Kata Kim ling cu lagi.
"Li Hong, menerima perintah dari ayahnya dan pesan wanti-wanti dari Ibun Hoat untuk membuntuti jejakmu, sekarang cara bagaimana dia harus kembali ke yu bing-mo khek- melaporkan tugasnya itu. seorang anak perempuan lemah, tak punya rumah berkelana di Kangouw, apakah itu baik?"
Giok liong semakin keripuhan, lidahnya menjilat-jilat bibir, katanya dengan rikuh.
"Kalau begitu serahkan sajajan-hun-ti kepadanya, supaya ia bisa kembali menunaikan tugasnya."
"Bocah gendeng tak berguna, bagaimana mungkin pusaka perguruan kau jadikan taruhan berjudi dengan orang, kini ada di-berikan kepada orang lagi" "Hati Wanpwe sekaran sudah beku tanpa tanpa lagi"
"Kenapa?"
"sebab... sebab..."
"Katakan saja"
"sebab termasuk hari ini, jiwa wanpwe tinggal hidup tujuh hari saja"
Tersentak kaget seluruh hadirin, terutama Ling-soat Yan dan soat-kiau tergetar tubuhnya, dengan muka pucat dan berdiri menjublek mereka mendelong mengawasi Giok liong. sebaliknya Kim ling-cu mandah tersenyum manis katanya.
"
Kau percaya benar akan ucapan Ibun Hoat"
"Keadaan yang membuat aku harus percaya "
"Coba kau kemari"
Giok liong manggut, ia maju ke hadapan Kim ling cu kirakira lima kaki jauhnya kepadanya, sedangkan pandangan lurus ke depan berdiri tegak- Kim-ling-cu mengulur tangan, kelima jarinya meraba urat nadi pergelangan tangannya, sekali lama ia memeriksa denyut nadi, lalu membalik kelopak mata Giok-liong, lalu memeriksa pula tengah-tengah alisnya dengan seksama.
Sebentar kemudian baru ia berkata.
"Aaah, memang kau benar-benar terserang Le-hwe-bu-ceng, Iwekang beracun dari luar perbatasan itu"
Agaknya Kim-ling-cu sudah mengetahui seluruh seluk beluk Giok-liong dari penuturan Li Hong.
"Le hwe-bu-ceng-tok kang"
Tak tertahan Ling Soat-Yan dan Soat-kiau berseru terbelalak. Kim-ling cu memejamkan mata berpikir rada curiga dan tanda tanya merangsang benaknya lama dan lama sekali ia tidak berkata-kata. Akhirnya ia membuka mata dan berkata tak mengerti.
"Kalau sudah terserang racun Le hwe-bu ceng, betapapun tinggi latihan Iwekang mu, dalam j angka dua belas jam tentu racun dalam tubuh akan kumat dan terbakar habis menjadi abu sebaliknya kau.."
Semakin besar kepercayaan diri Giok-liong bahwa dirinya terserang racun jahat, jiwanya bakal melayang dalam waktu dekat.
Karena tahu dirinya bakal mampus batinnya menjadi lapang dan tenang, hidup atau mati menjadi tawar dalam pandangannya, itulah yang dinamakan tak perduli mati atau hidup pasrah pada nasib saja.
Perasaannya lebih enteng dari yang lain, maka dengan tawar saja ia berkata.
"Menurut kata Ibun Hoat, aku punya suatu Lwe-kang khusus yang kuat bertahan maka aku bisa menyambung nyawa tujuh hari lagi. selewat tujuh hari seluruh tubuh terbakar hangus tak membekas lagi "
Tatkala itu Ling soat yang dan Tan soat-klau sudah tergerung-gerung, demikian juga Li Hong tak kuasa membendung air mata lagi. Tanpa merasa Giok-liong membatin.
"Benar, aku punya Iwekang khusus apa yang dapat menahan bekerjanya kadar racun Le-hwe-bu ceng tokskang itu?"
Ma Giok-hou yang sejak tadi diam saja tanpa bersuara sekarang ikut buka suara dengan jengekan dingin.
"Terkena Le-hwe b u-ceng tokskang, tak bisa tidak harus minta bantuan pikak kita dari aliran Pak-hay"
Giok-liong tidak ambil perhatian kata-kata orang, hanya sambil manggut-manggut ia berkata tawar.
