara hijau terus diangsurkan ke-depan Giok-liong, dengan air muka prihatin dan sungguh-sungguh ia berkata.
"Siau-hiap, benda ini adalah Hwi soat ling (lencana salju terbang), bagi siapa yang membekal lencana ini boleh bergerak bebas didaerah Pak-hay, malah pasti ada orang yang menyambut dan melayani segala keperluan, Kami harap setelah urusan di Bu-lay-san selesai, kau segera berangkat ke sana!"
Li Hian juga menambahkan dengan serius.
"Lencana ini merupakan benda pusaka dari Pak-hay kita, merupakan tanda teragung yang tidak ternilai harganya, siauhiap jangan kau pandang enteng benda ini!"
Giok liong mengulur tangan menyambut kentongan sutra hijau yang lembut laksana salju lalu dibukanya, tiba tiba pandangannya menjadi silau, Kiranya benda dalam kalangan itn bukan lain sebuah lencana empat persegi berwarna putih seperti perak tapi bukan .perak, bukan batu giok pula, bobotnya lebih berat dari benda logam biasanya, apalagi memancarkan cahaya cemerlang dan berhawa dingin, begitu bersih menembus cahaya sangat indah sekali.
Kata Lu Say lebih lanjut.
"Jian lian soat-siau hwi soat ling ini adalah batu meteor yang jatuh kedalam timbunan salju didaerah Pak-hay pada ribuan tahun yang lalu, selama ribuan tahun ini sudah menyedot hawa dingin dari salju menjadikan lebih keras dari baja, aliran kita hanya memperoleh dua potong, dipandang sebagai benda pusaka yaag tak ternilai sekarang dijadikan lencana (perintah) atau pertanda tertinggi dari golongan kita untuk segala pelosok di Pak-hay. sebelum berangkat menunaikan tugas kali ini, Cukong ada berpesan wanti wanti dan menyerahkan lencana pusaka ini, sebagai penghargaan untuk menyambut Siau hiap dan diharap supaya tidak sampai hilang!"
Melihat orang memberi pesan sedemikian serius, Giok liong malah tidak enak menerima, katanya mengangsurkan kembali.
"Jikalau sedemikian berhaaga, aku benar benar tidak berhak menerima!"
Li Hian cepat berkata.
"Kalangan persilatan di Pak hay jangan disamakan dengan dunia persilatan di Tionggoan, Kalau tidak membekal Hwi-soat-ling setiap tindakan mungkin kau akan selalu menghadapi banyak kesukaran, Siau-hiap terima saja!"
Merah wajah King thian in Lu Say, katanya rikuh.
"Bukan Losiu banyak curiga, aku hanya menerangkan asal usul dan kepentingan dari Hwi-soat-ling ini, harap Siau-hiap tidak salah paham."
Giok liong sendiri juga menjadi kikuk, terpaksa ia simpan lencana menjaga serta berkata .
"Kalau begitu, banyak- terima kasih akan segala bantuan ini, sekarang aku minta diri !"
Pak hay-su-Io berkata bersama.
"Kami berempat menunggu kedatangan Siau hiap di Pak hay"
"Aku pasti datang !" "Silakan !"
Pak-hay su-lo melejit bersama hanya berapa kali lompatan saja bayangan mereka sudah menghilang dikejauhan sana.
Giok liong terlongong memandang kedepan, tangannya meraba raba Hwi soat ling, sesaat perasaannya yang sangat gundah sulit dikendalikan.
Sebab sebagai manusia umumnya tentu mempunyai rumah sendiri, punya ayah bunda seumpama ayah bunda sudah meninggal, paling tidak juga mengetahui siapakah nama ayah bunda serta riwayat hidupnya selama masih hidup, Adalah semua ini bagi Giok-liong masih sangat kabur dan gelap, sekarang sudah mendapat titik terang sebagai petunjuk kearah penyelidikannya yang menjurus ke sumber yang tepat.
