Engkau Persoalan apa dan dimana letaknya?"
"Kutanggung takkan salah "
Teriak Giok hou lagi. Giok-liong melenggong, matanya menjublek memandangi orang, tanyanya- "Tentang urusan apa, coba kau tuturkan pelan-pelan, jangan terlalu emosi."
Memang wajah Ma Giok hou berseri-seri kegirangan sangat puas sekali, sekali tarik Giok liong kehadapan Kim ling cu lebih dekat katanya lantang.
"Mari keluarkan jian lian lui siau hwi soat ling, nanti kuterangkan sejelasnya supaya kau tidak kawatir lagi"
Giok liong tidak tahu kemana juntrungan maksudnya ini, dengan melongo dia awasi wajah Kim ling cu. Kim ling cu sendiri juga diliputi tanda tanya, katanya dengan nada tertekan.
"Apa kau hendak menarik balik jian lian lui siau hwi soat ling milik ayahmu itu?"
Segera Ma Giok hou berdiri tegak lurus penuh rasa hormat katanya sungguh-sungguh.
"Mana keponakan mempunyai nyali sedemikian besar"
"Kenapa kau minta dia mengeluarkan lagi?" "Akan kubuktikan sesuatu keajaiban alam yang paling aneh sekali"
"oh"
Giok liong berseru paham pula mengeluarkan medali pusaka itu. Tanpa melirik atau melihat kearah medali ditangan Giokliong itu Ma Giok-hou berkata penuh kepercayaan.
"
Kalau terkaanku tidak meleset, ditengah-tengah medali pusaka ini tentu ada setitik warna putih sebesar beras-"
Semula Giok liong tidak pernah memperhatikan akan hal ini, setelah kejadian dirinya terserang penyakit aneh itujuga tidak memeriksanya lagi, kini setelah mendengar kata-kata Giok hou baru ia berkesempatan memperhatikan.
Benar juga medali pusaka hitam mengkilap ditangannya ini memang ada setitik putih sebesar beras, tepat ditengahtengah- "Tentu ini ada penjelasan lebih lanjut bukan?"
Kim Ling cu bertindak maju ikut memeriksa, lalu katanya.
"Bagaimana pula dengan titik putih kecil ini?"
Dengan kalem Ma Giok-hou menerangkan.
"Setitik putih kecil itu merupakan wakil dari pada nyawa kamu Kim pit jan hun."
Semua orang lebih heran dan tak mengerti. Kim liong cu menjadi tidak sabar lagi, katanya mendesak.
"Katakan saja secara langsung dan cekak aos, kenapa mesti pakai putar-putar apa segala"
Ma Giok-hou tersenyum serta mengiakan lalu serunya .
"
Titik itu, adalah hasil sedotan dari jian Cian lui- siau- hwi soat ling yang telah mengisap api beracun dari Le hwe bu ceng itu-"
Baru sekarang semula orang sadar dari duduk persoalan mereka, melihat betapa bangga dan girang hati Ma Giok-hou, katanya lagi lebih takabur.
"Medali ini adalah batu meteor yang terjatuh dari langit, terpendam didasar tumpukan salju selama ribuan tahun, bukan saja mengandung inti sari tekanan suhu dingin malah beribu lipat lebih dingin kalau dibanding dengan ciat ham im, ini betul-betul merupakan obat manjur dari Le hwe- bu ceng im, kalau kau simpan menempel dalam badanmu segala racun yang bersipat panas bagaimana juga takkan mungkin kuat merangsang badan ini merupakan sesuaru hal yang gampang di mengerti, kenapa harus dibuat heran?"
"Hah, benar begitu"
Tiba-tiba Giok liong berjingkrak, teriaknya.
"Tak heran sewaktu aku menginap dihotel dibawah kaki Bulay- san tempo hari, malam-malam aku terserang racun panas yang tak tertahan lagi, semula aku terserang penyakit malaria?"
Ang i mo-li Li Hong yang sejak tadi tidak bicara tak tertahan lagi menyeletuk "Ya, keadaanmu waktu itu betul betul sangat mengertikan."
Giok liong lantas menyambung lagi.
"Ternyata sebelum naik tidur aku keluarkan medali ini dan kusimpan dibawah bantal, maka tak heran bisa dari Le hwebun- geng itu segera kumat"
Sesaat Kim ling cu mengamati Giok liong, lalu katanya "sekarang racun yang mengeram dalam tubuhmu sudah lenyap sama sekali kukira jiwamu tak perlu dikwatirkan lagi"
Ma Giok hou juga manggut-manggut, katanya. "Titik putih diatas medali itu sudah terhimpun ketat sebesar beras, ini pertanda bahwa seluruh racun panas dalam tubuhmu sudah tersedot seluruhnya, kukira tak menjadi soal lagi akan kesehatanmu"
Giok liong menjadi rikuh, katanya.
