Seruling Samber Nyawa Chapter 114

NIC

sejenak kemudian terlihat sesosok bayangan kuning meluncur turun dari tengah udara.

Tahu-tahu Tan soat-kiau sudah berdiri teoak diantara mereka, sedikit membungkuk ia mengulur tangan mencabut pedang pendeknya yang bergoyang-goyang menancap ditanah, sepasang matanya berkilat mendelik kearah Ma Giok hou, semprotnya.

"Kenapa kau turunkan tangan kejam. Engkoh Liong sengaja memberi hati kepadamu, masa kau tidak tahu ?"

"Hahahahaha ". sebelum Ma Giok-hou bergelak tertawa geli- sekian lama ia mengamati Tan soat-kiau, baru suaranya mengalun.

"Aduh satu lagi Ma Giok liong Rejeki sungguh besar, ya Hahaha."

Tan soat kiau membolang baling pedang pendeknya, bentaknya.

"Mulut bawel, awas nonamu memotong lidah kurang ajar itu"

Saat mana Giok liong berdiri menjublek ditempatnya seperti orang linglung, luka dalam hatinya sungguh besar sehingga membuat semangatnya runtuh hakikatnya ia sudah kehilangan daya gerak kehidupan sebagaimana manusia umumnya, tenggelam semakin ambla Ini tak bisa menyalahkan dia sebab tujuh hari adalah waktu yang sangat pendek ? Lain adalah Ma Giok-hou dengan tertawa cengar cengir ia tunjuk Giok-liong berkata kepada Tan soat kiau.

"Dia adalah engkoh mu ?"

Merah muka Tan soat kiau, namun dengan berani ia menjawab.

"Benar, kau mau apa ?"

"Apa Kaujuga she Ma ?"

"cis Nonamu she Tan"

"Lho, kenapa kau panggil dia engkoh ?"

"Kau tak usah peduli hal ini "

"Kenapa kau tidak panggil 'engkoh' juga kepadaku"

"Bocah bangor Kucincang tubuhmu"

Lenyap suaranya tahutahu sinar pedangnya sudah berkuntum beterbangan laksana titik bintang terus menubruk kearah Ma Giok-hou sembilan jalan darah besar ditubuh orang ia incar dengan tepat, cepat sekali beruntun ia sudah lancarkan sembilan tusukan dan tikaman.

Kepandaian Ma Giok hou boleh dikata sudah mendapat gemblengan pribadi dari Hwt-thian-khek Ma Hun dari laut utara, dengan tingkat kepandaiannya sekarang mana begitu gampang kena disergap oleh serangan musuh.

Pura pura ia berseru kejut dan mundur ketakutan sembari berteriak menggoda.

"Aduh Celaka"

Bayanganputih melayang dan berlompatan kekanan kiri dengan ringan sekali, tanpa terasa dengan kegesitan tubuhnya itu indah sekali ia meluputkan diri dari ancaman ujung pedang lawan, malah tidak sampai disitu saja ia menggoda tiba-tiba ia melejit kekanan Tan soat-kiau begitu dekat jarak mereka boleh di kata berdiri berendeng bersentuhan pundak.

Tangkas sekali ia melulur telapak tangannya mencengkeram pelelangan tangan orang lalu digentakkan, serunya lemah lembut .

"Nona Tan jatuhkan pedangmu"

Tan soat-kiau sangat percaya akan hasil serangannya ini, tak nyana baru saja ia bekerja setengah jalan mendadak bayangan musuh menghilang, belum lagi ia mengetahui duduk perkaranya tahu tahu terasa pergelangan tangan kesakitan kena dicengkeram oleh lawan, begitu sakit sampai menembus tulang, walaupun berusaha hendak berontak namun tenaga sudah lemas.

"Trang"

Ditengah keluhannya pedangnya jatuh ke tanah, sekuatnya ia coba meronta, namun pergelangan tangannya seperti dibelenggu kacip sedikitpun tidak bergeming malah menambah sakit.

Dari kejauhan Hiat-ing Kong-cu tak kuasa memberi pertolongan, mulutnya hanya berteriak mengeluh saja.

sebetulnya semangat tempur Giok-liong sudah ludes dan loyo, namun begitu melihat Tan soat-kiau terbelenggu dalam bahaya kontan membara matanya, mega putih lantas bergerak menerpa kedepan dengan merangkap kedua jari tangan kanannya, ia menubruk maju mengitari jafan darah Gihiat dipunggung Ma Giok-hou, mulutnyapun membentak gusar.