"Benar memang memerlukan ciat-ham im yang tumbuh di daerah kalian sana "
Kim-leng cu mengerutkan kening, katanya.
"Seumpama punya Ciat-ham im dari Pak-hay, kalau tiada Hwi-sing chio dari Limg-lam juga sia-sia belaka."
Berubah perasaan Ma Giok-hou, mulutnya sudah terbuka urung berkata, senyum sinis berganti menghias wajahnya. seperti teringat sesuatu mendadak Kim-liong-cu bertanya.
"Giok-liong, Iwekang ji-lo pelajaran gurumu, kau sudah melatihnya sampai babak ke berapa ?"
Giok-hong menunduk malu, sahutnya.
"Baru babak ke tiga."
Kim-ling cu menjadi lemas seperti putus asa katanya sedih.
Ji-lo merupakan ajaran murni perpaduan dari hawa langit dan bumi.
Kalau dapat melatih sampai babak kesembilan dapat mengusir atau menolak sembarang racun.
Kau hanya berlatih sampai babak ketiga, tak mungkln mencapai tingkat sempurna begitu "
Suasana menjadi hening lelap, Kim-ling-cu tengah terpekur seperti tengah memikirkan suatu problem teka teki yang sangat rumit sekali, perbendaharaan pengalaman dan pengetahuannya yang luas serta mendalam toh belum dapat memecahkan rahasia persoalan ini.
Tapi akhirnya ia mengambil suatu kebijaksanaan.
"Giok- liong Kaupun tidak perlu banyak pikir dan khawatir, memang tidak salah kau terserang kadar racun Lc-hwe-bo ceng tok kang. Namun menurut pemeriksaanku tadi, urat nadimu bersih dari segala gangguan, seluruh isi perutmu berjalan normal tanpa terasa adanya racun bekerja dalam tubuhmu, malah karena dengan Le-hwe yang semula mengeram dalam tubuhmu itu, pusarmu menjadi gemblengan dan telah tertempa lebih kuat dan kokoh, bukan saja tidak membahayakan keselamatan malah banyak menambah kekuatan dan kemajuan Iwekang mu "
Giok liong tertawa getir, sahutnya.
"Terima kasih akan kebaikan cian-pwe"
Ternyata ia mengira Kim-ling cu hanya sekedar memberi kata kata hiburan saja supaya tidak kehilangan muka, maka iapun mengunjuk muka berseri tanpa menyinggung lagi persoalan ini.
Hakikatnya dalam hati masih terganjel pikiran tujuh hari kemudian tibalah ia meninggalkan dunia -fana ini.
Kim-ling-cu berseri tawa, katanya.
"janganlah terbawa oleh perasaanmu saja,"
Lalu ia berpaling kearah Li Hong serta katanya.
"Serahkan kembali seruling samber nyawa "
Li Hong mengiakan terus melangkah maju dengan muka merah malu langsung ia anggukkan seruling samber nyawa kepada Giok-liong, matanya tidak berani beradu pandang. Tatkala itu Kim-ling-cu. memutar badan menghadapi Ma Giokhou katanya.
"Giok-hou selanjutnya tak peduli dimana saja, ku-larang kau berkelahi lagi dengan Giok-liong. Kalau tidak tanpa memberi tahu dulu kepada ayahmu, perlu aku menghajarmu sampai kedua kakimu putus, tahu "
Nada perkataannya biasa saja namun penuh wibawa dan kekerasan, sepatah demi sekata kedengaran sangat kuat bertenaga.
Agaknya Ma Giok-hou merasa segan takut-takut terhadap tertua dari Bu-lim-su-bi ini, berulang-ulang ia manggutss, mulutnya pula mengiakan.
Tiba-tiba Kim ling-cu menghela napas panjang, matanya mendongak memandang ke-langit biru kelam, suaranya kedengaran berada sedih dan iba.
"Giok-hou Giok-liong Kamu berdua seharusnya.... ai, betapapun kalian seharusnya lebih dekat, ketahuilah, memukul harimau."
Kedua kelopak matanya kelihatan basah, ucapan selanjutnya menjadi tersendat ditenggorokan tak kuasa diucapkan lagi. sebaliknya Giok-lionglah yang meneruskan kata-katanya.
