Tan soat-kiau dan Li Hong menjadi geli sambil menutup mulutnya.
Melihat Giok,-liong bicara sambil angkat tangan menjura dan bertingkah laku sangat lucu, Ling soal yan menjadi geli sendiri, tak tertahan lagi ia tertawa cekikikan, sambil melengos dengan lirikan penuh arti ia tarik Tan soat-kiau serta katanya.
"Mari kita pergi, jangan hiraukan dia lagi "
Tan soat-kiau menggape Li Hong, katanya.
"Nona Li, mari berangkat "
Bayangan putih, kuning dan merah laksana tiga jalur cahaya terbang melesat cepat sekali menembus semak belukar, masing-masing kembangkan ginkangnya berlari kencang saiing kejar menuju kearah barat.
sekarang alam pegunungan yang kosong dan sepi terbenam dalam kegelapan malam, tinggal Giok, liong seorang diri merasa hampa dan kesepian seperti kehilangan sesuatu, ia menjublek dibawah penerangan sang putri malam yang memancarkan sinar redup.
Entah mengapa ia merasa benaknya ada berapa banyak kata kata yang ingin dilimpahkan kepada seseorang, tapi, tak tahu dia omongan apa yang harus ia tuturkan, malahan sendiri menjadi bingung kepada siapa ia harus ber-tutur.
Akhirnya ia menghela napar panjang, tiba-tiba dengan gaya Goan Hong-jip bun badannya melejit tinggi lima tombak, diempos-nya rasa ganjelan hatinya sambil menekan pusar terus menggembor keras dan panjang, suaranya mengalun tinggi seperti kaluban, sementara tubuhnya terus meluncur dengan kecepatan penuh menuju keutara.
Giok-liong belum jelas duduk perkara sebenarnya, apa tujuannya menuju ke Pak-hay, malah rasanya lebih penting dari bencana dunia persilatan yang sudah dlamblang pintu, lebih mendesak lagi katanya.
Tapi pesan Kim Ing-cu mau sak mau harus dipatuhi.
Perihal nama dan asal usul Hwe-thian-khek Ma Hun dari laut utara Giok liong pernah dengar dari ibunya- Katanya beliau sudah memasuki lembah putus nyawa, bagi semua orang yang memasuki lembah putus nyawa bisa masuk takkan dapat kembali, hanya dirinyalah yang paling beruntung penemu rejeki besar satu-satunya didalam lembah putus nyawa itu.
Menurut penuturan gurunya bahwa ternyata Hwi thian-khek Ma Hun tidak pernah memasuki lembah putus nyawa, malah seorang yang she Ma pun tiada disana- Begitulah sembari kencangkan larinya otaknya berputar mengenang pengalaman dahulu, sekarang pikirannya mulai menyelusuri juga pengalaman akhir akhir ini- Bahwa Jian - lian - lui siau hwi-soatling adalah medali khas milik Pak-hay yang tiada ternilai dan tinggi perbawanya, tentu tak mudah dan segampang begitu saja di percayakan kepada orang lain.
Bukti nyata atas diri Ma Giok-hou yang bersifat bangor dan nakal itu begitu melihat medali pusaka ini lantas bertekuk lutut tak berani berkutik lagi.
Maka dapatlah dibayangkan betapa besar perbawa dan keangkeran medali ini, kalau Ma Hun begitu sungguh sungguh mengundang dirinya tentu urusan yang bakal dihadapinya ini bukan sembarang urusan Apalagi pesan wanti-wanti Kim-ling-cu begitu serius tadigelombang pemikiran bergejolak dalam hati kecil Giok, liong, sang waktujuga terus berlalu ditengah pemikirannya yang tidak keruan itu.
sang putri malam tak terasa sudah hampir terbenam di ufuk barat, saat itu kira-kira sudah tiba pada kentongan keempat, dengan berlari kencang sekian lama ini boleh dikata Giok,-liong sudah kerahkan seluruh kemampuannya untuk mengembangkan Leng hun-toh- Tak lama kemudian Giok-liong menghadapi sebuah gagasan gunung yang gundul tanpa tumbuh rumput atau pohon, selayang pandang pasir yang kuning dan batu batu cadas melulu keadaan ini seperti berada di padang pasir, Giok liong menjadi heran.
