Sahut si pengemis tua dengan nada berat.
"Ini ... Wanpwe memang pantas dihukum mati, tapi tak tahu kenapa ...
"
"Kau memasuki Lembah kematian menempuh bahaya kematian apakah tojuanmu?"
"Menuntut balas bagi ayah bunda, dan menceri tahu riwayat hidupku !"
"Selama berkelana ini, apakah sudah kau ketemukan sumbernya ?"
"Giok-liong menggeleng kepala dengan sedih. Adalah kebalikannya Pat ci-kay-ong malah manggutmanggut, katanya.
"ItuIah, coba pikirkan selama kau kelana ini bukan saja tidak mengurus tujuan yang sebesarnya malah kemana-mana kau mengunjuk kejahatan, gagah-gagahan menyebar maut membunuh sekian banyak jiwa, Berani kau menjunjung tinggi julukan Kim pit-jan hun menimbulkan keonaran dan kegaduhan di Bulim, dimana kau berada berada disitu timbul kericuhan!"
Sebentar ia berhenti, lalu sambungnya lagi.
"Bukan begitu saja perbuatanmu dikalangan kangouw kau khusus bergaul dengan kaum hawa bergulat tiada habisnya serta romantis. Yang terakhir ini tingkah lakumu semakin menjadi-jadi, mencari gara gara kepada sembilan aliran besar, dengan darah kau cuci bersih seluruh penghuni Go- bi-san dan Butong- pay, sebetulnya apakah tujuanmu. Hari ini tiada halangannya kau tuturkan kepadaku duduk perkara sebenarnya. Begitulah secara panjang lebar dan ringkas ia beberkan pengalaman Giok-liong selama di kangouw, nadanya sungguhsungguh penuh keseriusan. Selama mendengarkan Giok-liong mandah bungkam seribu basa sambil tunduk kepala, hati terasa seperti dibakar, juga seperti diiris-iris sampai seluruh badan geinetar, lama dan lama sekali baru ia dapat mengendalikan perasaannya, katanya.
"Masa Suhu dia orang tua fidak memahami dan menyelami pengalaman ku!"
"Memang segala sepak terjang dan perbuatanku susah dipahami, dengan cara bagaimana dia harus menyelami perbuatanmu?"
"Cianpwe harap tanya dikatakan sekarang Suhu berada?"
"Dia mewakili kau pergi kepuncak Bu-tay-san untuk memenuhi janji dengan pihak Yu-liong-kiam khek, Apalagi sembilan partai besar sudah tergabung dalam satu barisan hendak mencari perhitungan kepadamu, coba bila kau berdiri di pihak Suhumu, harus tidak menjadi marah."
Semakin pedih rasa hati Giok-liong, sam bil menjura dalam lantas ia membungkuk menjemput Potlot mas dan batu giok tanda kenangaa itu, katanya lantang.
"Supek. anak memang tidak berbakti, baiklah kita berpisah disini saja!"
Pat-ci-kay ong mengerutkan alis, katanya keras.
"Hendak kemana kau?"
"Aku harus menuju ke ngarai Im-hong (Angin Dingin) di puncak Bu-tay-san mencari Suhu!"
"Cara bagaimana kau harus menyelesaikan persoalan itu dihadapan mereka?"
"Aku harus lapor peristiwa sebenarnya kepada Suhu, terserah bagaimana dia orang tua hendas menjatuhkan hukumannya. seumpama aku harus hancur lebur juga rela."
"Begitupun baik, Tapi sebelumnya perlu ditegaskan dulu, sebetulnya bukan suhumu tidak mau menyelamli sepak terjangmu, Betapa-pun kabar angin atau omongan orang perlu pertimbangan, kabar angin dan desas desus di kalangan kangouw sebetulnya cukup merepotkan!"
"Wanpwe paham, terima kasih akan petunjuk Supek!"
"Hyaaaat!"
Tibn-tiba dari kejauhan sana terdengar jeritan keras bengis yang berkumandang menggeiarkr.n alam pegunungan menembus awan. Tanpa merasa Giok liang berdua berjing krak kaget, sesaat mereka saling pandang.
"Ciiataat !"
Gerangan lebih dahsyat terdengar mengerikan malah jarak nya terdengar semakin dekat. Tiba-tiba Pat-ci-kay-ong meloncat bangun, katanya lirih.