"Lepaskan dia "

Menurut perhitungannya begitu ia lancarkan serangan mematikan ini, tentu Ma Giok hou lepaskan Tan soat-kiau untuk menyelamatkan diri dengan menyingkir jauh.

Tak nyana ternyata Ma Giok-hou malah terkekeh-kekeh, sedikitpun ia tidak bergeming dari tempat berdiri, teriaknya keras.

"Mari tutuk.

Asal kau tega lihat si cantik ini gugur bersama aku, silakan tutuk saja "

Walaupun Giok-liong berhasil mengancam jalan darah besar cio-hian di punggungnya, tapi Ma Giok-hou masih mencengkeram pergelangan tangan Tan soat-kiau, dimana merupakan jalan darah yang mematikanjuga.

oleh karena itu ia menjadi serba sulit dilepas sayang kalau itu diteruskan akibatnya juga tentu runyam, terpaksa ia membentak.

"Lekas lepaskan"

Tatkala itu Tan soat-kiau masih bandel berusaha meronta lepas sampai mukanya merah padam, napasnya sengal-sengal sementara Ling soat yan hanya membanting banting kaki saja sembari melotot tak mampu berbuat apa-apa.

Tanpa pedulikan seruan Giok-liong, Ma Giok-hou malah tertawa kering, ujarnya menantang.

"

Kalau kau punya kepandaian silahkan tutuk "

Lengan Giok-liong menjadi gemetar, giginya terkancing kencang saking gemas.

Di lihat dari perangai Ma Giok-hou yang bangor dan aseran itu, tentu ia dapat melaksanakan perkataannnya, terang dia takkan mau melemaskan Tan soatkiau yang menjadi sandera keselamatan dirinya.

Keruan Giok-liong menjadi bingung dan gugup, katanya.

"Kau mau lepaskan tidak ?"

Acuh tak acuh dengan sikap malas-malasan Ma Giok-hou menyahut.

"Tidak sulit aku lepas tangan, tapi aku kuatir kau takkan mau setuju "

"Menyetujui apa ?"

Tanya Giok liong.

"Letakkan seruling samber nyawamu ditanah dan kau sendiri harus mundur tiga tombak " "Hm, kau memeras ?"

"Bukan memeras, inilah syarat dan hitung dagang "

"Tentu, tukar menukar dengan adil Kalau tidak jangan harap aku melepas kekasihmu ini."

Mendengar percakapan ini Tan soat-kiau menjadi gelisah, teriaknya.

"Giok-liong, engkoh Liong sekali-kali jangan percaya obrolannya "

Di sebelah sana Ling soat-yau juga mendesis mengertak gigi.

"Bangsat rendah dan hina dina "

Giok-liong lemas lunglai, ujarnya menghela napas.

"Ternyata tujuanmu hanya pada seruling samber nyawa melulu "

Tan soat-kiau berteriak lagi.

"Bagaimana juga tidak boleh kau serahkan kepada kurcaci ini. Kalau seruling sakti mandra guna berada di tangannya, tentu penghidupan kaum persilatan tak aman sentosa selanjutnya "

Ma Giok-hou mengeraskan cengkeraman tangannya, katanya dongkol.

"Apa kau tidak ingin hidup lagi?"

"ou..."

Keringat sebesar kacang kedele berketes-ketes meleleh membasahi selebar mukanya, agaknya soat-kiau sangat menderita menahan kesakitan.

"Bangsat berani kau "

Bentak Ling soat yan, tapi apa gunanya membuang tenaga dan suara. "Hentikan siksaanmu "

Mendadak Giok-liong membentak keras, suaranya laksana guntur menggelegar selebar mukanya bersemu hijau mcmbesi, betapa pedih dan mendelu hatinya dapatlah dibayangkan, amarahnya sudah memuncak tak terkendali lagi.

Tapi pada lain kejap sikapnya menjadi lebih tenang, ujarnya pelan-pelan.

"Baiklah selalu kubawapun tiada gunanya lagi, lebih baik kuberikan kepadamu saja"

Soat-kiau dan Soat-Yan berseru tertahan sambil mendekap mulutnya. Ma Giok-hou menyeringai penuh kemenangan ujarnya.