Tanpa merasa ia menjadi terkesima akan keadaan sekeliling ini lalu menghentikan langkahnya.
Terasakan keanehan di alam sekelilingnya yang dilalui ini, sepanjang jalan jauh ini yang dilewati selalu gunung gemunung yang penuh semak belukar dan pohon-pohon lebat, sekarang berada di tempat terbuka terbentang lebar tak kelihatan ujung pangkal, perasaan hati menjadi agak longgar dan nyaman, apalagi setelah malaman ini terlalu banyak mengeluarkan tenaga menempuh perjalanan jauh perlujuga sekedar istirahat.
siapa tahun baru saja ia hinggap turun dilereng sebuah tanjakkan, sekonyong konyong setitik bintang laksana anak panah cepatnya mengeluarkan suara melengking tajam menerjang datang kearah dirinya.
Karena tak menduga Giok,-liong berseru tertahan, untung Iwekang Giok, liong sekarang sudah mencapai tergerak hatinya secara reflek tanganpun ikut bekerja, begitu ada maksud dalam hati tenaga dalam lantas bekerja sendirinya.
Dengan cara membokong dan serangan menggelap macam begitu mengeluarkan suara lagi, bagi Giok-liong bukan menjadi rlntangan atau tak perlu dikuatirkan.
Terlihat sebelah tangannya terulur maju terus mencengkeram ke depan, telak sekali tangannya menggenggam kencang, terasa empuk dan berbau wangi, kiranya itulah sekuntum kembang serasi warna kuning.
Belum lagi ia melihat tegas benda di-tangannya terdengar sebuah bentakan nyarlng, merdu darl samping sana.
"Keparat Kam pit jan hun yang kejam dan telengas, lihat serangan "
Tahu-tahu ui-hoa Kaunu Kim Eng telah berada di depannya dimana sebelah tangannya menyapu miring dengan babatan menggunakan tipu Bing-tek sian-to (Bing-tek mempersembahkan golok) langsung menusuk ke arah teng gorokan Giok- liong.
serangan ini dilancarkan begitu cepat dan mendadak lagi, cara menyerangnya juga begitu kejam dan ganas seakan-akan sekali pukul hendak meremuk leburkan seluruh badan Giokliong.
Giok liong tidak tahu juntrungan orang, sebat sekali kakinya menutul tanah begitu pundaknya sedikit bergoyang, enteng sekali ia melayang kesamping setombak lebih, secara gampang saja ia menyelamatkan diri darl serangan berbahaya itu.
"Kin- kaucu Kenapa kau"
"Lihat serangan ini lagi "
"Aduh Celaka Kau..."
"Sambutlah saranganku ini."
Tanpa peduli tujuh kali tiga dua puluh satu sekaligus ui-hoa Kaucu melancarkan dua belas pukulan dan hantaman, setiap jurus serangannya dilandasi seluruh tenaga dalamnya, apalagi cara menyerangnya juga nekad dan kalap, seperti arus sangat besar yang bergulung gulung tak mengenal putus dengan ombaknya yang berderai.
Keruan lereng gunung yang penuh bertaburan pasir kuning itu menjadi gelap oleh debu pasir yang berhamburan tersapu oleh angin pukulan yang dahsyat, batu-batu besar kecil juga ikut beterbangan terdampar oleh kekuatan pukulan Kim Eng.
Walaupun dengan mudah Giok,-Liong selalu mengelakkan diri dari rangsakan hebat ini, tapi tak urung badannya menjadi kotor dan berlepotan debupasir keterjang batu dan krikil lagi sehingga lambat laun bajunya sedikit berlobang dan koyak.
