Seruling Samber Nyawa Chapter 95

NIC

"Cacat tua ! Kau ngapusi aku !"

Sambil menyeka darah yang mengalir di ujung mulutnya, Bo pak- it- jan Sa Ko berkata sangat payah.

"Aku tidak menipumu, yang memukul mati muridmu dia itulah, Kim pit jan hun Ma Giok liong ini ! Pat-ci-kay ong berubah keras air mukanya dengan tajam ia pandang Giok-liong. Le hwe-heng cia menjadi ragu-ragu setengah percaya ia pandang Giok-liong lalu beralih pandang kepada Sa Ko yang duduk di-tanah, lalu ujarnya dengan suara serak.

"Dia? Mengandal bocah ingusan ... ." "Hahahaha ! Hahahaha!"

Giok liong tertawa lebar.

"Le-hwe heng-cia, jangan terlalu yang membunuh pelindung Hiat hong pang memang aku inilah adanya, apa yang dapat kauperbuat atas diriku ? Apa tindakanmu selanjutnya?"

"Buyung, benar kau ini yang berbuat?"

"Kenapa kau tidak percaya?"

"Aku harus menuntut balas bagi muridku !"

"Di saat ini hanya ada murid menuntut balas bagi gurunya belum pernah kudengar sang guru menuntut balas bagi muridnya ! Hahahaha ! Hehehehe !"

"Keparat, kurang ajar"

Le hwe heng-cia melejit ke atas dari kejauhan diudara dia menjulurkan tangannya mencengkeram seperti galian te i Li i mencakar pundak Giok-Iiong.

Belum lagi orangnya tiba, hawa panas sudah menerpa tiba membawa kesiur angin yang deras.

Ringan sekali mendadak bayangan putih berkelebat hilang Sambil berseru heran bayangan merah segera terbang mengejar dengan kencang.

"Berhenti !"

Latihan Ginkang Pat ci-kay-ong boleh dikata sudah mencapai puncak kesempurnaannya, ringan sekali ia melayang maju mencegat diantara mereka, lalu sambungnya.

"Bicaralah dulu supaya jelas !"

"Kau juga ingin ikut campur Rija pengemis !"

Sentak Le hwe-heng-cla dengan beringas. Pat ci-kay-ong bersabar sahutnya tertawa tawar "Maksudku urusan ini dibicarakan dulu biar jelas duduk perkaranya."

"Bukankah bocah ini sudah mengaku sendiri !"

Giok-liong insyaf bahwa Le-hwe-heng-cia merupakan gembong silat yang lihay dari kepandaiannya, bagaimana juga perhitungan dendam ini harus diselesaikan, oleh karena itu tanpa banyak bicara lagi segera dirogohnya keluar Potlot mas di tangannya.

serunya.

"Supek! Biar kucoba manusia liar ini punya kepandaian siiat macam apa?"

Pat-ci kay-ong mendelik, tanyanya.

"Benarkah muridnya, . ."

"Bikin aku mati gusar!"

Bayangan merah terbang melayang beberapa tombak melewati Pat-ci kay ong terus menubruk kearah Giok liong.

Pat ci kay ong tidak keburu mencegah mereka sudah berkutet dan bertempur seru sekali, sinar kuning berkembang dan diputar empat laksana kitiran melawan sepasang kepalan warna merah marong.

Begitu cepat cara serang menyerang ini sekejap saja puluhan jurus telah berlalu, selama ini kedua belah pihak tampak sama kuat.

Le hwe heng cia berkaok-kaok, suaranya laksana geledek mengguntur yang marah marah, Scba iknya Giok liong putar Potlot masnya secepat mengejar angin, seluruh badan diselubungi kabut putih, dimana Ji lo sudah dikerahkan melindungi badan, seketika terbangun semangatnya Jan hun su sek berulang kali dilancarkan dengan ketat sekali, tiada tampak sedikitpun lobang kelemahannya, Malah setiap jurus permainannya sering balas menyerang dengan gencar dan ganas tak mengenal ampun.