"Terpaksa harus membuat medali, kalian dapat karena setitik putih ini- Ma Giok Wou bergelak tertawa, ujarnya .
"untuk itu kau tak perlu kwatir, tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari kemudian medali ini akan kembali seperti keadaan semula, tanpa kelihatan sedikit bekas-bekas cidera."
Ling soat Yan dan soat kian dan Li-Hong bertiga terlongong seperti kanak-kanak yang mendengarkan cerita khayal. Kim ling-cu menengadah melihat cuaca, katanya.
"Sudah hampir jam dua, aku masih punya urusan penting ditempat lain, Giok- liong harus segera berangkat kePakhay dan jangan tertunda-tunda lagi "
Belum lagi Giok-liong sempat menjawab Ang-i-mo-li Li Hong segera menyelak bicara dengan gelisah.
"Cianpwe, aku..."
Kim-ling-cu lantas mengerut kening, ujarnya.
"Ai, ya, serba berabe juga "
"Nona Li, kenapakah kau ?"
Tanya Giok-liong. Kata Kim-ling cu.
"Dia mendapet tugas dari ayahnya serta diancam oleh Ibun Hoat untuk menguntit jejakmu, sekarang seruling samber nyawa tidak berada ditangannya, bagaimanakah kau suruh dia kembali ke yu-bing-mo-khek melaporkan tugasnya ?"
Sementara itu, Ang-i-mo li mengucek-ngucek ujung bajunya, sambil menunduk dengan malu dan gelisah. Ternyata Tan soat-kiau berwatak polos dan jujur, segera ia ikut bicara.
"
Kalau tiada halangan. Nona Li boleh ikut aku kembali ke Kau jiang sai, di sana menetap sementara, bagaimana selanjutnya kelak bicarakan lagi "
Kim-ling cu manggut-manggut, ujarnya.
"Begitupun baik, ya begitu saja Aku harus segera berangkat "
Belum bilang suaranya bayangan putih berkelebat cepat sekali laksana hembusan angin lalu, sekejap saja bayangannya sudah melayang jauh puluhan tombak- dilain kejap sudah hilang dikeremangan malam.
Tanpa bersuara lagi Ma Giok-hou segera menjejakkan kaki tubuhnya melenting tinggi sambil membentangkan kedua lengannya, laksana seekor burung bangau ia meluncur kearah yarg berlawanan, dikejap lain iapun sudah menghilang dari pandangan mata,- "Bocah keparat "
Teriak Ling soat-Yan begitu melihat orang hendak tinggal pergi begitu saja, sebera ia memburu sambil berseru lagi.
"Kematian chiu Ki harus dibereskan"
Kuatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan segera Giokliong kembangan Ling-hun-toh terus mengejar kedepan, kedua lengannya dipentang menghadang di depan Ling soatyan, katanya.
"Nona Ling, sudahlah urusan ini tidak perlu ditarik panjang"
Tan soat-kiau juga memburu maju, bujuknya.
"Adik soat-yan, sudahlah tak perlu cari perkara lagi"
Amarah Ling soat-Yan masih belum terlampias, katanya uring-uringan.
"sudah terlampias rasa dendamku"
"
Kalau begitu marilah adik juga ikut ke Kau-jiang-san untuk satu bulan lamanya, setelah lewat musim dingin dan dekat tahun baru kita bersama-sama pergi ke Gak- yang untuk menghadiri pertemuan disana itu"
"Tepat sekali"
Seru Giok- liong bertepuk tangan.
"
Kalian bertiga bersama tentu takkan kesepian"
Sekarang sikap Li Hong sudah tidak serikuh tadi, iapun ikut maju membujuk.
"Nona Ling, sementara ini mengalah saja, masa kelak takkan berjumpa lagi dengan kurcaci itu ? Kalau bersua kembali bertiga kita keroyok dia supaya kapok"
Karena bujukan-bujukan ini terpaksa Ling soat-Yan membanting kaki, katanya mengertak gigi.
"Dendam ini betapa juga aku harus membalasnya "
Hakikatnya saat itu Ma Giok hou sudah pergijauh tak kelihatan lagi bayangannya.,. Giok,-liong berkata dengan tertawa.
"Kita bicarakan lagi bila bertemu pula "
"carikan lagi apa segala."
Sungut Ling seat-Yan sambil membanting kaki.
"aku akan mengadu jiwa dengan dia "
Cepat-cepat Giok,-Liong bicara lebih hati-hati.
"Baik, ya, ya, mengadu jiwa Siapa bilang tidak mengadu jiwa "