Dari dongkol akhirnya timbul amarah Giok,-Liong, dalam suatu kesempatan dimana dilihatnya lawan menyerang lagi sebera sebelah tangannya terulur maju sambil membentang telapak tangan, sedang sebelah tangan yang lain ditarik kesamping untuk memunahkan dorongan kekuatan tenaga lawan, sementara telapak tangan Yang terpentabg itu memapak maju menyambut.
"Blang "
Terdengar erangan tertahan, kontan terlihat bayangan orang terpental mundur sejauh setombak lebih.
"Kim Kaucu, kenapa begitu sengit dan galak betul sikapmu terhadapku, menyerang secara semena-mena lagi.."
"Hm Hm Galak dan kejam ? Tak nyana berani kau berkata demikian,"
Belum habis kata-kata Kim Eng, lagi-lagi ia menggerakkan tangan serta melangkah maju hendak menyerang lagi- "Tunggu sebentar "
Hardik Giok-liong sambil mengerutkan alis, setelah mencegah serbuan ui-hoa Kaucu Kim Eng, ia membentak pula.
"Bicaralah dulu supaya jelas."
"Apakah perlu kujelaskan lagi?"
"Tentang urusan apa itu ?"
"Kau kira aku tidak tahu ?"
"Kau tahu apa ?"
"Membunuh orang membakar rumah"
"Siapa yang melakukan ?" "siapa lagi kalau bukan kau"
"Aku ?"
"Selain kau siapa lagi ?"
"siapa yang kubunuh ? Rumah siapa pula yang kubakar ?"
"Perkampungan awan terbang"
"Apa katamu ?"
"Kataku kau telah membakar habis menjadi tumpukan puing seluruh Hwi hun san-cheng, membunuh pula Thi koan im ibunda Coh Jian-kun"
"Kim Kaucu, jangan kau sembarang omong, lebih-lebih kau menuduh aku semena-mena."
"Hahaha..."
Kim Eng Kaucu ui-hoa-kiau terloroh-foroh panjang sambil menengadah, setelah selesai gelak tawanya, air mukanya berubah bengis, serunya beringas.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau tak perlu main pungkir-"
Keruan Giok-liong mangkel dan dongkol serunya dengan rada berat.
"Kau sendiri melihat aku Ma Giok- liong membunuh dan membakar rumah ?"
Tak duga Kim Eng mandah tertawa ejek lagi, katanya penuh keyakinan.
"
Kalau waktu kejadian itu aku berada disana seumpama harus mengorbankan jiwaku tentu aku tidak tinggal diam melihat pemuda gila macam kau melaksanakan niat jahatmu."
"Cis, bukankah kau tadi mengatakan melihat dengan mata kepala sendiri?" "Aku melihat sendiri Hwi hun tan cheng sudah menjadi tumpukan puing, kutemui juga Thi koan im yang sudah lanjut usianya itu terluka parah dengan tujuan lobang luka berat ditahannya, keadaannya sangat menfenaskan."
"Apa betul? Betul ada kejadian itu?"
"Kau tak perlu main pura-pura."
"Kaucu, kau tak boleh asal buka mulut berkata seenakmu sendiri-"
"Berkata seenaknya? Kenapa aku tidak katakan kalau itu perbuatan orang lain?"
"Lalu mengandal apa kau mengatakan aku Ma Giok liong yang berbuat?"
"Mengandal batu Giok berbentuk jantung hati yang tergantung diatas lehermu itu"
"Batu giok berbentuk jantung hati."
Ini menimbulkan banyak pikiran dalam benak Giok- liong.
seperti diketahui bahwa sebentuk batu giok itu kini sudah diminta pulang kembali oleh Coh Ki-sia, dan kejadian itu lantas terbayang di otaknya.
Coh Ki sia adalah gadis rupawan pertama yang pernah terjalin suatu kisah terjadinya antara suami istri umumnya- Giok.
Liong menjublek tak bergerak, ia tenggelam dalam renungan pengalaman lama yang penuh kasih mesra dan mikmar, namun kenangan lama itu kini menambah berat tekanan hati yang penuh penjeriihan.