Terdengar kesiur angin dari lambaian baju orang, diluar gelanggang sana dari berbagai penjuru saling bermunculan bayangan orang yang tak terhitung jumlahnya, kiranya mereka juga kaum persilatan yang cukup tinggi kepandaiannya, terbukti dari Ginkang mereka yang cukup lihay, semua berdiri menonton diatas batu diatas pohon, menahan napas tak sembarangan bergerak.

Para pendatang ini semua mengenakan seragam hitam didepan dada tersulam pelangi merah darah, Terang mereka adalah anak buah Hiat hong pang.

Saat itu Bo pak it jan Sa Ko sudah merangkak bangun dengan susah payah terus mendekat disamping Pat ci kay ong.

katanya dengan lirih seperti nyamuk.

"Kay-ong ! Coba lihat ! Terang Hiat-hong pang yang mengundang iblis laknat itu datang kemari!"

Perhatian Pat ci-kay-ong tertuju pada keselamatan Giokliong, acuh tak aoiti ia menyahut .

,.Peduli Hiat-hong pang apa segala, iblis tua ini membikin onar di Tiong-goan merupakan bencana bagi kalangan persilatan.

Inilah takdir, semua harus mengalami kesukaran !"

Belum habis kata katanya, dalam gelanggang pertempuran terdengar Iedakan dahsyat bayangan manusia jaga lantas berpisah masing masing berdiri pada dua jurusan Le-hweheng cia melompat sejauh lima tombak, sepasang mata apinya merah membara terus berkedip-kedip, sikut tangan kirinya kelihatan mengucurkan darah segar, mulutnya tak hentinya berkaok-kaok.

"Aduh, aduh! Bocah keparat ! Bocah keparat !kiranya .., , tac heiiehe !"

Dilain pihak Giok- liong sendiri juga berkelebat menyingkir sejauh setombak lebih, Potlot mas di tangan kanan dilintangkan di depan dada, air mukanya berubah tegang, terlihat lengan baju tangan kirinya sobek separo dicakar Le hwe heng cia dan jatuh di atas tanah.

Puluhan anak buah Hiat-hong pang serempak berteriakteriak gegap gempita sambil bertepuk tangan, suaranya keras berkumandang bergema dalam lembah pegunungan

Sikut kiri Le-hwe heng-cia kena tergores oleh Potlot mas Giok-liong, keruan hatinya bertambah marah seperti terbakar.

Terlihat ia geleng-gelengkan kepalanya yang besar sehingga rambutnya menjadi riap-riapan, mukanya menyeringai seperti wajah setan, menepuk kedua tangannya ia menggembor keras.

"Bocah keparat, kau harus mati !"

Tepat disaat ia mengayun telapak tangannya, cahaya merah dari bara yang panas sekali samar-samar seperti dua tonggak api menyembur keluar dari telapak tangannya. Terdengar Pat-ci-kay-ong berteriak.

"Giok liong, hati-hati, inilah Le-hwe-ceng-ciang."

Siang-siang Giok-liong sudah kerahkan seluruh latihan Lwekangnya Ji-lo juga dikerahkan sampai puncaknya, tanpa disadari tangan kirinya sudah merogoh keluar seruling samber nyawa.

Dengan kedua senjata ampuh dan sakti berada ditangan Giok-liong seperti harimau tumbuh sayap, dengan gencar ia lancarkan seluruh kepandaiannya.

Lambat laun kedua belah pihak sudah kerahkan kemampuan masing-masing, seluruh kekuatan telah disalurkan untuk mengadu kekerasan.

Pada saat itulah, mendadak gelak tawa lantang yang kumandang ditengah udara meluncur semakin dekat dari kejauhan sana.

Belum sempat mata berkedip, dalam gelanggang sudah bertambah dengan empat laki-laki tua berambut putih perak.