"Lwekang orang ini cukup hebat."
Giok-liong mendengarkan dengan cermat sahutnya berbisik.
"kalau terkaan Wanpwe tidak salah kedua kali teriakan ini bukan keluar dari mulut seorang !"
"Oh ..."
Merah jengah muka Pat ci-kay ong, sikapnya menjadi kikuk, betul-betul ia tidak menduga akan hal ini, sebab itu hatinya berpikir.
"Gelombang dibelakang selalu dorong yang didepan, tunas muda tumbuh diantara kaum remaja. pemuda ini memang berbakat, bukan saja Lwekangnya sudah sangat menonjol kecerdikan otak dan reaksinya cukup hebat, jauh melebihi tokoh-tokoh tua dari dunia persilatan. Tak heran begitu cepat ia mengangkat nama menggetarkan dunia persilatan Lebih tak perlu diherankan kalau golongan putih dan hitam semua takut dan benci terhadapnya !"
Tengah Pat-ci-kay ong terbenam dalam lamunannya, tibatiba Giok liong berbisik di pinggir telinganya.
"Supek, lihatlah !"
Jauh diluar hutan belantara sana, sebuah titik kecil, warna abu-abu gelap tengah berlari kencang laksana meteor jatuh, sedang di belakangnya mengejar dengan ketat sebuah bayangan merah marong yang besar, jarak ke dua bayangan orang itu kira-kira puluhan tombak, satu didepan yang lain dibelakang mereka mengembangkan Ginkang yang teramat lihay belum pernah terlihat di Kangouw, inilah Ginkang tingkat tinggi yang dikembangkan laksana bintang terbang mengejar rembulan, tujuan bayangan itu adalah tempat mereka berdua berada.
Sekejap mata saja jarak ratusan tombak telah diperpendek menjadi seratusan tombak kurang.
Kini kedua bayangan itu semakin dekat dan jelas kelihatan.
"Hah! Bo pak-it-jan!" "Oh Bo pak-it jan Sa Ko"
Hampir bersamaan Pa-ci kay-ong dan Giok liong berseru berbareng. Mata Giok-liong berkedip-kedip, katanya.
"siapakah orang aneh berpakaian serba merah."
"Celaka! Le hwe-heng cia, Bagaimana iblis ini bisa. ."
Belum habis ia berkata terdengar Le-hwe heng-cia membentak keras ditengah udara suaranya kasar dan keras seperti bunyi, kokok beluk.
"Sa Ko jangan harap kau dapat lari meloloskan diri! Tidak lekas kau berhenti!"
Serangan tangannya membarengi ancamannya, Waktu telapak tangannya terayun tiba tiba ditengah udara meledaklah suara gemuruh lantas terlihat menyemburnya lidah berapi yang membawa bau bakar yang keras laksana sekuntum awan merah didorong oleh angin baju yang keras langsung menerjang kearah Bo pak- it jan Sa Ko.
Kebetulan saat itu angin menghembus kencang sehingga semburan berapi tadi semakin berkobar lebih besar, sungguh mengejutkan.
Bo pak it jan Sa Ko mendengar di belakangnya seniman baja api sangat santar sampai menderu, Cepat-cepat ia goyangkan pundak meliukkan pinggang dan menjejakkan kaki tunggalnya sementara tangan tunggalnya juga dikebutkan kebelakang, badannya lantas meluncur turun miring kesebelah samping.
Tapi perbawa pukulan Le hwe heng cia ini betul betul sangat ganas, Bagaimana cepat gerak tubuh Bo pak it jan, badannya limbung terhuyung kedepan tak kuasa berdiri tegak, Saat mana meskipun jauh berada di dua tiga puluh tombak jauhnya, tak urung badannya tergetar keras tak terkendali lagi.
"Blung !"
Air lantas muncrat tinggi ternyata tepat sekali tubuhnya terpental masuk kedalam aliran sungai, sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup, untung kecemplung kedalam air kalau tidak paling ringan kepalanya pasti keluar kecap atau benjut.
Bo-pak-it-jan sudah sekian tahun lamanya malang melintang di gurun pasir utara, merupakan seorang tokoh kosen yang tiada tandingannya didaerahnya.