"
Ucapan cianpwe benar, memukul harimau masih saudara sekandung, berangkat kemedan perang masih ayah ber-anak. Kau bernama Giok hou aku bernama Giok- liong, sama-sama she Ma lagi, seumpama saudara sekandung sendiri"
Namun agaknya Ma Giok-hou tidak tergerak atau ada minat dengan rangkaian kata-kata ini, seperti mendengarkan kisah panjang seenaknya mulutnya mengiakan saja. Giok liong lantas maju berapa langkah dan terus menjura, katanya.
"sikapku yang kasar tadi harap suka diberi maaf "
Ma Giok-hou tertawa dibuat-buat, iapun membalas hormat sekadarnya.
Giok-liong lantas memasukkan seruling kedalam kantongnya Mendadak tangannya meraba sebuah benda dingin, waktu dirogohnya keluar, kelihatan itulah sebuah benda warna hitam yang mengkilap, seperti besi tapi bukan besi juga tidak menyerupai batu, begitu ia angkat tinggi terus diayun diatas kepalanya, bawa sekelilingnya terasa menjadi dingin membeku.
Keruan seluruh hadirin terbelalak kaget- Terutama Ma Giok Hou begitu melihat benda ini berubah hebat air mukanya, tanpa berayal terus berlutut dan menyembah berulang-ulang.
Mulutnya berseru.
"Tecu Ma Giok-hou menyembah pada Ling-kud (medali)."
Giok-liong tercengang, katanya gugup.
"saudara Giok-hou, kau...."
Sikap Kim-ling cu sendiri juga menjadi serius dan hidmat, katanya sungguh-sungguh.
"Dari mana kauperoleh jau lian lui-siau-hwi-soat-ling ? Medali tertinggi dari Pak-hay bun?"
Cepat-cepat Giok-liong menjelaskan.
"Pek Congcu mengutus Ping-goan su lo menggunakan medali ini mengundang wanpwe menuju ke Pak-hay untuk suatu keperluan."
Bersinar mata Kim-lim cu wajahnya mengunjuk rasa girang katanya tersipu-sipu.
"oh ada kejadian begitu, kenapa kau tidak lekas pergi "
"
Waktu itu Wanpwe ada janji di Im-hong Pay, maka tak mungkin memenuhi undangan ini"
"Sekarang urusan disini sudah selesai, lekas pergi Lekas pergi"
"Perjanjian pertemuan di Gak yang lau pada hari Goan siau tahun depan sudah dekat diambang mata, menurut pikiran Wanpwe setelah akan pergi kesana"
"Apa-apaan kau ini Kau bisa segera sampai di Pak hay adalah lebih penting dari urusan pertemuan pada hari Goan siau yang akan datang. Lekas berangkat "
"Apa benar begitu penting?" "Siang dan malam kau harus melakukan perjalanan kilat, secepat mungkin kau harus tiba di Ping-goan di laut utara, jangan sekali-kali kau main ragu atau bimbang aku khawatir selagi tua itu bakal berubah pikirannya dan mencabut kembali undang-undangannya"
"Maksud Cianpwe-.."
"setelah tiba di Ping-goan kau akan tahu, sekarang aku belum bisa menebak maksud hatinya, tak perlu banyak omong "
Disebelah sini mereka bertanya jawab seenaknya, disebelah sana Ma Giok bou masih tetap berlutut mendekam di tanah tak berani bergerak apalagi angkat kepala. Akhirnya Giok liong menjadi tidak tega, katanya.
"Giok-hou saudara silakan kau bangun untuk bicara "
Tanpa berani angkat kepala Ma Giok hou mengiakan perlahan.
"Tidak berani"
Kim ling cu merasa geli, ujarnya.
"Kuda liar ini tiba saatnya tahu rasa takut"
Lalu ia menunjuk medali ditangan Giok- liong lalu sambungnya.
"Kalau kau tidak simpan pertanda kebesaran milik ayahnya itu, mana dia berani berlaku kurang ajar?"
Baru sekarang Giok-liong paham cepat-cepat ia memasukkan medali Hwi soat-ling itu kedalam kantongnya, katanya tertawa.
"Silakan bangun"
Sebelum angkat kepala Ma Giok hou melirik dulu ke arah tangan Giok-liong, mendadak ia meloncat bangun serta teriaknya.
"Toa nio Disinilan letak persoalannya."
Semua orang menjadi heran dan tercengang, tak tahu kemana juntrungan ucapannya. Kim-ling-cu sendiri juga tidak paham maksud kata-katanya itu, tanyanya.
"