Betapa Giok-liong takkan gundah setelah mendengar berita yang menggirangkan ini, karena selama ini dengan segala daya upaya dan jerih payah sudah menyelidiki kemana-mana tanpa hasil, Dan sekarang karena benturan banyak hal-hal yang harus segera dilaksanakan terpaksa ia harus menunda perjalanan ke Pak hay ini.
Entah berapa lama Giok-liong mendelong memandang ke arah dimana Pak hay-su-lo menghilang, hatinya menjadi kosong dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Akhirnya setelah menghela napas panjang menyusuri pinggir sungai ia beriari-lari kencang seperti orang gila turun gunung.
Karena kerisauan hatinya maka ia kerahkan seluruh Lwekangnya untuk mengembangkan ilmu ringan tubuh, satu pihak untuk me lampiaskan ganjalan hatinya, kedua karena ingin benar rasanya dapat segera terbang sampai di Bu-laysan, setelah bersua dengan Suhu segera berangkat lagi menuju ke Pak-hay, untuk memecahkan rahasia riwayat hidupnya.
Tengah malam ia sudah sampai di luar batas pegunungan disini jalan datar maka langkah kakinya menjadi lebih pesat terus menuju ke Bu-lay-san.
Seorang diri siang malam terus menempuh perjalanan jauh ini, beruntun beberapa hari sampai pakaiannya tak keruan, akhirnya ia sampai juga didaerah perbatasan gunung Bu- Iayhong.
Sore hari itu ia tiba di kaki gunting Bu-lay, dilihatnya hari sudah hampir petang, terpaksa ia mencari penginapan didalam sebuah kota kecil, menurut perhitungannya setelah mencari tahu jalan, besok pagi-pagi sekali segera melanjutkan perjalanan memasuki pegunungan.
Beberapa hari ini kurang tidur kurang makan dengan puas, tidak mandi lagi, Maka begitu mendapat tempat menetap, setelah cuci badan lantas pesan makanan dan minuman paling mahal setelah makan besar dengan lahapnya, ia kembali kekamarnya, mencopot baju luarnya meletakkan Potlot mas, Seruling dan Hwi soat-ling diatas ranjang, meskipun hari masih pagi ia sudah mapan tidur supaya besok bisa bangun pagi dan melanjutkan perjalanan.
Tak nyana, kira kira tengah malam tiba-tiba ia siuman dari tidurnya terasa seluruh badan panas membara seperti terbakar, begitu panas sampai tak tertahan lagi, napasnya juga seperti menyemburkan api, seluruh tulang belulang terasa linu dan sakit sekali, jantung berdesir keras sekali, sehingga darah terasa bergolak dalam tubuhnya.
Giok-liong tak kuat lagi, susah payah ia coba merangkak bangun, akan tetapi seluruh badan terasa lemas sedikitpun tak kuasa mengerahkan tenaga.
Keruan bukan kepalang kejutnya, Apakah Lwekang telah buyar dan kehilangan hawa murni ? Ataukah sudah Jauhwe-jip cto ( tersesat ) ? Haruslah diketahui bagai orang tokoh silat yang melihat Lwekang atau hawa murni yang sudah sempurna badannya akan kuat bertahan dari segala macam penyakit, maka biasanya mereka berusia sampai lanjut dengan badan tetap segar bugar.
Bagi Giok-liong yang sudah mencapai latihan sempurna seharusnya tidak mungkin bisa terserang penyakit sekarang kenyataan dirinya mengalami keadaan yang diiuar tahu sebelumnya betapa hatinya takkan kejut dan khawatir.
Betapa juga Giok-liong tidak putus asa, dengan menahan segala derita, ia berusaha mengerahkan hawa murni lalu pelan-pelan disalurkan.