Termasuk kalangan persilatan di Tionggoan dan perbatasan pedalaman selatan termasuk juga sebagai gembong silat yang sangat disegani.
Kepandaian dan Lwekangnya tidak lebih rendah dari Bu-lim sucun.
Tapi apa yang sekarang disaksikan, bukan saja tidak berani balas menyerang sampai menangkis saja tidak mampu, malah untuk menghindar tnati-matian saja juga harus menderita begitu rupa.
Maka dapat dibayangkan betapa mengejutkan kepandaian Le-hwe-lieng-cia ini ! Baru saja kepala Bo pak it jan menongol keluar dari permukaan air, pukulan Le hwe-heng cia sudah menerjang tiba lagi.
Giok-liong yang berdiri jauh tiga tombak juga merasakan udara mendadak menjadi panas membakar kulit seperti di panggang diatas tungku, aliran hangat menyampok muka sehingga napas sesak.
"Byaaaak !"
Kembang air, pecahan batu, rumput dan dahan dahan pohon beterbangan tak karuan paran seperti tengah terjadi gempa bumi. Badan Bo pak it-jan melayan tinggi sejauh lima tombak terus terbang melintang meluncur kedepan.
"Blang !"
Tepat ia terjatuh disamping Pat ci-kay-ong dan Giok-liong.
Kedua matanya kelihatan mendelong lurus kedepan, seluruh mukanya merah membara seperti babi panggang, seluruh baju yang dipakainya hangus terbakar, sejenak Patct kay-ong jongkok, memeriksa lalu berkata kepada Giok-liong.
"Waspadalah, Le hwe-heng-cia iblis ini tiada tandingannya di jagat ini."
"Terlihat bayangan merah berkelebat tahu-tahu Le-hwe heng cia sudah meluncar datang.
"Ha Hehenehe!"
Begitu melihat kehadiran Pat-ci kay-ong ia bergelak tawa sebelum sempat membuka suara bicara, Gema suaranya seperti auman harimau seperti lolong serigala menggetarkan alam pegunungan sampai kumandang sekian lama, binatang dan burung lari dan beterbangan karena terkejut.
Lenyap gema tawanya lantas terdengarlah suaranya yang keras sember seperti gembreng pecah .
"Ada In-lwe-su cun diam sebagai pelindung tak heran dia berlari sipat kuping kearah sini ! Tidak salah ! Tidak salah !"
Sikap sombongnya ini seolah-olah tidak memandang sebelah mata Pat-ci-kay-ong. Giok-liong menjadi aseran, raut mukanya yang putih berubah merah padam, serunya.
"Kenapa kau begitu ...
"
Belum kata sombong keluar dari mulutnya, keburu Pat-ci-kayong memberi kedipan mata mencegah kata katanya, malah ia sendiri segera berteriak.
"Le-hwe heng-cia ! Salah dugaanmu ! Belum pernah aku mengadakan janji pertemuan ditempat ini !"
Tak duga Le hwe heng-cia membalik mata, serunya dengan beringas .
"Aku tidak peduli ! Kalian bongkot-bongkot silat dari Tiong-goan berani membunuh muridku, maka aku harus membuat perhitungan dengan kalangan persilatan Tiong-goan kalian !" "Siapa yang telah membunuh muridmu?"
Tanya Pat ci kayong tawar.
"Aku tidak tahu !"
Sentak Le-hwe-heng-cia dengan murka.
"Dimana muridmu dibunuh orang !"
"Di Hiat hong-pang !"
Tergerak hati Giok-liong, segera ia turut bicara .
"Apakah pelindung Hiat-hong-pang yang menggunakan ilmu Le hwetok- yam itu ?"
Tergetar badan Le hwe-heng-cia, raut mukanya menjadi serius tiga langkah ia mendesak maju kedepan Giok liong dengan sorot pandangan tajam ia menyahut tak sabaran "Benar ! Kau tahu "
Sementara itu, Bo pak it jan Sa Ko yang terluka tidak ringan itu sudah merangkak bangun, duduk sambil menuding Giokliong mulutnya berkata gagap terputus-putus.
"Nah, . itulah ... dia ! Dia .., . inilah !"
Sepasang mata Le-hwe-heng-cia yang merah membara berkedip kedip, terlebih dulu ia berkakakan baru katanya.