Rambut keempat orang tua ini samasama berkilau, sikapnya gagah bertubuh tinggi besar dan kekar.

Begitu mendarat di tanah, serentak mereka bersuara.

"Lehwe heng cia, berhenti!"

Agaknya Pat ci kay ong kenal ke empat kakek tua ini, memburu maju beberapa langkah ia berseru.

"Ji kang su-gi ..."

Keempat kakek tua itu sedikit manggut sambil tersenyum, katanya bersama.

"Kay-oag ! Apa kau baik ? Kita sekarang sudah merubah sebutan bersama Pak hay-su-lok ! Hahahaha !"

Sementara itu Giok-liong juga sudah memburu tiba lantas menjura kepada ke-empat kakek tua itu, ujarnya .

"Apakah cianpwe berempat belum kembali ke Ping-goan di laut utara ?"

Le hwe-heng cia menggosok gosok kedua telapak tangannya, matanya berapi-api sambil berkaok uring uringan.

"Aku tengah menuntut balas hutang darah dengan bocah ini, peduli apa dengan kalian ...

"

Tertua dari pak-hay-su-lo King thian-sio Lu Say segera menarik muka desisnya berat .

"Tutup mulutmu ! Sebab Ma Siau-hiap yang kau tuntut ini adalah juga orang yang hendak kita undang, terpaksa kau harus mengalah sedikit ! Kembalilah kesarangmu di perbatasan sana ! Terhitung kau yang sebat!"

Li Hian termuda dari Pat hay-su lo mendekat di samping Giok-liong, dengan sungguh-sungguh ia berkata .

"Kawan kecil ! Kita sudah kembali ke laut utara, kini kita menerima perintah majikan untuk mengundangmu ke laut utara."

Belum Giok-liong sempat menjawab, di sebelah sana Le hwe-heng-cia sudah menggerung gusar, sambil menggemakan kedua tangannya terus menubruk maju.

Berubah air muka Pak-hay su-lo melihat amukan orang seperti banteng ketaton ini, serentak mereka bergerak bersama mendorong tangan memapak kedepan, seraya berseru .

"Besar nyalimu iblis !"

"Blang !"

Ledakan yang keras sekali menggetarkan bumi dan langit Le hwe-heng-cia tergetar mundur lima kaki, angkara murka menghantui pikirannya.

Sebaliknya Pek-hay su-lo masing-masing juga tersurut mundur tiga kaki, air muka mereka mengunjuk sikap serius, Tempat kosong di antara jarak mereka yang terpaut dua tombak itu rumput menjadi kering, batu juga terhangus seperti telah terjadi kebakaran besar laksana disamber geledek sehingga meninggalkan bekas yang menyolok.

King-thian-sin Lu Say menjadi murka, gerungnya berat.

"Betapapun jahatnya Le-hwe-heng-ceng, jangan kau lupa akan Nay-ham kang dari Ping-goan di laut utara yang merupakan tandingan setimpal dari ilmu jahatmu itu !"

Wi-tian ing Yu Pau juga berubah air mukanya, ancamnya dengan serius.

"Tua bangka bangkotan yang tidak tahu akan kebaikan !"

Ka-liong Gi-hong juga membentak.

"Kalau berani mari sekali lagi!"

Pat-oi-kay-ong berseri tawa seraya maju tampil kedepan, katanya lembut kepada Le-hwe heng cia.

"Urusan hari ini menurut hematku sudahi saja sampai disini. Kalau api ketemu es, kukira tidak bakal membawa keuntungan !"

Le hwe-heng cia merenung sebentar, sinar matanya lantas beringas tajam menatap ke arah Giok-liong, desisnya penuh kebencian.

"Baik ! Bocah keparat ! Urusan ini tidak akan berakhir sampai disini saja !"

Giok-liong bergelak tawa dengan congkaknya, ujaraya lantang.

"Aku Ma Giok-liong selalu melayani tantanganmu !"

Posting Komentar