"Asal kau tahu saja Lekas letakkan di tanah dan cepat mundur tiga tombak "

Sepasang mata Giok liong mengembeng air mata, matanya mendelong mengawasi ke depan, pelan-pelan ia merogoh keluar seruling sakti yang selalu diimpikan dan diincar kaum persilatan.

Cahaya cemerlang menyolok mata terpancar dari seruling sakti yang memutih halus itu.

Lekas Ling Soat-Yan memburu maju ke-samping Giok liong, kedua tangannya mengelus-ngelus seruling sakti itu, air mata membanjir keluar, tak tertahan ia menangis sesenggukan keluhnya .

"Apa betul-betul kau hendak menyerahkan seruling ini begitu saja"

Giok liong manggut-manggut tanpa bicara, pelan-pelan ia mendorong tangan Ling soat-yan, lalu dengan seksama dan penuh rasa berat ia mengamati seruling ditangannya. Lama dan lama selali, akhirnya Ma Giok hou menjadi tidak sabar lagi, serunya mendesak.

"Bagaimana ?Jadi tidak barter ini ?" "Jadi, jadi Tapi sebelum seruling ini menjadi milikmu aku ada beberapa patah kata ingin kuucapkan"

"Ada omongan apalagi, lekaslah katakan, main plintat plintut segala."

"Baik, kuharap kau dapat meresapinya "

"Katakanlah "

"Pertama, seruling sakti ini peninggalan orang kuno yang telah menjadi senjata ampuh mandraguna. Dia akan menjadi milik orang yang berjodoh dengan seruling ini. Hari ini aku kehilangan seruling ini mungkin perbuatan bajikku masih minim, maka kuharap saudara selalu ingat akan peringatan ku ini"

"Itu kan obrolan biasa selama orang memberi nasehat "

"

Kedua, seruling ini karena terlalu sakti sehingga cara menggunakannya sangat ganas dan telengas, tidak bisa dikatakan tidak akan bisa membunuh orang, maka harapanku kedua supaya kau menggunakan kesaktiannya ini untuk membunuh orang-orang jahat, lindungilah yang bijaksana dan lemah tak bersalah, jangan sekali kali kau gunakan untuk menyebar maut menimbulkan bencana."

"Aah, omong kosong belaka "

"Ketiga...

"

"Masih ada fagi. Waaah brengsek "

"Hehehe mau tidak kau mematuhi terserah kepadamu saja, bagaimana ?"

"Baiklah, sebutkan terus "

"Ketiga, seruling ini jangan sampai kena kotoran, sebagai benda suci dan sakti sekali kena kotor lenyaplah keampuhannya, bukan menjadi barang antik atau pusaka lagi." "Untuk hal inu boleh dipercaya dan bisa kumaklumi"

"Keempat..."

"Masih ada keempat?"

"Jangan sembarangan kau serahkan seruling ini kepada siapapun, pilihlah orang yang tepat dan orang itupun harus betul-betul dapat kuat melindunginya...."

"sudah sudah Legakanlah hatimu Berada ditanganku seruling ini akan lebih terlindung daripada menjadi milikmu- Direbut orang lain, sesutu tak mungkin terjadi"

"Kuharap begitu pula"

"Sudah belum, tiada sambungan lagi. Letakkan ditanah dan menyingkir tiga tombak"- "Baik kuturuti segala kemauanmu"

Selesai berkata, mendadak Giok-liong bertekuk lutut, seruling samber nyawa diangkat tinggi diatas kepalanya, menghadap ke timur ia menyembah berulang kali, mulutnya bersabda.

"Tecu tak berguna, seruling sakti ini tak mampu kulindungi lagi, harap para Cosu memberikan hukuman setimpal pada generasi yang tak berguna ini."

Selesai ia mengheningkan cipta air mata sudah membanjir keluar tak tertahan. Hati Tan soat-kiau seperti diiris-iris pisau, teriaknya sambil meronta .

"Aku rela mati, jangan kau...aduh"

"Jangan banyak mulut"

"Ternyata begitu Ma Giok-hou mengeraskan cengkeramannya, hampir saja Tan soat-kiau jatuh pingsan saking kesakitan Giok liong menjadi beringas, hardiknya.

"Kau masih belum lepaskan tanganmu."

Ma Giok-hou menyerinyai, jengeknya- "Aku akan lepas tangan setelah kau letakkan serulingmu itu dan mundur tiga tombak-"

Posting Komentar