Siapa tahu, bukan saja hawa murni sulit dihimpunkan, malah pusarnya terasa panas seperti dibakar, sakit bukan buatan, isi perut seperti dipuntir dan dipanggang, seluruh sendi tulang seperti copot, jalan darah menjadi panas laksana arus gelombang panas yang cepat sekali menjalar keseluruh badan.
Akhirnya Giok-liong tidak tahan lagi terguling-guling diatas ranjang sambil mengeluh sesambatan, Kebetulan penginapan itu banyak kamar kosong, maklum kota kecil yang jarang diinjak pedagang besar dari luar daerah.
Apalagi pemilik penginapan tidur dibagian ruang paling belakang, meskipun Giok-liong sudah tergerung-gerung menahan sakit sudah tentu tiada seorangpun yang menghiraukan, sebagai orang kelana kalau jatuh sakit dalam penginapan dirantau benar-benar merupakan suatu penderitaan besar.
Bagi orang yang pernah mengalami sendiri baru akan tahu betapa hebat penderitaan yang menyiksa dirinya itu.
Sudah tentu orang lain takkan dapat meresapi akan hal ini.
Demikianlah keadaan Giok liong, menghadapi sebuah pelita yang kelap kelip diatas meja ia terus bergulingan saking tak tahan, mulut sudah terasa kering seperti dibakar namun ia hanya mendelong saja melihati poci dan cawan yang terletak dimeja, tak mampu mengambilnya karena seluruh badan lemai lunglai tak bertenaga.
Seketika hatinya pilu dan sedih sekali, air mata tak tertahan mengalir dengan deras sampai bantal menjadi basah.
Tahan punya tahan setelah menderita siksaan yang hebat itu akhirnya cuaca mulai terang tanah.
Waktu pelayan penginapan masuk membawakan air sebaskom baru diketahui bahwa Giok-liong celentang terserang penyakit di-atas, tempat tidur, tanyanya.
"Tuan muda, kenapah kau ?"
Seluruh badan Giok liong masih panas membara, keluhnya berkata .
"Ambilkan air yang dingin, aku dahaga, sekali !"
Segera pelayan itu memegang secawan air dingin terus maju mendekat baru berapa langkah ia laitas berteriak kaget.
"Haya, tuan muda kenapa badanmu begitu panas, lihat aku sampai tidak berani mendekati."
"Oh, apa ya ?"
Keluh Giok lion semakin sedih.
"Siapa itu ?"
Tiba -tiba dari luar terdengar sebuah bentakan.
"kenipa ribat-ribut."
Seiring dengan suaranya diambang pintu lantas muncul seorang laki-laki pertengahan umur wajahnya kasar dan bengis, penuh daging menonjol. Si pelayan segera membungkuk maju terus menyapa hormat.
"Samya ! Kau orang tua tiba!"
Laki laki pertengahan umur yang dipanggil Samya itu mengerutkan kening tanyanya.
"Ada apa ?"
Lekas-lekas si pelayan menjawab .
"Tuan muda ini terserang penyakit, mungkin ...
"
"Kenapa dibuat heran."
Sentak laki-laki kasar itu acuh tak acuh.
"bekal yang dibawa banyak tidak ?"
Sambil berkata matanya jelilatan menyapu pandang keseluruh ruangan kamar, lalu sambungnya lagi dengan nada menghina.
"Kukira banyak membawa uang untuk membeli obat diatas gunung ? Ternyata uang sangunya saja tidak cukup, nanti setelah malam tiba angkut keluar dan buang kedalam sungai, supaya tidak menghabiskan sebuah peti mati."
"Hm, apakah kau ini pemilik penginapan ini ?"
Jengek Giokliong gusar. Si pelayan segera menyahut.
"Bukan ! ini adalah Siau- Efltnya dari atas gunuag, penginapan kita ini..."
"Jangan cerewet,"
Bentak Siau-samya.
"Dalam beberapa hari ini mungkin ada mangsa besar yang bakal naik ke atas gunung, kalian harus hati-hati!"