"Hahahaha Kau tak mampu berkelit lagi bukan"
Melihat sikap ciiong yang terlongong penuh rasa sedih dan kuyu itu lebih mempertebal sikap prasangka Ui hoa Kaucu Kim Eng akan tuduhannya, oleh karena itu lagi-lagi ia terlorohloroh panjang dengan sedih dan rawan.
sungguh pilu perasaan Giok, liong, harinya seperti ditusuk oleh ribuan ujung jarum, suaranya tawar berkata sambil goyang kepala.
"Kaucu Kau salah sangka"
"Aku salah Dimana letak kesalahanku Meskipan aku ada sedikit perselisihan dengan Thi koan-im."
"Kau dan Thi koan im?"
"Ai- baiklah kuterangkan Dia membenci aku, tapi aku tidak membencinya-"
"Dia membencimu? Kenapa?"
"Tidak mengapa Tapi"
Bicara sampai disini tiba tiba Ki Eng menghentikan kata kata selanjutnya, alisnya berkerut dalam, sambungnya.
"Sudahlah Kembalikan saja bentuk batu giok milikku itu"
"Milikmu ?"
"ya- milikku, kau sangka aku bohong?"
"Kata-katamu ini semakin membingungkan aku"
"sudah tentu kau takkan paham"
Mendadak sikap ui houkiaucu Kim Eng berubah- Tadi bersikap garang menyerang kalap untut gugur bersama kini sudah tersapu bersih, sekarang kelihatan wajahnya membeku dingin penuh rasa duka nestapa pancaran matanya juga menjadi redup.
Keruan Giok- liong menjadi terheran-heran, serunya.
"
Kaucu "
Mata Kim Eng mengembeng air mata, sedapat mungkin ia menahan mengalirnya air mata namun akhirnya tak tertahan lagi ia menangis sesenggukan, keadaannya ini sungguh pilu dan menyedihkan, ujarnya sambil goyang tangan.
"urusan ini kau tidak akan mengerti "
Giok-liong menjadi ketarik, tanyanya mendesak.
"Bolehkah kau ceritakan kepadaku ?"
Dengan ujung bajunya Kim Eng menyeka air matanya sambil menggigit bibir, matanya mendelong memandang jauh ke angkasa. Lama dan lama kemudian baru mulutnya menggumam.
"Ai, pengalaman dulu laksana asap mengepul..."
Baru saja Giok liong hendak membuka mulut, Kim Eng sudah menunjuk sebuah batu besar diatas tanjakan lereng bukit tandus berpasir kuning sana, katanya.
"Di tanjakan atas sana ada batu, mari kita duduk di-sana dengarlah kisah hidupku masa lalu "
"Baik, marilah "
Serentak mereka berdua menjejakkan kaki terus melambung tinggi menuju ketanjakan bukit sana.
Di atas bukit memang ada beberapa batu besar yang rata dan licin, Giok liong dan Kim Eng lantas duduk berhadapan.
sebelum membuka suara Kim Eng menghela napas dulu, ujarnya.
"Ai, kau harus tahu apakah larangan pertama dan undangundang ui-hoi-tiau ?"
Sebetulnya Giok-liong memang tidak tahu namun bagai mana baiknya ia harus menjawab hal ini membuatnya serba susah, mulutnya tergagap.
"Undang-undang pertama...".
"Undang-undang pertama itu berbunyi, semua murid agama kita dilarang berkenalan dan bergaul dengan kaum Adam, terlebih lagi tidak boleh membicarakan soal perkawinan selama hidup ini harus hidup sebatang kara seorang diri selamanya tidak boleh menikah "
"lni... kenapa"
Kim Eng lantas melanjutkan.
"
Undang-undang agama kita semula tidak begitu keras, undang-undang ini dibuat setelah aku menjabat sebagai ketuanya "
"oo, kenapa begitu ?"
"Justru karena Cek Jian-kun dari Hwi-hunsan-cheng itulah-"